Felisa & Harta Tersembunyi

Felisa & Harta Tersembunyi
Seekor mangsa yang diperebutkan


__ADS_3

Ballroom hotel


Manik mata Raes benar-benar tidak bisa lepas dari sosok Felisa yang begitu mencuri perhatian pada pesta kali itu. Sambil membawa wine di gelasnya, Raes terlihat melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Erzhan berada saat ini.


Sedangkan Erzhan yang menyadari akan kedatangan Raes lantas semakin mempererat pegangan tangannya di pinggang Felisa, membuat Felisa sedikit terkejut akan pegangan Erzhan yang begitu erat kepadanya.


"Apa yang kau lakukan?" ucap Felisa dengan nada yang berbisik ketika mendapati tingkah Erzhan yang semakin aneh.


"Diam dan ikuti saja, jangan mengatakan apapun kecuali aku menyuruh mu untuk berbicara." ucap Erzhan tepat di telinga Felisa membuat hembusan napas milik Erzhan lantas terasa hangat menerpa area telinganya.


Sampai kemudian sebuah suara yang asing menyapa telinga Felisa lantas membuyarkan ilusi Felisa yang begitu liar.


"Wah wah wah Tuan muda Rayshiva ternyata punya selera yang bagus juga rupanya." ucap sebuah suara yang berasal dari Raes, membuat seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Erzhan saat itu.


Erzhan yang mendengar perkataan Raes barusan lantas membalasnya dengan senyuman yang tipis.


"Tentu saja, bukankah mata ku begitu jeli membaca sebuah kesempatan? Tidak hanya dalam urusan wanita bahkan dalam hal bisnis sekalipun, bukankah begitu Tuan Raes?" ucap Erzhan sengaja dengan nada yang menyindir membuat Raes terlihat mengeratkan pegangannya pada gelas di tangannya karena kesal mendengar sindiran dari Erzhan barusan.


Sedangkan Felisa yang mendengar nama Raes disebut tentu saja sedikit terkejut. Nama itu bahkan terus berputar di kepalanya sejak beberapa hari yang lalu tepat setelah Erzhan menceritakan tentang alasan semua orang mengincar dirinya. Felisa benar-benar tidak menyangka jika ternyata ia malah bertemu dengan Raes di tempat ini, seakan-akan Erzhan memang telah mengaturnya sedemikian rupa untuk membuka matanya jika keputusan Felisa untuk membantu Erzhan adalah keputusan yang tepat saat ini.


"Aku akui ketajaman Rayshiva menurun ke padamu, hanya saja satu saran dari ku.... Jangan pernah mengumbar mangsa mu dan membawanya ke dalam kandang singa, jika kamu tidak ingin buruan mu menjadi mangsa puluhan singa pejantan di sana." ucap Raes dengan nada yang penuh penekanan.


Mendengar perkataan dari Raes lantas membuat tawa kecil terdengar keluar dari mulut Erzhan, membuat Raes semakin dibuat kesal akan sikap acuh tak acuh yang ditunjukkan oleh Erzhan saat ini.


"Singa pejantan mana yang berani merebut mangsa milik ku? Aku tidak yakin jika mereka sanggup melawan ku, bukankah begitu Tuan?" ucap Erzhan sambil mengangkat gelas wine miliknya ke arah Raes kemudian meminumnya sambil menyisakan senyuman di wajahnya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang tengah mereka berdua bahas saat ini? Apa keduanya sedang bermain kode rahasia di belakang ku?" ucap Felisa dalam hati sambil memperhatikan gerak-gerik Erzhan dan juga Raes saat ini.


.


.


.


Beberapa jam berdiri sambil menyapa rekan kerja Erzhan, benar-benar membuat Felisa mulai lelah dan juga jenuh tentunya. Felisa yang sudah merasa lelah lantas sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah telinga Erzhan untuk membisikkannya sesuatu.


"Aku akan pergi ke kamar kecil sebentar." ucap Felisa kemudian meminta ijin kepada Erzhan.


Mendengar perkataan dari Felisa barusan lantas membuat Erzhan langsung memberikan kode kepada Bram untuk mengikuti kemanapun Felisa pergi, membuat Felisa yang mengetahui hal tersebut hanya bisa memutar bola matanya dengan jengah namun tanpa bisa berbuat apa-apa lagi untuk menolaknya.


Felisa yang harus menerima kenyataan jika ia tidak akan bisa kabur dari Erzhan, lantas terlihat melangkahkan kakinya dengan gontai menuju ke arah kamar mandi.


"Apa ada sesuatu?" tanya Bram kemudian dengan raut wajah yang penasaran begitu melihat langkah kaki Felisa terhenti di sana.


Mendapat pertanyaan tersebut tentu saja membuat Felisa menghela napasnya dengan panjang.


"Apa kamu tidak bisa melihat toilet ini di khususkan untuk wanita? Apa kamu juga ingin mengikuti ku hingga ke area dalam?" ucap Felisa dengan raut wajah yang kesal.


Mendengar perkataan Felisa barusan membuat Bram lantas melirik ke arah samping dan menghembuskan napasnya dengan kasar, sepertinya ia akan menunggu Felisa di sana daripada harus mengikutinya hingga ke dalam area kamar mandi.


"Baiklah aku akan menunggu mu di sini, tapi aku harap kamu tidak berbuat yang macam-macam bahkan hanya untuk sekedar berpikir bisa kabur dariku." ucap Bram kemudian memperingati Felisa karena ia tahu Felisa pasti tengah merencanakan sesuatu saat ini.

__ADS_1


"Tidak akan, jadi kamu tidak perlu khawatir!" ucap Felisa dengan nada yang kesal kemudian melangkahkan kakinya masuk ke arah kamar mandi.


Setelah kepergian Felisa dari sana, Bram nampak memperhatikan dengan serius keadaan sekitar sekalian berjaga-jaga jika sewaktu-waktu gadis itu mencoba kabur darinya. Sampai kemudian ketika deringan ponsel miliknya terdengar berbunyi lantas membuat Bram langsung menggeser ikon berwarna hijau pada layar ponsel miliknya begitu melihat nama Erzhan tertulis dengan jelas di sana.


"Halo Tuan..." ucap Bram begitu panggilan telpon tersebut tersambung.


"Apa dia belum selesai dengan urusannya?" tanya Erzhan karena tak kunjung mendapati Felisa kembali ke Ballroom hotel tersebut.


"Sepertinya belum Tuan..." jawab Bram seadanya karena memang ia belum melihat Felisa keluar dari dalam kamar mandi sedari tadi.


Fokus Bram benar-benar teralihkan ketika ia mendapat panggilan telpon dari Erzhan barusan, membuatnya tidak menyadari jika ada seorang Pria yang melangkahkan kakinya masuk ke dalam area kamar mandi tersebut.


**


Area kamar mandi


Felisa yang baru saja menyelesaikan hajatnya lantas terlihat melangkahkan kakinya keluar menuju ke arah wastafel untuk mencuci tangannya. Di tatanya sedikit bagian rambutnya yang terlihat berantakan sambil mendengus dengan kesal.


Datang ke sebuah acara penting bersama orang yang penting dan selalu menjadi pusat perhatian di sana benar-benar sangat melelahkan. Felisa bahkan sama sekali tidak di beri kesempatan untuk duduk atau bahkan berbicara. Yang boleh dilakukan Felisa sedari tadi hanya mengangguk dan tersenyum, dua hal yang bahkan membuat Felisa merasa begitu lelah meski hanya melakukan kedua hal itu saja sedari tadi.


"Aku benar-benar tidak cocok berada di dalam circle ini, sungguh kehidupan yang melelahkan." ucap Felisa pada diri sendiri.


Disaat Felisa tengah sibuk menggerutu tentang dirinya sendiri, sebuah suara pintu yang tertutup dari luar lantas langsung mengejutkannya dengan seketika. Tidak hanya berhenti di sana saja keterkejutan Felisa, melainkan ketika seorang Pria yang mendadak masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya dari dalam, membuat Felisa lantas menjadi semakin bingung ketika mendapati tingkah Pria tersebut.


"Apa yang ingin kau lakukan sebenarnya?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2