
Kamar Felisa
Setelah kepergian Erzhan dari sana, Felisa nampak merogoh gaun miliknya yang saat ini sudah berganti menjadi pakaian tidur. Felisa sedikit tersentak ketika mendapati bajunya sudah berubah padahal hanya ia tinggal tidur beberapa jam saja.
Dengan perasaan yang bingung Felisa mulai bangkit dari tempat tidurnya secara perlahan dan menuju ke arah ranjang pakaian kotor miliknya. Hanya saja ketika di cari sama sekali tidak ada gaun itu, membuat Felisa lantas menjadi frustasi ketika mendapati gaun tersebut tidak ada di sana.
"Dimana mereka membawa gaun itu? Jika sampai kertas itu hilang aku tidak akan bisa bertemu dengan Ibuku. Ayo berpikir Fel dimana mereka membawa gaun mu...." ucap Felisa sambil berusaha memutar otaknya untuk mulai mencari tahu dimana letak gaunnya saat ini.
"Ah ruang cuci! Pasti ada di sana, aku harap gaun itu belum di cuci." ucap Felisa sambil bangkit dari posisinya dan memegangi area perutnya yang masih sedikit terasa sakit, namun Felisa tak memperdulikan hal tersebut dan terus membawa langkah kakinya keluar dari kamarnya.
**
Sambil melangkahkan kakinya secara perlahan Felisa mulai menuruni satu persatu anak tangga dengan celingukan karena takut jika Erzhan ataupun Bram menemukannya saat ini. Felisa terus melangkahkan kakinya menyusuri area mansion menuju ke arah paviliun belakang.
Hanya saja ketika Felisa melangkahkan kakinya keluar dari pintu samping ke arah paviliun belakang, Bram yang baru saja keluar dari ruangan kerja Erzhan, tentu saja langsung mengernyit begitu melihat gelagat aneh milik Felisa.
"Apa yang sedang dia lakukan saat ini?" ucap Bram dengan raut wajah yang penasaran.
Bram yang penasaran akan apa yang di lakukan oleh Felisa kemudian memutuskan untuk mengikuti langkah kaki gadis itu menuju ke arah paviliun. Entah apa yang ingin Felisa perbuat saat ini, namun bagi Bram tingkah Felisa kali ini benar-benar mencurigakan.
Sampai ketika langkah kaki Felisa sampai di area paviliun, Bram melihat Felisa berlarian ke arah ruang cuci dengan tergesa.
"Apa yang sebenarnya dia lakukan?" ucap Bram dengan raut wajah yang bingung.
**
Ruang cuci
__ADS_1
Felisa yang sudah mulai khawatir jika gaun itu telah di cuci, lantas melangkahkan kakinya dengan bergegas masuk ke dalam. Begitu melihat Maid yang hendak mencuci baju lantas membuat Felisa berlarian mengejarnya.
"Tunggu sebentar!" ucap Felisa dengan nada yang sedikit meninggi, membuat Maid tersebut lantas langsung menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa Nona?" tanya Maid tersebut dengan raut yang penasaran.
"Emm apa Bibi melihat gaun yang sebelumnya aku pakai? Apakah masih ada dan belum di cuci?" tanya Felisa dengan penuh harap.
Mendengar pertanyaan dari Felisa membuat Maid tersebut lantas terdiam sejenak seakan nampak mengingat-ingat tentang gaun yang dimaksud oleh Felisa.
"Ah gaun itu baru selesai di cuci dan saat ini tengah di jemur di Rooftop Nona, apa ada sesuatu Nona?" tanya Maid tersebut.
"Apa kamu melihat ada potongan kertas pada celah-celah kecil yang terletak di gaun tersebut?" tanya Felisa dengan nada yang bingung hendak menjelaskannya kepada Maid tersebut. "Sudahlah biar aku saja yang naik ke atas!" ucap Felisa sebelum pada akhirnya berlalu pergi menuju ke lantai 2 bangunan ini di mana ada sebuah ruang terbuka untuk menjemur pakaian.
Sedangkan Maid tersebut tepat ketika melihat kepergian Felisa dari sana, lantas terdiam dengan tatapan yang aneh seperti tengah bingung namun juga khawatir jika sebuah masalah akan terjadi karena ulahnya. Helaan napas terdengar berhembus kasar dari mulut Maid tersebut ketika melihat kepergian Felisa dari ruangan tersebut.
"Sudahlah lagipula aku hanya bekerja di sini dan mari lakukan tugas mu dengan baik, oke?" ucap Maid tersebut seakan mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Apa yang Felisa tanyakan kepadamu?" ucap sebuah suara yang berasal dari Bram.
"Astaga! Bram kamu mengejutkan ku saja." pekik Maid tersebut yang terkejut akan kehadiran Bram yang tiba-tiba.
"Apa yang dia lakukan di atas?" tanya Bram kembali.
"Ah Nona sedang mencari gaunnya yang baru saja di cuci, saya permisi..." ucap Maid tersebut sambil buru-buru melangkahkan kakinya meninggalkan Bram karena takut akan ditanyai macam-macam oleh Bram.
Bram yang menyadari ada yang aneh dari Maid itu lantas langsung menahan kepergiannya dari sana, membuat Maid tersebut langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
__ADS_1
"Kau pasti mengetahui tentang sesuatu bukan? Katakan padaku apa yang kau ketahui?" ucap Bram dnegan tatapan yang tajam, membuat Maid tersebut langsung menelan salivanya dengan kasar.
"Saya... Saya tidak tahu apapun." ucapnya dengan tergagap yang malah membuat Bram curiga kepadanya.
"Sudah ku bilang katakan kepada ku atau aku akan..." ucap Bram namun terpotong dengan perkataan Maid tersebut.
"Nona mencari sepotong kertas di bajunya sedangkan kertas tersebut saya berikan kepada Tuan Erzhan karena mengira jika kertas tersebut penting. Saya sungguh tidak tahu apapun dan hanya ingin bekerja dengan tenang, saya benar-benar tidak tahu jika kertas tersebut milik Nona itu." ucap Maid tersebut pada akhirnya dengan nada yang ketakutan, membuat Bram langsung mengernyit begitu mendengar perkataan Maid tersebut.
Helaan napas terdengar berhembus dari mulut Bram setelah itu ia menggeser sedikit posisinya.
"Sudahlah kau boleh pergi, apa yang kau lakukan sudah benar tak perlu takut karena tidak ada yang akan menyingkirkan mu dari pekerjaan mu sekarang." ucap Bram pada akhirnya yang membuat Maid tersebut mendongak menatap ke arah Bram.
"Terima kasih banyak Bram..." ucap Maid tersebut sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana meninggalkan Bram sebelum nantinya Bram berubah pikiran.
Setelah kepergian Maid tersebut, Bram terlihat menatap ke lantai atas tepatnya di ruang jemur kemudian kembali menghela napasnya dengan kasar.
"Sepertinya Tuan sudah mengetahui tentang hal ini." ucap Bram dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.
***
Kamar Felisa
Di kamarnya Felisa nampak diam termenung dengan raut wajah yang di tekuk, meski telah membongkar gaun tersebut tadi tapi Felisa tetap tak menemukan apapun di sana kecuali hanya sebuah kekosongan saja. Felisa benar-benar menyesal tidak menyelamatkan lebih dulu sepotong kertas tersebut sebelum tidur tadi.
"Mengapa aku bisa ceroboh sekali? Bagaimana aku bisa bertemu Ibu jika aku menghilangkan kertas tersebut?" ucap Felisa dengan raut wajah yang cemberut.
Sampai pada akhirnya di tengah rasa menyesal sekaligus kesal, Felisa yang mencoba mengingat tentang sesuatu yang tertulis di kertas tersebut, lantas mengambil sebuah kertas baru dan juga pulpen kemudian mencoba untuk mengingatnya secara perlahan meski hanya setengahnya saja.
__ADS_1
"Aku mengingatnya!"
Bersambung