
"Apa katamu? Bagaimana dia bisa lolos dengan semudah itu? Sedangkan aku saja membutuhkan waktu hampir seharian penuh untuk bisa lolos dari jeratan kepolisian." ucap Raes dengan nada yang terdengar meninggi membuat Alex lantas menundukkan kepalanya begitu mendengar teriakan tersebut.
"Maaf Tuan, hanya saja kasus anda dan juga kasus milik Erzhan berbeda jauh. Jika anda di tangkap karena tuduhan pembunuhan sedangkan Erzhan hanya karena masalah penggelapan dana, itupun dalam konteks jumlah yang lebih kecil dan tidak akan bisa menahan Erzhan dalam waktu yang lama." ucap Alex dengan nada yang terdengar ragu.
Mendengar hal tersebut tentu saja membuat Raes semakin marah. Dilemparnya gelas yang sedari tadi ia pegang ke sembarang arah, hingga terdengar bunyi nyaring tepat ketika gelas tersebut menghantam ke arah tembok ruangan tersebut. Sambil menatap tajam ke arah Alex, Raes nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Alex berada dan mencengkram kerah bajunya dengan erat.
"Jika kau sudah mengetahui hal tersebut mengapa kau tidak membuat tuduhannya menguat? Apakah aku harus mengajarimu terlebih dahulu baru kau akan mengerti?" ucap Raes dengan nada yang penuh penekanan.
"Sa..ya minta maaf Tuan, konek..si Erzhan terlalu bagus jika hanya untuk masalah sepele seperti ini, apalagi ketika mengingat jika anda adalah incaran pihak kepolisian." ucap Alex seakan mencoba untuk membela diri.
Hanya saja siapa yang mengira jika Raes malah semakin marah begitu mendengar perkataan yang keluar dari mulut Alex barusan.
Plak..
Dipukulnya Alex dengan cukup keras tepat di bagian pipinya, namun sama sekali tak membuat Alex mengadu kesakitan atau bahkan mengeluh akan tamparan yang mendarat di area pipinya saat ini.
Alex yang terhuyung berusaha untuk menyeimbangkan posisinya dan menunduk memasang raut wajah bersalah agar Raes tak lagi melampiaskan amarahnya kepadanya.
"Otak mu itu benar-benar tumpul atau bagaimana? Pantas saja kau bahkan selalu kalah start dengan Bram walau hanya masalah kecil sekalipun! Pegi kau dari sini aku muak melihat raut wajah mu itu!" ucap Raes sambil mendorong tubuh Alex agar menjauh darinya kemudian berbalik dan memunggungi Alex.
Alex yang mendengar kata pergi keluar dari mulut Raes saat itu, lantas langsung bergegas pergi dari sana sebelum ia akan kembali kena marah ketika Raes tak kunjung mendapatinya pergi dari sana.
__ADS_1
Setelah kepergian Alex dari tempat tersebut, Raes terlihat menyapu area mini bar dengan raut wajah yang kesal. Raes benar-benar marah karena selalu saja gagal dan kalah cepat dengan Erzhan. Meski Erzhan hanyalah generasi kedua dari Rayshiva namun entah mengapa Raes sulit sekali untuk menghancurkannya.
"Benar-benar sialan! Awas saja kau Erzhan aku tidak akan membiarkan mu hidup dengan tenang!" ucap Raes dengan tatapan tajam karena kesal ketika mendapati dirinya harus kembali gagal lagi.
***
Kamar Felisa
Setelah istirahat cukup lama karena obat yang di berikan oleh Sinta, Felisa nampak mengerjapkan matanya beberapa kali kemudian dengan perlahan bangkit dari tidurnya. Sepertinya obat yang di berikan oleh Sinta benar-benar manjur karena bisa menghentikan diare yang ia alami sekaligus rasa sakit yang terasa di dalam perutnya.
"Aw, aku benar-benar kapok!" ucap Felisa sambil memegang perutnya yang terdengar berbunyi dan sedikit perih namun tidak sesakit sebelumnya.
Sebuah gelas yang terulur tepat di depannya, lantas membuat Felisa yang baru saja bangun dari tidurnya mendongak menatap ke arah atas. Felisa sedikit mengernyit begitu melihat jika yang membawa minuman tersebut adalah Erzhan.
"Racun!" ucap Erzhan dengan nada yang datar namun berhasil membuat bola mata Felisha membulat seketika.
"Apa katamu?" ucap Felisa dengan raut wajah yang terkejut sambil menatap ke arah gelas yang baru saja diberikan oleh Erzhan barusan.
"Mengapa terkejut? Kau bahkan juga memakan sesuatu di kantor polisi yang membuat mu sampai mengalami diare, bukan? Lalu apa bedanya dengan ini?" ucap Erzhan yang lantas kembali membuat Felisa terkejut ketika mendengarnya.
***
__ADS_1
Sebelumnya
Setelah kepergian Sinta dari kediamannya, Erzhan yang penasaran akan perkataan dari Sinta yang menanyakan tentang makanan yang dimakan oleh Felisa sebelumnya, lantas membuatnya memerintahkan Bram untuk mencari tahu apa yang dimakan oleh Felisa sebelumnya.
Dan ketika Bram mencari tahu kebenarannya, salah satu pihak kepolisian yang di tanyai olehnya mengatakan jika ketika Felisa sedang menunggu Erzhan di ruangan interogasi, seorang Pria nampak datang dan membawakannya makanan. Ketika di cari tahu siapa Pria tersebut ternyata adalah Farel adiknya, membuat Erzhan yang mendengar informasi tersebut lantas hanya tersenyum dengan tipis karena mengira jika Felisa mencoba mengalihkan perhatiannya agar tidak terlalu fokus akan pertemuannya dengan Farel lewat sakitnya.
**
"Sial, bagaimana dia bisa tahu?" ucap Felisa dalam hati begitu mendengar perkataan dari Erzhan barusan.
Sedangkan Erzhan yang tidak mendengar jawaban apapun dari Felisa, lantas tersenyum dengan simpul karena mengira jika tebakannya adalah benar.
"Harusnya kau katakan saja jika ingin bertemu dengan adikmu tak perlu bersembunyi-sembunyi seperti itu dan mengecoh ku dengan memakan sesuatu yang tidak bisa kau makan!" ucap Erzhan sambil menatap dengan sinis kepada Felisa.
Sedangkan Felisa yang mendengar hal tersebut tentu saja langsung mengernyit dengan seketika. Entah mengapa Erzhan malah mengartikan segala yang terjadi kepadanya karena ingin menutupi pertemuannya dengan adiknya. Padahal semua yang ia lakukan bukanlah karena hal itu, Felisa hanya tidak ingin Erzhan curiga ketika ia bertemu dengan Frans di toilet hotel saat itu.
Felisa yang mendengar segala perkataan Erzhan, lantas memutuskan untuk diam saja dan membiarkan Erzhan menganggap jika itu adalah alasannya. Membuat Erzhan yang melihat hal tersebut lantas mengambil posisi bersendekap dada sambil menatap ke arah Felisa dengan tatapan yang intens.
"Karena sakit mu di buat oleh mu sendiri maka silahkan nikmati rasa sakit itu, beruntung aku masih berbaik hati dan memanggilkan dokter untuk mu, lain kali jika kau melakukan ini lagi aku tidak akan mau menolong mu!" ucap Erzhan dengan nada yang ketus membuat Felisa hanya bisa menunduk sambil menatap ke arah gelas pemberian Erzhan tadi.
Tak mendapat jawaban apapun dari Felisa membuat Erzhan kemudian memutuskan untuk berlalu pergi dari sana. Hanya saja langkah kakinya lantas terhenti ketika ia mengingat sesuatu.
__ADS_1
"Kau tak perlu khawatir, minuman itu adalah air gula dan bukan racun. Untuk urusan adik mu aku sudah menepati janji ku untuk tidak mengganggunya sekaligus menjaganya dengan baik. Aku harap kau juga harus menepati janji mu dan segera mencari tahu letak harta yang di sembunyikan oleh Ayah mu!" ucap Erzhan lagi sebelum pada akhirnya kembali melangkahkan kakinya dan meninggalkan Felisa seorang diri di kamarnya.
Bersambung