Felisa & Harta Tersembunyi

Felisa & Harta Tersembunyi
Sebuah Imbalan


__ADS_3

Kantor polisi


Setelah Fandi mendapatkan perintah untuk memberikan kebebasan bagi Raes, Fandi Lantas langsung mulai menghela napasnya dengan panjang sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke ruang interogasi. Fandi tahu jika sampai kabar ini terdengar oleh Argi, Argi pasti akan sangat murka mengingat Raes adalah salah satu penjahat kelas kakap incarannya selama ini. Semua orang jelas tahu apa yang telah Raes perbuat di negara ini sehingga banyak polisi yang bersaing demi jabatan untuk menangkapnya, namun selalu saja berkahir dengan lolos lagi dan lagi.


Fandi terlihat menghentikan langkah kakinya tepat di depan ruangan interogasi, sebelum membuka pintu ruangan interogasi Fandi terlihat kembali menarik napasnya dalam dalam kemudian mulai membuka pintu ruang tersebut dan masuk ke dalamnya. Suasana ketika ia masuk ke dalam ruangan interogasi terasa begitu hening, Argi yang tahu akan kedatangan Fandi barusan lantas langsung menatap ke arah Fandi dengan tatapan yang bertanya seakan penasaran akan maksud dari kedatangan Fandi yang tiba-tiba menghampirinya hingga sampai ke tempat ini.


Fandi melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Argi berada untuk membisikkannya sesuatu, membuat Argi semakin merasa bahwa ada yang aneh dengan Fandi saat ini.


"Komandan memerintahkan kepada mu untuk melepaskan Raes sekarang juga." ucap Fandi dengan nada yang berbisik namun berhasil membuat bola mata Argi membulat dengan seketika.


"Apa? Bagaimana bisa?" ucap Argi yang lantas terkejut tepat setelah mendengar perkataan dari Fandi barusan.


Sedangkan Raes yang sudah mengira apa yang telah terjadi saat ini lantas terlihat tersenyum dengan tipis. Raes benar-benar tahu apa yang saat ini tengah terjadi hingga membuat raut wajah Argi nampak begitu kesal. Melihat Argi dan juga Fandi saling berbisik membicarakan sesuatu yang sudah dapat Raes tebak topik pembicaraan keduanya, membuatnya lantas hanya terdiam sambil menatap ke arah Argi dengan tatapan yang meremehkan.


"Sepertinya kamu sudah mendapat jawaban dari pertanyaan mu sedari tadi, selamat bertugas pak..." ucap Raes dengan nada yang mengejek kepada Argi.


Argi yang mendengar perkataan dari Raes barusan tentu saja kesal bukan main. Argi yang tersulut emosi akan pancingan dari Raes barusan, lantas melangkahkan kakinya beberapa langkah hendak mendekat ke arah Raes namun berhasil di tahan oleh Fandi yang tak menginginkan pertengkaran di antara keduanya terjadi.


"Sudahlah Ar.. Biarkan saja dia pergi..." ucap Fandi sambil berusaha menahan tubuh Argi agar tidak beranjak dari hadapannya.


"Lepaskan aku Fan.." ucap Argi berusaha untuk memberontak.

__ADS_1


Namun Fandi sama sekali tak membiarkan Argi lepas dari cengkeramannya, membuat Argi semakin bertambah kesal akan hal tersebut. Sedangkan Raes yang melihat Argi begitu emosi malah semakin menatapnya dengan raut wajah yang mengejek kemudian berlaku pergi dari sana sambil melambaikan tangannya ke arah Argi dan juga Fandi.


"Dasar sialan!" ucapnya dengan nada yang kesal sambil menghempaskan tubuh Fandi agar menjauh darinya saat ini.


Fandi melepas kedua tangannya dengan perlahan tepat setelah kepergian Raes dari sana kemudian mulai menepuk pundak Argi setelah itu berlalu pergi dari sana dan memberikan waktu kepada Argi untuk menyendiri sementara waktu.


"Sebaiknya kamu lepaskan saja dia, sepertinya dia lawan yang cukup kuat mengingat bagaimana koneksinya yang selalu saja bisa lolos dari kita." ucap Fandi tepat ketika ia berhenti di ambang pintu.


Argi yang mendengar hal tersebut bukannya mengiyakan perkataan Fandi malah tersenyum dengan sinis seakan mengejek Fandi.


"Cih bukankah kita berdua sama? Jangan kira aku tidak tahu jika kamu juga mengincar Erzhan, aku bahkan lebih baik dari mu karena mengincar seseorang yang benar-benar penjahat kelas kakap. Tapi kau, Erzhan bahkan sudah sering membantu kita dalam menyelesaikan tugas tapi kau malah mengincarnya. Yang seharusnya berhenti di sini sebenarnya aku atau kamu?" ucap Argi dengan nada yang menyindir sambil melangkahkan kakinya melewati Fandi.


Fandi terdiam mendengar perkataan Argi barusan karena memang itu adalah kebenaranya. Hanya saja entah mengapa Fandi masih tetap saja menaruh curiga kepada Erzhan walau Erzhan berbuat seribu kebaikan sekalipun untuk kepolisian. Rasanya Fandi merasa bahwa apa yang telah dilakukan oleh Erzhan selama ini hanyalah sebuah kedok semata untuk membuat citra baik dirinya.


"Ya ya ya terserah apa katamu, yang jelas jangan menyuruh ku berhenti sebelum aku berhasil menangkapnya!" ucap Argi lagi sambil berlalu pergi meninggalkan Fandi yang saat ini menatapnya dengan tatapan yang kesal.


"Ah sial!" ucap Fandi menggerutu dengan kesal ketika mendengar perkataan dari Argi barusan.


***


Kediaman Erzhan

__ADS_1


Setelah telepon dengan Farel tadi berakhir, Erzhan lantas langsung meminta kepada Felisa agar menemuinya di ruang tengah. Entah apalagi yang akan dilakukan oleh Pria itu, namun Felisa hanya bisa menurutinya tanpa bisa protes sama sekali. Ingin kabur pun juga percuma karena rumah Erzhan termasuk ke dalam golongan rumah yang mempunyai penjagaan ketat. Tentu harus mempunyai pemikiran dan juga persiapan yang matang jika Felisa hendak kabur dari rumah tersebut.


Felisa melangkahkan kakinya dengan perlahan menyusuri area rumah Erzhan yang begitu besar dengan raut wajah yang di tekuk masam. Entah dosa apa di masa lalu yang telah ia perbuat olehnya, hingga Felisa harus bernasib sial seperti ini di masa sekarang.


"Tak apa jika memang harus aku yang menanggungnya, asalkan Farel dalam keadaan yang baik-baik saja aku siap melakukan apapun demi Farel." ucap Felisa dengan nada yang yakin dan langkah kaki yang mantap.


Kemudian terus melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang tengah untuk menemui Erzhan sebelum nantinya ia akan kembali kena marah oleh Erzhan karena terlambat menemuinya.


**


Ruang tengah


Saat ini di area ruang tengah terlihat Felisa dan juga Erzhan tengah duduk dengan posisi saling berhadapan dalam suasana yang penuh dengan keheningan. Entah apa yang tengah dipikirkan oleh Erzhan saat ini hingga membuat ia hanya duduk terdiam sambil menatap ke arahnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan sama sekali.


Felisa yang sadar jika tatapan Erzhan kepadanya mempunyai sebuah arti tertentu, lantas membuat Felisa langsung menelan salivanya dengan kasar.


"Apa yang sebenarnya sedang ia lakukan? Apa aku dipanggil hanya untuk melihatnya memandangi ku seperti ini? Benar-benar Pria aneh!" ucap Felisa dalam hati dengan raut wajah yang bertanya-tanya akan maksud dari tatapan Erzhan kepadanya.


"Aku ingin meminta imbalan ku sekarang!" ucap Erzhan dengan nada yang datar namun berhasil membuat Felisa terkejut ketika mendengarnya.


"Apa? Imbalan? Apa kau tengah mabuk saat ini?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2