
Kantor polisi
Di lorong menuju ruang interogasi terlihat Fandi tengah melangkahkan kakinya dengan membawa berkas kasus milik Erzhan. Seulas senyum bahkan tak henti-hentinya terlihat di wajah Fandi ketika ia pada akhirnya bisa menangkap Erzhan walau dengan kasus kecil seperti ini. Fandi terus melangkahkan kakinya menuju ke ruang interogasi sampai kemudian sebuah suara yang memanggil namanya, lantas membuat Fandi menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
"Fandi!" ucap sebuah suara yang langsung membuat Fandi berbalik badan dengan seketika.
"Komandan..." ucap Fandi sambil memberikan hormat kepada komandannya.
"Kamu tak perlu masuk ke dalam, biarkan kasus ini di tangani Argi dan juga aku." ucap Arya dengan nada yang tidak ingin di bantah sama sekali.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Fandi terkejut dengan seketika. Fandi bahkan sudah menyiapkan segala pertanyaan yang akan ia ajukan untuk memberatkan kasus ini, namun Arya malah datang dan mengatakan akan mengambil alih kasus ini bersama dengan Argi, bukankah ini sungguh tidak adil untuknya?
"Tapi Komandan saya bahkan..." ucap Fandi yang hendak melayangkan protes kepada Arya namun ucapannya lebih dulu di potong oleh Arya.
"Saya tidak menerima sanggahan, sebaiknya kamu berikan berkas itu kepada Argi sekarang juga!" ucap Arya kembali sebelum pada akhirnya melangkahkan kakinya berlalu pergi begitu saja dari hadapan Fandi.
Fandi yang melihat kepergian Arya dari sana tentu saja langsung menatap tak percaya ke arah punggung Arya saat ini. Diliriknya sekilas ke arah Argi yang saat ini tengah menatap dengan tatapan yang bersalah kepada Fandi.
"Ada apa ini Ar? Mengapa malah jadi seperti ini?" ucap Fandi dengan tatapan yang tidak mengerti ke arah Argi.
"Aku sungguh tidak tahu apapun Fan, aku hanya menjalankan perintah jadi ku mohon jangan marah kepadaku." ucap Argi kemudian sambil mengambil berkas tersebut dari tangan Fandi kemudian berlalu pergi dari sana.
"Sialan! Mengapa harus seperti ini sih?" ucap Fandi kemudian dengan raut wajah yang kesal sambil menatap kepergian Argi dari hadapannya.
__ADS_1
**
Sementara itu di saat Erzhan berada di ruang interogasi Felisa terlihat tengah menunggu di ruang tunggu yang berada tidak jauh dari ruang interogasi saat ini. Felisa terlihat menyenderkan kepalanya pada tembok ruangan tersebut. Pikiran Felisa melayang membayangkan segala perkataan Frans di kamar mandi beberapa jam yang lalu.
"Dia hanya memanfaatkan mu, kakek anda sudah mencari anda sejak lama. Bukankah saat ini saat yang tepat untuk bertemu dengannya Nona? Apakah anda tidak merindukan dua orang tersebut? Pikirkanlah baik-baik Nona, saya yakin anda tahu mana yang sedang berbohong dan mana yang sungguh-sungguh menyayangi anda." ucap Frans.
Helaan napas terdengar dengan jelas berhembus kasar dari mulut Felisa saat ini. Felisa bahkan sungguh tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang telah berbohong kepadanya, ketiganya nampak terlihat sama bagi Felisa. Baik Raes, Erzhan maupun William benar-benar membuat pikiran Felisa kacau berantakan. Felisa kemudian terlihat mengusap rambutnya dengan kasar ketika ia tak kunjung menemukan jawaban dari pertanyaannya.
"Arg aku benar-benar tidak tahu siapa yang berbohong di sini!" ucapnya dengan nada yang lirih.
Di saat Felisa tengah merenungi segala hal yang terjadi kepadanya. Sebuah suara yang asing mendadak terdengar di telinganya, membuat Felisa langsung mendongak begitu mendengar suara tersebut menyapa telinganya.
"Kamu Felisa kan?" ucap sebuah suara yang ternyata berasal dari Fandi.
"Iya, apa aku mengenal mu?" tanya Felisa dengan raut wajah yang penasaran.
"Tidak, aku mengetahui dirimu lewat Farel. Aku tidak tahu apakah kamu akan menyukainya atau tidak hanya saja ketika aku membawa ikut kemari tadi aku menghubungi Farel agar datang ke sini juga. Aku tahu Farel sudah sangat merindukan mu karena tidak bertemu dengan mu sejak lama." ucap Fandi kemudian mulai menjelaskan segalanya.
Felisa yang mendengar penjelasan dari Fandi barusan tentu saja langsung tersenyum dengan sumringah, Felisa tidak tahu jika Fandi mengenal adiknya Farel membuat Felisa begitu bahagia ketika mendengar Fandi telah menghubungi Farel saat ini.
"Terima kasih banyak, aku benar-benar bahagia ketika mendengarnya." ucap Felisa dengan tersenyum simpul.
Sampai kemudian ketika keduanya tengah berbincang tak berapa lama sebuah suara yang tak asing lantas terdengar di pendengarannya saat itu. Membuat Felisa dan juga Fandi yang sedari tadi sedang berbicara langsung menoleh ke arah sumber suara dengan seketika begitu nama Felisa di panggil.
__ADS_1
"Kak Felisa..." ucap sebuah suara yang lantas membuat Felisa dan juga Fandi menoleh ke arah sumber suara.
"Farel..." ucap Felisa kemudian dengan raut wajah yang sumringah.
Keduanya kemudian berpelukan cukup lama sambil melepas kangen antara satu sama lainnya. Felisa benar-benar sangat merindukan adiknya saat ini begitu pula sebaliknya, membuat pelukan keduanya semakin terasa erat dan juga hangat. Fandi yang melihat keduanya bertemu dan saling melepas kangen pada akhirnya memilih untuk pergi dan memberikan ruang kepada keduanya untuk melepas kangen dan juga mengobrol bersama.
"Sepertinya aku harus pergi sekarang." ucap Fandi kemudian sambil mulai melangkahkan kakinya dari sana meninggalkan keduanya.
Setelah berpelukan cukup lama perlahan-lahan Felisa nampak melepaskan pelukannya terhadap Farel kemudian menatap raut wajah adiknya dengan tatapan yang merindu.
"Apa kamu baik-baik saja kak? Aku benar-benar merindukan mu kak..." ucap Farel dengan tatapan yang sendu.
"Kakak juga, kakak minta maaf ya Rel tidak pernah mengunjungi mu sama sekali, apakah uang itu masih cukup untuk membiayai sekolah mu? Kakak kemarin bahkan sudah membayar sewa sebuah ruko, namun sayangnya malah ada sebuah hal yang membuat kakak tidak bisa memanfaatkan ruko tersebut dengan maksimal." ucap Felisa dengan raut wajah yang menyesal.
Apa yang terjadi kepadanya benar-benar membuat kehidupan Felisa kacau berantakan. Mulai dari pekerjaan, aktivitasnya dan saat ini waktunya bersama Farel juga berkurang dan tidak bisa seperti dulu lagi.
Farel yang melihat raut wajah sendu kakaknya lantas terlihat mengernyit menatap ke arah Felisa.
"Mengapa kakak malah sedih, aku bahkan senang jika kakak mempunyai teman hidup seperti dia. Kakak tahu dia begitu baik dan mengurus segala hal tentang ku. Soal uang kakak tidak perlu khawatir karena dia selalu memberikan ku uang saku yang melimpah dan cukup untuk membayar sekolah ku. Jadi kakak tidak perlu khawatir lagi karena kakak ipar mengurus ku dengan baik." ucap Farel menceritakan segalanya dengan raut wajah yang begitu bahagia.
"Apa?"
Bersambung
__ADS_1