
"Saya menemukannya Tuan..." ucap Bram kemudian yang lantas membuat Erzhan langsung mendongak dengan seketika begitu mendengar perkataan dari Bram barusan.
Mendengar sebuah suara yang berasal dari asistennya itu, membuat Erzhan lantas langsung meletakkan ponsel miliknya ke bangku sebelahnya kemudian menatap ke arah Bram dengan tatapan yang intens seakan menunggu perkataan dari Bram selanjutnya.
"Saya yakin anda mungkin akan terkejut ketika mendengar hal ini Tuan..." ucap Bram lagi yang lantas membuat Erzhan semakin dibuat penasaran karenanya.
Bram kemudian terlihat menunjukkan ponsel miliknya kepada Erzhan yang berisi Map sebuah lokasi yang cukup jauh dari tempat mereka berada saat ini. Erzhan yang melihat hal tersebut tentu saja langsung mengernyit kemudian menatap ke arah Bram seakan sedang menunggu penjelasan dari Bram selanjutnya.
"Saya menemukan lokasi keberadaan Felisa melalui rekaman kamera pengawas di jalanan yang menangkap rute perjalanan mobil yang dikendarai oleh Frans Tuan. Jika melihat dari rute yang ia ambil, mobil tersebut melaju ke sebuah tempat yang sama di mana kita pernah mencari keberadaan Felisa beberapa waktu yang lalu dan berakhir dengan hilangnya Tuan selama hampir satu minggu lebih. Hanya saja kali ini rute yang diambil oleh Frans dengan arah yang berbeda dari yang pernah kita ambil biasanya." ucap Bram mulai menjelaskan situasinya.
"Kemana sebenarnya Frans pergi membawa Felisa?" ucap Erzhan dengan raut wajah yang bingung sekaligus bertanya-tanya.
"Berkaitan dengan pertanyaan dari anda barusan, saya juga sudah mencari serta meneliti tentang area di daerah tersebut Tuan yang ternyata memiliki suatu tempat aneh yang tidak bisa di deteksi lewat google map biasa. Saya bahkan sampai memerlukan bantuan Arkan untuk melihat daerah yang buta di area sana. Dan pada akhirnya membuat saya menemukan jika daerah buta di area tersebut adalah kediaman milik William. Dimana letaknya yang berdekatan langsung dengan area pesisir pantai." ucap Bram kembali menjelaskan detailnya kepada Erzhan.
Sedangkan Erzhan yang mendengar penjelasan secara panjang kali lebar dari Bram barusan, lantas membuat Erzhan terdiam seketika. Perkataan Bram yang mengatakan tentang letak mansion milik William yang berada tak jauh dari pantai yang sama di mana Felisa melarungkan abu milik Ayahnya, kemudian mengingatkan Erzhan pada suatu kondisi di mana tiba-tiba ia di culik dan berakhir dengan di buang saat itu oleh beberapa orang asing.
Seulas senyuman meremehkan nampak terlihat jelas di wajah Erzhan saat itu, membuat Bram lantas menatap dengan tatapan yang bertanya akan maksud dari ekspresi raut wajah yang ditunjukkan oleh Erzhan saat ini.
__ADS_1
"Ternyata semua ini adalah ulah dari kakek tua itu, aku bahkan sempat terkecoh olehnya. Ternyata sudah sejak lama kakek tua itu ingin membuat kesalahpahaman diantara aku, Felisa dan juga Farel. Benar-benar sesuatu sekali dia..." ucap Erzhan dengan senyum yang menyeringai sambil menatap lurus ke arah depan, membuat Bram yang memang tidak mengetahui apapun tentang hal tersebut semakin dibuat kebingungan ketika mendengar perkataan dari Erzhan barusan.
"Lalu langkah apa yang akan kita ambil untuk masalah ini Tuan?" tanya Bram kemudian memberanikan diri, yang lantas langsung membuyarkan lamunan Erzhan dengan seketika.
"Kita bergerak menuju ke arah sana dan jemput Felisa bagaimanapun caranya, tapi sebelum itu sebaiknya kita pulang dulu dan persiapkan persenjataan karena aku yakin rumah kakek tua itu akan dijaga sangat ketat! Kita tidak akan bisa masuk ke dalam tanpa sebuah persiapan yang matang sebelumnya." ucap Erzhan lantas memberikan perintah kepada Bram.
"Tentu Tuan, apapun perintah dari anda saya akan selalu siap.." ucap Bram kemudian sebelum pada akhirnya melajukan mobilnya berlalu pergi dari sana untuk melaksanakan perintah dari Erzhan dan menjemput Felisa untuk pulang.
***
Kediaman Erzhan
Satu persatu dari mereka mulai memilih senjata mereka masing-masing lengkap dengan pelurunya. Sampai kemudian setelah Erzhan memilih senjatanya, ia lantas menatap ke arah ketiganya secara bergantian.
"Aku tahu mungkin ini akan menjadi perjalanan yang cukup berat, tapi aku harap kita akan kembali dengan selamat. Apapun yang terjadi di sana saya harap kita bisa selalu bersiap!" ucap Erzhan yang lantas di balas ketiganya dengan anggukan kepala tanda mengerti.
"Kami selalu siap apapun yang terjadi Tuan..." ucap Arkan dengan semangat empat lima.
__ADS_1
"Baiklah jika begitu mari kita berangkat!" ucap Erzhan sambil mulai membawa langkah kakinya berlalu pergi dari ruangan tersebut.
***
Keesokan harinya
Sesuai dengan prediksi Frans sebelumnya, perjalanan yang mereka tempuh memakan waktu satu hari satu malam. Keduanya baru sampai tepat esok harinya sesuai dengan perkiraan Frans. Felisa yang baru saja terbangun dari tidurnya, lantas langsung disuguhkan dengan pemandangan bak istana tua yang terletak tak jauh dengan pesisir pantai, sedangkan kanan kirinya adalah hutan yang lebat.
Benar-benar sebuah istana bak di negeri dongeng, membuat manik mata Felisa tak henti-hentinya menatap takjub ke arah bangunan tersebut. Melihat sebuah bangunan rumah bak istana seperti itu, lantas membuat sebuah pikiran tiba-tiba terlintas di benaknya. Membuat Felisa lantas menjadi berwajah sedih ketika ia semakin larut dalam pemikirannya.
"Jika memang kakek ku sekaya ini, bukankah seharusnya ia mencari keberadaan kami dengan mudah? Mengapa baru sekarang ketika perebutan tentang harta itu mencuat ke telinganya? Apakah perkataan Erzhan yang mengatakan jika hubungan Ibu dan Ayah tidak direstui benar adanya? Entah mengapa setelah melihat semua hal ini aku merasa hanya Erzhan yang mengatakan segala kebenarannya kepadaku tanpa ada yang ia sembunyikan dariku." ucap Felisa dalam hati sambil terus melamun memikirkan segalanya.
Sampai kemudian sebuah suara yang berasal dari Frans saat itu, lantas langsung membuyarkan segala lamunannya dengan seketika.
"Kita sudah sampai, aku rasa Tuan besar sudah menunggu mu di dalam." ucap Frans kemudian sambil mulai melangkahkan kakinya turun dari dalam mobil.
Felisa yang mendengar perkataan dari Frans barusan, lantas mulai melangkahkan kakinya turun dari dalam mobil dengan perasaan yang berat hati.
__ADS_1
"Jika memang kakek adalah orang yang jahat, akan aku pastikan jika aku akan langsung berlari dengan membawa Ibu bersama ku pergi jauh dari tempat ini." ucap Felisa dari dalam hati sambil mulai membawa langkah kakinya mengikuti kemanapun langkah kaki Frans membawanya semakin masuk ke dalam bangunan tersebut.
Bersambung