Felisa & Harta Tersembunyi

Felisa & Harta Tersembunyi
Berkata lah dengan jujur


__ADS_3

Setelah mengetahui panggilan tersebut berasal dari William, lantas membuat Frans buru-buru menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Halo" ucap Frans kemudian begitu ia menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.


"Kemana saja sebenarnya kau? Hingga harus aku yang menelpon mu terlebih dahulu?" pekik William yang kesal karena tak kunjung mendapat kabar dari Frans tentang Felisa.


Mendengar suara melengking di seberang sana tentu saja langsung membuat Frans menjauhkan sebentar ponselnya karena terkejut akan suara teriakan yang berasal dari William barusan. Frans yang mendapat pertanyaan dari william barusan lantas terdiam sejenak sambil berusaha mencari jawaban yang pas untuk meredam kemarahan William saat ini.


"Saya minta maaf Tuan, saya saat ini tengah berada di kediaman Putri Nelson dan sedang memantaunya." ucap Frans kemudian mulai mencari alasan berharap William tidak curiga kepadanya.


"Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya William kemudian yang lantas membuat Frans langsung menelan salivanya dengan kasar.


"Tidak ada Tuan, jika ada sesuatu yang mencurigakan saya akan melaporkannya kepada anda." ucap Frans kemudian.


Hening sesaat tak ada tanggapan apapun dari seberang sana, membuat Frans lantas menjadi ketar-ketir karena mengira William tidak mempercayainya. Sampai kemudian sebuah suara yang terdengar kembali dari William setelah helaan napas yang panjang lantas membuat Frans sedikit lega.


"Baiklah kalau begitu cepat kabari aku jika terjadi sesuatu atau apapun itu." ucap William kemudian mewanti-wanti Frans.


"Tentu Tuan" ucap Frans kemudian setelah itu terdengar bunyi panggilan terputus dari seberang sana.


"Syukurlah" ucap Frans pada akhirnya setelah panggilan telpon dimatikan oleh William barusan.


***


Malam harinya

__ADS_1


Di sebuah ruangan yang gelap gulita tanpa penerangan sama sekali terlihat Felisa tengah duduk di sudut ruangan tersebut. Felisa benar-benar mengumpat dengan kesal atas sikap Erzhan yang malah meletakkannya di suatu tempat yang bagaikan penjara pengap tanpa penerangan sama sekali di area tersebut, membuat Felisa tidak berani melangkahkan kakinya barang sejengkal pun karena takut jika ada sesuatu di ruangan tersebut yang Felisa tidak tahu keberadaannya.


"Semoga saja tidak ada yang keluar... Jangan sampai ada yang keluar..." ucap Felisa terus mengulang kata-kata yang sama karena takut jika tiba-tiba ada hewan yang keluar dan mendekat ke arahnya.


Disaat rasa takut dan juga kesal bercampur menjadi satu dalam diri Felisa saat ini, sebuah suara pintu yang terbuka lantas membuat Felisa mendongak menatap ke arah sumber suara.


Ada sedikit perasaan kesal dalam diri Felisa ketika melihat suara derap langkah kaki berasal dari Erzhan yang terlihat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Felisa berada.


"Bagaimana? Apa kau sudah mau membuka suara kali ini?" ucap Erzhan kemudian sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Felisa berada saat ini.


Mendengar pertanyaan tersebut tentu saja membuat Felisa langsung memutar bola matanya dengan jengah, bagaimanapun juga Felisa tetap tidak mengetahui akan arah pembicaraan dari Erzhan meski Erzhan terus menyiksanya, Felisa tetap akan mengatakan hal yang sama.


"Percuma saja kau melakukan hal ini kepada ku karena aku memang tidak mengetahui tentang keberadaan harta itu! Jadi percuma saja meski kamu menyiksa ku dengan cara apapun juga!" ucap Felisa kembali menegaskan kepada Erzhan bahwa ia memang benar-benar tidak mengetahuinya sama sekali.


Sedangkan Bram yang kebetulan juga ada di sana melihat Felisa seperti itu tentu saja merasa kasihan, apalagi melihat wajah pucat Felisa di tengah gelapnya ruangan itu menambah kesan horor bagi Bram seakan seperti tengah menonton serial film horor.


"Tuan sepertinya dia benar-benar tidak mengetahuinya." ucap Bram kemudian dengan nada yang berbisik, yang membuat Erzhan lantas dengan spontan menoleh ke arah sumber suara.


"Arg benar-benar sialan!" ucap Erzhan dengan nada yang kesal sambil menendang kuat pintu ruangan tersebut hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring dan mengejutkan Felisa di sana.


Felisa terdiam di tempatnya karena terkejut mendengar suara Erzhan yang menendang pintu ruangan tersebut. Sedangkan Erzhan yang mengetahui hal itu lantas langsung berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


Helaan napas terdengar berhembus dengan jelas berasal dari Bram, membuat Felisa hanya bisa terdiam meski mengetahui langkah kaki Bram semakin mendekat ke arahnya.


"Jika kamu ingin selamat dari sini sebaiknya kamu segera katakan segala yang kamu ketahui sebelum Tuan Erzhan memberikan mu penyiksaan yang lebih dari pada ini, bersyukurlah karena Tuan tidak membiarkan mu jadi santapan tiger hari ini!" ucap Bram memberi peringatan kepada Felisa.

__ADS_1


Baru setelah itu melangkahkan kakinya pergi dari sana dan meninggalkan Felisa seorang diri di ruangan tersebut.


"Benar-benar manusia-manusia aneh, awas saja kalian!" ucap Felisa dengan nada yang kesal sambil menatap ke arah pintu ruangan yang kembali tertutup saat ini.


Felisa yang melihat pintu kembali tertutup lantas mulai kembali menggeser tubuhnya sedikit menyudut karena takut ada sesuatu yang mendekatinya.


Cit.. cit...


"Oh astaga, suara apa itu? Aku tidak mendengarnya... Aku tidak mendengarnya hahaha..." ucap Felisa mencoba untuk men sugesti pemikirannya sendiri bahwa tidak ada apa-apa di ruangan tersebut meski ia beberapa kali mendengar suara hewan pengerat di dalam ruangan tersebut.


***


Kantor polisi


Farel yang tak kunjung menemukan keberadaan Felisa pada akhirnya memutuskan untuk melaporkan kehilangan kakaknya di kantor polisi. Hanya saja niatannya yang berharap bahwa akan langsung di lakukan pencarian terhadap kakaknya, sayangnya ia malah dihadapkan kenyataan bahwa semua halnya membutuhkan proses dan juga biaya yang besar untuk memulai penindak lanjutan.


"Pak bagaimana bisa saya harus menunggu kembali 2 x 24 jam? Bagaimana jika terjadi sesuatu kepada kakak saya? Bapak jangan main-main ya pak..." ucap Farel dengan nada yang mulai kesal karena petugas polisi malah menyuruhnya untuk kembai menunggu pemrosesan data dan juga segalanya.


"Adek sabar dulu, semuanya butuh proses lagi pula orang hilang tidak hanya kakak kamu saja. Jadi kami harap kamu bisa mengantri terlebih dahulu sebelum pada akhirnya di proses." ucap petugas polisi tersebut yang tentu saja membuat Farel menjadi geram karenanya.


Farel yang mendengar penuturan dari petugas polisi tersebut tentu saja langsung geram, sambil bangkit dari tempat duduknya Farel lantas menatap tajam ke arah petugas polisi tersebut hendak memberikan pelajaran kepadanya. Sampai kemudian sebuah tangan yang menyentuh pundaknya secara tiba-tiba lantas menghentikan gerakan Farel yang hendak memberi pelajaran kepada polisi tersebut.


"Ikut aku!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2