
"Kerja? Keluar kau dari sini dan jangan datang lagi kemari!" teriak Bosnya bahkan sebelum Felisa menyelesaikan penjelasannya.
Bos di tempat kerjanya tersebut benar-benar tidak memberi ampun kepada Felisa dan langsung mendorong tubuh Felisa untuk keluar dari cafenya tanpa mendengarkan perkataan Felisa sama sekali. Bos di tempat Felisa tentu saja marah dengan Felisa yang tanpa meminta izin malah tidak masuk kerja selama hampir seminggu penuh, membuatnya begitu marah dan tidak ingin melihat wajah Felisa lagi di cafe miliknya.
"Mulai hari ini kamu aku pecat tanpa pesangon, pergi dari sini dan jangan pernah datang lagi!" ucapnya dengan raut wajah yang penuh amarah.
Kemarahan Bosnya itu benar-benar di luar dugaan Felisa, kemarahannya bahkan sampai mengundang beberapa pasang mata pelanggan yang tengah mampir dan menikmati makanan di cafe tersebut. Felisa yang memang datang ke sini untuk meminta maaf dan juga memohon untuk kembali bekerja di sini, ia bahkan tidak menghiraukan lagi tatapan dari para pelanggan yang menatapnya dengan tatapan yang bertanya-tanya sekaligus berbisik seakan tengah membicarakannya saat ini.
Felisa menghela napasnya dengan panjang begitu mendapat perlakuan tersebut dari Bosnya. Sambil melangkahkan kakinya mundur secara perlahan Felisa menatap ke arah cafe yang saat itu tengah dalam situasi yang ramai dengan pelanggan.
"Yah sepertinya sekarang aku resmi menjadi seorang pengangguran..." ucap Felisa sambil menatap lurus ke arah cafe.
Felisa yang tidak mendapat tempat Lagi di cafe tersebut lantas mulai berbalik badan dan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan cafe tersebut. Dengan langkah kaki yang perlahan Felisa terlihat menyusuri area trotoar jalanan sambil terus menghela napasnya dengan panjang. Ditatapnya awan putih yang terlihat berjajar dengan rapi di langit dengan senyum yang mengembang, entah mengapa Felisa merasa setelah kepergian Nelson semua di hidupnya tidak ada yang berjalan dengan baik dan sesuai kehendaknya.
Semuanya benar-benar menjadi berantakan dan terasa begitu aneh tepat setelah ia menerima uang duka cita atas kematian sang Ayah. Felisa yang tidak tahu apa-apa dengan segala hal yang terjadi kepadanya belakangan ini, hanya bisa memendamnya seorang diri tanpa bisa membaginya kepada seseorang atau bertanya tentang sesuatu hal yang terjadi kepadanya.
Felisa menghentikan langkah kakinya sejenak kemudian menghela napasnya dengan panjang.
__ADS_1
"Apa yang harus Felisa lakukan Ayah? Bisakah Ayah memberikan Felisa sebuah saran?" ucap Felisa pada diri sendiri seakan bertanya meski ia sendiri tahu tidak akan ada seseorang pun yang akan menjawab pertanyaannya.
Felisa yang tidak mendapat jawaban apapun dari pertanyaannya barusan, lantas langsung mengusap rambutnya ke arah belakang dengan kasar kemudian tersenyum. Felisa sendiri bahkan tidak tahu mengapa ia bertanya-tanya pada diri sendiri seperti orang bodoh, walaupun sebenarnya ia tahu bahwa Felisa tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari pertanyaannya itu. Sambil menghela napasnya dengan panjang Felisa kemudian lantas melanjutkan langkah kakinya kembali menyusuri area trotoar, entah hendak melangkah ke arah mana namun yang jelas Felisa tetap membawa langkah kakinya terus menyusuri area trotoar jalanan tersebut.
Dari arah yang tak jauh dari tempat Felia berada, terlihat seorang pria yang memakai jaket kulit dan juga topi hitam terlihat mengikuti langkah kaki Felisa sedari tadi tanpa Felisa sadari kehadirannya.
Entah Felisa yang terlalu polos atau mungkin Felisa yang terlalu berpikir positif, membuatnya sama sekali tidak menyadari akan kehadiran sosok pria berjaket kulit tersebut.
Sambil mengikuti langkah kaki Felia, pria itu lantas merogoh saku celananya mengambil benda pipih miliknya dan mendial nomer seseorang di sana.
"Halo Bos saya sudah menemukan target, apa yang harus saya lakukan sekarang?" ucap pria tersebut kepada seseorang di seberang sana.
"Tentu saja Bos, anda tidak perlu khawatir soal itu." ucap Pria tersebut kemudian memutus sambungan telponnya setelah ia melaporkan situasinya barusan.
Setelah sambungan teleponnya terputus pria itu kemudian meneruskan langkah kakinya mengikuti kemanapun langkah kaki Felisa pergi. Dengan gerakan yang perlahan dan juga hati-hati pria itu terus membawa langkah kakinya mengikuti kepergian Felisa.
Felisa yang sama sekali tidak menyadari akan kehadiran dari pria tersebut, lantas tanpa beban sama sekali terus melangkahkan kakinya menyusuri area trotoar bahu jalan.
__ADS_1
"Sepertinya ada salah satu kedai mie ramen favorit Ayah di sekitar sini, tidak ada salahnya aku mampir sebentar bukan?" ucap Felisa pada diri sendiri mulai memutuskan kemana langkah kakinya akan pergi saat ini.
Lagi pula uang duka cita itu masih tersisa banyak jadi tidak ada salahnya jika Felisa menggunakannya sedikit, bukan? Lagi pula Felisa tidak mencurinya, jadi sangat sayang sekali apabila ia tidak menggunakannya dengan baik dan bersenang-senang dengan uang tersebut.
Sambil melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang lebar Felisa mulai melangkahkan kakinya dengan raut wajah yang bahagia melipir ke arah belokan sebelah kiri tepat di jalanan yang ia lalui. Sambil membayangkan sebuah hidangan mie kenyal dengan kuah kaldu yang khas membuat Felisa langsung ngiler seketika disaat membayangkan makanan tersebut di benaknya.
Sambil melintasi beberapa gang di daerah tersebut Felisa terus membawa langkah kakinya menuju ke arah kedai tersebut. Hanya saja ketika suasana di area gang tersebut menjadi sepi tanpa hiruk pikuk kendaraan perkotaan di sana, sebuah suara derap langkah kaki di belakangnya lantas mulai terdengar dan langsung menghentikan langkah kaki Felisa dengan seketika.
Ditatapnya area belakangnya dengan tatapan yang menelisik dan intens seakan mencoba mencari tahu suara derap langkah kaki yang barusan ia dengar berada tepat di belakangnya. Namun ketika Felisa berbalik badan dan menatap ke arah belakangnya sama sekali tidak ada siapapun di sana kecuali dirinya, membuat Felisa yang mengetahui hal tersebut tentu saja langsung mengernyit dengan tatapan yang bingung.
"Apa hanya firasat ku saja?" ucap Felisa dalam hati bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
Felisa yang tidak mendapati siapapun di belakangnya, lantas mulai melangkahkan kakinya kembali menyusuri area gang tersebut namun kali ini dengan langkah kaki yang lebih cepat, berharap ia akan cepat sampai ke tempat tersebut.
Felisa yang lagi dan lagi kembali mendengar sebuah derap langkah kaki mengikuti langkahnya, lantas mencoba untuk bergerak secepat mungkin menuju ke arah kedai ramen tersebut yang hanya tinggal beberapa meter di depan sana. Namun ketika ia mulai mempercepat langkah kakinya sebuah tangan seseorang mendadak menyentuh area pundaknya dan membuat Felisa terkejut seketika.
"Aaaaaa"
__ADS_1
Bersambung