
Kantor polisi
Di mejanya terlihat Fandi saat ini tengah duduk termenung sambil menatap lurus ke arah depan, di ketuk-ketukan jari tangannya selama beberapa kali di atas meja sambil terus memikirkan segala kemungkinan yang mungkin saja terjadi dan berhubungan langsung dengan Felisa kakak Farel yang hilang dua hari yang lalu. Fandi menyandarkan kepalanya pada kursi kebesarannya sambil terus berpikir tentang segalanya.
Ada satu hal yang begitu terasa mencurigakan di benak Fandi begitu mendengar cerita Farel, yang mengatakan bahwa mereka sempat menerima uang duka cita dalam jumlah yang besar dan setelah itu ada segerombolan orang yang tak mereka kenali mengejar mereka tanpa alasan yang jelas.
Tidak hanya sampai di sana saja bahkan perkataan Farel yang mengatakan bahwa mereka berdua sempat beberapa hari bersama dengan Erzhan selama perjalanan mereka menabur abu jenazah Nelson semakin terasa aneh bagi Fandi.
"Ada sesuatu yang aneh di sini, tidak mungkin jika Erzhan tiba-tiba saja muncul di hutan jika tidak mempunyai maksud tertentu, entah mengapa aku sangat yakin jika hilangnya Felisa ada hubungannya dengan Erzhan." ucap Fandi pada diri sendiri dengan nada yang lirih.
Ketika Fandi tengah sibuk memikirkan tentang persoalan hilangnya Felisa, sebuah tepukan yang mendadak mendarat di pundaknya lantas mengejutkan Fandi dengan seketika dan membuatnya langsung bangkit dari posisinya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" ucap salah satu rekan kerjanya dengan nametag Argi di dadanya.
Fandi yang melihat tepukan tersebut berasal dari Argi lantas langsung memukul pundak Argi dengan kesal.
"Kau mengejutkan saja!" ucap Fandi dengan kesal yang lantas membuat Argi langsung tertawa dengan seketika.
"Maaf, lagi pula apa yang sedang kau pikirkan hingga kau melamun seperti itu?" ucapnya sekali lagi karena belum mendapat jawaban apapun dari Fandi barusan.
Mendengar pertanyaan tersebut lantas membuat Fandi langsung menghela napasnya dengan panjang, tanpa langsung menjawab pertanyaan dari Argi barusan Fandi kemudian terlihat menyodorkan sebuah selembaran kepada Argi yang membuat Argi langsung mengernyit dengan bingung ketika melihat lembaran tersebut. Sampai kemudian disaat manik matanya membaca profil tentang Felisa barulah Argi menggeser selembar kertas itu kembali kepada Fandi, membuat Fandi langsung menatap penuh tanda tanya kepada Argi saat ini.
"Sebaiknya kamu jangan ikut campur tentang masalah ini, kita biarkan saja seperti ini. Cukup diam dan jangan menambah masalah lain yang baru lagi." ucap Argi dengan nada yang datar.
Apa yang dikatakan oleh Argi barusan tentu saja membuat Fandi langsung menatapnya dengan tatapan yang bingung, Fandi benar-benar tidak mengerti apa yang saat ini tengah dimaksud oleh Argi, membuatnya hanya bisa melongo sambil menatap ke arah Argi seperti layaknya orang yang bodoh.
"Apa maksud perkataan mu barusan?" tanya Argi dengan raut wajah yang penasaran.
__ADS_1
"Tidak ada maksud hanya saja ini perintah dari atasan dan sudah meluas di lingkungan kepolisian, jadi aku harap kamu cukup ikuti saja perintah dari komandan." ucap Argi lagi sambil bangkit dari posisinya.
Setelah mengatakan hal tersebut Argi menepuk pundak Fandi beberapa kali kemudian berlalu pergi dengan senyuman yang semakin membuat bingung Fandi saat ini.
"Sepertinya memang benar-benar ada yang tidak beres." ucap Fandi kemudian sambil menatap kepergian Argi dari meja kerjanya.
Disaat rasa kebingungan tengah menyeruak dalam diri Fandi saat ini, sebuah deringan ponsel miliknya lantas langsung membuyarkan segala lamunannya. Ditatapnya layar ponsel miliknya yang tertulis dengan jelas nama Farel di sana, membuatnya lantas langsung menghela napasnya dengan panjang begitu mengetahui Farel tengah menghubunginya saat ini.
"Halo" ucap Fandi kemudian setelah menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya.
"Bagaimana perkembangan tentang kasus kakak ku? Apa kamu sudah menemukan titik terang saat ini?" ucap Farel kemudian bertanya dengan nada yang gelisah kepada Fandi.
Fandi yang mendengar perkataan dari Farel barusan lantas terdiam seketika, baru saja Argi telah memperingatkannya untuk tidak ikut campur dalam kasus hilangnya Felisa dan sebelum Farel mendapatkan alasan di balik semua itu. Farel adik Felisa sudah menghubunginya saat ini.
"Halo pak, apa kamu bisa mendengar suara ku?" ucap Farel lagi yang tak kunjung mendapat jawaban dari Fandi.
"Baiklah, jika ada informasi tentang kakak ku kabari aku secepatnya." ucap Farel kemudian dengan nada yang kecewa membuat Fandi merasa tidak enak karena telah membohongi Farel.
"Tentu saja" ucap Fandi pada akhirnya sebelum mengakhiri panggilan telponnya bersama dengan Farel barusan.
"Mengapa aku merasa seperti telah melakukan kejahatan hanya karena menutupi sebuah informasi kecil?" ucap Fandi tepat setelah panggilan telponnya terputus.
***
Di ruang kamar Felisa
Tap tap tap
__ADS_1
Derap langkah kaki sepatu yang beradu dengan lantai kala itu, lantas terdengar menggema di ruangan kamar Felisa yang tentu saja langsung membuat Felisa menoleh dengan seketika ke arah sumber suara. Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulut Felisa begitu mengetahui bahwa suara langkah kaki itu berasal dari Erzhan.
"Mengapa harus dia lagi dia lagi." ucap Felisa dalam hati menggerutu kesal.
"Bagaimana? Apakah kamu sudah memutuskan apa yang ingin kamu minta?" tanya Erzhan kemudian tepat ketika langkah kakinya berhenti dihadapan Felisa saat itu.
Felisa yang mendengar pertanyaan kembali dari Erzhan yang menanyakan tentang apa keinginannya, lantas mulai memutar bola matanya dengan jengah. Felisa benar-benar kesal akan pertanyaan yang terus dilontarkan oleh Erzhan tersebut. Apa gunanya bertanya jika ketika Felisa mengatakan keinginannya, Erzhan sama sekali tidak ingin mewujudkannya. Bukankah semua itu sia-sia saja?
Erzhan yang melihat raut wajah cemberut Felisa, lantas langsung menatap dengan tatapan yang bertanya seakan tidak mengerti akan ekspresi yang ditunjukkan oleh Felisa.
"Ada apa dengan raut wajah mu itu? Apa kau tidak suka pada ku?" ucap Erzhan kemudian dengan nada yang ketus.
"Hahaha apa kau sedang melawak saat ini? Bahkan orang buta pun tahu bahwa kau sangat menyebalkan!" Ucap Felisa dengan nada yang menyindir.
"Kau..." ucap Erzhan hendak marah namun urung ketika ia kembali teringat akan perkataan Bram yang mengatakan kepadanya agar bisa lebih bersabar lagi.
Felisa yang melihat Erzhan tidak jadi marah tentu saja menatapnya dengan tatapan yang bingung dan bertanya-tanya mengapa Erzhan tidak jadi meluapkan emosinya.
"Terserah kau menginginkan sesuatu atau tidak, yang jelas aku sudah menawari mu sesuatu. Jangan sampai jika aku menariknya kembali kau menginginkan sesuatu dariku!" ucap Erzhan kemudian sambil berbalik badan dengan nada yang kesal karena tingkah laku Felisa yang sok jual mahal.
Felisa yang mendengar perkataan dari Erzhan barusan tentu saja mendengus dengan kesal. Sampai kemudian ingatannya tentang Farel yang pasti saat ini tengah kebingungan dalam mencarinya lantas berusaha menghentikan langkah kaki Erzhan.
"Tunggu sebentar!" pekik Felisa kemudian yang lantas membuat langkah kaki Erzhan terhenti seketika dengan senyuman smirk menghiasi wajahnya.
"Kena kau!" batin Erzhan dalam hati.
Bersambung
__ADS_1