Felisa & Harta Tersembunyi

Felisa & Harta Tersembunyi
Titik tertinggi dari sebuah perpisahan


__ADS_3

"Apa ada sesuatu yang menganggu mu? Kalau kau butuh teman cerita aku siap untuk mendengarkannya, tak perlu sungkan..." ucap Felisa kemudian.


Mendengar perkataan Felisa barusan membuat hati Erzhan langsung dilanda kegundahan. Erzhan bahkan tengah merasakan kegelisahan di dalam hatinya karena kakaknya Elena, namun ketika ia mengingat kembali tujuannya hatinya yang mulai goyah perlahan-lahan mulai teguh dan kembali membeku.


"Aku... Aku ingin pergi tidur, udara disini cukup dingin hingga membuat bibir ku bergetar karenanya." ucap Erzhan pada akhirnya kemudian bangkit dari tempat duduknya dan melangkahkan kakinya berlalu meninggalkan Felisa seorang diri.


Felisa yang melihat kepergian Erzhan lantas terlihat menoleh selama beberapa detik kemudian kembali menatap ke arah pantai. Seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Felisa sambil terus menikmati indahnya rembulan yang tergambar begitu jelas di langit pantai malam itu.


"Sepertinya dia belum bisa terbuka sepenuhnya, tak apa... Lagi pula sebuah pengalaman yang buruk ada kalanya sangat sulit untuk di ceritakan kepada orang lain, apalagi aku dan dia masih bertemu dalam beberapa hari saja." ucap Felisa pada diri sendiri sambil masih menatap ke arah rembulan malam itu.


***


Keesokan paginya


Felisa dan juga Farel yang baru saja bersih-bersih terlihat sudah memakai pakaian dengan warna putih yang senada, membuat Erzhan yang melihat tema pakaian keduanya lantas terlihat menatap dengan tatapan yang bertanya ke arah Felisa dan juga Farel.


"Mau kemana kalian pagi-pagi begini dengan baju yang seperti itu?" tanya Erzhan dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah keduanya dengan tatapan yang penasaran.


"Kami akan pergi untuk melarungkan Abu Ayah ku ke pantai, kamu kalau mau sarapan aku sudah menyiapkannya di dalam.. Makanlah selagi hangat." ucap Felisa dengan senyuman yang manis membuat Erzhan lantas terdiam di tempatnya begitu melihat senyuman tersebut.


Setelah mengatakan hal itu kepada Erzhan, baik Felisa maupun Farel terlihat mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah bibir pantai untuk memulai prosesinya. Sedangkan Erzhan yang melihat kepergian keduanya hanya bisa mengikuti langkah kaki keduanya yang terlihat semakin dekat ke arah lautan dan masuk secara perlahan ke pantai walau tidak sampai ke tengah laut karena memang kondisi yang tidak memungkinkan keduanya untuk melarungkan Abu Nelson hingga ke tengah laut.

__ADS_1


Erzhan yang melihat segala prosesi yang di lakukan oleh keduanya hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal seakan berusaha menepis perasaan aneh yang dengan tiba-tiba menghampiri dirinya.


"Apa yang sedang kau pikirkan Er? Bukankah tujuan mu menyusup untuk mengetahui letak harta tersebut?" ucap Erzhan dengan nada yang terdengar aneh sambil mulai mengacak-acak rambutnya dengan kesal.


Erzhan yang tidak ingin menyianyiakan kesempatan yang ada, pada akhirnya memilih masuk ke dalam tenda dan kembali mencari petunjuk mumpung keduanya tengah sibuk dengan hal lainnya.


Sambil menatap ke arah sekitar Erzhan mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam tenda begitu melihat suasana di sekitarannya saat ini tengah aman terkendali. Dengan langkah dan juga gerakan yang perlahan Erzhan mulai masuk ke dalam tenda kemudian mengunci tenda dari dalam.


**


Setelah masuk ke dalamnya Erzhan yang tak ingin menyianyiakan kesempatan lantas langsung memulai pencariannya, Erzhan menggeledah satu persatu tas yang berisi barang bawaan Felisa dan juga Farel yang berada di dalam tenda.


"Aku yakin mereka berdua pasti menyembunyikan sebuah petunjuk di suatu tempat, hanya saja di mana tempat itu? Mengapa aku terus saja menemukan jalan yang buntu?" ucap Erzhan dengan nada yang kesal masih sambil mengacak-acak masing-masing tas milik Felisa dan juga Farel.


"Apa jangan-jangan..." ucap Erzhan seakan mencoba untuk menerka benda yang kini sedang berada di tangannya.


Erzhan kemudian mulai membuka lipatan kertas tersebut secara serampangan untuk melihat apa isi dari kertas tersebut. Sampai kemudian pandangannya terhenti pada sebuah peta yang terlukis dengan jelas di sana membuat Erzhan langsung mengernyit dengan seketika.


"Bukankah ini peta tempat ini? Lalu tanda apa di sini?" ucap Erzhan dengan raut wajah yang penasaran begitu melihat sebuah titik merah kecil di antara luasnya pepohonan yang berada di tengah-tengah hutan yang terlukis pada peta tersebut.


Erzhan yang penasaran akan apa makna di balik titik hitam tersebut lantas terus fokus sambil mencerna setiap sudut bagian yang terlukis di peta tersebut. Sampai kemudian di saat Erzhan tengah sibuk mengamati setiap inci yang tergambar dalam peta tersebut sebuah bayangan yang melintas di belakang tenda tersebut lantas mengejutkan Erzhan dan membuatnya langsung berbalik badan.

__ADS_1


"Siapa di sana? Apakah mereka sudah selesai? Tapi.. Mengapa hening sekali?" ucap Erzhan dengan raut wajah yang penasaran.


Erzhan yang takut ketahuan tengah menggeledah tas keduanya lantas mulai melangkahkan kakinya perlahan berusaha hendak menjelaskan kepada Felisa sambil menggenggam dengan erat peta yang ia peroleh dengan erat.


"Fel aku benar-benar...." ucap Erzhan hendak mulai menjelaskan ketika langkah kakinya baru saja keluar dari tenda namun terpotong ketika sebuah hantaman keras mendarat tepat di tengkuknya membuat pandangan Erzhan menjadi kabur dan detik berikutnya menggelap.


Bruk...


Melihat tubuh Erzhan sudah jatuh ke pasir pantai, beberapa orang berpakaian serba hitam nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah Erzhan dengan bergegas kemudian mengangkat tubuh Erzhan dan membawanya ke suatu tempat tanpa sepengetahuan Felisa dan juga Farel yang tengah sibuk melarungkan Abu Nelson ke pantai.


***


Sementara itu setelah Felisa dan juga Farel menyelesaikan prosesinya. Farel dan juga Felisa kembali menepi ke daratan dengan raut wajah yang bahagia dan juga tenang seakan semua beban berat yang ada di pundak mereka berdua telah terangkat sepenuhnya.


Setelah mewujudkan impian sang Ayah kini tiba waktunya bagi keduanya untuk sampai pada titik tertinggi pada sebuah perpisahan yaitu mengikhlaskan. Seulas senyum terlihat terbit dari wajah Felisa ketika melihat raut wajah Farel yang menjadi lebih tenang.


"Aku sudah mewujudkan impian Ayah, semoga Ayah tenang di atas sana..." ucap Felisa dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya kembali menuju ke area di mana mobil dan tenda mereka berada.


Hanya saja ketika langkah kaki keduanya sudah semakin dekat dengan tenda mereka, sebuah pemandangan yang mengejutkan lantas terjadi dan membuat langkah kaki Farel langsung terhenti seketika. Felisa yang tidak terlalu fokus ke arah depan begitu melihat Farel menghentikan langkah kakinya, Felisa lantas mengikuti arah tatapan Farel saat ini.


"Apa yang terjadi?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2