
Erzhan yang baru saja berhasil mendapatkan kalung berliontin batu blue safir untuk Felisa, lantas memutuskan untuk pergi ke arah kamar mandi menyusul Felisa dan juga Bram di sana. Pikirannya saat ini bahkan sangatlah buruk, membuatnya tidak bisa lagi jika hanya duduk diam dan menanti kedatangan keduanya.
Erzhan menyusuri area lorong hotel dengan langkah kaki yang bergegas, sampai kemudian ketika pandangannya terhenti pada sosok Bram yang tengah menunggu tepat di area pintu toilet, lantas membuat Erzhan mengernyit dengan seketika.
"Mengapa kalian lama sekali? Apa yang sedang di lakukan oleh gadis itu sebenarnya?" ucap Erzhan kemudian dengan raut wajah yang kesal.
Mendengar sebuah suara tak asing menyapa telinganya membuat Bram langsung menatap ke arah sumber suara. Raut wajah Erzhan benar-benar terlihat tengah marah saat ini yang tentu saja membuat Bram menjadi kebingungan ketika mendapati hal tersebut.
"Dia masih ada di dalam Tuan, biar saya panggilkan..." ucap Bram namun langsung di potong oleh Erzhan yang terlihat melangkahkan kakinya melewati Bram.
"Tidak perlu biar aku sendiri yang mengeluarkan wanita itu!" ucap Erzhan dengan nada yang dingin sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu toilet.
Erzhan yang sudah gemas akan tingkah Felisa yang terus membuatnya kesal lantas berusaha hendak masuk ke dalam toilet tersebut. Hanya saja ketika handel pintu toilet di putar oleh Erzhan, pintu ruangan tersebut terkunci dari dalam membuat Erzhan langsung menggedornya secara berulang kali karena mulai curiga akan segala hal yang di lakukan oleh Felisa saat ini.
Dok dok dok
"Buka pintunya Fel! Jangan sampai aku bersikap kasar dan mendobrak pintu ini!" ucap Erzhan kemudian yang lantas membuat Bram terkejut ketika mendengarnya karena tak menyangka jika Felisa mengunci pintu toilet tersebut.
Dok dok dok
"Kesabaran ku ada batasnya, jika sampai hitungan ketiga kamu tidak kunjung membukanya juga maka aku akan..."
Crieeetttt
Suara pintu yang terbuka secara perlahan lantas membuat Erzhan menghentikan perkataannya dengan seketika. Melihat Felisa keluar dari ruangan tersebut membuat Erzhan langsung menarik tangan Felisa agar segera melangkahkan kakinya keluar dari toilet tersebut.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya kau lakukan di dalam ha? Apa kau mencoba kabur dariku?" ucap Erzhan dengan nada yang kesal.
"Perut ku sakit, apa aku harus tetap lapor kepadamu jika aku sedang mengalami diare?" ucap Felisa kemudian beralasan.
Mendengar jawaban dari Felisa barusan lantas langsung menghentikan langkah kaki Erzhan dengan seketika. Helaan napas terdengar berhembus dengan jelas di sana membuat Felisa langsung mengernyit dengan seketika begitu mendengarnya.
"Apa kau sungguh-sungguh diare atau hanya menipu ku saja? Sepertinya kau baik-baik saja saat ini." ucap Erzhan kemudian.
"Tuan, yang sakit itu bagian perut ku bukan kepala atau mulut ku, jadi apakah aku harus menunjukkannya secara langsung kepadamu?" ucap Felisa sambil memegangi area perutnya berharap dengan begitu Erzhan akan percaya.
Melihat hal tersebut lantas membuat Erzhan langsung menatap ke arah Bram yang sedari tadi setia mengikuti langkah kaki keduanya.
"Bram pergi dan urusi segala hal yang berkaitan dengan liontin bermata blue safir yang baru saja aku beli. Aku yakin sebentar lagi akan ada polisi yang menahan ku karena mengira aku telah menggelapkan sejumlah dana dan melenceng dari Undang-undang yang mengatur tentang pelelangan." ucap Erzhan kemudian memberikan perintah.
"Boleh saya tahu alasan apa yang akan anda gunakan untuk meyakinkan pihak kepolisian?" ucap Bram kemudian bertanya seakan berusaha untuk mencocokkan jawaban yang akan ia berikan dengan jawaban milik Erzhan nantinya.
Mendengar pertanyaan tersebut lantas membuat Erzhan langsung memberikan kode kepada Bram untuk mendekat dan membisikkannya sesuatu. Felisa yang melihat keduanya saling berbisik hanya bisa menghela napasnya dengan panjang, Felisa jelas tahu jika Erzhan tidak menginginkan ia untuk mendengarkan segala urusannya termasuk akan hal ini.
"Baik Tuan sesuai dengan permintaan anda." ucap Bram kemudian seakan mengiyakan bisikan dari Erzhan barusan.
Setelah puas mengatakan hal tersebut Erzhan kemudian kembali melangkahkan kakinya masih dengan tangannya yang menggenggam dengan erat pergelangan tangan Felisa saat itu. Hanya saja ketika beberapa kali melangkah, langkah kaki Erzhan lantas terhenti seketika membuat helaan napas kembali terdengar dari mulut Felisa saat itu juga.
"Dan satu hal lagi panggil Sinta ke rumah untuk memeriksa keadaannya." ucap Erzhan kemudian yang lantas membuat manik mata Felisa membulat dengan seketika.
"Sial, bagaimana ini? Aku bahkan tidak benar-benar mengalami diare!" ucap Felisa dalam hati.
__ADS_1
**
Area parkiran
Ketika keduanya sampai di area parkiran Erzhan perlahan-lahan mulai melepas pergelangan tangan Felisa dan menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam mobil. Hanya saja ketika keduanya hendak masuk ke dalam mobil sebuah suara yang berasal dari belakang lantas menghentikan gerakan keduanya.
"Bapak Erzhan Akhtar Rayshiva, bisa anda ikut kami ke kantor polisi? Ada seseorang yang melaporkan tentang penggelapan dana yang anda lakukan dalam acara pelelangan." ucap seseorang yang ternyata adalah petugas polisi yaitu Fandi.
Mendengar perkataan tersebut membuat Erzhan langsung menoleh ke arah sumber suara, sedangkan Felisa hanya bisa menatap ke arah Erzhan dan juga yang lainnya dengan tatapan yang bingung.
"Sepertinya hal ini sesuai dengan prediksi Erzhan tadi, setidaknya dengan begini mungkin aku bisa bebas darinya untuk sementara waktu." ucap Felisa dalam hati sambil memperhatikan segalanya tanpa ingin ikut campur ke dalamnya.
"Baik aku akan ikut dengan kalian asalkan biarkan dia ikut bersama kita juga. Aku tidak tega meninggalkannya seorang diri, dia sedang tidak sehat saat ini." ucap Erzhan sambil menunjuk ke arah Felisa.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat manik mata Felisa membulat seketika, bagaimana bisa Erzhan mengatakan akan mengajaknya dengan semanis itu di depan petugas polisi, membuatnya langsung menatap tajam ke arah Erzhan karena telah mengatakan hal tersebut.
"Dasar manipulatif, aku bahkan tidak sudi untuk ikut dengan mu! Bisa-bisanya kau mengajak ku ke penjara." ucap Felisa dalam hati.
Sedangkan Fandi dan petugas yang lainnya tentu saja langsung menoleh ke arah tunjuk Erzhan ketika mendengar permintaan Erzhan yang ingin membawa Felisa untuk ikut bersama dengan mereka.
Melihat raut wajah tak asing milik Felisa tentu saja langsung membuat Fandi sedikit tersentak. Dengan ia melihat secara langsung Felisa bersama dengan Erzhan saat ini, bukankah membenarkan segala praduga yang ada di kepalanya saat itu?
"Bukankah dia adalah Felisa? Ternyata kecurigaan ku benar adanya selama ini." ucap Fandi dalam hati begitu melihat ke arah Felisa yang saat ini tengah memasang raut wajah yang masam.
Bersambung
__ADS_1