Felisa & Harta Tersembunyi

Felisa & Harta Tersembunyi
Satu syarat


__ADS_3

Setelah Felisa kehilangan kertas tersebut, Felisa yang berjuang mati-matian untuk mengingat kembali setiap detail tulisan yang tertulis dalam kertas tersebut, lantas mulai menulisnya ulang di kertas yang baru.


Felisa benar-benar mencoba bermain dengan daya ingatnya saat ini. Sampai kemudian ketika Felisa lama berkutat dengan pemikirannya sendiri, seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Felisa saat itu ketika mendapati dirinya mengingat sebagian dari isi di kertas yang telah hilang itu.


"Aku mengingatnya!" ucap Felisa sambil mengangkat tinggi-tinggi kertas yang baru saja ia tulis tersebut.


Felisa benar-benar bersyukur karena dirinya masih sempat membaca kertas tersebut, jika tidak mungkin Felisa tidak akan pernah bisa bertemu dengan Ibunya mengingat kertas tersebut adalah jembatan yang bisa menghubungkannya agar ia bisa bertemu dengan Ibunya.


Hanya saja sayangnya baru beberapa detik yang lalu Felisa tersenyum dengan sumringah, tidak berapa lama raut wajahnya berubah menjadi murung dengan seketika begitu menyadari satu hal tentang Erzhan. Entah bagaimana ia harus meminta ijin kepada Erzhan, tidak mungkin bukan? Jika ia mengatakan secara gamblang jika Felisa hendak menemui Ibunya, hal itu tentu saja tidaklah masuk akal sama sekali. Dan belum tentu juga Erzhan akan mengizinkannya.


Felisa terdiam mencoba memikirkan segala hal yang mungkin bisa menjadikannya sebuah alasan agar ia bisa bertemu dengan Ibunya. Sampai kemudian sebuah ide yang mungkin saja akan berhasil ketika ia coba, lantas membuatnya tersenyum dengan cerah saat itu juga.


"Tidak ada salahnya untuk mencoba bukan? Lagi pula untuk bertemu dengan Ibu, aku akan mengusahakan segala macam cara apapun." ucap Felisa dalam hati sambil tak henti-hentinya tersenyum dengan cerah saat itu.


***


Ruangan kerja Erzhan


Sementara itu Bram yang baru saja mendapat informasi jika Felisa mencari selembar kertas di bajunya, lantas membuat Bram yang penasaran akan hal tersebut kemudian mulai terlihat melangkahkan kakinya menuju ke ruangan kerja Erzhan.


Diketuknya pintu ruangan tersebut selama beberapa kali. Sampai kemudian ketika Bram mendengar suara Erzhan yang mempersilahkannya untuk masuk, lantas nampak mukai membawa langkah kakinya masuk ke dalam ruangan tersebut.

__ADS_1


Dengan langkah kaki yang terburu-buru Bram nampak membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Erzhan berada dan berhenti tepat di depan meja kerja Erzhan.


"Tuan, apakah anda sudah mengetahui perihal..." ucap Bram hendak bertanya namun perkataannya terlebih dahulu di potong oleh Erzhan.


"Selembar kertas yang di cari oleh Felisa, apakah itu maksud perkataan mu?" ucap Erzhan memotong pembicaraan Bram, yang lantas membuat Bram langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal ketika mendengar Erzhan mendahului perkataannya barusan.


"Benar Tuan, apakah anda mengetahui tentang hal tersebut?" ucap Bram kemudian dengan raut wajah yang penasaran.


Mendapat pertanyaan tersebut dari Bram, lantas membuat Erzhan langsung membuka laci di meja kerjanya kemudian mengambil selembar kertas dan memberikannya kepada Bram.


"Apa ini Tuan?" tanya Bram dengan raut wajah yang bingung akan pemberian dari Erzhan barusan.


"Itu adalah kertas yang di cari oleh Felisa, aku tidak tahu dengan jelas apa maksud dari tulisan tersebut namun di bagian atasnya aku yakin jika itu adalah sebuah alamat dan juga nomor kontak, cari dan selidiki milik siapa alamat dan nomer kontak tersebut, aku tidak mau kembali kecolongan lagi saat ini." ucap Erzhan dengan nada yang terdengar tegas membuat Bram langsung mengangguk dengan seketika.


Entah mengapa Erzhan merasa ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Felisa saat ini, entah itu berhubungan langsung dengan harta tersembunyi tersebut atau ada hal lain yang coba Felisa sembunyikan darinya. Tapi yang jelas apapun itu akan Erzhan pastikan jika sebentar lagi Erzhan akan membuka segalanya sekaligus menemukan dimana letak keberadaan harta tersembunyi tersebut.


Setelah mendapat perintah dari Erzhan untuk mencari tahu tentang kontak dan juga alamat yang terdapat pada selembar kertas tersebut. Bram nampak langsung berpamitan dari sana kemudian melangkahkan kakinya pergi begitu saja untuk mulai melaksanakan tugas dari Erzhan barusan.


Setelah kepergian Bram dari sana, Erzhan nampak menatap kosong ke arah depan sambil mengetuk-ketukan jari tangannya pada meja kerjanya, seakan tengah berpikir apa yang sebenarnya telah di sembunyikan oleh Felisa saat ini.


"Entah mengapa Ayah dan anak itu pandai sekali menyembunyikan sesuatu, aku yakin pasti ada yang diketahui oleh gadis itu saat ini." ucap Erzhan dengan tatapan yang tajam ke arah depan sambil terus memikirkan segala kemungkinannya.

__ADS_1


***


Felisa yang tidak lagi punya waktu untuk berleha-leha kemudian memutuskan untuk membawa langkah kakinya menuju ke arah ruangan kerja Erzhan untuk meminta ijin kepada Erzhan. Entah apa yang akan ia katakan pada Pria dingin tersebut namun yang jelas Felisa harus pergi hari ini juga.


Felisa yang baru saja sampai tepat di depan pintu ruang kerja Erzhan, lantas terlihat menghentikan langkah kakinya kemudian menarik napasnya dalam-dalam. Sambil memberanikan tekadnya Felisa kemudian memutuskan untuk mulai mengetuk pintu tersebut selama beberapa kali.


"Masuk" ucap sebuah suara dari dalam ruangan tersebut yang mempersilahkan Felisa untuk masuk ke dalam.


Mendengar suara tersebut tentu saja membuat Felisa langsung melangkahkan kakinya dengan bergegas masuk ke dalam membawa langkah kakinya lebih dekat lagi menuju ke arah meja kerja milik Erzhan. Erzhan yang menyadari jika yang mengetuk pintunya adalah Felisa lantas langsung terlihat mengehentikan pekerjaannya dengan seketika.


"Ada apa?" tanya Erzhan kemudian dengan raut wajah yang penasaran ketika melihat langkah kaki Felisa yang berhenti tepat di hadapannya.


"Apa aku boleh mengunjungi Ayah?" tanya Felisa kemudian yang lantas membuat Erzhan mengernyit begitu mendengar perkataan Felisa barusan.


"Tumben, apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Erzhan kemudian dengan raut wajah yang curiga.


Entah mengapa Felisa yang meminta ijin secara mendadak benar-benar membuatnya curiga.


"Tidak ada, aku hanya ingin berkunjung. Apakah hal itu juga harus atas ijin mu? Dia bahkan Ayah ku bukan Ayah mu, apakah kamu tidak punya sedikit rasa belas kasihan kepadaku? Aku bahkan..." ucap Felisa dengan nada yang menyerocos, sepertinya Felisa benar-benar sengaja memanfaatkan rasa empati Erzhan agar mengijinkannya pergi berkunjung.


"Baiklah kau boleh pergi dan tak perlu terus menyerocos seperti bajaj, hanya saja dengan satu syarat.. Itu pun jika kau mau menyanggupinya." ucap Erzhan dengan nada datarnya yang khas, membuat Felisa lantas mengernyit dengan seketika.

__ADS_1


"Apa syaratnya?" tanya Felisa dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah dimana Erzhan berada.


Bersambung


__ADS_2