
Siang itu
Farel yang terlihat begitu bosan tetap berada di rumah seorang diri tanpa melakukan apapun karena masih dalam masa liburan sekolah, lantas memutuskan untuk pergi ke kedai ramen favorit Ayahnya dulu, entah apa yang ada dipikirannya saat ini hingga tiba-tiba menginginkan ramen begitu saja padahal sebelumnya Farel sama sekali tidak kepikiran akan makanan yang berasal dari olahan tepung tersebut.
Farel yang merindukan sosok Ayahnya lantas membuatnya memutuskan untuk pergi ke kedai ramen tersebut. Dengan mengendarai ojek sepeda motor Farel melaju menuju ke arah kedai tersebut yang perjalanannya mungkin akan memakan waktu sekitar 20 menit perjalanan dengan kecepatan sedang.
**
Setelah menempuh perjalanan selama 20 menitan pada akhirnya Farel sampai di daerah gang dimana kedai tersebut berada, hanya butuh berjalan kaki beberapa langkah saja Farel akan sampai ke kedai tersebut.
Sambil melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang perlahan Farel terlihat mulai menyusuri area gang tersebut. Dari arah tak jauh dari posisinya berada samar-samar Farel seperti melihat kakaknya sedang berjalan menuju ke arah yang sama sedangkan di belakang Felisa, Farel melihat seorang laki-laki melangkah dengan kaki yang bergegas seperti sedang mengejar Felisa.
Pria itu melangkahkan kakinya mendekat dan mendekat ke arah Felisa seperti hendak menjangkau Felisa, sayangnya Farel yang tak begitu memperdulikannya lantas langsung berlarian dan menyusul langkah kaki kakaknya sambil menyalip pria tersebut, yang lantas membuat pria berjaket kulit itu terlihat melipir ke arah kiri begitu menyadari seseorang tengah menghampiri Felisa.
Sambil melangkahkan kakinya dengan perlahan seulas senyum nampak terbit dari wajahnya itu karena sebuah ide nakal mendadak terlintas dibenaknya saat ini. Dengan langkah kaki yang bergerak secara perlahan Farel mulai meletakkan tangannya tepat di pundak Felisa yang lantas membuat Felisa terkejut seketika dan menghentikan langkah kakinya dengan spontan.
"Aaaaa" teriak Felisa sambil memejamkan matanya karena mengira bahwa ia adalah orang jahat atau sejenisnya.
Farel yang mendengar teriakan dari Felisa tentu saja terkejut bukan main. Farel yang tadinya malah menertawakan Felisa karena mengira bahwa kejahilannya berhasil, begitu melihat Felisa sangat histeris membuat Farel menjadi bingung akan reaksi yang di tunjukkan oleh Felisa saat ini.
__ADS_1
Karena perasaan bersalah ketika melihat Felisa yang begitu histeris, lantas membuat Farel langsung berusaha menyadarkan Felisa dengan memegang erat kedua bahu Felisa.
"Kak ini aku Farel... Kak..." panggil Farel secara berulang kali sambil berusaha untuk membuat Felisa sadar bahwa itu adalah dirinya.
Felisa yang mendengar sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas langsung membuka matanya, begitu ia membuka mata dan melihat Farel berada tepat dihadapannya dengan spontan Felisa langsung memukul adik laki-lakinya itu berulang kali karena kesal sudah mengerjainya. Felisa yang berpikir bahwa yang mengikutinya tadi adalah orang jahat namun setelah melihat bahwa itu adalah Farel tentu saja membuat Felisa kesal bukan main akan kejahilan Farel saat ini.
"Kau benar-benar menyebalkan ya Rel... Kemari kau biar aku pukul kau agar kau mengerti bagaimana rasa kekhawatiran dalam diriku, kemari kau Rel..." ucap Felisa kemudian sambil berusaha mengejar langkah kaki Farel yang menghindar ketika ia hendak memukulnya karena sangking kesalnya akan kejahilan Farel kepadanya barusan.
"Ampun kak.. Ampun..." ucap Farel dengan nada setengah berteriak sambil terus melangkahkan kakinya menjauh dari posisi Felisa agar tidak terkena pukulan Felisa.
Felisa yang melihat Farel melarikan diri tentu saja langsung berusaha mengejarnya hendak memberi pelajaran kepada adiknya tersebut.
Sementara itu tanpa keduanya sadari diantara pepohonan yang berjajar cantik di tepi gang, terlihat seorang pria yang mengenakan jaket kulit disertai dengan topi hitam di kepalanya tengah menatap kesal ke arah dimana Felisa dan juga Farel melangkah. Pria itu berdecak dengan kesal ketika ia tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan benar karena gangguan Farel yang datang dengan tiba-tiba.
Ditatapnya punggung Farel dan juga Felisa yang terlihat melangkahkan kakinya dengan bergegas meninggalkan tempat tersebut, membuat raut wajah pria itu semakin terlihat menahan amarahnya karena harus gagal dalam menjalankan perintahnya.
Disaat perasaan kesal dan juga amarah memenuhi hatinya sebuah deringan ponsel miliknya, lantas terdengar menggema membuyarkan lamunannya yang sedari tadi menatap ke arah kepergian Felisa dan juga Farel. Ditatapnya layar ponsel yang saat itu memperlihatkan dengan jelas nama Raes di layar ponselnya, membuat pria itu langsung berdecak dengan kesal begitu mendengarnya.
"Ah sialan!" ucap Pria tersebut mendengus dengan kesal.
__ADS_1
Dengan raut wajah yang ditekuk seakan bersiap menerima amukan dari Raes, Pria itu tampak mulai menggeser ikon hijau pada layar ponsel miliknya dan mulai meletakkan ponselnya di telinga.
"Iya Bos" ucap Pria itu tepat setelah sambungan telpon tersebut terhubung.
"Bagaimana? Apa kau sudah berhasil menangkap target dan membawanya ke tempat ku?" ucap Raes di seberang sana.
Mendapat pertanyaan tersebut lantas membuat Pria itu terdiam sejenak seakan berusaha mencoba mencari alasan yang tepat agar bosnya tidak marah ketika ia mengatakan bahwa ia telah gagal menyelesaikan misinya.
Pria itu nampak menghembuskan napasnya dengan kasar sejenak, membuat Raes lantas mengernyit dengan penasaran karena memang suara hembusan napas Pria tersebut terdengar hingga ke telinganya.
"Maaf Bos saya gagal dan kehilangan target." ucap Pria itu mencoba untuk bersikap setenang mungkin.
Tepat setelah Pria tersebut memberikan laporan suasana di seberang sana hening sejenak sampai pada akhirnya terdengar sebuah suara benda yang di pukul dengan keras, membuat Pria itu langsung menelan salivanya dengan kasar begitu mendengar suara benda tersebut.
"Berani-beraninya kau mengatakan hal tersebut semudah itu? Apa otak mu itu sudah berpindah ke dengkul? Aku tak mau tahu cepat cari dia dan bawa kemari bagaimana pun caranya. Jika sampai kau berani pulang tanpa dirinya maka tubuh mu akan aku cincang dengan halus dan ku buang ke penangkaran buaya!" pekik Raes di seberang sana dengan nada yang meninggi baru setelah itu panggilan telpon tersebut terdengar terputus begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Pria itu terlebih dahulu.
Mendapat ancaman seperti itu dari Raes membuat Pria itu langsung menelan salivanya dengan kasar, perkataan Raes tidak pernah main-main. Jika sampai Raes mengatakan hal yang demikian maka ia akan berakhir sesuai dengan perkataan Raes di telpon.
"Tidak akan ku biarkan aku mati sia-sia hanya karena gadis ingusan seperti dia, akan aku pastikan malam ini juga aku akan membawakannya untuk Bos baik dengan kondisi hidup atau mati sekalipun!" ucap Pria itu dengan nada yang kesal menatap lurus ke arah depan.
__ADS_1
Bersambung