Felisa & Harta Tersembunyi

Felisa & Harta Tersembunyi
Suara gelak tawa


__ADS_3

Ruangan kamar Felisa


Di sebuah sofa yang terletak di sudut ruangan tersebut, terlihat Erzhan tengah menatap ke arah Felisa dengan tatapan yang menelisik. Erzhan memang mengabulkan permintaannya namun jika ditatap dan di awasi seperti ini, bukankah namanya sama saja? Bagaimana ia bisa mengatakan lokasinya saat ini jika Erzhan terus menatapnya seperti itu.


"Bukankah aku sudah mengijinkan mu? Lalu apa lagi yang kamu tunggu?" ucap Erzhan ketika tak kunjung melihat Felisa menelpon juga hingga saat ini.


"Jika kau menatap ku seperti itu, bagaimana aku bisa mulai menelpon?" ucap Felisa dengan nada yang menyindir.


Mendengar perkataan dari Felisa barusan lantas langsung membuat Erzhan tersenyum dengan tipis kemudian memperbaiki posisi duduknya dan kembali menatap Felisa dengan tatapan yang intens.


"Selama kamu menelpon aku akan tetap berada di sini, jadi suka atau tidak suka aku tetap akan ada di sini." ucap Erzhan dengan nada yang datar.


Melihat Erzhan yang kekeh pada pendiriannya, pada akhirnya membuat Felisa hanya bisa mendengus dengan kesal. Bagaimanapun juga Felisa tetap harus menghubungi Farel agar tidak membuatnya khawatir karena tidak menerima kabar darinya selama beberapa hari ini.


Sambil memasang raut wajah yang cemberut Felisa mulai mengetik nomer ponsel Farel di sana dan menghubunginya berharap ia bisa mendengar suara adiknya saat itu. Hingga tak berapa lama sebuah suara laki-laki yang sangat ia kenali lantas terdengar dengan jelas, membuat Felisa langsung tersenyum begitu mendengar suara tersebut.


"Halo" ucap Farel di seberang sana.


"Halo Rel ini kakak, bagaimana kabarmu? Maaf kakak baru bisa menghubungimu sekarang." ucap Felisa dengan nada yang terdengar begitu lembut membuat Erza langsung terdiam seketika disaat mendengar suara Felisa barusan yang nampak begitu dewasa.

__ADS_1


"Mengapa jika berbicara dengan ku nadanya berbeda? Lagi pula aku juga laki-laki sama seperti adiknya, dasar rubah! Aku harus benar-benar berhati-hati dengannya entah apa lagi yang sedang ada di kepalanya saat ini." ucap Erzhan sambil terus menatap ke arah Felisa dan memperhatikan setiap gerak-geriknya dalam berbicara.


"Kakak, kakak ke mana saja selama ini? Aku mencari kakak kemana-mana bahkan sampai melaporkan kehilangan kakak ke kantor polisi karena takut terjadi apa-apa kepada kakak. Kakak dimana sekarang? Biar Farel jemput kakak ke sana ya?" ucap Farel kemudian dengan beribu pertanyaan yang langsung keluar tepat ketika mendengar suara Felisa, membuat Felisa langsung menghela napasnya dengan panjang begitu mendengar pertanyaan yang bertubi-tubi tersebut.


Felisa yang mendengar pertanyaan tersebut dari Farel, lantas langsung melirik sekilas ke arah di mana Erzhan berada saat ini. Felisa bahkan ingin menceritakan banyak hal kepada Farel namun tidak bisa ia katakan saat ini ketika Erzhan masih berada di sini dan terus memantaunya tanpa henti, membuat Felisa lantas kembali memasang wajah cemberut begitu mendapat tatapan yang tajam dari Erzhan barusan.


"Kamu tak perlu khawatir kakak ada di rumah teman kakak, mungkin selama beberapa hari ke depan kakak akan menginap di tempatnya." ucap Felisa kemudian dengan melotot tajam ke arah Erzhan seakan mengisyaratkan bahwa ia tidak akan membocorkan tentang lokasinya saat ini.


"Teman? Teman yang mana kak? Jangan membuat ku takut akan perkataan kakak, aku jelas yakin bahwa kakak tidak mempunyai teman sedekat itu. Kakak jangan coba-coba menipu ku!" ucap Farel yang tak percaya begitu saja akan penjelasan dari Felisa barusan.


"Sungguh, kakak... Kakak di sini sekalian sambil bekerja, teman kakak begitu baik sekali memberikan kakak tempat tinggal. Jadi kakak sampai lupa waktu dan tidak menghubungi mu." ucap Felisa mencoba mencari alasan agar Farel percaya kepadanya.


"Apakah kakak yakin? Lagi pula siapa teman kakak itu?" tanya Farel sekali lagi seakan tidak percaya begitu saja.


Disaat Felisa kebingungan mencari nama yang pas untuk membohongi Farel, Erzhan yang mendengar pembicaraan keduanya barusan lantas bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Felisa berada dan mulai mengatakan sesuatu yang mengejutkan.


"Apa kamu sudah selesai sayang? Jika sudah kemarilah dan bantu aku memakai celana ku!" ucap Erzhan dengan nada yang sensual membuat manik mata Felisa langsung membulat dengan seketika.


"Aaaa... Mengapa kakak tidak mengatakannya sejak awal jika kakak pergi dengan kakak ipar, jika tahu begitu aku tidak akan mencari kakak seperti orang gila. Selamat bersenang-senang kak, sampai jumpa..." ucap Farel kemudian yang langsung menutup panggilan ponselnya.

__ADS_1


"Tapi.. Rel.. Ini tidak seperti yang..." ucap Felisa hendak menjelaskan namun panggilan ponselnya sudah terputus saat itu.


Melihat Felisa yang gelagapan seperti itu tentu saja langsung mengundang gelak tawa yang berasal dari Erzhan, membuat Felisa yang mendengar tawa tersebut lantas menjadi semakin kesal dan langsung melempar Erzhan dengan bantal yang tentu saja dengan spontan membuat Erzhan menghentikan tawanya dengan seketika.


"Apa yang kau lakukan ha?" ucap Erzhan dengan nada yang kesal ketika mendapat lemparan bantal dari Felisa.


"Seharusnya yang tanya seperti itu adalah aku, apa yang sebenarnya coba kau lakukan ha?" ucap Felisa malah balik bertanya dengan tatapan yang tajam.


Mendapat pertanyaan kembali dari Felisa tentu saja membuat Erzhan semakin dibuat kesal dan kembali melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Felisa berada. Namun Felisa yang lebih dulu beranjak dari tempatnya membuat kejar-kejaran diantara keduanya pada akhirnya tidak lagi bisa terhindarkan. Felisa terlihat beberapa kali melempar Erzhan dengan bantal dan juga gulingnya begitupun juga sebaliknya, membuat situasi semakin terasa asyik bukan malah menegang karena gelak tawa keduanya yang terus terdengar menggema mengiringi aksi lemparan mereka ketika lemparan keduanya sama-sama tepat pada sasaran.


***


Sementara itu di sebuah ruangan yang terletak di kantor polisi, terlihat Raes saat ini tengah duduk dengan menundukkan kepalanya sedangkan di hadapannya saat ini terdapat seorang polisi yaitu Argi yang sedari tadi mencoba untuk membuka mulut Raes agar mengatakan sesuatu. Namun sayangnya Raes sama sekali tidak bergeming dan tetap pada pendiriannya yaitu menutup mulutnya rapat-rapat.


Argi terlihat bangkit dari tempat duduknya dan mengambil posisi berkacak pinggang, seakan mulai frustasi karena Raes tak kunjung membuka mulutnya juga walau ia terus menanyakan pertanyaan secara mendesak Raes sedari tadi.


"Apa kau pikir dengan kediaman mu seperti ini akan membuat mu lepas dari tanggung jawab ha? Bagaimanapun juga..." ucap Argi namun terhenti ketika sebuah suara pintu yang terbuka dari luar nampak membuyarkan segalanya.


Dari arah ambang pintu Fandi nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Argi berada dan mulai membisikkannya sesuatu.

__ADS_1


"Apa? Bagaimana bisa?" ucap Argi yang terkejut ketika mendapat informasi dari Fandi barusan.


Bersambung.


__ADS_2