
Ruang interogasi
Di ruangan tersebut terlihat Erzhan tengah duduk sambil bersendekap dada menanti Bram mengurus segalanya. Di tatapnya area sekitaran dengan helaan napas yang cukup panjang kemudian menyandarkan tubuhnya tepat di area kursi tempatnya duduk saat itu.
"Aku tidak mengira akan selama ini, kemana saja Bram?" ucap Erzhan dengan nada yang menggerutu kesal.
Sampai kemudian tak berapa lama pintu ruang interogasi nampak terbuka dan menampilkan sosok Argi dan juga Arya yang tengah melangkahkan kakinya mendekat ke arah di mana Erzhan berada.
"Kami benar-benar minta maaf akan hal ini, apakah anda menginginkan sesuatu pak Erzhan biar nanti saya yang siapkan untuk anda." ucap Arya dengan senyum yang ramah.
"Kapan aku bisa keluar dari sini?" tanya Erzhan dengan nada yang terdengar datar.
Mendengar hal tersebut membuat Arya lantas mendekat ke arah Erzhan dan membisikkannya sesuatu.
"Anda pasti akan keluar dari sini Pak hanya saja mungkin paling cepat besok pagi. Apakah anda ada masalah dengan itu?" ucap Arya dengan nada yang berbisik, membuat Argi yang melihat hal tersebut lantas langsung mengernyit menatap ke arah keduanya mencoba untuk mencuri dengar.
"Aku tak masalah dengan itu hanya saja, bagaimana dengan kekasih ku? Apa kamu akan menyuruhnya menunggu semalaman di sini?" ucap Erzhan kemudian yang lantas membuat Arya langsung merasa serba salah.
Arya yang mendengar perkataan dari Erzhan barusan lantas terdiam sejenak seakan tengah mencoba untuk mencari solusi terbaik saat ini. Sampai kemudian Arya melirik ke arah Argi dan membuat Argi menjadi kebingungan akan sikap Arya saat ini.
"Bagaimana jika begini saja, kita buat proses interogasi kali ini berjalan dengan cepat. Argi akan menanyakan beberapa hal sebagai pertanyaan formal saja dan anda boleh menjawab atau tidak, setelah itu saya bisa pastikan anda akan keluar paling lambat 2 jam dari sekarang." ucap Arya kemudian memberikan penawaran namun berhasil membuat Argi terkejut ketika mendengarnya.
"Apa-apaan ini Komandan? Bukankah itu menyalahi aturan namanya?" ucap Argi dengan raut wajah yang bingung.
Arya yang mendengar anak buahnya protes lantas langsung menarik tangan Argi agar sedikit menjauh dari Erzhan.
"Kau diam lah dan lakukan tugas mu dengan benar, kau tentu tahu siapa dia bukan? Jadi jangan seperti Fandi dan memperumit keadaan, kau mengerti?" ucap Arya dengan nada yang berbisik.
"Tapi Ndan..." ucap Argi hendak menjawab namun langsung mendapat tatapan tajam dari Arya begitu tahu jika Argi hendak kembali menolaknya.
__ADS_1
Argi yang mendapat tatapan tajam tersebut lantas hanya bisa terdiam. Sedangkan Arya kemudian terlihat mendorong tubuh Argi agar mulai mendudukkan pantatnya di kursi dan memulai interogasinya.
"Apakah ada masalah?" tanya Erzhan kemudian.
"Tidak, tidak ada masalah sama sekali anda tidak perlu khawatir." ucap Arya dengan senyum yang lebar seakan meyakinkan Erzhan bahwa tidak ada yang perlu ia khawatirkan.
"Baiklah kalau begitu apa bisa segera di mulai? Aku yakin Felisa pasti tengah gelisah menanti ku sedari tadi." ucap Erzhan yang lantas membuat Argi langsung memutar bola matanya dengan jengah.
"Tentu saja Pak..." ucap Arya dengan senyum yang mengembang.
***
Ruang tunggu
Felisa nampak duduk sambil termenung memikirkan segala hal yang di katakan oleh Farel tadi. Felisa benar-benar tidak menyangka Pria dingin seperti Erzhan masih sempat memikirkan segala hal tentang adiknya. Felisa menghela napasnya dengan panjang ketika kepalanya semakin terasa pusing karena memikirkan segala halnya. Jika seperti ini Felisa semakin bingung memutuskan akan memihak kepada siapa.
Sampai kemudian ketika Felisa tengah sibuk memikirkan segalanya, sebuah suara yang berasal dari Farel lantas membuat Felisa mendongak dengan seketika. Felisa memang sengaja menyuruh Farel untuk keluar dan membeli sesuatu, meski Erzhan saat ini tengah berada di ruang interogasi setidaknya ia harus tetap sakit perut atau Erzhan akan mencurigainya nanti jika ia nampak baik-baik saja ketika pulang.
"Ini kak, untuk apa kakak meminta ku membeli pecek ikan lele? Bukankah kakak akan langsung diare ketika memakannya? Apa kakak yakin?" ucap Farel dengan raut wajah yang bingung sekaligus penasaran akan apa yang sebenarnya ingin di buat oleh Felisa saat ini.
Mendapat pertanyaan tersebut membuat Felisa lantas mengambil bungkusan tersebut dan mulai membukanya. Ditatapnya satu porsi pecek lele dengan raut wajah yang aneh.
"Setidaknya ini lebih baik dari pada obat pencahar, kamu doakan saja agar Kakak selamat setelah memakan ini." ucap Felisa sambil hendak memasukkan satu suap nasi dengan disertai daging ikan lele ke dalam mulutnya.
Hanya saja ketika Felisa hendak memakannya tangan Farel terlihat menghentikan gerakan Felisa, yang tentu saja langsung membuat Felisa mendongak dengan seketika.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Felisa kemudian.
"Jangan mencari penyakit Kak? Sebaiknya Farel pesankan yang lainnya saja!" ucap Farel kemudian hendak mengambil makanan tersebut namun di tahan oleh Felisa.
__ADS_1
"Diam lah Rel, Kakak juga terpaksa melakukannya! Ini benar-benar urgen." ucap Felisa sambil menghempaskan tangan Farel secara perlahan.
Felisa memasukkan nasi tersebut ke dalam mulutnya, membuat Farel lantas melongo dengan seketika karena melihat gaya makan Felisa yang seperti sengaja di masukkan dan di telan, benar-benar seperti orang yang tidak makan selama berbulan-bulan.
.
.
.
Setelah menghabiskan makanannya, Farel terlihat mendudukkan pantatnya di sebelah Felisa dan menatap ke arah Felisa dengan tatapan yang bingung.
"Apa Kakak baik-baik saja? Apakah Kakak ipar memperlakukan Kakak dengan baik? Kakak tidak sedang menipu ku, bukan?" ucap Farel kemudian.
"Kamu tak perlu khawatir Kakak baik-baik saja, masalah makanan sebenarnya Kakak tadi telah menipu Ka..kak ipa..r mu dan mengatakan tengah sakit perut. Kakak tidak mau tertangkap basah jika Kakak sedang berbohong, mangkanya Kakak terpaksa memakannya." ucap Felisa dengan raut wajah yang sendu.
"Ah.. Hanya masalah percintaan, aku kira ada apa.." ucap Farel dengan nada yang menyindir namun berhasil membuat bola mata Felisa membulat begitu mendengarnya.
"Kau benar-benar menyebalkan ya, sudah sana pulang ini sudah larut besok kamu harus sekolah!" ucap Felisa kemudian sambil mendorong tubuh Farel agar beranjak pergi dari sana.
"Baik-baik aku sudah mau pulang, santai saja Kak.. Jangan lupa sampaikan salam ku pada Kakak ipar, terus dukung dia Kak karena aku yakin dia tidak bersalah!" ucap Farel sambil mulai melangkahkan kakinya berlalu pergi dari sana meninggalkan Felisa yang menatapnya dengan tatapan yang tajam.
"Dasar anak itu!" ucap Felisa sambil menatap kepergian Farel dari hadapannya.
Krukkkk....
"Ah sial!" ucap Felisa sambil memegang area perutnya yang terasa seperti di aduk.
Bersambung
__ADS_1