
Sementara itu Felisa yang tidak bisa hanya tinggal diam begitu saja dan pasrah akan apa yang sedang terjadi kepadanya, lantas terlihat mulai membawa langkah kakinya keluar dari area kamar dengan langkah kaki yang mengendap-endap.
Hari ini Felisa harus menemukan keberadaan Ibunya bagaimanapun juga caranya. Felisa yang baru saja keluar dari kamarnya terlihat mulai mengedarkan pandangannya ke area sekitar. Entah mengapa ketika malam hari dan dalam suasana yang gelap seperti ini, kediaman William benar-benar nampak seperti kastil tua yang menyeramkan.
"Entah bagaimana pak tua itu betah tinggal di tempat seperti ini? Jika aku jadi dia aku tidak akan pernah mau jika harus tinggal di tempat ini!" ucap Felisa dengan nada berbisik sambil bergidik ngeri.
Dengan langkah kaki yang perlahan Felisa mulai melangkahkan kakinya menyusuri area kediaman William yang begitu besar. Entah di mana ia akan menemukan keberadaan Ibunya saat ini, namun yang jelas Felisa tetap harus mencarinya bagaimanapun caranya. Dengan tangan yang di gendong karena mengalami patah tulang di area tangannya, pada akhirnya hanya bisa membuat Felisa melangkah dengan perlahan tanpa bisa menggunakan tangan yang satunya.
***
Sementara itu Erzhan yang baru saja berhasil masuk ke kediaman William, lantas terlihat mulai mengendap-endap melangkahkan kakinya semakin masuk ke dalam. Erzhan benar-benar harus melihat keadaan sekitaran dengan telinga karena ia yakin jika William pasti menempatkan berbagai macam jebakan dan juga penjagaan di area kediamannya. Membuat Erzhan terus mengedarkan pandangannya ke sekitar sambil terus melangkahkan kakinya masuk semakin ke dalam.
Disaat Erzhan tengah fokus menatap ke arah depan sebuah suara yang berasal dari Arkan, lantas membuat Erzhan menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
"Gawat Tuan, Felisa sepertinya hendak melakukan sesuatu saat ini!" ucap Arkan yang lantas membuat Erzhan terkejut ketika mendengarnya.
"Sial! Dimana lokasinya saat ini?" ucap Erzhan kemudian.
"Felisa berada di lorong sebelah utara dari tempat anda berada. Anda bisa melangkah sedikit maju ke depan dan belok ke arah sebelah kiri Tuan, biar nanti saya yang akan mengurus rekaman kamera pengawas di area sana. Anda hanya cukup melangkah dengan gerakan yang perlahan. Tapi hindari area kanan Tuan karena di sana ada dua orang penjaga." ucap Arkan memberikan aba-aba.
"Baiklah aku mengerti." ucap Erzhan kemudian.
Sesuai dengan instruksi dari Arkan sebelumnya, membuat Erzhan mulai membawa langkah kakinya menuju ke arah utara dengan langkah kaki yang mengendap-endap. Sampai kemudian ketika Erzhan hendak berbelok ke arah kiri dan hampir menginjakkan kakinya masuk ke dalam, sebuah sorotan senter yang mengarah kepadanya lantas langsung membuat Erzhan mengambil posisi tiarap karena terkejut akan sorotan senter tersebut.
"Sial.. Hampir saja aku ketahuan!" ucap Erzhan menggerutu kesal.
__ADS_1
Beberapa menit menunggu Erzhan yang tak lagi mendapati sorotan lampu senter ke arahnya, lantas langsung bangkit dari posisinya dan mulai kembali bergerak masuk ke area dalam. Dengan perlahan Erzhan mulai membawa langkah kakinya memasuki area lorong dan berhenti tepat pintu kaca yang terlihat tertutup saat itu.
"Sial pintunya terkunci!" ucapnya dengan nada yang kesal ketika berusaha membuka pintu kaca tersebut namun tak berhasil.
"Ar apa kau temukan jalan lain untuk masuk?" ucap Erzhan kemudian mencoba untuk berkomunikasi dengan Arkan.
"Sebentar Tuan saya akan mencarinya." ucap Arkan di seberang sana.
Beberapa menit menunggu jawaban dari Arkan sampai kemudian Erzhan melihat Felisa di area dalam yang tengah melangkahkan kakinya dengan langkah kaki yang mengendap-endap. Membuat Erzhan mulai membuat suara berharap dengan begitu Felisa dapat mendengarnya.
"Sst.. stt..." ucap Erzhan memberikan isyarat, membuat Arkan yang sedang mencari jalan keluar lantas menjadi kebingungan.
"Apakah ada sesuatu Tuan?" ucap Arkan dengan penasaran.
"Tidak ada, apa kau sudah temukan jalannya?" ucap erzhan kemudian sambil terus menatap ke arah Felisa yang tengah berada di dalam saat ini.
"Baiklah kalau begitu." ucap Erzhan kemudian sambil mulai bergerak sesuai instruksi dari Arkan barusan.
Erzhan terlihat melangkahkan kakinya menuju ke arah sebuah pintu yang terdapat Staf only kemudian langsung berusaha untuk membukanya.
"Apakah anda berhasil masuk Tuan?" ucap Arkan kemudian.
"Iya, tidak buruk juga.. Awasi sekitar dan jangan lengah!" ucap Erzhan lagi.
"Baik Tuan."
__ADS_1
**
Area dalam kediaman William
Setelah berhasil masuk ke dalam Erzhan kemudian kembali meneruskan langkah kakinya mendekat ke arah dimana Felisa berada. Ketika jarak diantara keduanya sudah dekat, dengan gerakan yang cepat Erzhan langsung menarik tangan Felisa dan menutup mulut wanita itu sebelum berteriak karena tarikannya barusan.
"Emm... Emmm" gumam Felisa yang terkejut akan sebuah tarikan seseorang yang langsung membekap mulutnya.
"Ini aku jangan berisik!" bisik Erzhan yang lantas membuat mulut Felisa terdiam seketika.
Dengan perlahan-lahan Erzhan mulai melepas tangannya dari mulut Felisa, sedangkan Felisa yang mendengar hal tersebut langsung berbalik badan dan menatap ke arah sumber suara.
"Kau! Bagaimana kau bisa ada di sini? Apakah kau.." ucap Felisa dengan raut wajah yang terkejut karena tak menyangka jika Erzhan bisa sampai di tempat ini dan ada di hadapannya sekarang.
"Sudah ku bilang jangan berisik! Aku datang untuk menjemput mu, ayo kita pergi sekarang." ucap Erzhan kemudian sambil kembali menarik tangan Felisa agar mulai bergerak, namun sayangnya Felisa sama sekali tidak ingin berpindah membuat gerakan Erzhan lantas terhenti seketika.
Erzhan yang tak mengerti akan tingkah Felisa saat ini tentu saja langsung menatap ke arah Felisa dengan tatapan yang bertanya-tanya saat ini.
"Aku tidak bisa, tujuan ku kemari adalah untuk bertemu dengan Ibuku jadi aku tidak bisa pergi tanpanya." ucap Felisa dengan raut wajah yang sendu.
Mendengar perkataan Felisa barusan tentu saja langsung membuat Erzhan menghela napasnya dengan panjang. Untung saja Erzhan sudah bersiap tentang hal itu sehingga ia tidak perlu susah-susah membujuk Felisa untuk ikut dengannya.
"Tak perlu khawatir Bram sedang mengurusnya, yang perlu kau lakukan cukup pergi sekarang bersama dengan ku!" ucap Erzhan kemudian yang langsung membuat Felisa mendongak menatap ke arahnya.
"Kau tidak sedang menipuku bukan? Aku benar-benar trauma akan kata-kata manis seseorang!" ucap Felisa kemudian dengan raut wajah yang kesal.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti!" ucap Erzhan dengan nada yang datar sambil menarik tangan Felisa satunya agar mulai bergerak pergi dari sana sebelum ketahuan.
Bersambung