
Di ruangan tengah kediaman William, terlihat Felisa melangkahkan kakinya dengan perlahan mengikuti langkah kaki Frans yang membawanya terus masuk ke dalam kediaman William.
"Tuan.. Nona Felisa sudah datang." ucap Frans kemudian ketika langkah kakinya berhenti di salah satu kursi goyang dimana posisinya yang membelakangi keduanya.
Felisa mencuri pandang menatap ke arah depan untuk melihat wajah dari William, namun sayangnya begitu sulit karena memang posisinya yang sedang membelakangi dirinya.
"Tinggalkan kami berdua?" ucap William kemudian yang dibalas anggukan kepala oleh Frans.
Setelah mendengar perintah dari William membuat Frans kemudian mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut dan memberikan waktu untuk keduanya berbicara.
Keheningan nampak terjadi diantara keduanya, yang lantas membuat Felisa menjadi gugup karena tak kunjung mendengar perkataan apapun keluar dari mulut William saat itu. Sampai kemudian tak berapa lama William nampak berdiri dari kursi goyangnya sambil menggunakan tongkat kayu dengan kepala naga yang terlihat begitu antik dan tentu saja mahal.
Felisa yang melihat secara dekat wajah dari William tentu saja terkejut bukan main karena ia seakan merasa tak asing dengan wajah William, seperti seakan Felisa pernah bertemu dengannya di suatu tempat.
"Bukankah anda..." ucap Felisa sambil memikirkan dimana tepatnya ia bertemu dengan William.
"Kau benar, acara pelelangan? Ternyata kamu masih mengingat ku..." ucap William dengan tersenyum simpul sambil mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Felisa berada.
William kala itu benar-benar memasang raut wajah yang ramah dan terlihat sepeti kakek-kakek pada umumnya. Membuat Felisa lantas terhanyut sejenak akan perasaan rindu yang menyelimuti dirinya. Hanya saja ketika raut wajah Ayahnya yang begitu lelah terlintas di kepalanya, Felisa berusaha sebisa mungkin meneguhkan hatinya agar tidak langsung percaya akan apapun yang dikatakan oleh William saat ini, sebelum ia mengetahui kebenarannya.
Sambil terus membawa langkah kakinya mendekat ke arah dimana Felisa berada, William kemudian berusaha untuk menyentuh pundak cucunya untuk yang pertama kalinya. Membuat Felisa yang melihat hal tersebut lantas langsung menggeser posisinya, hingga membuat tangan William hanya bisa berhenti di awang-awang tanpa bisa menyentuh dirinya.
"Saya tahu mungkin ini terdengar tidak sopan, tapi tujuan saya mau mengikuti Frans kemari adalah untuk bertemu Ibu saya. Jadi saya harap anda bisa memberikan saya waktu untuk bertemu dengannya." ucap Felisa dengan nada yang datar, namun berhasil membuat William tersenyum dengan tipis begitu mendengar perkataannya barusan.
__ADS_1
"Kau sungguh mirip dengan Ibumu, apakah kalian berdua memang ditakdirkan untuk saling mengcopy antara satu sama lain?" ucap William sambil tertawa kecil, yang lantas membuat Felisa langsung mendongak menatap ke arahnya dengan tatapan yang mengernyit.
"Jangan bercanda Pak, saya benar-benar ingin bertemu dengannya saat ini." ucap Felisa dengan nada yang kekeh, membuat tawa William langsung terhenti seketika.
"Baik, saya akan mengabulkannya asalkan kamu menuruti semua perkataan saya." ucap William dengan nada yang terdengar tegas membuat Felisa tentu saja langsung menatapnya dengan tatapan yang tak biasa.
"Saya datang ke sini diminta dengan baik-baik, jika anda memiliki maksud dan tujuan yang menjadikan Ibu saya sebagai jaminan, apakah anda pantas untuk di sebut sebagai seorang Ayah? Bagaimana bisa anda menjadikan putri anda sebagai sebuah jaminan?" ucap Felisa yang mulai kesal akan perkataan dari William yang terkesan menyebalkan begitu masuk ke dalam telinganya.
"Begitukah? Hanya saja hubungan antara anak dan juga Ayah sama sekali tidak berpengaruh dalam kerajaan bisnis seorang William, jadi jika kamu ingin bertemu dengan Ibumu bersikaplah menjadi anak yang baik dan ikuti semua perkataan ku." ucap William kembali dengan nada yang tegas.
"Jika kamu memang tidak ingin mempertemukan ku dengannya, baik.. Aku sama sekali tidak keberatan. Lagi pula dia putri mu bukan? Sudah pasti kau akan merawatnya dengan baik di sini. Jadi karena antara aku dan kamu tidak memiliki kepentingan lagi sebaiknya aku pulang." ucap Felisa kemudian dengan nada yang santai sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari hadapan William.
Melihat tingkah Felisa yang sangat mirip dengan Nelson, membuat senyuman sinis lantas terlihat terbit dari wajah Pria berumur tersebut.
"Frans.. Jo... Kurung gadis nakal tersebut di kamarnya dan jangan biarkan dia keluar dari sana sebelum aku memerintahkannya."ucap William dengan nada yang meninggi, membuat Felisa yang mendengar hal tersebut lantas langsung menggerutu dengan kesal.
"Dasar kakek tua sialan...." ucap Felisa dalam hati sambil mulai mengambil langkah kaki seribu hendak kabur dari sana.
Sedangkan Jo dan juga Frans yang mendengar perintah tersebut tentu saja langsung bergerak dan mengejar Felisa. Pada akhirnya baik Felisa, Jo, dan juga Frans terlibat aksi kejar-kejaran yang tidak lagi bisa dihindarkan. Felisa yang tidak ingin berakhir terkurung di sangkar emas, lantas berusaha untuk berlari dan menerjang segala hal yang ada di hadapannya saat ini.
"Maaf.. Maafkan aku..." ucap Felisa ketika ia tanpa sengaja menabrak seorang Maid yang tengah membawa secangkir teh untuk William.
"Berhenti Nona... Kita bicarakan semuanya secara baik-baik." teriak Frans kemudian mencoba untuk merayu Felisa agar lebih menurut kepadanya.
__ADS_1
"Tidak akan pernah karena semua perkataan mu hanyalah sebuah bualan semata." ucap Felisa sambil terus berlarian dan melompati beberapa kursi dan juga perabot yang berada di depannya.
"Saya mohon berhentilah Nona... Jika tidak anda bisa jatuh nantinya!" ucap Frans lagi sambil terus berlarian mengejar Felisa.
"Tidak akan pernah, meski aku jatuh sekalipun aku akan tetap... Eh eh eh..." ucap Felisa namun terhenti ketika ia sama sekali tidak melihat jika di hadapannya adalah turunan.
Bruk
Felisa terjatuh dalam posisi tengkurap di mana tangan sebelah kirinya tertimpa tubuhnya sendiri. Felisa meringis kesakitan tapi sama sekali tak mengeluarkan suara. Jika kalian tanya tentu saja rasanya begitu sakit hanya saja sebisa mungkin Felisa tahan sambil berusaha bangkit dari posisinya.
Jo dan juga Frans yang melihat Felisa terjatuh tentu saja langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah sana untuk melihat kondisi Felisa saat ini.
"Bukankah sudah ku bilang untuk tidak berlari? Lagi pula Tuan besar tetaplah kakek anda, dia tidak akan melakukan sesuatu hal buruk kepada cucunya sendiri." ucap Frans yang seakan memarahi Felisa saat ini.
"Tahu apa kau tentang hal itu?" pekik Felisa sambil meringis menahan rasa sakit di area tangannya.
"Sepertinya ada tulang yang patah Frans, aku akan memanggilkan Dr. Andra untuk memeriksanya." ucap Jo yang dibalas Frans dengan anggukan kepala, baru setelah itu melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana.
"Maafkan saya Nona..." ucap Frans sambil langsung menggendong tubuh Felisa ala bridal style dan membawanya menuju ke arah kamar.
"Apa yang kau lakukan? Turunkan aku sekarang juga!" pekik Felisa dengan nada yang kesal.
Bersambung
__ADS_1