
Sebuah goyangan yang terasa dan membuat kepalanya pusing, Lantas langsung membangunkan Felisa dari pingsannya, Felisa mengerjapkan kelopak matanya secara beberapa kali dan terkejut ketika mendapati dirinya sedang berada di dalam sebuah mobil yang melaju menuju ke sebuah tempat. Felisa yang tahu mobil tersebut sedang melaju dengan perlahan membelah jalanan bebatuan, lantas langsung bangun dari kursi penumpang dan menatap ke arah depan untuk melihat siapa yang saat ini tengah mengemudikan mobilnya.
"Siapa kau?" ucap Felisa yang hanya melihat bagian belakang seorang Pria asing yang tidak ia kenali.
Sedangkan Frans yang sedari tadi sibuk mengemudi, mendengar sebuah suara dari kursi belakang lantas langsung tersenyum dengan tipis menatap ke arah spion untuk melihat keadaan Felisa.
"Tak perlu takut aku Frans, apa kamu masih mengingatku?" ucap Frans dengan nada yang santai sambil terus fokus menatap ke arah jalanan yang hanya diisi pepohonan di kiri dan kanannya serta jalanan yang bebatuan.
"Frans? Ba...bagaimana bisa kamu membawa ku seperti ini? Lalu bagaimana Erzhan?" tanya Felisa dengan raut wajah yang kebingungan.
Frans yang mendengar pertanyaan dari Felisa yang bertubi-tubi barusan, lantas langsung membuat Frans tersenyum dengan tipis.
"Bukankah kamu ingin bertemu dengan Ibumu? Lalu untuk apa kamu menanyakan Erzhan di sini? Bukankah kamu ingin terbebas darinya?" ucap Frans dengan nada yang santai.
Sedangkan Felisa yang mendengar perkataan dari Frans barusan tentu saja langsung membuat Felisa terdiam seketika. Apa yang dikatakan oleh Frans barusan tentu saja benar, hanya saja entah mengapa Felisa merasa sangat berat ketika tiba-tiba harus meninggalkan Erzhan secara tiba-tiba seperti ini. Erzhan memang memanfaatkannya dan Felisa juga tahu akan hal itu, tapi Erzhan tidak pernah memperlakukannya dengan buruk. Hanya ketika pertama kali pertemuan mereka kembali setelah beberapa minggu dan itupun terjadi karena kesalahpahaman, namun selebihnya Erzhan benar-benar memperlakukan segalanya dengan baik termasuk mengurusi adiknya yaitu Farel.
Jadi tidak ada alasan bagi Felisa untuk membencinya, Felisa bahkan sangat berterima kasih karena Erzhan telah merawat adiknya dengan baik selama beberapa minggu ini.
"Aku memang ingin pergi tapi bukan dengan cara seperti ini, aku ingin pergi secara baik-baik." ucap Felisa dalam hati sambil menatap kosong ke arah depan.
Sedangkan Frans yang tak kunjung mendapat jawaban apapun dari Felisa, lantas menghentikan laju mobilnya dengan seketika kemudian menatap ke arah Felisa dengan tatapan yang intens seakan bertanya-tanya akan kediaman Felisa saat ini.
__ADS_1
"Mengapa kamu diam? Apa perkataan ku salah barusan? Bukankah kamu benar-benar ingin bertemu dengan Ibu dan Kakek mu?" tanya Frans kemudian yang lantas membuyarkan lamunan Felisa dengan seketika.
Felisa menghela napasnya dengan panjang sambil terus berpikir keputusan apa yang akan ia ambil saat ini. Sampai kemudian Felisa terdengar mulai kembali membuka suaranya.
"Bisakah kamu mengantarkan ku kembali ke rumah Erzhan? Aku benar-benar tidak ingin pergi dengan cara seperti ini, aku ingin pergi secara baik-baik dan tidak membuatnya khawatir mencari keberadaan ku." ucap FeLisa kemudian yang tentu saja membuat bola mata Frans langsung membulat dengan seketika.
Frans bahkan terkejut ketika mendengar perkataan Felisa yang memintanya untuk kembali ke kediaman Erzhan. Meski Felisa adalah cucu dari William tapi tentu ia tidak akan sebodoh itu dan mengantar Felisa kembali dengan cuma-cuma ke kediamannya Erzhan.
"Benar-benar sialan!" ucap Frans dalam hati dengan raut wajah yang tak enak.
Felisa yang tak kunjung mendapat jawaban atas pertanyaannya barusan, lantas menatap ke arah Frans dengan tatapan yang memohon. Membuat Frans langsung menghela napasnya dengan panjang dan mencoba untuk memutar otaknya berpikir bagaimana caranya ia bisa membujuk Felisa agar mau ikut bersama dengannya secara sukarela tanpa paksaan.
"Aku akan mengantar mu kembali setelah bertemu dengan Ibumu, bukankah kamu menginginkan hal tersebut?" ucap Frans lagi dengan nada yang lebih rendah.
Sampai kemudian pemikirannya terhenti ketika sebuah suara jawaban dari Felisa, lantas menghentikan segala pemikirannya.
"Apakah tempatnya jauh?" tanya Felisa kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Tidak, jika aku yang menyetir mungkin akan memakan waktu sekitar satu hari satu malam." ucap Frans kemudian.
"Apa? Itu terlalu lama? Erzhan pasti akan mencari ku nanti." ucap Felisa kemudian.
__ADS_1
"Tak perlu khawatir aku sudah menyuruh orang untuk mengabari Erzhan jika kamu pergi bersama ku. Lagi pula itu sudahlah perjalanan paling singkat dari pada yang biasanya di tempuh orang-orang, dimana mereka harus menghabiskan waktu hingga 3 harian untuk sampai di tempat Tuan William." ucap Frans menjelaskan dengan nada yang begitu enteng namun berhasil membuat Felisa terkejut ketika mendengarnya.
"Apa? Jangan bercanda dengan ku! Bagaimana bisa tiga hari perjalanan dapat di tempuh menjadi satu hari satu malam?" ucap Felisa dengar raut wajah yang tak percaya ketika mendengar perkataan dari Frans barusan.
"Ada beberapa hal yang tidak kamu ketahui dalam hidup dan akan aku tunjukkan sesuai dengan perkataan ku barusan!" ucap Frans kemudian dengan senyuman yang simpul.
Baru kemudian setelah mengatakan hal tersebut Frans mulai melajukan mobilnya kembali menuju ke arah dimana tujuan mereka semula. Sedangkan Felisa hanya bisa terdiam sambil mengikuti kemanapun laju mobil yang dikendarai oleh Frans membawa dirinya.
"Semoga saja kamu tidak mencari keberadaan ku Er.." ucap Felisa dalam hati sambil terus menatap ke arah luar jendela mobil yang ia tumpangi.
***
Sementara itu di dalam mobil milik Erzhan terlihat mobil tersebut tengah berhenti di bahu jalan. Sedangkan untuk Erzhan dan juga Bram nampak tengah sibuk menatap ke arah layar ponsel mereka masing-masing seakan seperti tengah mencari informasi tentang keberadaan Felisa saat ini.
Ada beberapa hal yang membuat Erzhan menyesal dan salah satunya karena menganggap remeh musuh-musuhnya. Dengan tatapan yang kesal Erzhan nampak menatap ke arah layar ponsel miliknya dan mencari titik lokasi keberadaan Felisa saat ini.
"Entah apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu, namun ketika aku sampai mengetahui jika segalanya atas kehendak dari Felisa, lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadanya!" ucap Erzhan pada diri sendiri sambil masih fokus menatap ke arah layar ponsel miliknya.
Sampai kemudian ketika suasana di dalam mobil begitu hening, sebuah suara yang berasal dari Bram lantas membuat Erzhan mendongak dengan seketika.
"Saya menemukannya Tuan..."
__ADS_1
Bersambung