
Sebuah suara yang berasal dari area depan ruko tersebut, lantas langsung membuat Arkan yang begitu penasaran akan suara itu mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah sumber suara. Tanpa membawa ipad-nya Arkan mulai melangkahkan kakinya secara cepat menuju ke arah sana.
Langkah kaki Arkan lantas terhenti dengan seketika begitu ia melihat sebuah pemandangan yang sama sekali tidak ia harapkan terjadi saat ini.
"Lepaskan dia!" pekik Arkan kemudian yang lantas mengejutkan Erzhan di seberang sana.
"Apa yang terjadi sebenarnya Ar? Jangan membuatku begitu penasaran dengan kata-katamu itu." ucap Erzhan di seberang sana.
Felisa benar-benar bernasib sial, ketika ia ingin mencari sebotol air mineral permintaan Arkan sebelumnya. Bukannya malah ketemu yang ia dapati malah anak buah Raes sudah berdiri dan menghadangnya saat ini.
Felisa berdecak dengan kesal ketika ia tidak bisa kabur dari cengkraman anak buah Raes saat itu. Felisa yang mendapati jika Arkan baru saja muncul dari area dalam, lantas berusaha untuk memberi kode kepada Arkan agar pergi menjauh dari sana.
"Tidak bisa dibiarkan, jika Erzhan dan yang lainnya gagal mendapatkan harta tersebut kebebasan Ibu dan juga Farel pasti akan di tangguhkan. Tidak bisa... Aku ingin hidup secara normal." ucap Felisa dengan raut wajah mulai terlihat khawatir saat itu.
"Tuan ada sesuatu yang terjadi di sini, saya akan mencoba untuk menanganinya. Saya harap anda bisa mencapai ke sana tanpa panduan dari saya." ucap Arkan dengan nada yang lirih karena takut mereka akan mendengarnya saat itu.
"Apa yang kau katakan sebenarnya? Ar.. Arkan..." teriak Erzhan berulang kali.
Arkan yang tidak ingin misi ini gagal lantas memutuskan untuk mengakhiri sambungan earphone antara dirinya dan juga Erzhan saat itu. Tanpa memperdulikan Erzhan yang terus bertanya akan apa yang terjadi di sana, Arkan memutus begitu saja pembicaraan keduanya dan mulai menghubungi Rama juga Andi.
"Aku butuh bantuan kalian, kedai milik Felisa sekarang juga!" ucap Arkan sebelum pada akhirnya mulai melangkahkan kakinya maju mendekat ke arah Felisa.
"Arkan Arkan.. Kau bukan tandingan kami jadi aku harap katakan dimana bos mu dan harta tersembunyi itu sekarang, sebelum gadis ini akan menjadi korban keserakahan kalian!" ucap Alex dengan nada penuh ancaman.
Mendengar ancaman Alex barusan tentu saja langsung membuat Felisa menelan salivanya dengan kasar. Perkataan Alex tentu tidak terlihat seperti main-main saat ini, jika apa yang di katakan oleh Alex benar-benar ia lakukan, lalu apa gunanya kebebasan yang di janjikan oleh Erzhan sebelumnya.
__ADS_1
Felisa yang sama sekali tidak ingin berakhir dengan tragis, tanpa berpikir panjang langsung menggigit dengan keras tangan Alex saat itu. Tidak hanya sampai di situ saja, Felisa bahkan menendang area pusaka milik Alex hingga membuatnya terpelanting dan jatuh tepat membentur tembok saat itu.
"Gadis sialan! Tangkap dan habisi dia..." teriak Alex kemudian memberikan perintah kepada anak buahnya sambil menahan rasa sakit di area pusaka miliknya.
"Aw.. Akhhh" rintih Felisa sambil mencoba untuk menstabilkan pandangannya yang sedikit kabur saat itu.
Mendapati aksi Felisa yang tiba-tiba itu lantas membuat Arkan berdecak dengan kesal. Pada akhirnya rencana yang ia susun untuk menyelamatkan Felisa berakhir buyar begitu saja dan berganti dengan strategi baru yang harus segera ia pikirkan.
"Tidak bisakah gadis itu diam saja dan tidak melakukan tindakan impulsif?" ucap Arkan dalam hati sambil berdecak dengan kesal namun tetap melangkahkan kakinya menuju ke arah Felisa saat itu.
Brak...
Suara salah satu ajudan Alex yang terjatuh dan menimpah sebuah meja di sana, lantas terdengar begitu nyaring di telinga. Tidak hanya satu bahkan suara sesuatu berjatuhan terus terdengar menggema di ruangan tersebut.
"Tutup mulut besar mu itu! Aku pasti akan menutup mulut mu itu setelah berhasil melumpuhkan mu!" pekik salah satu ajudan yang terlihat kesal karena ternyata Arkan bisa mengimbangi kelimanya.
"Coba saja kalau kau bisa!" ucap Arkan dengan tersenyum simpul sambil terus meladeni kelimanya satu persatu secara bergantian.
***
Sementara itu Erzhan yang mengetahui jika sambungannya di putus begitu saja, tentu menjadi kesal sekaligus penasaran akan apa yang sedang terjadi sebenarnya. Mendapati perubahan raut wajah Erzhan saat itu, lantas membuat Bram mulai membawa langkah kakinya lebih dekat ke arah Erzhan.
"Apa ada sesuatu Tuan?" ucap Bram dengan raut wajah yang penasaran, membuat Erzhan perlahan-lahan mulai menatap ke arah Bram saat itu.
"Sepertinya kita harus bergerak lebih cepat, ada sesuatu yang terjadi di atas dan aku rasa masalahnya cukup serius kali ini. Sebaiknya kita berpencar saja kamu di sebelah kiri dan aku di sebelah kanan, apa kamu mengerti?" ucap Erzhan kemudian yang lantas membuat Bram mengernyit ketika mendengar perintah tersebut, namun detik berikutnya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut akan alasan dari perintah tersebut.
__ADS_1
"Baik Tuan" jawab Bram.
Setelah membuat keputusan pada akhirnya keduanya mulai berpencar sesuai dengan instruksi dari Erzhan saat itu.
Sebuah suara yang sebelumnya ia dengar benar-benar terngiang-ngiang di kepala Erzhan, membuat Erzhan terus mempercepat langkah kakinya berharap bisa segera menemukan harta tersembunyi tersebut dan mengakhiri segalanya.
"Tunggulah sebentar lagi Fel, akan aku pastikan jika aku akan menyelamatkan mu dari siapapun orang yang mengganggu mu." ucap Erzhan sambil terus membawa langkah kakinya menyusuri sepanjang area lorong tersebut.
Entah apa yang ada di ujung sana, namun yang pasti Erzhan harus segera mencapai ujung agar bisa menyelamatkan Felisa di atas.
Disaat Erzhan tengah fokus menyusuri setiap area lorong, sebuah suara terdengar masuk di earphone miliknya saat itu.
"Tuan di sini jalan buntu!" ucap sebuah suara yang tentu saja berasal dari Bram.
"Apa kau menemukan sesuatu di sana?" tanya Erzhan sambil terus membawa langkah kakinya lurus ke depan.
"Tidak ada Tuan selain hanya..." ucap Bram namun terpotong ketika suara benda jatuh terdengar di seberang sana, yang tentu saja langsung menghentikan langkah kaki Erzhan dengan seketika.
"Apa yang terjadi Bram.. Apa kau baik-baik saja?" ucap Erzhan dengan perasaan yang khawatir.
Pikirannya saja saat ini belum tenang karena masih kepikiran dengan Felisa di atas, namun sebuah suara benda jatuh yang cukup keras berasal dari tempat Bram tentu saja semakin membuat perasaan Erzhan tidak karuan saat itu.
"Ada sesuatu di sini Tuan!" pekik Bram kemudian yang lantas membuat Erzhan mengernyit begitu mendengar perkataan dari Bram barusan.
Bersambung
__ADS_1