
Sementara itu di ruang penelitian yang terletak di kediaman Erzhan saat itu, terlihat ketiganya tengah termenung sambil fokus menatap ke arah anting-anting tersebut. Diliriknya sekilas ke arah kanan dan juga kirinya Bram saat itu, kemudian menghela napasnya dengan panjang. Entah mengapa situasinya mendadak terasa dingin dan juga aneh bagi Bram, membuat Bram sedari tadi hanya berusaha untuk tetap tenang dan terus melanjutkan pekerjaannya. Meski dalam perasaan yang begitu canggung saat ini.
"Mengapa aku merasa dingin sekali di ruangan ini, bukankah suhunya hanya 20°? Apakah hawa dinginnya berasal dari mereka berdua?" ucap Bram sambil melirik ke arah Erzhan dan juga Felisa yang terlihat fokus tanpa mengatakan sepatah kata apapun di sana.
"Apa yang kamu lihat? Bukankah harusnya kau fokus menatap ke arah anting-anting itu saja?" ucap Erzhan dengan nada yang ketus, membuat Bram langsung menatap ke arah depan begitu mendengar perkataan dari Erzhan barusan.
"Maaf Tuan..." ucap Bram kemudian mencoba mencari aman, Bram yakin jika ia berkelit sudah pasti Erzhan akan semakin marah kepadanya.
Setelah mendapat peringatan dari Erzhan sebelumnya Bram nampak kembali fokus meneliti anting-anting tersebut. Jika menuruti pada kerangka anting-anting tersebut, harusnya ada celah di antara bandul anting-anting itu. Sampai kemudian ketika lama berkutat dengan benda tersebut, Bram berhasil menemukan sebuah microchip dengan ukuran begitu kecil di dalam bandul anting-anting tersebut.
"Saya menemukannya Tuan!" pekik Bram dengan kegirangan begitu berhasil memecahkan sesuatu pada anting-anting tersebut.
"Aku sudah tahu, bukankah sedari tadi aku bersama dengan mu? Apa perlu kau berteriak sampai seperti itu?" jawab Erzhan dengan nada yang ketus.
"Maaf Tuan, saya hanya terlalu senang saja tadi." ucap Bram sambil kembali menunduk menatap ke arah microchip tersebut dengan raut wajah yang kecewa.
"Sudah hentikan! Kalian berdua benar-benar berisik terutama kamu.." ucap Felisa kemudian menimpali perkataan dari Erzhan sebelumnya, membuat Erzhan yang mendengar hal tersebut lantas langsung memutar bola matanya dengan jengah.
"Lalu apa fungsi dari microchip tersebut? Apakah seperti sebuah memori card yang menyimpan sesuatu di dalamnya?" ucap Erzhan kemudian yang mulai penasaran akan apa yang ditemukan oleh Bram di dalam sana.
__ADS_1
"Sepertinya bukan Tuan, sebentar.. Saya akan mencoba memasukkannya pada iPad saya dan mencari tahu apa fungsi dari microchip ini.." ucap Bram kemudian.
Setelah mengatakan hal tersebut Bram nampak mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah dimana iPadnya berada. Kemudian mencoba untuk memasukkan microchip tersebut ke dalamnya. Sebuah peringatan muncul ketika microchip tersebut berhasil ia masukkan ke dalam iPad. Yang lantas membuat Bram langsung mulai menekan kata 'open' pada layar iPad tersebut tanpa berpikir dua kali.
"Hologram!" ucap Felisa ketika melihat apa yang baru saja muncul di hadapan ketiganya.
Ya, sebuah hologram dengan ukuran sedang muncul di atas iPad yang di pegang oleh Bram saat ini. Mengetahui hal tersebut kemudian lantas membuat Bram meletakkan iPad tersebut di atas meja dan mulai mempelajari setiap detailnya yang tergambar dengan jelas pada hologram tersebut.
"Sepertinya ini sebuah peta, apa mungkin ini peta menuju ke tempat dimana harta tersebut tersembunyi?" ucap Erzhan yang begitu yakin akan perkataannya sambil tetap fokus menatap ke arah hologram tersebut.
"Benar Tuan, jika dilihat dari lokasinya sepertinya ini masih terletak di daerah Ibukota. Hanya saja mungkin tempatnya akan sangat berbeda, mengingat penguburan harta tersebut di lakukan beberapa tahun silam." ucap Bram mulai menjelaskan detailnya.
Mendengar pertanyaan dari Erzhan barusan, lantas membuat Bram kembali memperhatikan layar ponselnya sambil mulai mengetik sesuatu di sana. Bram mencoba untuk mencari tahu tepatnya lokasi dalam hologram tersebut saat ini. Sampai beberapa menit kemudian, Bram yang berhasil menemukan tempat yang sama persis dengan lokasi harta tersembunyi tersebut di kubur. Membuat Bram langsung menggeser ponsel miliknya tepat di samping iPad tersebut.
"Jika dilihat dari lokasinya, tata letak yang strategis untuk harta tersebut terdapat di area kota tua. Dimana di sana sebagian daerahnya adalah ruko-ruko dan juga beberapa bangunan yang di lestarikan oleh pemerintah." ucap Bram kemudian yang lantas membuat Erzhan dan juga Felisa mengernyit karenanya.
Felisa yang juga mendengar penjelasan dari Bram barusan lantas langsung terdiam seketika. Entah mengapa sepertinya Felisa kenal daerah yang baru saja di sebutkan oleh Bram barusan, membuatnya terus berusaha untuk mengingatnya dengan perlahan.
"Apa mungkin ini hanya sebuah kebetulan semata?" ucap Felisa dalam hati yang seakan tidak terlalu yakin akan pemikirannya saat ini.
__ADS_1
Sampai kemudian ingatannya terhenti beberapa bulan lalu, dimana ia membeli sebuah ruko di dekat bangunan tua di area yang sama persis dengan yang di sebutkan oleh Bram barusan. Mendapati hal tersebut membuat raut wajah Felisa langsung berubah dengan seketika.
"Aku tahu tempat ini, beberapa bulan yang lalu tepatnya sebelum kau menculik ku.. Aku sempat membeli sebuah bangunan ruko untuk membuka usaha kedai ramen. Namun karena ulah mu, jangankan untuk menjalankannya, membukanya saja aku tidak bisa!" ucap Felisa kemudian dengan nada yang sekalian menyindir kepada Erzhan saat ini.
Erzhan yang mendengar perkataan dari Felisa tentu saja langsung memutar bola matanya dengan jengah kemudian bangkit berdiri dari posisinya. Membuat Felisa yang mendapati tingkah Erzhan barusan, lantas langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung.
"Mau kemana?" tanya Felisa kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Tentu saja mau meninjau lokasi, bukankah kau ingin semua ini berakhir dengan cepat? Jika begitu mari kita selesaikan dengan lebih cepat lagi!" ucap Erzhan dengan nada yang ketus membuat Felisa langsung mendengus dengan kesal begitu mendengar perkataan dari Erzhan barusan.
"Dasar benar-benar menyebalkan!" ucap Felisa menggerutu dengan nada yang lirih, namun masih bisa di dengar ole Erzhan.
Erzhan yang mendengar gerutuan tersebut sama sekali tidak menggubrisnya, malah tersenyum dengan tipis kemudian berganti menatap ke arah Bram dan bersiap untuk memberikan perintah.
"Siapkan segala sesuatunya, ajak juga anak-anak untuk meninjau lokasi. Meski ini terdengar agak sedikit berlebihan, namun aku rasa tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga!" ucap Erzhan kemudian memberikan perintah kepada Bram.
Mendengar hal tersebut lantas membuat Bram langsung bangkit dari posisinya sambil membereskan ipad miliknya.
"Baik Tuan, saya pastikan dalam waktu sepuluh menit segalanya akan siap!" ucap Bram sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari hadapan Erzhan dan mempersiapkan segalanya.
__ADS_1
Bersambung