
Setelah menikmati santapan ramen favorit Ayahnya, baik Felisa maupun Farel terlihat melangkahkan kakinya keluar dari kedai ramen tersebut. Ditatapnya raut wajah Farel yang saat itu tengah memerah karena kepedasan memakan kuah dari ramen tersebut, Felisa bahkan nampak tertawa kecil ketika melihat wajah Farel yang seperti kepiting rebus itu, membuat Farel yang melihat hal tersebut lantas langsung cemberut dengan seketika begitu mendengar tawa yang berasal dari Felisa barusan.
"Ayolah kak berhenti mengejek ku, lagi pula siapa yang akan tahan dengan kuah super pedas seperti itu?" ucap Farel sambil mengibas lidahnya yang terasa begitu terbakar saat ini.
"Lagi pula siapa yang menyuruh mu untuk memesan menu favorit Ayah? Ramen di sini bahkan beraneka ragam bukan hanya menu itu, bukan?" ucap Felisa masih dengan tawa kecilnya membuat Farel langsung memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar perkataan dari Felisa barusan.
"Sudahlah terserah apa kata Kakak, aku benar-benar malas membahasnya." ucap Farel kemudian sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Felisa seorang diri di sana.
Felisa yang melihat Farel pergi tentu saja langsung mengernyit sambil menatap Farel dengan tatapan yang bertanya-tanya.
"Mau kemana kamu?" tanya Felisa kemudian.
"Pergi ke rumah Arkan... Sampai jumpa di rumah!" ucap Farel sambil melambaikan tangannya ke arah Felisa membuat Felisa yang mendengar hal tersebut langsung menghela napasnya dengan panjang.
"Dasar!" ucap Felisa sambil menatap kepergian Farel dengan cemberut.
Felisa yang melihat kepergian Farel dari hadapannya, lantas hanya bisa menghela napasnya dengan panjang. Kini hanya tersisa dirinya yang tidak tahu harus melangkah pergi ke mana. Pekerjaan ia sudah tidak punya, uang memang masih ada tapi ia tidak tahu harus menggunakannya untuk apa. Felisa lagi-lagi menghela napasnya dengan panjang sepertinya mulai hari ini ia harus sudah mulai bisa mengatur uang yang masih ada dan berasal dari uang duka cita kematian Ayahnya, sebelum nanti pada akhirnya akan habis sebelum ia gunakan dan maksimalkan dengan baik.
"Mungkin aku harus mulai membuka sebuah bisnis sesuatu untuk menyambung hidup ku? Tapi apa ya... Mengapa aku sama sekali tidak kepikiran apapun saat ini?" ucap Felisa sambil menghela napasnya dnegan panjang.
__ADS_1
Felisa yang tidak tahu harus memulainya dengan apa, lantas mulai melangkahkan kakinya pergi dari kedai ramen tersebut sambil terus memikirkan usaha apa yang akan ia lakukan untuk menyambung hidupnya. Lagi pula jika uang itu terus digunakan tanpa pemasukan pasti akan habis juga pada akhirnya, jadi membuat Felisa mau tidak mau harus mulai bergerak dan pintar dalam mengelola uang tersebut.
Sementara itu tanpa Felisa sadari, ketika Felisa tengah sibuk memikirkan usaha apa yang akan ia jalani dari arah pojok sebelah gang tersebut, terlihat Pria yang mengenakan jaket kulit disertai dengan topi hitam yang sedari tadi pagi mengikutinya lantas terlihat melangkahkan kakinya keluar dengan senyuman yang tipis. Usahanya menanti hingga Felisa dan juga Farel selesai makan rupanya sama sekali tidak sia-sia, kini ia bisa melancarkan segala aksinya meski harus menunggu beberapa waktu lagi untuk memulai aksinya.
"Memang kalau sudah rejeki tidak akan pernah kabur kemana-mana..." ucap Pria itu dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Melihat Felisa mulai melangkahkan kakinya tentu saja membuat Pria itu juga ikut melangkahkan kakinya mengikuti kemanapun arah langkah kaki Felisa membawanya pergi.
***
Sementara itu Erzhan dan juga Bram terlihat baru saja keluar dari sebuah bangunan tua setelah melakukan transaksi gelap tentang sebuah perdagangan benda-benda terlarang, terlihat mulai melangkahkan kakinya meninggalkan bangunan tua tersebut.
Sebenarnya bukan hal ini tujuan utamanya, semenjak Erzhan memutuskan untuk meneruskan bisnis gelap milik Rayshiva, Erzhan tidak benar-benar melakukannya dengan baik. Yang Erzhan lakukan malah beberapa kali menjebak para bandar obat-obatan terlarang agar bisa tertangkap dengan mudah oleh kepolisian. Hal itulah yang membuat Erzhan begitu disegani oleh pihak yang berwajib dan juga pemerintahan karena berkat dirinya pihak kepolisian berhasil menangkap beberapa badar narkoba kelas kakap maupun kelas kecil tanpa harus bersusah payah melakukannya.
"Apa kau sudah mengurusnya?" ucap Erzhan kemudian sambil menatap ke arah kaca spion untuk melihat reaksi Bram atas pertanyaannya.
"Tentu saja Tuan sebentar lagi mereka pasti akan di gelandang ke jeruji besi. Saya sudah pastikan mereka tidak akan pernah bisa lolos dari sana Tuan." ucap Bram dengan nada yang yakin bahwa operasinya berhasil kali ini.
Mendengar laporan dari Bram barusan lantas membuat Erzhan tersenyum seketika, Erzhan benar-benar puas ketika mendengar laporan dari Bram barusan. Entah ke berapa kalinya ia berhasil menangkap serta menjebloskan beberapa gembong narkoba dan membantu pihak kepolisian mengungkap beberapa kasus terbesar yang sulit terpecahkan. Dan yang terpenting dari semua itu adalah meski Erzhan menjebloskan bandar tersebut ke jeruji besi ia tetap bisa menerima uang hasil penjualan tersebut. Bukankah ini yang dinamakan sekali dayung dua pulau terlampaui?
__ADS_1
"Bagus, aku harap kali ini akan berhasil seperti sebelum-sebelumnya." ucap Erzhan dengan tersenyum bangga sambil menatap ke arah luar kaca jendelanya.
"Tentu saja Tuan" ucap Bram kemudian melajukan mobilnya membelah jalanan meninggalkan bangunan tua tersebut setelah suara sirine mobil polisi terdengar dengan jelas di telinga keduanya.
***
Sore harinya
Setelah berputar-putar mencari peluang bisnis yang akan Felisa kerjakan, pada akhirnya Felisa memilih untuk membuka sebuah kedai ramen. Setidaknya itu mungkin bisa mengobati sedikit rasa kangennya terhadap sang Ayah yang telah pergi meninggalkannya. Dengan senyuman yang mengembang Felisa terlihat keluar dari sebuah ruko dimana sebelumnya ia telah sepakat untuk menyewanya selama 6 bulan ke depan.
"Aku tidak sabar untuk memberitahu Farel tentang hal ini, meski terkesan mendadak tapi tidak ada salahnya juga untuk mencobanya, bukan? Baiklah Felisa mari berusaha sekuat tenaga mulai hari ini.. Semangat!" ucap Felisa pada diri sendiri sambil terus melangkahkan kakinya menyusuri area jalanan sore itu.
Disaat situasi di jalanan sore itu tengah sepi, sosok Pria berjaket kulit hitam tersebut lantas mulai mempercepat langkah kakinya bersiap untuk memulai aksinya dan membawa Felisa menemui Raes.
"Aku yakin Bos pasti akan senang ketika mengetahui aku berhasil mendapatkannya." ucap Pria itu sambil mempercepat langkah kakinya.
Sambil melangkahkan kakinya dengan perlahan Pria itu lantas terlihat mengeluarkan sebuah sapu tangan dan langsung membekap mulut Felisa dari arah belakang. Felisa yang mendapat serangan secara tiba-tiba tentu saja berusaha memberontak dengan sekuat tenaganya, namun sesuatu yang ia hirup melalui saputangan tersebut membuat kesadarannya menurun dan pada akhirnya pingsan dengan seketika.
Melihat Felisa sudah pingsan saat ini membuat Pria itu langsung tersenyum dengan seketika dan langsung menggendong tubuh Felisa ala bridal style, hanya saja sebelum pria itu berhasil membawa kabur tubuh Felisa sesuatu terjadi padanya dan langsung mengejutkan Pria tersebut.
__ADS_1
Bruk...
Bersambung