Felisa & Harta Tersembunyi

Felisa & Harta Tersembunyi
Dia pasti tahu sesuatu


__ADS_3

Keesokan harinya


Mobil yang dikendarai oleh Rama pada akhirnya sampai juga di jalanan Ibukota, disaat semua orang sedang tertidur dengan lelap karena kelelahan. Lain halnya dengan Erzhan yang nampak terjaga hingga saat ini. Erzhan menatap kosong ke arah luar kaca jendela dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


Entah apa yang sedang ada dipikirannya, namun Erzhan merasa ada sesuatu yang lain yang sedang memenuhi hatinya saati ini. Erzhan menghela napasnya dengan panjang kemudian melirik sekilas ke arah Felisa yang saat ini tengah tertidur dengan pulas.


"Mengapa sejak kehadiran gadis itu semuanya nampak berbeda? Tujuan yang semula untuk mencari harta tersembunyi kini beralih menjadi dirinya, mengapa? Aku bahkan tidak mengerti akan alasannya mengapa mendadak bisa jadi seperti ini?" ucap Erzhan dalam hati sambil menatap ke arah Felisa yang terlihat tengah terpejam itu.


Tangan Erzhan perlahan-lahan menyentuh area dadanya yang saat ini terasa berdebar dengan kencang ketika melihat raut wajah Felisa yang tengah tertidur dengan pulas. Entah perasaan apa yang sedang menghinggapinya saat ini, tapi Erzhan sendiri tidak bisa menyangkal akan hal itu.


"Apakah kita akan langsung pulang Tuan?" tanya Rama kemudian yang lantas membuyarkan segala lamunan Erzhan saat itu.


Erzhan menarik napasnya dengan kasar begitu mendengar pertanyaan tersebut keluar dari mulut Rama barusan.


"Kita pergi ke kediaman Felisa sekarang!" ucap Erzhan kemudian dengan nada yang datar membuat Rama lantas mengernyit begitu mendengarnya, namun tanpa berani bertanya dan tetap melajukan mobilnya sesuai dengan perintah dari Erzhan barusan.


"Setidaknya aku melakukan hal yang benar untuknya bukan?" ucap Erzhan dalam hati sambil menatap ke arah luar kaca jendela mobil tersebut.


***


Kediaman Felisa

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam pada akhirnya mobil yang dikendarai oleh Rama sampai di pelataran rumah Felisa. Felisa yang merasakan laju mobil yang ditumpanginya berhenti, lantas mulai terbangun sambil mengerjapkan kelopak matanya dengan perlahan. Terlihat Felisa beberapa kali menguap sambil menatap ke arah sekitar mencoba mencari tahu di mana lokasinya saat ini.


Sampai kemudian ketika ia menyadari satu hal yang mungkin saja sesuai dugaannya, lantas membuatnya langsung menatap ke arah Erzhan saat ini. Entah mengapa Erzhan tiba-tiba memilih tempat ini untuk singgah padahal ia jelas tidak ada kepentingan di rumahnya. Terlihat dengan jelas raut wajah sumringah di wajah Felisa saat ini begitu mengetahui jika Erzhan mengantarkannya pulang ke rumah.


"Apakah kamu benar-benar..." ucap Felisa dengan nada yang menggantung membuat Erzhan yang mendengar pertanyaan tersebut lantas langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Temui adik mu sekarang, aku memberi mu waktu satu jam setelah itu kau harus ikut dengan ku kembali ke mansion." ucap Erzhan dengan nada yang datar membuat senyuman yang semula mengembang di wajahnya mendadak menjadi hilang ketika mendengar hal tersebut.


Tadinya Felisa mengira jika Erzhan sedang baik hati dan mau melepaskannya, tapi nyatanya Felisa salah sangka. Erzhan tetaplah menginginkan harta tersebut, membuat helaan napas lantas terdengar berhembus dengan kasar di sana.


"Ya, waktu 1 jam setidaknya cukup untuk ku bernostalgia bersama Ibu dan juga Farel. Terima kasih banyak atas waktunya aku akan menggunakannya dengan sebaik mungkin." ucap Felisa dengan nada yang menyindir membuat Erzhan langsung memutar bola matanya dengan jengah begitu mendengar hal tersebut keluar dari mulut Felisa barusan.


"Terserah apa katamu, yang jelas segera kembali ke sini karena aku menantimu di sini dan jangan lakukan hal bodoh seperti kemarin-kemarin lagi." ucap erzhan kemudian memberi peringatan kepada Felisa.


Setelah mengatakan hal tersebut Felisa kemudian berusaha membangunkan Vallen agar bangun dari tidurnya. Baru setelah itu membawanya turun untuk bertemu dengan Farel, raut wajah bahagia terlihat dengan jelas tertulis di raut wajah wanita paruh baya itu. Membuat Felisa tak henti-hentinya memegang dengan erat tangan Vallen ketika turun dari dalam mobil.


Langkah kaki keduanya benar-benar terlihat dengan jelas pada manik mata Erzhan, membuat hembusan napas kasar terdengar melalui mulutnya saat itu juga.


"Ar cari tahu apakah Vallen ada hubungannya dengan Nelson yang menyembunyikan harta tersebut? Aku merasa ia seperti mengetahui sesuatu akan persoalan harta tersebut." ucap Erzhan kemudian memberikan perintah sambil masih menatap kepergian keduanya menuju rumah Felisa.


Setelah perintah itu terdengar suasana mendadak hening sejenak seakan tidak ada jawaban apapun dari Arkan, membuat Erzhan yang merasakan ada sesuatu yang aneh tentu saja langsung mengernyit dan dengan spontan menatap ke arah di mana Arkan berada. Betapa terkejutnya Erzhan ketika ia menoleh ke arah belakang dan malah mendapati anak buahnya tengah tertidur pulas saat ini, membuat raut wajah kesal lantas terlukis dengan jelas di wajah Erzhan kala itu.

__ADS_1


"Apa kalian akan terus tertidur seperti itu!" pekik Erzhan dengan keras yang tentu saja langsung mengejutkan semua orang yang ada di dalam mobil saat itu termasuk dengan Rama yang tengah berada di depan.


"Ya Tuan kami siap menjalankan perintah!" jawab Arkan, Andi dan juga Bram dengan spontan sambil sesekali menguap namun langsung menutup mulutnya dengan rapat begitu mendapati tatapan tajam dari Erzhan saat ini


"Perintah gundul mu itu! Kalian bertiga benar-benar menyebalkan!" ucap Erzhan dengan nada yang kesal kemudian kembali menatap ke arah depan.


***


Rumah Felisa


Dari arah depan Felisa nampak membuka pintu masuk dengan lebar dan mulai membawa langkah kakinya masuk ke dalam mempersilahkan Vallen untuk masuk ke dalam rumah kecilnya itu. Vallen yang melihat ukuran rumah Felisa yang kecil dan juga mirip dengan rumah kontrakan lantas tertegun. Ia tidak menyangka bahwa kehidupan putrinya benar-benar miris dan jauh dari kata layak baginya, tidak seperti dirinya meskipun dirinya terkunci di dalam ruang bawah tanah namun William tetap memperlakukannya sebagai selayaknya seorang putri dan mencukupi semua kebutuhannya.


"Apa selama ini kamu tinggal di sini nak?" ucap Vallen kemudian yang lantas membuat Felisa menghentikan langkah kakinya saat itu juga.


"Tentu Bu, sejak kecil kami tinggal di sini bertiga bersama dengan Ayah.." ucap Felisa dengan raut wajah yang tersenyum simpul, membuat Vallen langsung menatap raut wajah Felisa dengan getir.


"Maafkan Ibu, Ibu benar-benar tidak tahu akan hal itu. Ibu pikir kamu dan juga Farel telah..." ucap Vallen tidak berani meneruskan perkataannya membuat Felisha lantas langsung mengernyit dan dengan spontan melangkahkan kakinya mendekat ke arah dimana Vallen berada saat itu.


"Tak apa Bu, Ibu tidak perlu menyesal rumah ini bahkan sudah cukup nyaman bagi kami berdua, jangan seperti ini Bu..." ucap Felisa kemudian berusaha untuk menenangkan Vallen.


"Ibu benar-benar tidak tahu jika kehidupanmu seperti ini, Ibu bahkan menyesal karena tidak mencari mu sedari dulu dan hanya tenggelam dalam kesedihan. Lagi pula mengapa Nelson tidak menggunakan harta itu saja untu menghidupi kalian?" ucap Vallen yang tanpa sadar mengucapkan sesuatu yang mengejutkan.

__ADS_1


"Ibu tahu soal harta tersembunyi itu?" ucap Felisa kemudian bertanya.


Bersambung


__ADS_2