
"Lalu bagaimana dengan ku?" ucap Felisa pada akhirnya.
Felisa jelas tahu jika harta yang selama ini di cari oleh Erzhan dan yang lainnya hanyalah sebuah tipuan yang di buat Ayahnya. Namun jika sidah begini lalu bagaimana dengan nasibnya? Akankah Erzhan memberinya sebuah kebebasan? Atau malah akan merantainya seumur hidup akan kesalahan yang diperbuat oleh Nelson?
Felisa menatap ke arah Erzhan dengan tatapan yang bertanya sambil menggenggam dengan erat pergelangan tangan Pria itu. Membuat Erzhan yang mendapati hal tersebut lantas langsung terdiam di tempatnya dengan seketika.
Sampai kemudian sebuah suara berisik dari area depan lantas membuyarkan pembicaraan keduanya.
Tak tak tak
Suara langkah kaki beberapa orang lantas mulai terdengar menggema di ruangan tersebut. Membuat Erzhan yang mendapati jika mereka belum aman saat ini, kemudian mulai menarik tangan Felisa dan membawanya bersembunyi di belakang tubuhnya.
"Wah wah wah sepertinya aku ketinggalan berita besar saat ini." ucap sebuah suara Pria tua yang lantas membuat manik mata Felisa membulat dengan seketika.
"Kakek!" pekik Felisa ketika mengetahui suara ribut-ribut di luar berasal dari William.
Mendengar sebuah suara menukik tajam memanggilnya dengan sebutan Kakek, membuat William lantas tersenyum dengan simpul. Nyatanya panggilan itu benar-benar membuatnya bahagia. Sepertinya Pria tua itu baru menyadari jika hidup bukan hanya tentang harta dan juga kedudukan, melainkan kebahagiaan ketika berkumpul bersama dengan keluarga.
Lagi pula setelah Vallen kabur bersama dengan Felisa dan juga Erzhan waktu itu. Entah mengapa William merasa kehidupannya benar-benar sunyi. Membuatnya menyadari satu hal tentang arti kebersamaan dalam sebuah keluarga. Kehidupannya yang sendiri tanpa anak atau pun cucu, membuat William merindukan kehangatan dan juga kebersamaan dalam sebuah keluarga.
"Apa yang anda lakukan di sini?" ucap Erzhan sambil berusaha menyembunyikan Felisa di belakang tubuhnya saat itu.
Melihat raut wajah tegang dari Erzhan dan juga yang lainnya, lantas membuat William kembali tersenyum. Membuat Erzhan dan juga Felisa yang melihat hal tersebut lantas mengernyit dengan tatapan yang bingung.
__ADS_1
"Jangan terlalu tegang, aku datang hanya untuk memastikan kabar yang baru saja aku dengar. Katakan kepadaku, apa benar Nelson telah menyumbangkan segalanya?" ucap William kemudian namun kali ini berganti dengan raut wajah yang serius.
"Aku bahkan juga tidak menduganya, tapi kamu bisa mengeceknya sendiri di ruangan bawah tanah tersebut." ucap Erzhan dengan nada yang terdengar datar.
"Aku sudah datang dan melihatnya dengan mata kepala ku sendiri, hologram itu bahkan menyapa ku dengan full senyum, benar-benar menyebalkan! Tapi bukan itu inti dari permasalahan ini. Kedatangan ku kemari hanya untuk mengakhiri segalanya, aku tidak perduli lagi jika memang Nelson telah menyumbangkan semua harta tersebut. Namun kamu harus tetap berhati-hati karena Raes tidak akan percaya begitu saja dan menganggap jika kamu yang menyabotase semuanya." ucap William dengan nada yang terdengar biasa.
Ucapan William yang agak aneh saat ini tentu saja langsung mengundang berjuta tanda tanya, akan setiap hal dan juga tindakan yang akan di lakukan oleh William. Felisa yang semula bersembunyi di belakang Erzhan bahkan mulai berani bergerak sedikit ke samping untuk memastikan apa yang di katakan oleh William saat ini bukan hanya sekedar gurauan.
"Jika bukan untuk harta, lalu apa yang membuat anda datang kemari?" ucap Erzhan kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
Hanya saja William yang mendapat pertanyaan tersebut lantas terlihat menunjuk ke arah Felisa dengan senyuman yang penuh arti.
"Aku datang untuknya!" jawab William dengan santai.
"Tentu saja bukan, tapi dia adalah cucu ku kan? Jadi apakah seseorang Kakek tidak bisa meminta waktu kepada cucunya sendiri?" tanya William sambil mulai membawa langkah kakinya menuju ke sebuah kursi yang tak jauh dari tempatnya berada dan mengambil posisi duduk di sana.
Erzhan dan juga Felisa lantas saling menatap antara satu sama lain, begitu mendengar sebuah kata keluar dari mulut William yang terdengar begitu aneh.
"Apa kamu sedang bercanda? Terakhir kali Frans juga mengatakan hal yang sama, tapi pada akhirnya aku malah berakhir menjadi tawanan mu. Jadi jika sekarang aku menaruh curiga, bukankah hal itu sangatlah wajar?" ucap Felisa mulai memberanikan diri membuka mulutnya saat itu.
William terkekeh mendengar tanggapan dari Felisa barusan, membuatnya kemudian mengisyaratkan kepada Felisa untuk duduk di sebelahnya.
"Kemarilah, kamu tidak akan tahu sampai kamu mencobanya. Jika kamu tidak percaya dengan ku, mereka semua boleh berada di sini namun dengan catatan mereka semua harus keluar. Aku hanya ingin berbicara empat mata dengan mu." ucap William lagi sambil menunjuk ke arah bangku sebelahnya.
__ADS_1
Felisa menatap ke arah Erzhan dengan spontan begitu mendengar permintaan dari William, membuat Erzhan lantas menghela napasnya panjang kemudian pada akhirnya mengangguk secara perlahan.
"Apa kamu yakin?" ucap Felisa yang terdengar begitu ragu.
"Ya, aku akan berjaga di depan. Kamu tidak perlu khawatir karena aku sendiri yang akan menjamin keselamatan mu." ucap Erzhan dengan nada yang terdengar datar.
Mendapati hal tersebut membuat Felisa mau tidak mau melakukan pilihan yang terakhir, yaitu berbicara empat mata bersama dengan William.
Satu persatu dari mereka lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya keluar dari area dalam Ruko, termasuk dengan Frans dan juga ajudan Erzhan yang lainnya. Kini yang tersisa hanyalah Felisa dan juga William di sana, membuat suasana canggung mulai terasa di area dalam Ruko saat ini.
Felisa menundukkan kepalanya cukup lama membuat William, lantas tersenyum dengan tipis ketika melihat ke arah Felisa.
"Jangan terlalu kaku seperti itu, bersikaplah seperti awal kita pertama bertemu. Bukankah kau adalah gadis slengean dan tak punya rasa takut sama sekali? Mengapa hari ini kau hanya diam? Apa mulut mu sudah terkunci saat ini?" ucap William dengan mada yang menggoda, membuat Felisa langsung mendongak menatap ke arah sumber suara dengan seketika.
"Ada apa sebenarnya? Mengapa sikap mu benar-benar berubah seperti ini? Apakah kamu tengah mempermainkan ku?" ucap Felisa yang tidak mengerti akan perkataan dari William yang terkesan menggoda sekaligus menyindir dirinya.
Pletak
Sebuah pukulan kecil mendarat di keningnya tepat setelah mulutnya membuka suara, membuat Felisa yang mendapati hal tersebut lantas terdengar mengadu kesakitan sambil mengusap area keningnya dengan spontan.
"Apa yang kamu lakukan? Sakit tau!" ucap Felisa dengan nada yang meninggi, namun berhasil membuat William tertawa karenanya.
"Dasar anak muda, selalu saja tidak punya sopan santun terhadap yang lebih tua!" ucap William dengan raut wajah cemberut menatap ke arah Felisa, yang saat ini masih mengusap area keningnya.
__ADS_1
Bersambung