
Keesokan harinya
Sinar mentari yang menembus melalui celah-celah jendela kamar tersebut, lantas langsung membangunkan Felisa yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Felisa nampak mengerjapkan kelopak matanya secara berkali-kali kemudian mulai membuka matanya secara perlahan. Ada sedikit perasaan terkejut ketika ia melihat bagian atap kamar yang saat ini ia tempati di mana nuansanya begitu asing bagi Felisa, Felisa yang tidak tahu ia sedang berada di mana lantas langsung bangkit dari posisi tidurnya dan mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Sebuah kamar yang begitu mewah dan juga indah dihiasi dengan beberapa pernak-pernik ornamen yang begitu menarik bagi Felisa lantas membuat Felisa tertegun seketika.
"Apa aku sedang bermimpi? Jika memang ia mimpi apa ini?" ucap Felisa bertanya-tanya pada diri sendiri.
Cklek...
Sebuah suara pintu yang terbuka lantas mengejutkan Felisa yang saat ini masih dalam kondisi kebingungan. Felisa menatap ke arah sumber suara untuk melihat siapa yang baru saja membuka pintu kamarnya. Seorang wanita dengan kisaran usia 40 tahunan nampak melangkahkan kakinya mendekat dengan pakaian seperti pelayan di sebuah rumah mewah atau yang kita kenal sebagai maid. Membuat Felisa semakin di buat bingung dan semakin yakin bahwa dia saat ini tengah bermimpi.
"Anda sudah bangun Nona? Mari saya antar anda untuk bebersih karena Tuan muda sudah menunggu anda di meja makan." ucap Maid tersebut dengan sopan.
Mendengar perkataan dari Maid tersebut tentu saja membuat mulut Felisa menganga dengan seketika. Felisa benar-benar tidak bisa membedakan antara mimpi dengan kenyataan.
"Aku pasti bermimpi... Aku pasti bermimpi..." ucap Felisa berulang kali sambil mencubit pipinya dengan keras.
"Aw.."
Felisa meringis kesakitan begitu jari tangannya mencubit pipinya sendiri. Rasa sakit yang begitu terasa nyata membuat Felisa yakin bahwa ini bukanlah sebuah mimpi belakang.
"Apa ada sesuatu Nona?" ucap Maid itu lagi dengan raut wajah yang bingung begitu melihat ekspresi raut wajah yang ditunjukkan oleh Felisa barusan.
"Dimana ini?" ucap Felisa dengan raut wajah yang bingung.
__ADS_1
Mendapat pertanyaan dari Felisa barusan Maid tersebut lantas langsung tersenyum kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Felisa berada.
"Mari ikut saya, nanti anda akan tahu dengan sendirinya." ucap Maid tersebut sambil menuntun Felisa untuk bangkit dari tempat tidurnya.
Mendengar ajakan tersebut pada akhirnya membuat Felisa mau tidak mau mengikuti segala prosesi sebelum pada akhirnya diijinkan untuk bertemu dengan tuan muda yang sedari tadi di bicarakan oleh Maid tersebut.
***
Setelah menyelesaikan segala urusan beres-beres dan juga bebersih, Felisa dituntun oleh Maid tersebut menuju ke arah meja makan. Hari ini benar-benar menjadi hari yang aneh bagi Felisa, Felisa yang terbangun di tempat asing mendadak harus mengikuti segala aturan yang Felisa sendiri tidak tahu alasannya dengan jelas.
"Sebenarnya siapa tuan muda yang mereka bicarakan? Apa aku mengenalnya?" ucap Felisa dalam hati sambil terus melangkahkan kakinya mengikuti kemanapun langkah kaki Maid menuntunnya.
Sampai kemudian ketika langkah kakinya berhenti tepat di sebuah area meja makan, pandangan matanya lantas tertuju kepada seorang pria tampan yang tak asing di penglihatannya hingga membuat Felisa langsung terdiam seketika begitu melihat sosok Pria tersebut.
"Mari Nona..." ucap Maid yang lainnya seakan mengarahkan Felisa untuk segera duduk dan bergabung bersama dengan Erzhan.
Mendengar perkataan dari Maid barusan lantas membuyarkan rasa keterkejutan yang dialami oleh Felisa dengan seketika. Membuat Felisa lantas langsung terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah Erzhan dan mengambil posisi duduk di dekat Erzhan.
Kecanggungan mendadak terjadi diantara keduanya, disaat beberapa Maid nampak mulai menyajikan makanan yang di lakukan keduanya hanya diam tanpa melakukan apapun, hingga beberapa menit kemudian ketika Maid sudah mulai melangkahkan kakinya pergi dari area meja makan, barulah Felisa membuka suaranya.
"Kau sungguh-sungguh Erzhan?" ucap Felisa sambil menatap dengan raut wajah yang penasaran ke arah Erzhan.
Mendengar perkataan Felisa barusan lantas membuat Erzhan menghela napasnya dengan panjang kemudian meletakkan sendoknya secara perlahan. Ditatapnya manik mata Felisa cukup lama membuat Felisa yang mendapat tatapan tersebut lantas langsung terdiam seketika. Tatapan mata yang tajam layaknya seekor elang membuat Felisa selalu saja tidak bisa berkutik jika mendapat tatapan dari Erzhan.
__ADS_1
"Sebaiknya isi dulu perut mu kerena bertanya membutuhkan sebuah energi bukan? Setelah ini akan ada beberapa hal yang ingin aku bahas dengan mu, jadi sebaiknya cepat selesaikan sarapan ini dengan tenang." ucap Erzhan dengan nada yang memerintah membuat Felisa langsung mengangguk begitu saja tepat setelah mendengar perintah tersebut.
Sebuah atmosfir yang terasa begitu berbeda ketika Felisa bersama dengan Erzhan di tempat ini dengan ketika bersama Erzhan di hutan. Satu orang yang sama namun dengan aura yang berbeda, membuat Felisa sesekali lantas terlihat melirik ke arah Erzhan seakan tengah memastikan apakah Erzhan yang ada di hadapannya saat ini adalah Erzhan yang sama dengan yang bertemu dengannya di hutan. Sebuah pemikiran gila mendadak terlintas di benaknya Felisa, membuat segalanya semakin rumit dan malah terkesan menggelikan.
"Apa sebelum menghilangnya Erzhan waktu itu kepalanya sempat kejedot? Atau apa mungkin uang yang ia curi bisa membuatnya kaya hanya dalam waktu beberapa hari? Tapi aku rasa opsi kedua tidaklah mungkin terjadi." ucap Felisa dalam hati sambil terus mengunyah makanannya dengan perlahan.
***
Sementara itu disaat Felisa tengah dilanda kebingungan karena terbangun di suatu tempat yang asing, di rumah kontrakannya kini terlihat Farel tengah melangkahkan kakinya secara mondar-mandir sedang menunggu kedatangan Felisa. Sudah hampir sehari semalam Felisa tidak pulang ke rumah, membuat Farel begitu khawatir ketika tak kunjung mendapati kakaknya pulang juga sedari semalam.
Farel menghentikan langkah kakinya sejenak kemudian memijat pelipisnya dengan pelan.
"Kakak dimana sebenarnya? Mengapa kakak tak kunjung pulang juga?" ucap Farel dengan raut wajah yang khawatir.
Bayangan bagaimana Felisa beberapa kali terlibat dalam sebuah masalah lantas membuat pikiran Farel semakin merasa khawatir dan takut jika terjadi apa-apa kepada Felisa.
Sambil memijat pelipisnya dengan perlahan Farel lantas mencoba untuk berpikir setenang mungkin sambil menggenggam ponselnya dengan erat siapa tahu sebentar lagi Felisa akan menelponnya. Sampai kemudian sebuah deringan ponsel miliknya yang berdering, membuat Farel langsung mengangkat panggilan telpon tersebut ketika nama Felisa tertera tepat di layar ponsel miliknya.
"Kakak dimana? Mengapa kakak sama sekali tidak menelpon ku? Apa mungkin kakak...... Apa!" pekik Farel kemudian ketika mendengar sebuah jawaban dari seberang sana.
Farel yang baru saja mendapat informasi dari telpon dengan nomer Felisa lantas langsung memutuskan untuk menghampiri lokasinya dengan langkah kaki yang bergegas.
Bersambung
__ADS_1