
Sementara itu di area lorong kediaman William, terlihat Andi dan juga Bram masuk menuju ke arah ruangan bawah tanah melalui atap. Ada celah bagi keduanya untuk masuk tepat di area atap, membuat keduanya kemudian memutuskan untuk mengikuti jalur pembuangan untuk masuk ke dalamnya. Sambil mulai merayap Bram dan juga Andi terlihat bergerak menyusuri area atas kediaman William.
Cit cit cit
Suara tikus yang terdengar begitu Andi tak sengaja menginjak ekornya, lantas membuat Andi tanpa sengaja mengumpat karena kesal. Bram yang mendengar umpatan Andi barusan lantas langsung menghentikan gerakannya dengan sejenak.
"Kecilkan suaramu itu kecuali kau ingin membuat kita tertangkap basah sedang menyusup di area atas!" ucap Bram kemudian memberi peringatan yang lantas membuat Andi langsung terdiam seketika.
"Maaf ketua." ucap Andi dengan nada yang lirih.
Baru setelah itu Bram kembali bergerak merayap mengikuti jalur atas yang sudah tersedia di sana.
"Bagaimana situasinya Ar? Berapa lama lagi waktu yang kita tempuh untuk bisa sampai ke ruang bawah tanah." ucap Bram kemudian sambil mencoba untuk berkomunikasi dengan Arkan.
"Kau ikuti saja lubang di depan mu, jika nanti aku suruh kau berhenti maka berhentilah." ucap Arkan dengan tersenyum simpul seakan puas telah mengerjai Bram saat ini.
"Bedebah sialan, awas saja kau jika sampai mengerjai ku!" ucap Bram dengan nada yang penuh penekanan.
"Tenanglah saja ketua tak perlu mengkhawatirkan hal itu, tak jauh dari tempat mu berada saat ini berhentilah di sana dan turun ke bawah. Tepat di sekitaran sana akan ada tangga yang akan membawamu ke ruangan bawah tanah." ucap Arkan kemudian.
Mendengar perkataan Arkan barusan hanya membuat Bram memutar bola matanya dengan jengah.
"Apakah di sini?" tanya Bram kemudian.
__ADS_1
"Sedikit ke kiri ketua." jawab Arkan dengan nada yang santai.
"Apakah di sini?" tanya Bram lagi.
"Iya, turunlah ke bawah dan lewat jalur anak tangga yang berada tak jauh dari posisi mu turun." ucap Arkan kembali menjelaskan.
Setelah mendapat arahan dari Arkan, Andi dan juga Bram nampak bekerja sama membuka area pintu keluar dari atas sana. Butuh waktu dan juga usaha untuk melepas satu persatu mur dan juga baut yang terpasang dengan rapat pada penutup tersebut. Sampai kemudian pintu keluar tersebut nampak terbuka dengan lebar, membuat Andi dan juga Bram langsung mengkode satu sama lain untuk mulai bergerak turun secara perlahan dari atas sana.
Andi yang seakan tahu kode yang baru saja diberikan oleh Bram, lantas langsung memunculkan kepalanya secara perlahan dan menatap ke area sekitar mencoba untuk melihat dan mencari tahu situasi di sekitaran sana. Hingga kemudian ketika ia merasa situasinya aman, barulah Andi langsung melompat ke arah bawah dengan bergegas setelah itu disusul dengan Bram berikutnya.
Setelah keduanya mendarat dengan selamat di bawah, baik Andi maupun Bram lantas mulai bergerak dan masuk ke dalam sebuah ruangan dimana di sana terdapat tangga menuju ke arah ruangan bawah tanah.
"Apakah kau melihat sesuatu di bawah?' tanya Bram kemudian sambil melangkahkan kakinya menuruni satu persatu anak tangga.
Bram yang mendengar perkataan Arkan barusan hanya terdiam dan tak menanggapi sambil terus membawa langkah kakinya semakin masuk ke dalam sana. Hanya saja ketika langkah kaki mereka hampir sampai di ujung tangga bawah tanah, tanpa keduanya sadari dua orang pengawal nampak berdiri dengan tegap di pintu masuk area ujung tangga menuju ruang bawah tanah.
"Sialan! Mengapa dia tidak mengatakan apapun tentang mereka berdua?" ucap Bram yang sedikit kesal akan Arkan yang tak memperingatinya.
Bram dan juga Andi yang sudah kepalang basah dan hampir tertangkap, pada akhirnya terpaksa melakukan perlawanan. Dengan gerakan yang cepat Bram langsung memukul area tengkuk pengawal tersebut dengan keras. Baru setelah pengawal itu pingsan dan jatuh, Bram langsung menarik tubuh pengawal tersebut dan menyeretnya untuk ia sembunyikan di suatu tempat tersembunyi di sana.
"Bagaimana dengan yang satunya? Apa kau sudah mengurusnya?" tanya Bram kemudian ketika melihat Andi baru saja keluar dari sudut sebelah sana.
"Tak perlu khawatir ketua semuanya sudah beres." ucap Andi sambil mengangkat jempolnya.
__ADS_1
"Baiklah jika begitu ayo kita lanjutkan sekarang dan segera selesaikan ini dengan cepat mungkin semakin cepat semakin Lebih baik, aku sudah malas sekali berhadapan dengan lorong-lorong sempit seperti ini." ucap Bram kemudian yang lantas dibalas Andi dengan anggukan kepala.
**
Di salah satu ruangan yang terdapat di area ruang bawah tanah, terlihat Andi dan juga Bram tengah melangkahkan kakinya secara perlahan masuk ke dalam area ruangan tersebut. Ruangan itu begitu gelap dan juga pengap, membuat keduanya lantas langsung mengedarkan pandangannya ke arah sekitar seakan mencoba mencari seseorang di sekitaran sana.
Sampai kemudian pandangannya terhenti pada sosok seseorang yang terlihat menatap kosong ke arah depan. Meski Andi dan juga Bram mendekat wanita itu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya, membuat Andi dan juga Bram langsung saling pandang antara satu sama lain.
"Permisi... Apakah anda Vallen?" ucap Bram kemudian memberanikan diri sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana wanita itu berada.
Mendengar namanya dipanggil tentu saja langsung membuat Vallen menoleh ke arah sumber suara, namun detik berikutnya langsung kembali lagi menoleh lurus ke arah depan seakan sama sekali tidak berminat akan kehadiran dua orang asing di hadapannya.
"Mari ikut dengan kami, Felisa dan juga Farel ingin bertemu dengan anda." ucap Bram kemudian mencoba untuk memancing Vallen agar bereaksi.
Mendengar nama kedua putra dan juga putrinya disebut tentu saja langsung membuat Vallen bangkit dari tempat duduknya. Vallen menatap ke arah kedua orang asing tersebut dengan tatapan yang bertanya sambil mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah mereka, membuat seulas senyum lantas terlihat terbit dari raut wajahnya.
"Apakah kau sungguh akan membawaku bertemu dengan keduanya? Aku benar-benar merindukannya, bawa aku bersama dengan kalian." ucap Vallen kemudian sambil menggoyang-goyangkan tangan Bram dengan cepat, membuat Bram dan juga Andi lantas saling pandang antara satu sama lain seakan seperti mendapat sebuah kesempatan untuk membawanya pergi dari tempat ini.
"Tentu saja asalkan kamu diam dan tidak melakukan sesuatu hal yang mencolok dan membuat kita bertiga tertangkap." ucap Bram kemudian yang lantas langsung di balas anggukan kepala oleh Vallen.
"Baiklah kalau begitu ayo kita pergi sekarang!" ucap Bram kemudian.
Bersambung.
__ADS_1