
Di tengah gelapnya langit hutan malam itu Bram, Fadi dan juga beberapa anak buah lainnya terus meneruskan langkah kakinya mencari keberadaan Erzhan di sekitaran area hutan tersebut. Langkah kaki mereka terus terlihat melangkahkan kakinya menyusuri area hutan seakan masih terus berusaha mencari keberadaan Erzhan di area tersebut.
Bram yang mulai terlihat putus asa lantas menghentikan langkah kakinya sejenak, sambil mengusap rambutnya dengan kasar Bram terlihat menatap ke arah sekitar. Pikirannya saat ini benar-benar telah buntu, ia bahkan sudah hampir menyerah karena tidak bisa menemukan keberadaan Erzhan dimanapun juga walau ia sudah hampir menjelajah ke seluruh isi hutan ini.
Sambil berdecak dengan kesal lagi dan lagi Bram mulai merutuki kebodohannya yang waktu itu meninggalkan Erzhan begitu saja. Jika ia tahu bahwa akan terjadi seperti ini tentu Bram tidak akan mau mengikuti perkataan Erzhan saat itu.
Disaat rasa frustasi dan tentu saja lelah yang menghampirinya, dari kejauhan samar-samar Bram seperti menangkap bayangan seseorang yang tengah melangkahkan kakinya dengan perlahan mendekat ke arahnya. Melihat bayangan tersebut Bram yang seperti mendapat secercah sinar lantas terlihat mulai mengarahkan senternya ke arah bayangan tersebut untuk melihat pemilik bayangan itu.
"Tuan..." panggil bram dengan raut wajah yang sumringah ketika melihat Erzhan tengah terlihat melangkahkan kakinya dengan tertatih di antara gelapnya suasana hutan malam itu.
Sedangkan Erzhan yang tadi baru saja berhasil membuka ikatan yang mengikat tangannya dengan kencang, lantas terlihat melangkahkan kakinya dengan perlahan mencoba mencari jalan keluar dari hutan ini. Erzhan yang mendengar sebuah suara tak asing di telinganya lantas langsung menoleh ke arah sumber suara. Erzhan yang melihat secercah cahaya sinar tak jauh dari tempatnya berada, lantas langsung mencoba mempertajam pandangannya di tengah suasana hutan yang gelap gulita kala itu. Erzhan yang yakin bahwa sebuah sinar dari cahaya itu berasal dari sebuah senter, lantas langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah sumber suara begitu ia mendengar seseorang terus memanggil namanya secara berulang kali.
"Tuan Erzhan.... Apakah itu benar-benar anda?" teriak Bram lagi sambil terus mempercepat langkah kakinya.
Baik Fadi dan juga beberapa anak buahnya yang lain begitu mendengar Bram meneriakkan nama Erzhan berulang kali, lantas langsung menoleh ke arah sumber suara dan detik berikutnya ikut melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Bram yang terlihat menghampiri Erzhan saat ini.
**
__ADS_1
"Apa anda baik-baik saja Tuan? Saya bahkan hampir menyusuri setiap titik di hutan ini untuk mencari keberadaan anda Tuan, saya..." ucap Bram yang terlalu bersemangat menjelaskan karena saking senangnya telah berhasil menemukan Erzhan.
"Sebaiknya kita langsung pulang saja, aku benar-benar lelah!" ucap Erzhan dengan nada bicara yang singkat kemudian melangkahkan kakinya berlalu pergi begitu saja melewati Bram dan juga yang lainnya.
Bram yang mendapat perlakuan tersebut tentu saja langsung kecewa, ia bahkan sudah hampir berhari-hari mencari keberadaan Erzhan kesana kemari. Namun ketika Bram berhasil menemukan Erzhan, yang di lakukan Erzhan malah mengacuhkannya begitu saja dan membuat Bram kecewa ketika melihat reaksi yang ditunjukkan oleh Erzhan barusan.
Hanya saja terlepas dari semua itu Bram yang memang notabennya adalah seorang bawahan begitu mendengar perintah dari Erzhan, ia lantas mulai melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Erzhan dan langsung memerintahkan Fadi untuk ikut pulang dengannya dan meninggalkan tempat ini sesuai dengan perintah dari Erzhan.
Sambil melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Erzhan, Bram terlihat menunjukkan jalan menuju ke arah dimana mobil mereka diparkir saat itu.
Sampai kemudian ketika langkah kaki mereka sampai tepat dimana mobil mereka diparkirkan. Erzhan yang hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil terlihat beberapa kali menatap ke arah belakang seperti tengah mencari sesuatu, membuat Bram yang melihat gerak-gerik Erzhan lantas menatap ke arah Erzhan dengan tatapan yang bertanya-tanya.
Mendengar perkataan dari Bram barusan lantas membuyarkan lamunan Erzhan yang entah mengapa berharap jika Felisa dan juga Farel berada di sini.
"Tidak apa-apa sebaiknya kita segera pergi dari sini." ucap Erzhan kemudian sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil kemudian menutup pintu mobil dengan gerakan yang bergegas.
"Baik Tuan..." jawab Bram kemudian sambil mulai melajukan mobilnya membelah jalanan hutan malam itu menuju ke arah Ibukota.
__ADS_1
***
Sementara itu Felisa yang juga dalam perjalanan pulang menuju ke arah Ibukota terlihat menyetir mobilnya sambil sesekali melamun. Entah mengapa sampai saat ini pikirannya masih tertuju tepat kepada Erzhan. Hingga saat ini Felisa bahkan masih belum percaya jika memang Erzhan mendekatinya hanya untuk merampas uang miliknya saja, ini bahkan terasa begitu mustahil bagi Felisa apalagi setelah beberapa hari melewati waktu bersama dengan Erzhan.
"Aku yakin pasti ada sesuatu, aku yakin itu..." ucap Felisa secara berulang kali sambil terus mengemudikan mobilnya.
Di saat Felisa tengah sibuk menyetir dan juga melamun, Felisa yang tidak sadar bahwa di depannya ada seekor Kijang liar melintas di jalanan lantas langsung menginjak pedal remnya dengan kuat begitu sadar bahwa ada sesuatu yang melintas di depannya. Farel yang saat itu dalam posisi tertidur begitu pedal rem diinjak dengan tiba-tiba oleh Felisa tentu saja langsung terkejut bukan main dan langsung terbangun dengan spontan dari tidurnya.
Farel yang cukup terkejut akan gerakan yang tiba-tiba itu, lantas membuat Farel langsung mengedarkan pandangannya ke arah sekitaran untuk melihat apa yang sedang terjadi sebenarnya.
"Apa yang terjadi kak?" tanya Farel dengan raut wajah yang kebingungan.
"Maaf, tadi ada Kijang liar yang tiba-tiba melintas di depan dan membuat kakak terkejut." ucap Felisa kemudian karena tidak mungkin ia mengatakan kepada Farel jika ini terjadi karena ia yang melamun dan tidak bisa fokus menatap ke arah jalanan.
"Apa kakak yakin? Jika kakak lelah kita bisa berhenti sejenak dan beristirahat." ucap Farel memberikan ide kepada Felisa karena merasa kasihan jika harus melihat Felisa yang seperti itu.
"Tidak perlu khawatir, kakak baik-baik saja kok.. Jika kita menunda perjalanan kita malam ini kita pasti akan semakin lama sampainya... Kamu tenang saja kakak masih bisa melakukannya..." ucap Felisa kemudian sambil mengulum senyum menatap ke arah Farel seakan berusaha mengatakan kepada Farel bahwa ia baik-baik saja saat ini.
__ADS_1
Mendengar perkataan Felisa barusan pada akhirnya membuat farel hanya bisa menghela napasnya dengan panjang. Setelah percakapan singkat tersebut Felisa kemudian kembali melajukan mobilnya membelah jalanan hutan malam itu kembali menuju ke Ibukota.
Bersambung