
Di sebuah mobil minibus yang dikendarai oleh Rama, terlihat Felisa tengah menatap ke arah luar kaca jendela sebelahnya. Felisa benar-benar kesal akan tingkah Erzhan yang benar-benar hanya memberikannya waktu 1 jam untuk berkumpul dengan keluarganya. Entah apa yang membuatnya begitu menurut kepada Erzhan, namun yang bisa Felisa lakukan hanya diam sambil menuruti segala perkataannya. Apa yang dilakukan Erzhan kepada keluarganya, benar-benar telah membuatnya berhutang budi kepada Pria tersebut.
"Mengapa aku harus terjebak bersama Pria ini? Aku bahkan tidak pernah mengharapkannya sedikitpun hal ini terjadi kepada ku..." ucap Felisa dalam hati sambil menghela napasnya dengan panjang.
Pikiran Felisa melayang membayangkan segala hal yang dikatakan oleh Ibunya. Entah apa maksud dari perkataan Ibunya, namun Felisa yakin jika perkataan Ibunya memiliki sebuah kode yang mungkin akan membawa Felisa menuju ke arah harta tersembunyi itu. Felisa benar-benar sudah lelah terus berlari dan main kejar-kejaran bersama dengan Raes atau bahkan kakeknya sendiri. Felisa sungguh ingin kembali ke kehidupannya yang normal.
Sebuah kehidupan yang kini terasa begitu lengkap yang berisi Vallen, Farel dan juga dirinya. Meski Nelson tak bersama dengan mereka, namun ia yakin Nelson selalu hadir di hati mereka masing-masing.
Felisa menghela napasnya dengan panjang membuat Erzhan yang sedari tadi menatap ke arah luar kaca jendela, lantas langsung menoleh dengan seketika ke arah sumber suara begitu mendengar helaan napas yang berasal dari Felisa barusan.
"Ada apa?" tanya Erzhan kemudian yang lantas langsung membuyarkan segala Lamunan Felisa saat itu.
Felisa yang mendengar pertanyaan tersebut tentu saja langsung menoleh ke arah sumber suara kemudian kembali menghela napasnya dengan panjang, membuat Erzhan terlihat langsung mengernyit ketika melihat raut wajah lesu milik Felisa saat ini.
"Kamu bertanya seakan tidak tahu, tentu saja aku ingin pulang dan berkumpul bersama Ibu dan juga Adikku. Mengapa kamu masih saja bertanya?" ucap Felisa dengan nada yang ketus.
"Tentu saja boleh asalkan beritahu aku letak di mana harta tersembunyi itu terlebih dahulu, maka kamu akan bebas dari segala tanggung jawab mu. Bagaimana?" ucap Erzhan kemudian sambil tersenyum dengan tipis, membuat Felisa langsung memutar bola matanya dengan jengah.
__ADS_1
"Ayolah aku bahkan tidak mengetahui letak di mana harta tersembunyi itu berada, mengapa kau ngotot sekali? Setidaknya berikan aku kelonggaran untuk bernapas." ucap Felisa dengan nada yang datar, membuat Erzhan lantas langsung terlihat menyandarkan kepalanya pada kursi penumpang saat itu.
"Bukankah selama ini aku selalu memberi kelonggaran kepadamu? Aku bahkan menyelamatkanmu dari kakekmu, tidakkah kamu tahu rasa terima kasih?" ucap Erzhan dengan nada yang kesal sambil memejamkan matanya sejenak.
"Baiklah.. Baiklah aku mengaku kalah.." ucap Felisa kemudian sambil kembali menatap ke arah luar kaca jendela mobil saat itu.
**
Kediaman William
Frans, Jo dan juga beberapa anak buah yang lainnya lantas mulai kembali dengan langkah kaki yang gusar. Mereka benar-benar tidak bisa menemukan letak di mana keberadaan Erzhan dan juga yang lainnya, membuat mereka harus pulang dengan tangan kosong dan melaporkannya kepada William. Dengan langkah kaki yang perlahan dan juga penuh rasa ketakutan di dalam diri mereka, mereka pulang dengan membawa kehampaan menemui William yang mungkin akan membabat habis mereka ketika mengetahui jika mereka gagal dalam menjalan misi.
Suara derap langkah kaki yang beradu dengan lantai keramik lantas langsung menghentikan langkah kaki Jo, Frans dan juga yang lainnya. Mereka semua menunduk dengan tatapan lurus ke bawah, seakan mengetahui jika langkah kaki itu adalah milik William.
"Kalian semua benar-benar bodoh, tidak ada satupun dari kalian yang benar-benar bisa mengerjakan segala sesuatunya bahkan hanya untuk mencari keberadaan mereka saja. Apakah aku harus mengganti semua pengawalku agar bisa lebih cerdik seperti pengawalnya? Kalian benar-benar mengesalkan!" ucap William sambil menunjuk ke arah mereka dengan tongkatnya.
Fans yang tahu William sedang marah saat ini lantas mulai melangkahkan kakinya sedikit lebih maju mendekat ke arah dimana William berada untuk menjelaskan segala situasinya, membuat William langsung terdiam sambil menatap dengan tatapan yang menelisik ke arah Frans saat ini.
__ADS_1
"Saya benar-benar minta maaf Tuan kami kehilangan jejak mereka, mereka mengecoh kami dengan berpura-pura jatuh ke dalam jurang. Tuan kami benar-benar tidak tahu jika mereka menyiapkan segala rencana cadangan dan kabur dari pengawasan kami." ucap Fran kemudian menjelaskan segala sesuatunya kepada William, namun William yang mendengarkan hal itu lantas tersenyum dengan tipis, membuat Frans lantas kebingungan akan maksud dari senyuman tersebut.
Mendengar hal tersebut William nampak mengeluarkan sebuah pistol dari balik saku jasnya, membuat perasaan ketakutan lantas memenuhi hati setiap orang yang ada di sana. William menodongkan pistol tepat di area kepala Frans, membuat Jo dan anak buah yang lainnya tentu saja terkejut bukan main ketika mendapati pemandangan tersebut.
Frans yang mendapati hal itu tentu saja hanya bisa diam dan juga pasrah, ini adalah konsekuensi dari pekerjaannya. Sebuah kegagalan akan membawanya menuju ambang kematian, tidak ada hal lain lagi yang bisa Frans lakukan selain hanya berserah kepada takdir akan kehidupannya saat ini.
"Keluarkan pistolmu dan tembak anak buahmu sesuai dengan jumlah peluru yang terdapat di dalam pistol mu, jika kau tidak melakukan itu maka aku akan yang menembak kepalamu dengan besi panas ini! Apakah kau mengerti?" ucap William dengan nada yang datar membuat Frans lantas langsung menatap dengan spontan ke arah William saat itu.
Mendengar hal tersebut Frans lantas langsung menatap dengan tatapan yang mengernyit ke arah William, kemudian menatap kembali ke arah Jo dan juga yang lainnya. Ada sebuah raut wajah yang jelas terlihat dari wajah beberapa anak buahnya, di mana perasaan takut ketika sebuah peluru hendak menyentuh mereka, meski mereka tahu hal tersebut adalah konsekuensi dari pekerjaannya.
Frans tentu tidak akan tega membunuh anggotanya sendiri, mungkin jika ia mati dan menggantikan mereka itu akan menjadi lebih baik daripada ia harus menghabisi nyawa anak buahnya sendiri saat ini.
"Tuan tentu saya tidak akan bisa melakukan hal tersebut, jika anda mau tembak saja saya. Saya adalah orang yang paling bersalah di sini." ucap Frans kemudian yang lantas membuat Jo dan yang lainnya terkejut ketika mendengar jawaban dari Frans barusan.
"Apa yang anda katakan ketua? Saya siap mati demi dirimu, mengapa kamu malah mengorbankan dirimu sendiri untuk kami? Lakukan saja perintah Tuan sekarang!" ucap Jo yang lantas di balas anggukan kepala oleh yang lainnya.
"Menarik, bukankah kau mendengar hal itu?" ucap William dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Tapi..."
Bersambung