Felisa & Harta Tersembunyi

Felisa & Harta Tersembunyi
Sebuah penawaran


__ADS_3

"Menarik, bukankah kau juga mendengar hal itu?" ucap William dengan tersenyum tipis sambil menatap ke arah Jo dan yang lainnya.


"Tapi..." ucap Frans hendak menolak perkataan Jo namun langsung terhenti dengan seketika begitu mendengar kembali suara William yang memotong pembicaraannya.


"Tarik pelatuk tersebut sekarang juga!" ucap William dengan nada yang datar, membuat semua orang yang mendengar hal tersebut lantas langsung menelan salivanya dengan kasar.


Frans yang mendengar hal tersebut lantas langsung menatap ke arah satu persatuan anak buahnya dengan tatapan yang sendu, membuat Jo yang seakan tahu apa yang saat ini dirasakan oleh Frans. Lantas langsung mulai mengangguk secara perlahan seakan menandakan agar Frans segera melakukan perintah dari William saat ini juga.


"Maafkan aku... Aku benar-benar minta maaf!" ucap Frans dalam hati dengan tatapan yang sendu.


Sambil menghela napasnya dengan panjang Frans perlahan-lahan mulai mengangkat tangannya dan mengarahkannya secara acak ke arah depan. Entah siapa yang akan terkena peluru panasnya, namun yang jelas Frans sama sekali tidak ingin memilih seseorang saat ini. Bagi Frans mereka semua sudah ia anggap sebagai teman sekaligus saudaranya, bagaimana mungkin jika Frans mendadak di suruh membunuh salah satu dari mereka? Tentu Frans tidak akan bisa bukan?


Sedangkan William yang melihat segala hal yang terjadi di hadapannya saat ini jelas tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Entah William sudah mengetahuinya atau memang ia yang hanya sekedar menebaknya saja. Namun William nampak terlihat tenang sambil menatap lurus ke arah depan seakan sama sekali tidak gentar atau bahkan menaruh rasa simpati kepada mereka semua.


Frans yang tak punya pilihan lain selain menuruti segala perintah dari William barusan kemudian mulai menutup matanya sambil bersiap untuk menarik pelatuknya. Entah apa yang akan terjadi tepat setelah pelatuk tersebut di tarik, tapi yang jelas Frans tetap harus melakukannya saat ini juga.


Hanya saja ketika pelatuk tersebut ditarik oleh Frans saat itu, suasana hening mendadak terjadi di ruangan tersebut dengan seketika. Membuat Frans yang tidak mendengar suara keras tembakan yang mengenai sesuatu, lantas langsung mulai membuka kelopak matanya dengan spontan.


"Apa yang terjadi?" ucap Frans dengan nada yang lirih sambil menatap bingung ke arah sekitarnya.

__ADS_1


Ditatapnya ke area sekitar dengan tatapan yang mengernyit, Frans bahkan terlihat kebingungan ketika menyadari jika tidak terjadi apapun saat ini. Membuat Frans yang merasa pasti ada sesuatu yang salah kemudian ia kembali menarik pelatuknya dan Frans baru menyadari jika peluru di dalam pistol miliknya telah habis setelah sebelumnya di pinjam oleh Jo ketika pengejaran tersebut terjadi.


"Aku sudah menduganya." ucap William sambil tersenyum dengan tipis, membuat semua orang yang ada di sana lantas langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.


"Apa maksud anda sebenarnya Tuan?" ucap Frans dengan tatapan raut wajah yang kebingungan menatap ke arah William saat ini begitu juga dengan yang lainnya.


"Anggap saja itu sebagai bonus dari sang Maha Pencipta, aku tidak akan memberikanmu kesempatan untuk yang kedua kalinya lebih dari ini. Jangan berpikir jika aku memaafkan segala kesalahan kalian karena kesalahan kalian benar-benar tidak bisa dimaafkan." ucap William sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan mereka semua dengan tatapan yang penuh tanda tanya.


Kepergian William dari area sana benar-benar menyisakan segala pemikiran yang saat ini berkumpul di kepala mereka masing-masing. Entah ini menjadi sebuah anugerah atau hanya menjadi sebuah sindiran semata. Baik Frans, Joe dan beberapa anak buah lainnya sama sekali tidak mengerti mana yang benar dan mana yang salah, mana yang terlihat baik-baik saja dan mana yang terlihat tidak baik-baik saja. Frans dan Jo hanya bisa saling pandang antara satu sama lain ketika mendapati kepergian William dari hadapan mereka semua.


"Apa yang terjadi sebenarnya ketua? Mengapa Tuan besar tiba-tiba pergi begitu saja padahal belum mengeksekusi kita semua?" ucap Jo dengan raut wajah kebingungan menatap ke arah Frans yang saat ini juga sedang menatap kepergian William dengan tatapan yang bingung.


***


Kamar Felisa


Di dalam kamarnya Felisa nampak termenung menatap kosong ke arah langit-langit kamarnya saat itu. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini, namun yang jelas Felisa tengah memikirkan segala hal yang dikatakan oleh Ibunya saat itu. Sebuah clue yang mungkin saja dapat menuntunnya menuju ke arah harta tersembunyi tersebut. Membuat Felisa lantas langsung menghela napasnya dengan panjang.


Sebuah anting yang dikatakan oleh Vallen di rumah saat itu, benar-benar membuat Felisa berpikir dengan keras akan anting apa yang sebenarnya tengah dimaksud oleh Vallen dan juga bentuknya yang seperti apa? Hal tersebut membuat Felisa lantas bertanya-tanya akan apa yang sebenarnya dimaksud oleh Vallen tadi.

__ADS_1


"Anting-anting seperti apa yang sebenarnya dimaksud oleh Ibu? Mengapa aku sama sekali tidak mengerti maksud dari perkataannya?" ucap Felisa kemudian pada diri sendiri.


Felisa yang tak kunjung mendapati jawaban dari pertanyaannya, lantas Langsung kembali menghela napasnya dengan panjang. Sebuah ide mendadak terlintas begitu saja dibenaknya, membuat seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah cantiknya saat itu ketika meyakini jika ide ini akan membawanya kembali menuju kehidupan yang normal tentunya.


"Setidaknya aku harus benar-benar mencobanya, bukan?" ucapan Lisa dengan raut wajah yang kegirangan seakan baru saja mendapatkan oase di tengah gurun sahara.


Mendapati hal tersebut lantas langsung membuat Felisa mulai membawa langkah kakinya keluar dari area kamarnya menuju ke arah ruang kerja di mana Erzhan berada saat ini untuk mulai melakukan penawaran dengannya.


***


Ruang Kerja Erzhan


Sambil menarik napasnya dalam-dalam Felisa yang sudah sampai tepat di depan pintu ruangan kerja milik Erzhan, lantas mulai mengetuk pintu tersebut secara perlahan.


Sampai kemudian ketika sebuah suara yang berasal dari area dalam mempersilahkannya untuk masuk, barulah Felisa mulai membawa langkah kakinya masuk ke arah dalam mendekat ke arah di mana Erzhan berada saat ini. Melihat hal tersebut tentu saja membuat Erzhan langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung ketika mendapati Felisa tengah melangkahkan kakinya semakin dekat ke arahnya saat ini.


"Ada apa?" tanya Erzhan kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


"Aku punya sebuah penawaran untuk mu." ucap Felisa kemudian.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2