
Setelah terpisah dari asistennya Bram, Erzhan nampak melangkahkan kakinya dengan terlantang lantung mengikuti aliran sungai yang entah membawanya ke arah mana kali ini. Erzhan yang merutuki kebodohannya karena kehilangan ponselnya ketika masuk ke dalam air, membuatnya terus-terusan menghembuskan napasnya dengan kasar sambil terus melangkahkan kakinya mengikuti aliran sungai.
"Semoga saja Bram tidak mati di makan buaya dan segera menemukan ku di sini!" ucap Erzhan dengan nada yang santai sambil terus membawa langkah kakinya mengikuti aliran sungai.
Lama Erzhan berjalan dan terus berjalan mengikuti kemana arah aliran sungai yang mengalir dengan deras, hingga pada akhirnya ketika Erzhan melangkahkan kakinya kurang lebih hampir dua jaman tak jauh dari tempatnya berada samar-samar Erzhan seperti mendengar suara seseorang tengah berbincang. Membuat Erzhan yang mendengar suara tersebut, lantas langsung mempercepat langkah kakinya menuju ke arah dimana sumber suara tersebut berada.
**
Erzhan yang berhasil sampai ke arah sumber suara lantas terlihat menghentikan langkah kakinya ketika ia sudah berada tak jauh dari posisi sumber suara yang sedari tadi ia ikuti. Sambil mengintip dari balik rumput liar Erzhan menatap ke arah depan untuk melihat suara siapa barusan. Ada sedikit raut wajah terkejut yang berasal dari Erzhan begitu melihat dua orang dimana pria dan perempuan tengah bermain air tepat di area mata air, membuat Erzhan yang melihat hal tersebut lantas langsung terdiam seketika.
Sebuah bayangan yang mendadak terlintas di benaknya ketika Erzhan menatap lebih menelisik ke arah seorang perempuan yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada kini. Entah mengapa Erzhan seakan merasa tahu sekaligus tak asing dengan wajah perempuan tersebut. Sampai beberapa detik kemudian ketika Erzhan baru mengingat siapa sosok perempuan tersebut lantas membuat Erzhan terkejut dengan seketika karena tidak menyangka akan bertemu dengannya disini.
"Bukankah dia adalah putri Nelson? Ya.. Aku tidak mungkin salah." ucap Erzhan sambil mengingat-ingat wajah dari putri Nelson yang ditunjukkan oleh Bram kepadanya beberapa tempo hari yang lalu.
Erzhan yang mengetahui dengan jelas bahwa perempuan yang ia lihat adalah putri Nelson, lantas nampak terdiam di tempatnya sejenak seakan berpikir langkah apa yang akan ia ambil sebentar lagi. Sampai kemudian sebuah ide yang mendadak terlintas di benaknya, membuat seulas senyum lantas terlihat dengan jelas terukir di wajah Erzhan saat ini.
"Tidak ada salahnya untuk mencobanya bukan? Sabil menunggu kedatangan Bram setidaknya aku bisa melakukannya." ucap Erzhan pada diri sendiri.
__ADS_1
Erzhan yang melihat langkah kaki Felisa mulai mendekat ke arah mobilnya, lantas langsung ikut melangkahkan kakinya mendekat mengikuti langkah kaki Felisa yang menuju ke arah mobil. Sambil terus menatap ke arah punggung wanita itu, Erzhan terus melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit mendekat ke arah Felisa. Hingga kemudian ketika Erzhan melihat langkah kaki Felisa terhenti seketika tepat di depan pintu mobil, membuat Erzhan ikut menghentikan langkah kakinya pula.
Erzhan terdiam di tempatnya beberapa detik seakan mencoba untuk berpikir awalan apa yang akan ia gunakan sebagai pembuka pembicaraannya kepada Felisa yang sama sekali tidak ia kenal bagaimana pribadinya. Helaan napas terdengar berhembus pelan dari mulut Erzhan sambil berusaha mempersiapkan kata-kata dan wajah selusuh mungkin.
"Bisakah aku meminta tolong?" ucap Erzhan kemudian mulai membuka pembicaraan.
Felisa yang tadinya hendak melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobil dan berganti baju, ketika mendengar sebuah suara yang asing baginya lantas menghentikan langkah kakinya dengan seketika. Felisa yang mendengar sebuah suara dari arah belakangnya kemudian mulai berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara untuk melihat siapa pemilik dari suara berat yang saat ini terdengar tepat di belakangnya.
"Siapa dia?" batin Felisa dalam hati.
"Siapa kamu?" ucap Felisa bertanya sambil mengernyit dengan tatapan yang bingung menatap ke arah pemuda yang saat ini tengah berdiri dihadapannya.
"Bisakah kamu untuk menolong ku? Mobil ku mengalami kecelakaan dan jatuh ke dalam sungai, semua barang-barang milik ku termasuk ponsel ikut masuk ke dalamnya." ucap Erzhan dengan nada yang semelas mungkin, membuat Felisa langsung bersimpati begitu mendengar penuturan dari Erzhan barusan.
"Astaga, benarkah? Lalu apa kamu mengingat nomor kontak keluarga mu? Biar aku bantu menelpon mereka." ucap Felisa kemudian menawarkan bantuan.
Mendengar pertanyaan tersebut membuat Erzhan langsung menggeleng dengan perlahan. Melihat reaksi Erzhan yang seperti itu lantas membuat Felisa mengernyit dengan seketika. Bagaimana mungkin seseorang sama sekali tidak hapal akan nomer kontak keluarganya?
__ADS_1
"Aku baru pulang ke Indonesia dan ingin mengunjungi makam orang tua ku namun naasnya aku malah mendapat musibah seperti ini." ucap Erzhan lagi dengan raut wajah yang sendu.
Mendengar hal tersebut membuat Felisa terdiam seketika. Ia memang simpati kepada pria itu namun tentu Felisa tidak bisa mengantarkannya kembali ke kota atau melanjutkan perjalanan Erzhan, mengingat jika ia mempunyai tujuan tersendiri dan harus segera menyelesaikannya. Belum lagi kejaran dari pria-pria misterius membuatnya tentu saja tidak akan bisa menampung satu orang lagi untuk bergabung bersama dengannya. Lagi pula Felisa juga tidak mengenal sosok pemuda dihadapannya saat ini.
"Lalu kamu mau aku menolong mu dengan cara apa?" tanya Felisa kemudian dengan raut wajah yang iba sekaligus bingung.
***
Sementara itu Farel yang baru saja menyelesaikan mandi dan juga bermainnya, lantas terlihat mulai melangkahkan kakinya naik ke permukaan dan kembali ke mobil. Farel yakin bahwa Felisa pasti akan menunggunya saat ini dan ketika mendapati Farel baru naik hal pertama yang akan Farel dapatkan dari Felisa adalah sebuah omelan khas yang berasal dari kakaknya itu.
"Sebaiknya aku segera kembali, jika tidak kakak pasti akan mengeluarkan tanduknya." ucap Farel sambil bergidik ngeri hanya dengan membayangkannya saja.
Dengan baju yang basah kuyup Farel terus melangkahkan kakinya menuju ke arah dimana mobilnya berada, namun ketika jarak antara mobil dan juga dirinya sudah dekat Farel yang tadinya sibuk membayangkan reaksi kakaknya lantas dibuat terkejut ketika mendapati saat ini kakaknya tengah berbincang dengan seorang pria yang Farel sendiri tidak tahu siapa pria itu.
"Sedang berbicara dengan siapa kakak? Di tengah hutan begini? Ada seorang pria tampan? Bukankah itu sangat mustahil?" ucap Farel pada diri sendiri yang terkejut ketika melihat kakaknya sedang berbincang dan menikmati secangkir minuman hangat dengan orang asing.
Bersambung
__ADS_1