Felisa & Harta Tersembunyi

Felisa & Harta Tersembunyi
Terlalu berlebihan


__ADS_3

Kantor polisi


Disaat Farel tengah sibuk berdebat dengan salah satu petugas polisi di sana, seorang petugas polisi dengan name tag Fandi terlihat memperhatikan pembicaraan keduanya dengan serius. Ada beberapa hal yang membuat Fandi begitu tertarik dengan pembicaraan keduanya, beberapa kasus yang mungkin terlihat serupa namun nyatanya tidaklah sama, membuat Fandi memilih untuk memperhatikan pembicaraan keduanya tanpa Farel sadari.


"Apakah ini ada kaitannya dengan beberapa mafia di dunia bawah? Aku rasa mungkin masih ada kaitannya dengan Erzhan, aku bahkan tidak mempercayai sedikitpun Pria itu meski ia beberapa kali membantu pihak kepolisian dalam menangkap beberapa penjahat kelas kakap." ucap Fandi sambil masih menatap ke arah keduanya dengan tatapan yang menelisik.


Disaat Fandi tengah sibuk menatapi keduanya sambil memikirkan kemungkinannya, Fandi yang melihat Farel mulai tersulut emosi karena rekan kerjanya yang tak kunjung memberikan kepastian kepadanya, lantas membuat Fandi langsung bangkit dari kursinya dan melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana keduanya berada.


Fandi yang tidak ingin melihat keributan di sana kemudian mulai berusaha melerai Farel dan juga rekan kerjanya tersebut sebelum terjadi pertengkaran di sana.


"Ikut aku!" ucap Fandi kemudian sambil menarik tangan Farel.


"Lepaskan aku!" pekik Farel dengan nada yang kesal karena Fandi malah menghalanginya.


"Cobalah untuk mengerti dan jangan mencari keributan karena itu sama sekali tidak akan menyelesaikan masalah." ucap Fandi dengan nada yang mengintimidasi.


Mendengar perkataan Fandi barusan lantas membuat Farel langsung terdiam seketika. Sambil menatap tajam ke arah petugas polisi tersebut Farel terlihat mengepalkan tangannya dengan erat karena menahan amarahnya.


***


Area depan kantor polisi


Terlihat Fandi melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Farel berada sambil membawa satu kaleng minuman kemudian memberikannya kepada Farel.


"Apakah kalian para polisi juga bekerja di bawah uang? Bagaimana bisa kalian mengatakan jika kalian melayani masyarakat sedangkan kalian mendahulukan kasus yang mengandung uang? Apakah kalian sama sekali tidak memikirkan kami?" ucap Farel dengan nada yang kesal menyampaikan semua unek-uneknya.

__ADS_1


Mendengar hal tersebut membuat Fandi lantas tersenyum, Fandi bahkan mengacungi jempol keberanian anak muda dihadapannya ini dalam memprotes anggota polisi dan satuannya.


"Tidak semua polisi seperti itu, meski sebagian besar melakukan apa yang kamu katakan tapi kami masih bermoral. Yang kami lakukan hanya mengikuti prosedur dalam ruang lingkup kerja kami dan itu merupakan peraturan pokok yang harus kami junjung tinggi." ucap Fandi kemudian mulai menjelaskan segalanya.


"Jika memang ini masalah prosedur harusnya kalian bisa mencari jalan keluar yang terbaik bukan malah menyuruh kami menunggu seperti ini, kakak ku bahkan sudah hilang dua hari, bagaimana jika terjadi sesuatu kepada kakak ku selagi kalian mengurus prosedur yang kalian bicarakan?" ucap Farel dengan nada yang kesal seakan tidak setuju akan perkataan Fandi yang malah membahas tentang prosedur.


Fandi yang melihat emosi pria muda dihadapannya ini belum lah turun lantas mulai menghela napasnya dengan panjang. Berbicara dengan anak remaja jaman sekarang nyatanya tidak semudah yang dibayangkan olehnya.


"Begini saja, apa kamu bisa menjelaskan detail kejadian sebelum kakak mu menghilang? Siapa tahu aku bisa membantu mu semampu ku." ucap Fandi kemudian yang lantas membuat Farel dengan spontan menoleh ke arah Fandi dengan tatapan yang menelisik.


"Apa kamu benar-benar akan membantu ku?" tanya Farel sekali lagi seakan memastikan perkataan dari Fandi barusan.


"Tentu saja asal tidak ada informasi yang kamu tutupi tentang kakak mu!" ucap Fandi kemudian yang lantas membuat seulas senyuman dengan lebar terlihat di wajah Farel saat itu.


***


Suara pintu ruangan yang terbuka dengan lebar lantas membuat Felisa nampak mengerjap beberapa kali. Pandangan mata Felisa benar-benar sedang kabur saat itu ditambah dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya, entah apa yang telah terjadi kepada dirinya semalam sehingga membuat tubuhnya menjadi seperti ini.


"To...tolong..." ucap Felisa dengan nada yang terdengar begitu lirih, membuat seseorang yang melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya lantas langsung bergegas dan melihat keadaan Felisa.


"Sepertinya dia sedang demam..." ucap sebuah suara yang terdengar begitu samar di telinga Felisa.


Felisa yang mendengar suara perempuan saat itu lantas mulai mengarahkan tangannya hendak menyentuh seseorang tersebut, namun sayangnya sebelum Felisa berhasil menyentuhnya. Seseorang tersebut terlihat berlarian keluar sambil menyebut nama Bram beberapa kali sebelum pada akhirnya pandangan Felisa menggelap dan pingsan.


**

__ADS_1


Sementara itu Bram yang mendengar panggilan dari seorang Maid, lantas langsung menuju ke arah ruangan dimana tempat Felisa di kurang selama dua hari dua malam ini.


Bram yang baru saja sampai di dalam, lantas menjadi terkejut ketika melihat Felisa sudah pingsan dan tergeletak di lantai. Dipegangnya pipi Felisa saat itu berusaha untuk membangunkannya, tapi ketika merasa suhu tubuh Felisa tidaklah normal, lantas mulai membuat Bram mengumpat dengan kesal karena menyadari bahwa Felisa tengah demam saat ini.


"Sial, dia demam lagi..." ucap Bram dalam hati sambil berusaha mengangkat tubuh Felisa dan menggendongnya ala bridal style.


"Siapkan kamar tamu sekarang dan panggilkan dokter Sinta agar segera datang kemari." ucap Bram kemudian.


Baru setelah mengatakan hal tersebut Bram lantas membawa tubuh Felisa keluar dari sana dengan perlahan, sedangkan Maid yang mendengar perintah dari Bram barusan langsung bergegas melangkahkan kakinya melaksanakan perintah dari Bram barusan.


***


Di sebuah kamar tamu yang masih terletak di mansion milik Erzhan, terlihat seorang dokter tengah memeriksa keadaan Felisa di kamar tersebut.


Setelah memeriksa keadaan Felisa, dokter tersebut kemudian mulai memasukkan beberapa peralatan kedokterannya ke dalam tas kemudian bangkit dari posisinya menghampiri Bram yang saat ini terlihat tengah menatap ke arahnya dengan tatapan yang serius.


"Apakah dia sedang dalam keadaan tertekan?" ucap Sinta kemudian menatap ke arah Bram dengan tatapan yang penasaran.


"Tidak ada, bagaimana keadaannya?" ucap Bram mencoba untuk mengalihkan pertanyaan Sinta barusan membuat helaan napas lantas terdengar berhembus dari mulut Sinta.


"Ini adalah resep obat untuknya pastikan diam meminumnya, untuk sementara ini semuanya dalam keadaan baik. Dia hanya terkena demam tinggi dan juga dehidrasi yang kadang bisa di sebabkan oleh suhu ruangannya yang tiba-tiba saja berubah dengan drastis, kondisi mentalnya yang tertekan kadang juga bisa mempengaruhi keadaannya jadi aku sarankan jangan terlalu memforsirnya secara berlebihan. Aku pergi dulu sampaikan salam ku kepada Erzhan nanti." ucap Sinta kemudian mulai menjelaskan keadaan Felisa sekaligus langsung berpamitan pulang.


"Aku akan mengingatnya, terima kasih banyak." ucap Bram kemudian yang lantas di balas anggukan kepala oleh Sinta sebelum pada akhirnya melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan kamar tersebut.


"Sepertinya Tuan terlalu berlebihan memperlakukannya kemarin." ucap Bram sambil menatap ke arah Felisa yang saat ini masih menutup matanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2