
Hutan
Sementara itu Bram yang tak putus harapan lantas terus berusaha mencari dan mencari keberadaan Erzhan. Bram mulai mencoba mencari Erzhan dengan menyusuri area hutan yang terlihat semakin lebat dan juga sunyi itu, beberapa anak buah Bram terlihat dengan fokus mencari kesana kemari jasad Erzhan. Meski Bram tidak berharap bahwa ia akan menemukan jasad Erzhan dalam keadaan tewas, namun setidaknya Bram harus tetap positif thinking dan terus mencari keberadaan Erzhan.
Sambil membawa senter di tangannya Bram terlihat mulai mendekati salah seorang anak buahnya untuk mencari tahu apakah ada perkembangan dalam pencarian ini atau tidak.
"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Bram kepada Fadi.
Mendengar pertanyaan tersebut membuat Fadi langsung menoleh dengan seketika ke arah Bram. Dengan perasaan yang menyesal Fadi terlihat mulai menggeleng dengan perlahan yang menandakan bahwa belum ada petunjuk apapun yang bisa membawa mereka menemukan keberadaan Erzhan saat ini. Melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Fadi barusan membuat Bram hanya bisa menghela napasnya dengan panjang. Ia tahu ini akan sangat sulit di lakukan mengingat luas hutan ini yang mencapai berhektar-hektar yang tentu saja akan sangat sulit dalam proses pencarian, hanya saja sebisa mungkin Bram berusaha untuk tetap optimis dalam pencarian ini dan tidak ingin menyerah begitu saja.
"Terus lakukan penyisiran aku yakin kita akan menemukan tuan malam ini juga!" ucap Bram dengan nada yang yakin bahwa ia pasti akan menemukan Erzhan malam ini juga.
"Baik kak saya dan yang lainnya akan pastikan bahwa Tuan akan ditemukan malam ini juga!" ucap Fadi dengan nada yang yakin kemudian melangkahkan kakinya pergi dari hadapan Bram untuk memulai kembali penyisiran.
"Semoga saja..." ucap Bram sambil terus menatap kepergian Fadi dari hadapannya.
Terselip sebuah doa dalam kepergian Fadi, meski perkataan Erzhan yang begitu kasar dan juga arogan namun ia adalah atasan yang terbaik dan mengerti akan bawahannya. Tidak seperti para atasan yang memperlakukan bawahannya dengan semena-mena. Erzhan memperlakukan bawahannya dengan baik hanya satu yang membuatnya begitu marah yaitu sebuah penghianatan. Tidak ada ampun bagi seorang penghianat dalam kamus Erzhan bahkan Erzhan tak segan melakukan apapun kepada para bawahan yang mengkhianati dirinya sehingga Erzhan sering mendapat julukan Singa tidur.
***
Kediaman William
__ADS_1
Frans yang baru saja datang dari tugas penting yang diperintahkan oleh William, lantas terlihat melangkahkan kakinya masuk ke dalam Mansion milik William dengan langkah kaki yang perlahan. Frans kemudian terlihat mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah ruang kerja pribadi milik William, diketuknya perlahan pintu ruangan tersebut setelah beberapa detik mengetuk pintu barulah Frans melangkahkan kakinya masuk ke dalam untuk memberikan laporan kepada William.
William yang melihat kedatangan dari Frans barusan lantas tersenyum seketika. Sambil menyenderkan punggungnya pada kursi kebesarannya William mulai menatap ke arah Frans seakan seperti sedang menunggu laporan yang akan Frans berikan kepadanya.
"Saya sudah melakukan seperti yang ada perintahkan Tuan, saya bahkan sengaja mengambil beberapa uang di dalam tas putra Nelson agar mereka mengira bahwa Erzhan lah yang mencuri uang mereka." ucap Frans memulai laporannya.
"Bagus..." jawab William dengan tersenyum tipis membuat Frans lantas bertanya-tanya akan maksud dari senyuman tersebut.
"Kalau boleh saya tahu apa alasan di balik anda memberikan perintah ini Tuan?" tanya Frans dengan nada yang sedikit ragu.
"Kau bahkan sudah mengikuti ku cukup lama, apa kau yakin tidak mengetahui alasan dibalik semua itu?" tanya William kemudian membuat Frans langsung terdiam seketika seakan mencoba untuk mencerna segalanya.
****
Di sebuah mansion yang besar di salah satu negara maju, terlihat Elena mulai melangkahkan kakinya menyusuri area mansion yang begitu gelap. Elena benar-benar terlihat begitu marah ketika mengetahui bahwa Erzhan tidak berhasil menyelundupkan senjata di area pesisir pantai, padahal saat itu usia Erzhan baru 17 tahun dan belum terlalu paham akan keadaan dan juga seluk beluk kota tersebut. Namun dirinya sudah di tuntut untuk menjadi seseorang perfeksionis dan harus bisa melebihi Rayshiva ayahnya.
Sambil melangkahkan kakinya dengan bergegas Elena terlihat membuka pintu kamar Erzhan dengan kasar, membuat Erzhan yang saat itu tengah terduduk sambil melamun di atas kasurnya langsung terkejut dengan seketika disaat mendengar suara pintu yang di dobrak itu.
"Kau itu apa saja yang kau lakukan hingga tidak bisa menyelundupkannya dengan benar? Apa kau pikir kau sedang bermain-main ha?" pekik Elena sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Erzhan berada saat ini.
Erzhan yang melihat kakaknya mulai melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya, lantas langsung bangkit dari posisinya dan berusaha untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Namun sebelum mulut Erzhan benar-benar bisa menjelaskannya kepada sang kakak, tangan Elena sudah lebih dulu mendarat di pipi bagian kanan Erzhan yang lantas membuat Erzhan terkejut dengan seketika akan perbuatan dari Elena barusan.
__ADS_1
"Kak..." panggil Erzhan sambil memegangi pipinya.
"Apa? Kau mau beralasan apa lagi kali ini?" teriak Elena yang lantas membuat Erzhan terdiam seketika.
Apapun yang Erzhan lakukan segalanya selalu saja salah di mata kakaknya termasuk saat ini, Erzhan bahkan hendak melakukan pembelaan karena yang terjadi sebenarnya bukanlah sebuah kegagalan melainkan Erzhan memang sengaja untuk membuatnya gagal karena ia tidak menyukai pekerjaan ini. Baginya hal ini benar-benar salah dan ia tidak ingin masuk ke dalam lingkaran kehidupan seperti ini.
"Kakak tidak mau tahu kau harus menebus kesalahan yang kau lakukan kali ini, apa kau mengerti?" ucap Elena dengan nada yang meninggi membuat Erzhan kembali terdiam dan tak menanggapinya. "Ku bilang apa kau mengerti?" ulang Elena lagi karena tidak mendengar jawaban apapun dari Erzhan dan itu membuatnya kesal.
"Aku mengerti kak" jawab Erzhan pada akhirnya.
**
Ditengah rasa takut akan memori masa lalu yang kembali berputar di benaknya, membuat kelopak mata Erzhan langsung terbuka seketika dengan keringat yang membasahi dahi dan juga tubuhnya. Erzhan bahkan benar-benar terkejut karena memori yang sama sekali tidak pernah ia inginkan kembali berputar di kepalanya, membuat hembusan napas yang berat terdengar keluar dari mulut Erzhan. Ditatapnya area sekitar yang terlihat begitu gelap saat itu membuat Erzhan lantas sedikit mengernyit karena bingung sekaligus bertanya-tanya sedang berada dimana ia saat ini.
"Dimana aku?" ucap Erzhan yang terkejut ketika terbangun ia sudah berada di tengah hutan dengan posisi tangan yang terikat.
Erzhan meringis kesakitan ketika ia mencoba untuk bangkit dan merasakan seluruh tubuhnya terasa begitu sakit dan tentunya perih. Dengan sekuat tenaga Erzhan kemudian berusaha untuk melepas ikatan yang melilit dengan kuat di tangannya.
"Benar-benar bedebah sialan!" ucap Erzhan dengan nada yang kesal begitu mengingat apa yang terjadi kepadanya tadi sebelum pada akhirnya ia tidak sadarkan diri.
Bersambung
__ADS_1