
Bangunan tua yang di lindungi pemerintah
Terlihat Frans tengah melangkahkan kakinya masuk dengan langkah kaki yang terburu-buru. Setelah menerima kabar jika Erzhan tengah berada di daerah Kota tua, lantas membuat Frans langsung menancap gasnya untuk mencari tahu apa yang sedang Erzhan lakukan di sana.
Kebetulan sekali ketika Ela menelpon posisi Frans saat itu berada tidak jauh dari daerah tersebut. Sehingga membuatnya bisa langsung meluncur dengan cepat tepat setelah menerima telpon dari Ela barusan.
Dengan langkah kaki yang bergegas Frans mencoba mencari tahu keberadaan Ela saat ini. Sampai kemudian pandangannya terhenti pada seorang gadis yang tengah duduk dengan santai di area dekat perapian saat itu.
"Ternyata kau cepat sekali ya?" ucap Ela yang seakan mengetahui kedatangan Frans barusan.
"Tidak usah basa-basi, katakan di mana Erzhan saat ini?" ucap Frans kemudian yang lantas membuat Ela tersenyum ketika mendengar perkataan dari Frans barusan.
"Mengapa kamu buru-buru sekali? Bukankah kita masih bisa bermain terlebih dahulu? Ayolah Frans kau bahkan sudah lama tidak menyentuh ku..." ucap Ela dengan nada yang merengek sambil mengusap lembut area dada bidang milik Frans saat itu.
Frans yang mendapati tingkah Ela yang terlalu agresif, lantas terlihat menghela napasnya dengan panjang. Diambilnya tangan Ela saat itu yang terlihat terus berselancar dengan lancang menjelajahi area tubuhnya. Membuat Ela yang mendapati hal tersebut lantas langsung memasang raut wajah yang cemberut.
"Katakan dimana Erzhan berada saat ini, lagi pula satu hal yang harus ku tekankan kepadamu. Aku sama sekali tidak pernah menghabiskan malam bersama dengan mu, kita hanya sebatas berciuman. Jadi berhenti mengganggu ku untuk hal-hal yang tidak penting." ucap Frans kemudian dengan nada penuh penekanan, membuat Ela yang mendengar perkataan Frans barusan lantas mendengus dengan kesal.
"Ayolah Frans..." ucap Ela hendak kembali merengek namun terputus karena bentakan dari Frans barusan.
"Sudah ku bilang untuk tidak melakukan hal ini, apa kau tidak bisa mendengarnya ha!" pekik Frans kemudian.
Teriakan Frans yang tiba-tiba di tengah kerumunan saat itu, tentu saja langsung mengundang sorot beberapa pasang mata yang menatap ke arah keduanya dengan raut wajah yang penasaran. Mendapati hal tersebut membuat Ela langsung melongo menatap ke arah Frans dengan tatapan yang kesal. Teriakan Frans benar-benar membuatnya malu karena harus menjadikannya pusat perhatian.
__ADS_1
"Mengapa semua Pria hari ini selalu bersikap kasar kepada ku? Apakah mereka semua tidak bisa bersikap lebih lembut lagi?" ucap Ela dengan nada yang menggerutu saat itu, membuat Frans yang mendapati sikap mengesalkan Ela saat ini lantas membuatnya langsung mendorong tubuh Ela dan menyudutkannya ke arah tembok.
"Sial! Mulut merepet wanita ini pasti akan menghambat langkah ku dalam mencari tahu keberadaan Erzhan." ucap Frans dalam hati sambil menatap tajam ke arah Ela saat itu.
"Katakan sekarang juga atau aku akan semakin membuat mu malu!" ucap Frans yang lantas membuat Ela tersudut saat itu.
Tatapan pengunjung bangunan tua tersebut bahkan semakin terlihat aneh ketika mendapati posisi keduanya yang seperti ini. Pada akhirnya membuat Ela mau tidak mau lantas mengatakan apa yang dicari oleh Frans sedari tadi. Padahal tadinya Ela ingin sedikit bermain-main bersama dengan Frans, namun sikap Frans yang tidak sabaran lantas mengurungkan niatnya saat itu.
"Aku benar-benar tidak tahu kemana perginya Erzhan saat itu, namun aku yakin jika ia masuk ke area tengah bangunan tua ini. Jika dilihat dari arahnya sepertinya mereka hendak menuju ke arah ruang bawah tanah." ucap Ela pada akhirnya yang membuat Frans langsung melepaskan cengkraman tangannya saat itu.
Mendengar perkataan Ela barusan lantas membuat Frans langsung terdiam seketika. Meski perkataan Ela sama sekali tidak menjurus ke arah harta tersembunyi tersebut. Namun entah mengapa feeling Frans mengatakan jika semua ini ada hubungannya dengan harta tersembunyi tersebut.
Seulas senyum terlihat jelas di wajah Frans saat itu membuat Ela yang melihat senyuman tersebut, lantas langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung menatap ke arah Frans saat itu.
***
Sementara itu Andi dan juga Rama yang berhasil menemukan pintu masuk ke terowongan yang dibicarakan oleh Arkan tadi. Lantas terlihat menatap ke arah sekeliling menanti kedatangan Erzhan dan juga Bram.
Keduanya nampak berjaga di area sana dengan pandangan mata yang awas. Tidak ada kamera pengawas yang terlihat terpasang di sekitaran area ruang bawah tanah, selain pintu masuk menuju ruang bawah tanah sebelumnya. Mendapati hal tersebut tentu saja membuat langkah yang diambil keduanya semakin mudah. Lagi pula meski ada kamera pengawas sekalipun, Arkan tetap selalu memberikan luang kepada keduanya untuk bergerak dengan mengotak-atik ulang rekaman kamera pengawas tersebut.
Beberapa menit menunggu, tak lama setelah itu Erzhan dan juga Bram nampak terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana keduanya berada saat ini.
"Apakah kalian sudah menemukan jalan masuknya?" ucap Erzhan ketika mendapati keduanya nampak menatap ke arahnya saat itu.
__ADS_1
"Sudah Tuan dan saya pastikan aman." ucap Andi sambil menunjuk ke arah pintu masuk di belakangnya.
"Baiklah, jika begitu kalian berdua jaga di sini biar aku dan Bram masuk ke dalam. Jangan lupa untuk selalu berkomunikasi jika ada apa-apa selama aku masuk dan menyusuri terowongan ini." ucap Erzhan kemudian memberikan perintah kepada keduanya.
"Tentu Tuan..." jawab Andi dan juga Rama hampir secara bersamaan.
Setelah mengatakan hal tersebut, sesuai dengan perintah dari Erzhan. Andi dan juga Rama nampak mulai berjaga di area depan.
***
Kedai Ramen
Di area dalam kedai terlihat Felisa yang nampak sedang sibuk beres-beres beberapa barang yang berserakan di sana, lantas melirik ke arah Arkan dengan tatapan yang sinis. Sejak keduanya masuk ke dalam kedai tersebut Arkan sama sekali tidak berpindah dari tempatnya dan fokus menatap ke arah layar iPad di tangannya. Mendapati hal tersebut lantas membuat Felisa mendengus dengan kesal karenanya.
"Nona Felisa bisakah saya meminta air mineral?" ucap Arkan dengan tatapan yang masih fokus kepada layar iPadnya.
"Tidak bisakah kau berdiri dan mengambilnya sendiri?" ucap Felisa dengan nada yang menyindir.
Felisa yang tidak melihat adanya tanggapan atau jawaban dari Arkan barusan, lantah langsung mendengus dengan kesal. Sambil menghentakkan kakinya, Felisa nampak mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah botol air mineral yang berada di ruangan sebelah.
Disaat Felisa tengah menuju ke arah sana, Arkan yang melihat kepergian Felisa barusan lantas membuat Arkan menghubungi Erzhan saat itu juga.
"Tuan ada sesuatu yang saya temukan!"
__ADS_1
Bersambung