Felisa & Harta Tersembunyi

Felisa & Harta Tersembunyi
Waktu mu sudah habis


__ADS_3

"Ibu tahu soal harta tersembunyi itu?" ucap Felisa kemudian bertanya yang tentu saja langsung membuat Vallen tertegun seketika.


"Apakah Nelson tidak mengatakan kepadamu soal harta tersebut?" ucap Vallen kemudian balik bertanya kepada Felisa, yang tentu saja langsung membuat Felisa menatap ke arahnya dengan tatapan yang kebingungan.


"Ayah tidak pernah mengatakan apapun soal itu Bu, apakah Ibu benar-benar mengetahuinya?" ucap Felisa kemudian kembali bertanya karena pertanyaannya belum dijawab oleh Vallen sedari tadi.


Mendengar hal tersebut membuat Vallen lantas menatap ke arah sebuah lukisan yang saat itu terpajang tepat di area ruang tamu. Membuat Felisa yang melihat Vallen menatap ke arah lukisan tersebut tentu saja langsung menatap dengan tatapan yang bingung ke arah Vallen, seakan bertanya apa yang sedang di lakukan oleh Vallen saat ini.


"Ada apa Bu..." tanya Felisa kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


Mendapat pertanyaan tersebut membuat Vallen lantas tersenyum menatap ke arahnya.


"Kau tahu nak? Ayahmu dulu adalah seseorang yang sederhana, dia rela melakukan apapun untuk Ibu. Ibu bahkan jatuh cinta dengan kegigihan sosok Pria tersebut, bagi Ibu Ayahmu merupakan segala-galanya meski Nelson bukanlah terlahir dari golongan yang kaya ataupun darah biru sekalipun Ibu tetap mencintai dirinya. Hanya saja cinta kami berdua terhalang dengan restu kakek mu, membuat kami kesulitan untuk bersatu. Di tengah suatu perasaan yang begitu menggebu-gebu Ayah mu menawarkan sebuah saran kepada Ibu, dimana dia mengatakan jika ia akan menyembunyikan harta tersebut agar fokus William tidak lagi kepada keduanya melainkan kepada harta tersebut. Hal itu memang berhasil bahkan hingga Ibu melahirkan Farel, namun sayangnya kakek mu berhasil menemukan kami dan merubah segala hidup Ibu saat itu." ucap Vallen dengan raut wajah yang sendu membuat Felisa langsung mengernyit dengan seketika.


Felisa yang mendengar segala cerita yang dikatakan oleh Vallen barusan tentu saja langsung terdiam di tempatnya. Entah apa yang tengah ia pikirkan saat ini, hanya saja Felisa nampak sedikit kebingungan karena merasa ada yang berbeda antara cerita Vallen dan juga cerita milik Erzhan. Memang keduanya memiliki kesamaan hampir serupa atau bahkan dapat dikatakan mirip, hanya saja letak waktu di mana Nelson yang mencoba untuk menyembunyikannya sungguh berbeda dengan apa yang diceritakan oleh Vallen kepadanya.


"Apakah benar Bu? Bukankah Ayah menyembunyikan harta tersebut karena Ayah marah ketika mendapati Kakek mencoba untuk memisahkan kalian berdua? Mengapa Ibu mengatakan hal yang berbeda dari yang Feli dengar?" tanya Felisa kemudian dengan raut wajah yang penasaran, membuat Vallen lantas langsung menoleh dengan seketika ke arah sumber suara.

__ADS_1


Mendengar hal tersebut Vallen lantas tersenyum dengan tipis kemudian kembali menatap ke arah lukisan itu, membuat Felisa yang mendapati tingkah laku Ibunya seperti itu lantas hanya bisa menatapnya dengan tatapan yang penuh tanda tanya.


Semua rekan bisnis yang tergabung dalam kepemilikan harta tersebut memang mendengarnya secara demikian. Namun kejadian yang sebenarnya bukanlah seperti itu hanya Ibu, Ayah dan juga Kakek yang mengetahui tentang segalanya." ucap Vallen kemudian yang lantas membuat Felisa langsung terkejut seketika.


"Lalu di mana letak harta itu saat ini Bu? Mengapa tidak ada satu orang pun yang tahu akan letak sebenarnya harta tersembunyi tersebut." ucap Felisha kemudian kembali bertanya.


"Sebuah anting-anting, disitulah letak harta tersembunyi tersebut tersimpan, apakah kamu melupakan hal tersebut?" ucap Vallen kemudian dengan nada yang terdengar ambigu, membuat Felisa lantas langsung menatapnya dengan tatapan penuh kebingungan sekaligus bertanya-tanya.


"Apa maksud Ibu sebenarnya? Mengapa aku sama sekali tidak mengerti?" ucap Felisa kemudian kembali menanyakan hal tersebut Namun, Vallen malah hanya menjawabnya dengan senyuman.


Di saat Felisa tengah berada dalam jurang kebingungan dan juga penuh tanda tanya. Sebuah suara yang berasal dari pintu masuk, lantas langsung menghentikan percakapan keduanya begitu mendengar suara tersebut.


Felisa yang mendengar sebuah suara yang tak asing di pendengarannya saat itu, lantas membuatnya dengan spontan menoleh ke arah sumber suara begitu juga Vallen. Terlihat dari arah pintu masuk Farel tengah melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang lebar, sambil menatap dengan tatapan yang bingung seakan bertanya-tanya akan sosok wanita paruh baya yang ada di sebelah Felisa saat itu.


"Apakah dia adalah Farel?" tanya Vallen kemudian ketika melihat sosok Pria muda yang tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah keduanya.


"Iya Bu benar, dia adalah Farel adikku dan juga Putra Ibu." Ucap Felisa kemudian dengan manik mata yang berkaca-kaca, membuat Vallen lantas langsung perlahan-lahan bangkit dari tempat duduknya begitu mendengar hal tersebut.

__ADS_1


Vallen yang mengetahui bahwa yang berada di depannya saat ini adalah Farel Putra keduanya, lantas langsung melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang perlahan kemudian memeluk tubuh Farel dengan erat. Melihat hal tersebut lantas membuat Farel yang tidak terlalu mengerti akan apa yang sebenarnya tengah terjadi saat ini, hanya bisa terdiam tanpa tahu harus bersikap seperti apa.


"Ini Ibu nak... Ini Ibu... Ibu minta maaf karena tidak bisa menjaga kalian sejak dari dulu..." ucap Vallen sambil memeluk tubuh Farel dengan erat.


"I...bu?" ucap Farel dengan nada yang ragu sambil melihat Felisa yang saat ini berada tepat di belakang Vallen.


Felisa yang seakan tahu jika Farel tengah memastikan sesuatu kepadanya lewat sorot manik matannya, lantas mulai mengangguk dengan perlahan seakan mengatakan bahwa apa yang saat ini ada di pikiran Farel adalah sebuah kebenarannya.


Farel memeluk tubuh Ibunya dengan erat, ia benar-benar merindukan sosok seorang ibu dalam kehidupan keluarga kecil mereka.


"Aku benar-benar merindukan Ibu, apakah ini benar-benar Ibu?" ucap Farel dengan nada yang terdengar serak sambil terus memeluk tubuh Ibunya dengan erat saat itu.


Tangis haru benar-benar terdengar menggema di dalam ruangan tersebut, membuat ketiganya lantas terhanyut dalam acara pertemuan yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Felisa yang melihat Farel dan juga Vallen tengah berpelukan dengan erat lantas ikut masuk ke dalam pelukan mereka, membuat ketiganya menjadi saling berpelukan dan saling melepas kerinduan yang sudah mereka pendam selama bertahun-tahun lamanya.


Felisa benar-benar bersyukur karena pada akhirnya ia bisa menemukan keberadaan Ibunya dan berkumpul kembali, meskipun Felisa harus menelan pil pahit ketika mengetahui jika Ayahnya harus pergi dan tidak bisa merasakan kebahagian ini. Di saat ketiganya tengah menangis haru karena pertemuan mereka, sebuah suara yang berasal dari ambang pintu lantas langsung menghentikan gerakan mereka dengan tiba-tiba.


"Waktu mu sudah habis sekarang, ayo pergi..."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2