
Ruangan Erzhan
Dari arah pintu masuk terlihat Bram tengah melangkahkan kakinya memasuki ruangan kerja Erzhan untuk melaporkan tentang keadaan Felisa saat ini. Erzhan yang mendengar suara derap langkah kaki yang mendekat ke arahnya, lantas melirik sekilas ke arah sumber suara kemudian kembali fokus melihat iPad di tangannya.
"Ada apa lagi? Bukankah beberapa menit yang lalu kamu sudah kemari dan mengatakan bahwa gadis itu pingsan?" ucap Erzhan dengan nada yang santai.
Mendengar perkataan dari Erzhan barusan tentu saja langsung menghentikan langkah kaki Bram dengan seketika. Sepertinya suasana hati Erzhan sedang tidak baik saat ini mangkanya ia bersikap seperti ini.
"Tuan saya rasa sebaiknya kita hentikan saja karena kata dokter Sinta..." ucap Bram hendak memberikan laporan namun terpotong oleh perkataan Erzhan.
"Jangan terlalu mendengarkannya, lagi pula dia hanya dokter bukan Tuhan jadi santai lah sedikit." ucap Erzhan lagi dengan nada yang santai masih sambil bermain iPad ditangannya.
Mendengar perkataan dari Erzhan yang lagi-lagi kembali sesantai itu, lantas membuat Bram langsung menghela napasnya dengan panjang. Bram tidak tahu lagi harus berkata apa kepada Erzhan karena Erzhan sama sekali tidak mengerti urusan perempuan dan hanya tahu menyiksa dan menyiksa saja.
Erzhan yang tentu saja mendengar dengan jelas helaan napas dari Bram barusan, lantas meletakkan iPad ditangannya kemudian menatap ke arah Bram dengan tatapan yang menelisik.
"Ada apa dengan raut wajah mu itu? Apa aku salah bicara?" ucap Erzhan bertanya-tanya karena raut wajah Bram saat ini benar-benar tidak enak dipandang sama sekali.
"Saya rasa kita tidak akan bisa mendapat informasi jika memperlakukannya dengan kasar Tuan, Felisa merupakan gadis kota yang sederhana. Jika menggunakan kekerasan maka Felisa akan semakin mengeras melebihi apa yang kita berikan kepadanya." ucap Bram kemudian mulai memberikan saran kepada Erzhan.
__ADS_1
Erzhan terdiam sejenak seakan sedang berpikir dan mencerna perkataan dari Bram barusan. Mengurusi hal begituan bukanlah keahliannya, Erzhan selalu terima beres dan mencapai keberhasilan tanpa harus berurusan langsung dengan mereka yang menjadi target dalam misinya. Jika tiba-tiba ia mendapatkan seorang saksi kunci seperti Felisa dan harus berhadapan langsung tentu itu akan sangat melelahkan, bukan?
"Lalu apa yang kau inginkan?" tanya Erzhan kemudian dengan raut wajah yang penasaran, membuat seulas senyum lantas terlihat terbit dari wajah Bram detik itu juga.
"Kita mulai dengan merebut hatinya dan mendekatkan diri kepada Felisa, saya yakin dengan begitu ia akan lebih terbuka lagi dengan kita. Bukankah anda ahli dalam menghipnotis setiap wanita?" ucap Bram kemudian dengan senyum yang mengembang namun berhasil membuat bola mata Erzhan melotot seketika.
"Apakah kau sudah gila! Rencana apa itu? Tidak akan pernah aku lakukan, lagi pula aku sudah mencobanya waktu di hutan dan aku tidak akan mengulanginya lagi." ucap Erzhan menolak dengan keras opsi dari Bram barusan yang menyarankannya untuk lebih dekat dan mengambil hati Felisa.
Mendapat penolakan dari Erzhan yang begitu keras menyuarakan kata tidak, lantas membuat Bram langsung menghela napasnya dengan panjang. Berbicara dengan Erzhan benar-benar membutuhkan kesabaran dan juga waktu yang lumayan cukup panjang karena Erzhan merupakan seseorang yang sulit sekali untuk diajak diskusi jika itu menyangkut tentang harga dirinya sebagai Pria atau dengan kata lain sesuatu yang berhubungan dengan wanita.
"Tuan bukankah dengan cara itu kemarin anda lebih mengenal Felisa? Jika anda terus memaksanya untuk mengatakan yang sebenarnya itu tidak akan membuat Felisa berbicara tentang harta tersembunyi itu." ucap Bram lagi yang lantas membuat Erzhan langsung terdiam seketika seakan tengah mencerna perkataan dari Bram barusan.
Erzhan menatap ke arah Bram dengan tatapan yang menelisik, membuat Bram yang tahu apa pemikiran Erzhan saat ini lantas tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya, yang tentu saja langsung membuat Erzhan memutar bola matanya dengan jengah.
"Tentu saja tuan, cobalah jika anda tidak percaya." ucap Bram dengan nada yang penuh keyakinan bahwa caranya akan berhasil.
***
Ruangan kamar dimana Felisa tengah tertidur saat ini, terlihat Felisa mulai mengerjapkan kelopak matanya selama beberapa kali ketika sebuah cahaya lampu terasa menembus retinanya. Diusapnya perlahan dahi Felisa yang terasa ada keringat membasahinya, Felisa bangkit dari tidurnya perlahan sambil mengedarkan pandangannya ke arah sekitar mencoba untuk mencari tahu dimana keberadaannya saat ini.
__ADS_1
Felisa yang tadinya bisa bernapas dengan lega karena mengira bahwa ia akan merasa tenang selama beberapa menit saja, namun ketika pandangannya terhenti pada sofa di ruangan kamar tersebut sosok yang sama sekali tidak ingin ia lihat sudah duduk dengan tenang menatap ke arahnya saat ini.
"Apa kamu sudah bangun? Bagaimana perasaan mu?" ucap Erzhan kemudian namun dnegan nada yang datar.
Mendapat pertanyaan tersebut membuat Felisa langsung mengernyit namun detik berikutnya mulai bersuara.
"Aku baik-baik saja." jawab Felisa seadanya.
Mendengar jawaban tersebut lantas membuat Erzhan bangkit dari tempat duduknya kemudian melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Felisa berada, membuat Felisa yang melihat hal tersebut lantas mulai bersiap dan mengambil posisi duduk sedikit ke belakang.
"Apa yang kau inginkan saat ini? Apakah kamu lapar?" tanya Erzhan lagi yang tentu saja langsung membuat Felisa mengernyit tidak mengerti akan pertanyaan dari Erzhan barusan.
Felisa terdiam di tempatnya seakan mulai mengamati situasinya, perubahan yang besar jelas terlihat dari cara bicara dan sudut pandang Erzhan membuat Felisa lantas mengernyit dengan tatapan yang bertanya akan drama apa yang tengah dimainkan oleh Erzhan saat ini.
"Aku... Aku ingin pulang, apa kamu bisa mengabulkannya?" ucap Felisa kemudian yang tentu saja langsung merubah raut wajah Erzhan dengan seketika.
"Kau jangan lewati batasan mu! Kau..." pekik Erzhan dengan nada yang meninggi namun berhasil membuat Felisa terkejut seketika.
Amarah Erzhan terhenti di angan-angan, Erzhan benar-benar kesal akan sikap Felisa yang malah meminta pulang ketimbang meminta hal lainnya kepada dirinya. Hanya saja sebuah ingatan tentang perkataan dari Bram yang terus berputar di kepalanya lantas membuat amarahnya perlahan-lahan mulai menyurut. Erzhan terlihat menghela napasnya dengan panjang sambil mengusap raut wajahnya dengan kasar seakan berusaha untuk menenangkan dirinya yang saat ini tengah tersulut emosi ketika mendengar jawaban dari Felisa yang malah meminta untuk pulang.
__ADS_1
"Untuk yang satu itu aku tidak bisa mengabulkannya, sebaiknya pikirkan yang lainnya dan pastikan kamu sudah mempunyai jawaban ketika aku kembali sebentar lagi." ucap Erzhan dengan nada yang tertahan kemudian berlalu pergi dari ruangan kamar tersebut karena terlanjur kesal akan tingkah Felisa.
Bersambung