Felisa & Harta Tersembunyi

Felisa & Harta Tersembunyi
Aku ingin pulang!


__ADS_3

"Apa Bu? Tapi untuk apa?" ucap Felisa dengan raut wajah yang penasaran begitu mendengar perkataan Vallen yang terasa aneh di telinganya.


"Benda ini adalah sesuatu yang penting dan Ibu tidak bisa membiarkannya begitu saja, atau orang lain yang berniat buruk akan mengambilnya. Hanya kamu... Kamu lah orang yang mengetahui akan segala hal yang baik dan juga buruk untuk dirimu sendiri. Ibu serahkan benda ini kepadamu, jika memang kamu percaya akan Erzhan. Maka berikanlah benda ini kepadanya, tapi Ibu harap kamu sudah memikirkannya terlebih dahulu dengan hati-hati karena setiap tindakan yang kamu ambil pasti memiliki resiko tersendiri." ucap Vallen dengan nada yang lembut sambil menyerahkan kotak kecil berisi anting-anting yang di cari oleh Felisa sedari tadi.


Felisa yang mendengar perkataan dari Vallen barusan, tentu saja langsung terdiam dengan seketika. Ia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya dibalik alasan Felisa ingin memberikan anting-anting ini kepada Erzhan. Tidak mungkin jika Felisa mengatakan bahwa segala hal ini untuk kebaikan mereka semua, agar ia dan juga Ibunya bisa berkumpul dan hidup dengan tenang. Tanpa bayang-bayang orang-orang yang selalu mencari letak harta tersembunyi tersebut.


"Ibu percaya pada Felisa?" ucap Felisa dengan tiba-tiba yang langsung membuat Vallen mengernyit begitu mendengarnya.


"Tentu nak, kamu sudah besar dan berhak mencari jalan mu sendiri. Ibu yakin setiap langkah yang kamu ambil pasti sudah kamu pikirkan terlebih dahulu. Jadi jika memang itu menurut mu baik maka lakukan lah dengan sepenuh hati, mengerti?" ucap Vallen lagi sambil tersenyum dengan simpul.


Setelah mengatakan hal tersebut Vallen lantas bangkit dari posisinya, kemudian mengusap perlahan puncak kepala Felisa dan melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana. Membuat helaan napas terdengar berhembus kasar dari mulut Felisa, begitu melihat kepergian Vallen baru saja dari kamarnya.


Felisa menatap ke arah kotak kecil berisi anting-anting tersebut tepat setelah kepergian Vallen dari sana. Sebuah perasaan bertanya-tanya mendadak memenuhi isi hatinya saat ini. Entahlah Felisa sendiri juga tidak tahu jalan apa yang terbaik untuk ia ambil saat ini, namun yang ada di pikirannya saat ini ia ingin segera lepas dari jeratan Erzhan dan hidup dengan tenang bersama Farel dan juga Ibunya. Apakah alasan itu saja tidak mendasari tindakan Felisa saat ini?


"Apakah langkah yang aku ambil sudah benar? Mengapa setelah mendengar perkataan dari Ibu, aku menjadi sedikit ragu akan tindakan yang aku ambil saat ini." ucap Felisa sambil kembali menghela napasnya dengan panjang.


***


Sementara itu di area ruang menonton, terlihat Erzhan dan juga Farel tengah sibuk bermain PS dengan raut wajah yang serius. Saat ini bahkan sudah menjadi kekalahan Erzhan yang ketiga kalinya atas pertandingannya dengan Farel. Nyatanya pemenang dalam dunia bisnis, sama sekali tidak menjamin ia bisa memenangkan sebuah game yang Erzhan mainkan bersama dengan Farel.

__ADS_1


"Ah sial" ucap Erzhan berdecak dengan kesal.


Lagi dan lagi Erzhan kembali kalah dalam permainan ini, membuatnya lantas berdecak dengan kesal ketika harus mendapati Farel kembali memenangkan pertandingan. Meski ini hanyalah sebuah permainan dalam dunia game, namun entah mengapa Erzhan seakan seperti terpacu untuk memenangkan permainan ini.


Seorang Erzhan tidak pernah kalah dalam hal apapun, itulah yang membuatnya begitu kesal ketika mendapati dirinya kalah dari seorang pelajar SMA.


"Apakah kamu baik-baik saja kakak ipar? Mau ku beri tips agar bisa menang?" ucap Farel kemudian ketika mendapati raut wajah Erzhan yang seperti itu.


Erzhan yang mendengar perkataan dari Farel barusan, lantas langsung menoleh dengan seketika. Ada sebuah perasaan keingintahuan dalam diri Erzhan, begitu mendapati perkataan Farel yang menawarkan tentang sebuah tips untuk menang.


"Tidak perlu, aku harus bisa menang tanpa bantuan mu! Ayo kita main sekali lagi.." ajak Erzhan kemudian membuat tawa kecil lantas terdengar dari mulut Farel saat itu, membuat Erzhan semakin mendengus dengan kesal begitu mendengar tawa tersebut.


Entah mengapa melihat interaksi antara Erzhan dan juga Farel yang terlihat begitu dekat saat ini, membuat hati Felisa menjadi semakin gelisah dan juga takut. Entah apa yang ia takutkan saat ini, namun yang jelas ketakutan itu terasa begitu nyata dan memenuhi hatinya.


"Tanpa aku sadari semua sudah menjadi kian jauh, jika sampai Farel tahu selama ini kakaknya hanya terjerat dengan hubungan kerjasama antara aku dan juga Erzhan. Apakah Farel akan kecewa kepadaku?" ucap Felisa sambil menatap lurus ke arah depan dengan tatapan yang termenung.


Sampai kemudian Felisa yang tak ingin larut dengan perasaan yang belum tentu Erzhan juga merasakannya saat ini. Sambil menarik napasnya dalam-dalam Felisa kemudian mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana keduanya berada sekarang.


"Ayo kita pulang sekarang!" ucap Felisa kemudian yang lantas membuat Farel dan juga Erzhan menoleh ke arah sumber suara dengan seketika.

__ADS_1


"Sebentar lagi, sebelum aku menang kita tidak akan pulang." ucap Erzhan yang kembali fokus pada layar televisi dan terus bermain lagi.


"Sudahlah Kak, lagi pula Kakak jarang pulang bukan? Jadi biarkan saja Kakak ipar bermain dengan ku." ucap Farel yang seakan menyetujui perkataan dari Erzhan barusan.


Felisa yang mendengar panggilan Kakak ipar terdengar dengan jelas di telinganya. Lantas langsung menatap dengan tatapan yang mengernyit, seakan tak percaya jika Farel memanggil Erzhan dengan sebutan Kakak ipar.


"Ayo kita pulang sekarang juga." ucap Felisa lagi dengan nada penuh penekanan.


Namun Erzhan dan juga Farel yang seakan masih asyik dengan permainan mereka berdua, sama sekali tidak menghiraukan perkataan Felisa yang mengatakan untuk segera pulang saat ini. Melihat tingkah keduanya yang seperti itu mendadak membuat kesal Felisa, seakan merasa jika dirinya tak di anggap di sana.


"Sudah ku bilang jika aku ingin pulang, apakah kamu tidak mendengarnya?" pekik Felisa dengan tiba-tiba yang tentu saja langsung mengejutkan keduanya, dimana Erzhan dan juga Farel tengah asyik bermain PS bersama.


Mendengar suara tinggi yang berasal dari Felisa, tentu saja langsung membuat Erzhan bangkit dari posisinya saat itu dan menatap ke arah Felisa dengan tatapan yang bertanya-tanya.


"Tidak perlu berteriak Fel? Tidakkah kamu terlalu berlebihan? Kamu bisa mengatakannya lebih pelan bukan?" ucap Erzhan yang tak suka akan cara bicara Felisa yang meninggi barusan.


"Aku sudah mengatakannya berulang kali tapi kau sama sekali tak mendengarnya!" ucap Felisa dengan nada yang kesal, sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari hadapan keduanya dengan langkah kaki yang bergegas.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2