
Sementara itu di kediaman William terlihat Frans tengah melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang pribadi William untuk memberikannya informasi terbaru perihal tentang Felisa dan juga Farel yang baru saja meninggalkan pulau ini. Dengan langkah kaki yang bergegas terlihat Frans mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan pribadi William, dimana saat itu William terlihat tengah menghisap rokoknya dengan hikmat kemudian menghembuskannya ke udara sehingga menyebabkan kepulauan asap rokok yang berasal dari hembusan napasnya membumbung tinggi di udara saat itu.
"Tuan..." panggil Frans kemudian.
Mendengar panggilan dari sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas membuat William langsung menoleh ke arah sumber suara. William yang melihat Frans sudah berdiri tepat di belakangnya kemudian terlihat mematikan puntung rokok yang ia hisap sedari tadi setelah itu menatap ke arah Frans dengan tatapan yang bertanya seakan menanti laporan apa yang hendak diberikan kepadanya saat ini.
"Ada apa?" tanya William kemudian.
"Felisa dan juga Farel sudah meninggalkan pulau ini semalam Tuan, apakah ada sesuatu yang harus saya lakukan?" ucap Frans kemudian.
Mendengar perkataan dari Frans barusan lantas membuat William tersenyum dengan tipis.
"Pergilah dan awasi dia, laporkan setiap gerak-geriknya kepadaku." ucap William kemudian memberikan perintah kepada Frans.
"Baik Tuan..." ucap Frans kemudian setelah itu melangkahkan kakinya keluar dari sana untuk melaksanakan perintah dari William barusan.
**
Malam harinya
Sementara itu di sebuah tempat hiburan malam terlihat Alex tengah melangkahkan kakinya menuju ke ruangan VVIP di mana Raes berada saat ini. Dengan langkah kaki yang bergegas Alex lantas terus melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan VVIP tersebut. Diketuknya perlahan pintu ruangan tersebut sampai kemudian tak beberapa lama ia memutuskan untuk masuk ke dalamnya, ketika Alex masuk ke dalam ruangan VVIP tersebut di dalam ruangan itu terlihat Raes tengah asik menikmati minuman-minuman beralkohol dengan beberapa teman wanita penghibur di samping kanan dan kirinya.
Raut wajah Raes benar-benar tidak bisa berbohong sama sekali jika memang ia begitu menikmati segala hal yang di suguhkan di sini. Semua seakan menjadi paket komplit untuk ia bersenang-senang sekaligus menyalurkan hasratnya.
__ADS_1
Alex yang melihat Raes tengah sibuk dengan kedua wanitanya, lantas terlihat bingung hendak mengatakannya bagaimana untuk memberikan laporan yang baru saja ia terima. Sampai kemudian Alex memutuskan untuk melipir ke arah kanan dan berhenti tepat di belakang sofa yang saat ini tengah di duduki oleh Raes dan kedua wanitanya.
"Tuan putra dan putri Nelson terlihat di Ibukota malam ini, apa anda ingin kita mulai bergerak malam ini juga?" ucap Alex kemudian membisikkan sesuatu tepat ke telinga Raes.
Mendengar perkataan dari Alex barusan lantas membuat Raes langsung menghentikan gerakannya. Raes yang sedikit terkejut namun juga gembira akan berita yang dibawa oleh Alex barusan, lantas mulai memperbaiki posisi duduknya. Seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Raes ketika mendengar berita bahwa Felisa dan juga Farel telah berada di Ibukota. Raes bahkan sudah tidak sabar untuk segera mendapatkan kembali harta yang sudah bertahun-tahun lamanya menghilang dari tangannya.
"Disaat kita sibuk mencarinya kesana kemari, ternyata mereka berdua malah datang dengan sendirinya..." ucap Raes dengan senyum yang mengembang.
Melihat Raes yang begitu senang lantas membuat seorang wanita yang berada di sisi sebelah kanannya mulai mendekat dan mengecup leher Raes, membuat Raes langsung melenguh dengan seketika dan menjambak rambut wanita itu dengan spontan.
"Tunggulah sebentar lagi baby..." ucap Raes kepada wanita itu sambil mengelus pipi wanita itu dengan lembut yang lantas membuat wanita itu tersenyum dengan gerakan yang penuh sensual.
Setelah mengatakan hal tersebut Raes nampak terdiam sejenak di tempatnya seakan tengah berpikir langkah apa selanjutnya yang akan ia ambil untuk menghadapai putra putri Nelson saat ini.
"Baik Tuan..." ucap Alex kemudian setelah itu melangkahkan kakinya bergegas pergi dari sana.
Setelah kepergian Alex dari sana Raes lantas melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda oleh kehadiran Alex barusan. Dua orang wanita yang seakan tahu akan situasinya lantas mulai bergerak dan meluncurkan aksinya berlomba-lomba menggoda Raes. Sedangkan Raes yang mendapatkan perlakuan ini dari dua orang sekaligus, lantas tersenyum dengan simpul dan mulai mengambil posisi rebahan di sofa ruangan tersebut.
"Ayo girls kita selesaikan dan bersenang-senang dengan nikmat... Kemarilah sayang..." ucap Raes sambil menggerakkan tangannya agar kedua wanita penghibur tersebut mendekat ke arahnya dan memulai aksinya saat ini juga.
***
Keesokan harinya
__ADS_1
Setelah hampir satu minggu lamanya Felisa berpergian tanpa izin maupun pemberitaan kepada bosnya, saat ini Felisa terlihat tengah berdiri dengan gelisah tepat di depan cafe tempatnya bekerja. Felisa benar-benar takut untuk masuk ke dalam karena ia yakin bosnya itu pasti akan sangat marah kepadanya karena tidak hadir tanpa ijin kepada bosnya.
Sambil menghela napasnya dengan panjang Felisa terlihat menghembuskan napasnya dengan kasar. Felisa kemudian melangkahkan kakinya dengan perlahan dan mulai membawa langkah kakinya masuk ke dalam saat itu juga.
"Kau itu benar-benar gila! Bagaimana bisa kau memecahkan gelasnya?" teriak sebuah suara yang Felisa tahu betul suara siapa tersebut.
"Waduh sepertinya Bos tengah marah saat ini, apa aku pulang saja ya?" ucap Felisa dalam hati sambil menghentikan langkah kakinya dan bersiap untuk berbalik badan.
Hanya saja sebelum Felisa berhasil berbalik badan dan kabur dari sana, sebuah suara yang sama sekali tidak ingin di dengarnya saat ini lantas langsung menghentikan langkah kakinya begitu saja. Sambil menarik napasnya dalam-dalam Felisa mulai berbalik badan dan berusaha memasang senyuman semanis mungkin seakan berusaha untuk meluluhkan hati Bosnya itu.
"Bos...." panggil Felisa dengan rut wajah yang terlihat begitu aneh.
Sedangkan Bosnya yang melihat seseorang yang baru saja ia panggil benar-benar adalah Felisa, lantas membuatnya mulai melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang bergegas mendekat ke arah dimana Felisa berada saat ini.
"Wah bagus sekali! Kau kira ini adalah cafe nenek moyang mu? Untuk apa kau datang lagi kesini ha!" teriak Bosnya yang lantas mengundang banyak perhatian dari banyaknya pelanggan yang sedang berada di sana untuk menikmati makanannya saat itu.
"Waduh apa yang harus saya katakan kepadanya?" ucap Felisa dalam hati sambil terdiam tak bisa menanggapi perkataan dari Bosnya barusan.
"Maaf bos saya kemari untuk bekerja, saya..." ucap Felisa hendak menjelaskan segalanya.
"Kerja? Keluar kau dari sini dan jangan datang lagi kemari!" teriak Bosnya bahkan sebelum Felisa menyelesaikan penjelasannya.
Bersambung
__ADS_1