
***** *****...
Suara yang berasal dari kalung yang terpasang di leher Vallen benar-benar terdengar dengan melengking, membuat semua orang lantas langsung menatap ke arah dimana Vallen berada saat ini.
"Sial!" ucap Erzhan yang menyadari jika ada yang aneh dengan kalung Vallen saat ini.
"Ayo segera masuk ke dalam mobil!" ucap Erzhan kemudian yang lantas membuat Vallen langsung mempercepat gerakannya masuk ke dalam mobil.
"Apa yang harus kita lakukan? Benda ini tidak mau lepas!" pekik Felisa sambil berusaha untuk melepas kalung yang melingkar di leher Vallen saat ini.
Mendengar perkataan Felisa barusan lantas membuat Erzhan mengkode Arkan agar segera mengurusi hal ini. Jika masalah bobol membobol Arkan adalah ahlinya, membuat Erzhan lantas mempercayakan segalanya kepada Arkan saat ini.
"Tunggu.. Tunggu sebentar, aku memerlukan waktu sepuluh menit untuk menghentikan alat pelacak tersebut!" ucap Arkan sambil berusaha mengotak-atik sesuatu dari laptopnya.
Suasana benar-benar terasa hening saat itu seakan mereka tengah menunggu apakah Arkan berhasil menghentikannya atau tidak. Sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari Andi dimana ia yang sedari tadi tengah fokus berkendara, membuat semua orang lantas langsung menatap ke arah belakang dengan seketika.
"Gawat Tuan ada sebuah mobil yang sedang mengikuti kita!" pekik Andi ketika melihat sebuah mobil berwarna hitam nampak mengekori mobilnya.
"Sialan!" pekik Erzhan. "Lakukan dengan cepat agar kita tidak bisa terdeteksi oleh mereka Ar!" ucap Erzhan lagi berharap kali ini Arkan bergerak lebih cepat.
"Saya sedang berusaha Tuan..." ucap Arkan menjawab perkataan Erzhan namun masih sambil fokus menatap ke arah layar laptopnya.
Erzhan yang melihat mobil tersebut terus membututi mobil mereka kemudian lantas membuka kaca jendelanya setengah, membuat Felisa langsung bertanya-tanya akan apa yang dilakukan oleh Erzhan saat ini.
"Apa yang hendak kau lakukan ha?" ucap Felisa sambil berusaha membuat tubuh Erzhan agar tidak keluar.
__ADS_1
"Diam dan merunduk lah, jangan menanyakan apapun saat ini!" ucap Erzhan dengan nada yang datar, membuat Felisa langsung terdiam seketika.
Tepat setelah mengatakan hal tersebut Erzhan kemudian mengeluarkan tubuhnya setengah melalui kaca jendela, di mana saat ini mobil tersebut masih saja melaju dengan kecepatan yang tinggi.
Diarahkannya pistol yang sedari tadi ia sembunyikan di belakang jasnya tepat ke arah ban mobil tersebut dan langsung menembaknya selama dua kali.
Hal tersebut tentu saja membuat Felisa dan juga Vallen terkejut karenanya.
Dor dor dor...
Suara decitan rem yang diinjak dengan spontan membuat seulas senyum terlihat terbit dari wajah Andi dan juga Erzhan. Tembakan Erzhan benar-benar tepat sasaran dan membuat mobil yang mengikuti mereka oleng kemudian menabrak sebuah pohon besar.
"Aku berhasil Tuan..." ucap Arkan kemudian yang beriringan dengan berhentinya suara kalung yang dikenakan oleh Felisa saat ini.
Mendapati hal tersebut lantas membuat Vallen dan juga Felisa berpelukan dengan cukup erat. Felisa bahkan sangat bersyukur ketika mendapati jika Erzhan dan juga yang lainnya berhasil menghentikan suara yang berasal dari kalung Vallen.
Disaat Felisa mengira jika semuanya telah berakhir, sebuah suara tembakan lantas terdengar di sana dan mengenai tepat kaca spion mobil van yang di tumpangi oleh mereka. Membuat Andi yang tak menyadari hal tersebut lantas terkejut dan membanting stir ke arah kiri. Mobil van yang di tumpangi oleh mereka oleng ke arah kanan dan juga kiri, namun detik berikutnya kembali ke jalurnya.
Felisa yang menyadari bahaya kembali mendekat lantas memegang erat tangan Vallen saat itu, membuat Vallen tersenyum dan mengusap perlahan punggung tangan Felisa seakan berusaha untuk menenangkan gadis itu.
"Kalian merunduk lah sekarang!" ucap Erzhan kemudian memperingati keduanya.
Mendengar hal tersebut lantas membuat Felisa dan juga Vallen langsung merunduk dengan seketika. Sementara Bram dan juga Erzhan mencoba untuk mengatasi mobil yang saat ini tengah mengikuti laju mobil mereka saat ini.
Dor dor dor...
__ADS_1
Suara tembakan yang bersahutan antara satu sama lainnya, lantas terdengar menggema di tengah gelapnya malam dan kesunyian hutan saat itu. Membuat suasana dan situasinya semakin terasa mencekam, Felisa dan juga Vallen berpegangan dengan erat, keduanya terlihat saling menguatkan antara satu sama lain.
"Sial!" ucap Erzhan ketika mendapati pistol miliknya kehabisan peluru saat itu.
Dengan gerakan yang cepat Erzhan mencoba untuk menjangkau kotak peluru yang ia sediakan di bagasi mobil. Hanya saja sebuah peluru yang di tembakkan secara berulang kali di kaca bagian belakang kemudian pada akhirnya membuat kaca mobil tersebut pecah dengan seketika. Beruntung Erzhan masih sempat merunduk saat itu sehingga tidak sampai mengenai pecahan kaca bagian belakang mobil.
Mendengar pecahan kaca mobil tepat di area belakang, lantas membuat semua orang panik dengan seketika. Sedangkan Bram dan juga Arkan tengah terlihat sibuk menghalau serangan dari beberapa orang yang kini terus melontarkan peluru demi peluru ke arah mobil van yang mereka tumpangi saat ini.
Erzhan yang melihat situasinya semakin tidak kondusif, lantas mulai memutar otaknya saat ini mencoba untuk mencari akal agar mereka semua bisa lolos dari kejaran mobil yang sedari tadi membuntuti mereka.
Disaat Bram dan juga Arkan tengah melakukan baku tembak, sementara Erzhan tengah sibuk memutar otaknya sambil menatap lurus ke arah depan.
"Sepertinya aku tahu harus melakukan apa!" ucap Erzhan pada diri sendiri sambil menatap ke arah persimpangan jalan yang berada tak jauh dari posisi mereka saat ini.
"Banting setir ke arah kiri An tepat setelah di persimpangan jalan di depan sana." ucap Erzhan kemudian yang tentu saja membuat Andi dan juga yang lainnya terkejut akan perkataan dari Erzhan barusan.
"Apa anda yakin Tuan? Arah kiri di persimpangan di depan adalah jurang. Jika kita belok ke sana tentu saja kita akan langsung terjun ke arah jurang Tuan..." ucap Arkan yang juga terkejut akan keputusan Erzhan barusan.
Felisa yang juga terkejut akan keputusan tersebut tentu saja langsung melirik ke arah Erzhan saat ini, sampai kemudian helaan napas lantas terdengar berhembus kasar dari mulut Felisa begitu melihat raut wajah tegang milik Erzhan saat ini.
"Aku yakin Erzhan pasti sudah memikirkan segala konsekuensinya, aku yakin akan hal itu." ucap Felisa dalam hati sambil menatap ke arah Erzhan dengan tatapan yang intens.
"Lakukan saja apa yang Erzhan katakan An, aku yakin Erzhan pasti tahu mana yang terbaik untuk kita semua." ucap Felisa kemudian dengan nada yang begitu yakin, membuat Erzhan lantas langsung menoleh dengan seketika ke arah Felisa saat ini.
"Semua orang benar-benar sudah gila!" ucap Andi dalam hati sambil langsung membanting setir mobilnya ke arah kiri.
__ADS_1
Bersambung.