
Beberapa menit kemudian pintu kamar mandi nampak terbuka dengan lebar dan menampilkan sosok Felisa yang berjalan dengan perlahan keluar dari area kamar mandi. Felisa memegangi perutnya yang masih terasa begitu sakit. Entah ke berapa kalinya Felisa sudah bolak-balik ke kamar mandi sedari tadi. Sejak kecil pecek lele memanglah musuh bebuyutan baginya, entah ada alergi atau apa? Hanya saja ketika Felisa memakannya, perut Felisa selalu saja mules dan berakhir dengan diare selama berhari-hari.
Memang terdengar aneh namun inilah yang terjadi kepada Felisa, sehingga membuat Felisa sebisa mungkin menghindari makanan tersebut. Hari ini adalah pertama kalinya Felisa kembali memakan makanan tersebut agar membuat Erzhan percaya kepadanya. Memang terdengar begitu bodoh namun hal ini harus tetap Felisa lakukan.
"Arg mengapa sakit sekali perut ku?" ucap Felisa sambil mengusap perutnya beberapa kali.
Erzhan yang melihat Felisa baru saja keluar dengan langkah kaki yang perlahan, lantas mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Felisa berada. Tanpa mengatakan sesuatu ataupun berbasa-basi, Erzhan tiba-tiba menggendong tubuh Felisa ala bridal style yang tentu saja membuat Felisa terkejut bukan main akan tingkah Erzhan saat ini.
"Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku sekarang juga!" ucap Felisa sambil menatap bingung ke arah Erzhan.
Hanya saja belum sempat Erzhan menjawab pertanyaan dari Felisa barusan, suara perut Felisa kembali terdengar dan membuat Felisa lantas langsung memegang kembali perutnya dengan erat sambil meringis menahan rasa sakit yang kembali menyerangnya. Erzhan yang mengetahui hal itu hanya menghela napasnya dengan panjang kemudian menatap ke arah Felisa yang nampak menggigit bibir bagian bawahnya saat ini.
"Sudah jangan protes, apa kamu ingin terus berada di sini dan bolak-balik ke kamar mandi? Jika kamu tidak menginginkannya maka diam lah dan jangan protes!" ucap Erzhan dengan nada yang datar membuat Felisa langsung terdiam seketika tidak berani menjawab perkataan dari Erzhan barusan.
Setelah mengatakan hal tersebut Erzhan terlihat mulai melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana dengan membawa Felisa digendongnya. Erzhan kemudian melangkahkan kakinya dengan perlahan menyusuri area kantor polisi dan bergegas keluar menuju ke arah parkiran mobilnya dimana Bram tengah menunggunya saat ini.
Di saat Erzhan dan juga Felisa baru saja melintas di area ruangan kerja para petugas polisi, semua mata langsung tertuju kepada keduanya. Apa yang dilakukan oleh Erzhan kepada Felisa benar-benar mengundang tanda tanya bagi semua orang yang berada di sana, tak terkecuali dengan Fandi yang juga saat itu melihat apa yang dilakukan Erzhan kepada Felisa. Fandi menatap kepergian Felisa dan juga Erzhan dengan tatapan yang mengernyit dan juga bertanya-tanya akan hubungan keduanya.
Entah bagaimana Felisa dan juga Erzhan bisa dekat, namun hal tersebut malah mengundang kecurigaan bagi Fandi pada hubungan keduanya.
"Apa sebenarnya hubungan keduanya? Mengapa mereka nampak dekat namun juga terasa jauh?" ucap Fandi pada diri sendiri dengan nada yang lirih.
Sampai kemudian ketika sebuah suara mendadak terdengar di telinganya, lantas langsung membuyarkan segala pemikiran Fandi barusan.
__ADS_1
"Bukankah mereka berdua sangat romantis? seorang Erzhan yang terlihat dingin dan juga kaku ternyata bisa romantis juga rupanya." ucap sebuah suara yang berasal dari Fahri saat itu, membuat Fandi lantas memutar bola matanya dengan jengah ketika mendengar perkataan dari Fahri barusan.
"Sudahlah jangan terlalu berlebihan seperti itu, apa yang kamu lihat belum tentu adalah kebenarannya." ucap Fandi dengan nada yang datar.
"Ye bilang saja kalau kamu juga pingin seperti itu, bukan? Dasar gengsian..." ucap Fahri yang lantas membuat bola mata Fandi membulat dengan seketika.
"Terserah apa katamu, oh ya dimana Argi?" tanya Fandi kemudian dengan raut wajah penasaran.
Ia bahkan baru sadar jika Argi tidak terlihat sedari tadi, bukankah seharusnya Argi sudah berada di mejanya setelah proses interogasi berakhir? Lalu mengapa Argi tidak langsung kemari dan mengatakan hasilnya?
"Ada di ruang istirahat tuh, memangnya kenapa?" tanya Fahri kemudian.
"Apa jangan-jangan dia sedang menghindari ku? Sial..." ucap Fandi dalam hati kemudian berlalu pergi meninggalkan Fahri yang menatapnya dengan tatapan bingung.
"Sebenarnya semua orang sedang kenapa sih? Mereka semua benar-benar aneh." ucap Fahri sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
***
Setelah beberapa menit berkendara, mobil yang di kendarai oleh Bram terlihat parkir di halaman depan Mansion milik Erzhan. Tepat ketika mobil tersebut berhenti dan parkir, tanpa menunggu pintu di buka oleh pengawalnya Erzhan sudah lebih dulu turun dari dalam mobil dan melangkahkan kakinya menuju ke pintu kursi penumpang di sebelah kemudian membukanya dengan lebar. Membuat Bram dan juga Felisa yang mengetahui hal tersebut lantas sedikit merasa aneh dengan tingkah Erzhan saat ini.
"Ayo aku akan membantu mu untuk turun." ucap Erzhan sambil menundukkan posisi tubuhnya dan bersiap menggendong Felisa.
Mendengar perkataan Erzhan barusan tentu saja membuat Felisa dan juga Bram terkejut seketika. Ini pertama kalinya seorang Erzhan menundukkan tubuhnya untuk seseorang, bagaimana mungkin Bram tidak tersentak ketika mendengar dan melihatnya secara langsung.
__ADS_1
"Tidak perlu aku bisa sendiri.." ucap Felisa sambil mulai melangkahkan kakinya hendak turun dan berjalan.
Hanya saja belum sempat Felisa turun dari mobil Erzhan sudah langsung menggendong tubuhnya kembali ala bridal style dan membawa Felisa masuk ke dalam Mansion.
"Apa-apaan kamu? Turunkan aku sekarang!" pekik Felisa dengan nada yang kesal karena sedari tadi Erzhan selalu saja bersikap semaunya melakukan sesuatu tanpa bertanya terlebih dahulu kepadanya.
"Sudah diam saja dan jangan bergerak, masih untung aku mau menolong mu jika orang lain pasti sudah membuang mu ke tepi jalan!" ucap Erzhan dengan nada yang datar membuat Felisa langsung terdiam seketika.
"Bukankah kata-katamu terlalu pedas?" ucap Felisa dengan raut wajah yang cemberut.
"Mangkanya diam dan jangan terus memancing ku!" ucap Erzhan kemudian sambil terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam.
Sementara itu setelah kepergian keduanya dari halaman depan Bram yang tak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini, hanya bisa menatap kepergian keduanya dengan tatapan yang aneh sekaligus bertanya-tanya.
"Yang barusan itu benar-benar Tuan? Bagaimana mungkin sikapnya berubah seperti itu?" ucap Bram dengan raut wajah yang bingung.
****
Kantor polisi
Fandi yang penasaran akan apa yang sedang di lakukan oleh Argi di ruang istirahat, lantas terlihat melangkahkan kakinya menyusuri area kantor polisi dan berhenti tepat di depan ruang istirahat.
Fandi yang sudah tidak sabaran untuk bertanya kemudian tanpa mengetuk pintu langsung membuka pintu ruang istirahat begitu saja, membuat Argi yang sedari tadi menatap ke arah dokumen interogasi tadi lantas terkejut bukan main.
__ADS_1
"Apa yang kamu sembunyikan di belakang mu?" ucap Fandi dengan raut wajah yang penasaran.
Bersambung