
"Apa syaratnya?" tanya Felisa dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah dimana Erzhan berada.
***
Di dalam mobil yang dikendarai oleh Andi
Felisa benar-benar tidak menyangka jika syarat yang di berikan oleh Erzhan adalah ia harus bersedia mendapat kawalan untuk menuju ke rumah dan melihat Ayahnya di sana. Felisa bahkan terlihat memasang raut wajah yang cemberut ketika mengetahui jika Erzhan menyiapkan 2 orang Bodyguard untuk mengawalnya ke rumah.
Jika kalian bingung mengapa Felisa menemui Ayahnya di rumah jawabannya adalah... Setelah Felisa dan juga Farel melarung kan abu jenazah Nelson ke laut, Felisa dan juga Farel membuat sebuah tempat almari kaca yang mereka letakkan di ruang tamu, dimana di sana berisi barang-barang kesayangan milik Nelson dan tentu saja foto keluarga di sana konsepnya mungkin lebih mirip seperti rumah abu yang biasanya digunakan untuk menyimpan abu jenazah setelah di kremasi.
Keduanya sengaja membuat hal tersebut sebagai bentuk cinta dari keduanya, sekaligus sebagai tempat keluh kesah bagi keduanya jika mereka merindukan sosok Nelson. Karena pelarungan abu milik Nelson tempatnya sangatlah jatuh dan butuh waktu hampir beberapa hari untuk sampai ke tempat tersebut, sehingga keduanya memutuskan untuk menyiapkan satu tempat tersendiri di rumah mereka untuk mengenang Nelson.
Felisa melirik beberapa kali ke arah depan dimana dua orang Bodyguard tengah fokus menatap ke arah jalanan menuju ke arah dimana rumahnya berada. Membuat Felisa lantas mulai terlihat khawatir dan juga bingung ketika memikirkan tentang, bagaimana cara agar ia bisa lolos dari kedua Bodyguard ini?
"Benar-benar sialan si Erzhan, bagaimana aku bisa mengecoh keduanya jika terus diapit seperti ini?" ucap Felisa dalam hati sambil terus bertanya-tanya pada diri sendiri.
***
Kediaman Felisa
Felisa terlihat mulai turun dari dalam mobil diikuti dengan dua orang Bodyguard yang sedari tadi tidak pernah membiarkannya lepas dari pandangan keduanya.
Dengan langkah kaki yang perlahan Felisa mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah kediamannya. Berhubung ini masih pagi hari sudah bisa dipastikan jika Farel tengah berada di sekolah saat ini, membuat Felisa yang mengetahui hal tersebut dengan pasti lantas langsung mengambil kunci cadangan yang terletak di bawah pot bunga.
Baru setelah itu membuka pintu rumahnya dan masuk ke dalam begitu juga dengan dua orang Bodyguard tersebut, dimana satu orang menjaga di depan pintu masuk sedangkan satu lagi mengikuti langkah kaki Felisa masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Kamu tunggulah di sini aku akan masuk ke dalam untuk mencari korek dan menyalakan lilin untuk Ayah." ucap Felisa pada Bodyguard tersebut berharap Bodyguard tersebut memberinya ruang untuk pergi sendiri.
"Tak perlu sungkan dan menghiraukan aku, lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan." ucap Andi dengan nada yang datar, membuat Felisa lantas langsung menghela napasnya dengan panjang begitu mendengar jawaban dari Andi barusan.
"Baiklah terserah apa katamu!" ucap Felisa pada akhirnya menyerah karena sepertinya ia sama sekali tidak mendapatkan celah untuk bergerak.
Jika Felisa tahu jadinya seperti ini, mungkin ia akan menunggu sampai Farel pulang sekolah. Setidaknya Farel mungkin bisa mengecoh kedua Bodyguard Erzhan barang sejenak.
***
Sementara itu tanpa ketiganya sadari, sebuah mobil berwarna hitam metalik terlihat berhenti tak jauh dari kediaman Felisa. Seulas senyum nampak terlihat dengan jelas terlukis di wajah Frans ketika mendapati jika Erzhan membiarkan Felisa keluar dari sangkar emasnya.
"Kena kau, akan aku pastikan rencana ku akan berhasil kali ini." ucap Frans dengan tersenyum simpul menatap ke arah kediaman Felisa.
"Halo bos" ucap sebuah suara yang lantas membuat Frans langsung menyandarkan tubuhnya pada kursi pengemudi dengan nyaman.
"Aku sudah kirim lokasinya, segera datang dan lakukan tugasmu dengan baik. Aku tidak ingin ada sebuah kegagalan kali ini." ucap Frans kemudian dengan nada yang datar sebelum pada akhirnya mematikan panggilan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari seberang sana.
Setelah menyelesaikan panggilan telponnya barusan Frans kemudian mulai meletakkan ponsel miliknya pada saku jasnya dan kembali menatap ke arah kediaman Felisa dengan tatapan yang sinis.
"Baiklah Erzhan, kita lihat apa yang bisa kamu lakukan jika mangsa kesayangan mu lepas dari genggaman tangan mu." ucap Frans dengan tersenyum simpul.
***
Kediaman Felisa
__ADS_1
Felisa yang sama sekali tidak bisa bergerak karena kelakuan Bodyguard milik Erzhan, lantas hanya bisa mendengus dengan kesal sambil menyiapkan persembahan untuk Ayahnya.
"Bagaimana aku bisa menghubungi Frans jika ke kamar mandi saja aku diikuti terus." ucap Felisa dalam hati dengan raut wajah yang cemberut kesal.
Sampai kemudian ketika Felisa hendak memulai persembahan untuk Ayahnya, mendadak lampu di ruangan tersebut padam dengan seketika membuat Felisa langsung terkejut dan bangkit dari posisinya saat itu. Felisa menatap ke arah sekitar begitu juga dengan Andi yang senantiasa berdiri di dekatnya. Sampai kemudian tak lama setelah lampu di ruangan tersebut padam, sebuah suara seperti lemparan batu yang mengenai kaca rumahnya, lantas langsung mengejutkan Felisa dan juga Andi.
"Apa yang terjadi?" tanya Felisa yang terkejut akan suara yang baru saja terdengar di ruangannya.
"Sebaiknya kita lihat ke depan Nona." ucap Andi yang lantas di balas anggukan kepala oleh Felisa.
Baik Andi maupun Felisa nampak melangkahkan kakinya hendak pergi keluar untuk melihat apa yang terjadi di luar. Hanya saja sebuah tangan yang mendadak membekap mulut Felisa dan menariknya ke dalam rumah, lantas membuat Andi tidak menyadari jika ia telah kehilangan Felisa saat ini.
Andi yang tak menyadari Felisa menghilang, nampak terus melangkahkan kakinya menuju ke area luar rumah untuk melihat apa yang terjadi di luaran. Ada sebuah perasaan terkejut ketika ia mendapati rekannya sudah jatuh di lantai sambil memegangi kepalanya yang berdarah seperti terkena sesuatu.
"Apa yang terjadi?" tanya Andi sambil membantu temannya untuk bangkit dari posisinya.
"Ada yang melempar batu dengan tiba-tiba, sebaiknya kita lebih berhati-hati dan lindungi Nona. Aku takut jika ada yang mengincar Nona." ucapnya sambil menahan rasa sakit tepat di area kepalanya yang terkena lemparan tersebut.
"Tentu saja aku akan melaporkannya kepada ketua, Nona anda sebaiknya..." ucap Andi sambil menoleh ke arah belakang namun hanya mendapati kekosongan di sana, membuat keduanya lantas langsung saling pandang antara satu sama lain begitu tak melihat Felisa di belakang mereka.
"Dimana Nona?" ucap Andi dengan raut wajah yang kebingungan.
"Apa yang kau lakukan sedari tadi hingga kehilangan jejak Nona?" ucap rekannya dengan raut wajah yang kesal sambil masih terus memegangi lukanya.
Bersambung
__ADS_1