
"Lalu bagaimana dengan Felisa Tuan?" tanya Andi kemudian yang lantas membuat Erzhan baru menyadari jika Felisa juga ikut dalam misi ini.
Mendengar pertanyaan tersebut membuat Felisa langsung di tetap oleh semua orang di sana. Entah apa yang akan ia lakukan saat ini, namun sepertinya mengikuti operasi mereka mungkin akan terasa sedikit canggung. Felisa yang tidak ingin terlibat lantas mulai memutar otaknya mencari cara agar ia tidak ikut campur dalam hal ini.
Sampai kemudian sebuah ide mendadak muncul di kepalanya saat itu.
"Aku akan ke kedai ramen, lagi pula setelah semuanya selesai aku akan putuskan untuk mengelolanya." ucap Felisa kemudian yang lantas membuat Erzhan mengernyit ketika mendengarnya.
"Jangan coba-coba berpikir untuk melarikan diri di saat kami sedang bergerak Fel!" ancam Erzhan yang tidak percaya akan perkataan Felisa.
"Jangan bercanda, jika kamu tidak percaya.. Kamu bisa menyuruh Arkan untuk memantau ku!" ucap Felisa kemudian berusaha untuk membuat Erzhan percaya akan ucapannya.
"Kau dengar itu Ar? Pastikan untuk memantaunya juga! Jika sampai dia hilang disaat aku dan yang lainnya menjalankan operasi, maka nyawa mu juga akan menghilang bersama dengan kepergiannya!" ucap Erzhan pada akhirnya yang lantas membuat Arkan menelan salivanya dengan kasar ketika mendengar hal tersebut.
"Ba...baik Tuan..." ucap Arkan dengan ragu.
Setelah mendengar jawaban dari Arkan barusan baik Erzhan, Andi, Rama dan juga Bram nampak mulai melangkahkan kakinya turun dari mobil. Keempatnya mulai beraksi dan hendak melangkahkan kaki mereka menuju ke arah bangunan tua yang berada tidak jauh dari mobil mereka terparkir.
Disaat semua orang sudah turun dan bergerak Arkan lantas melirik ke arah Felisa dengan tatapan yang intens, membuat Felisa lantas menghela napasnya dengan panjang begitu menyadari tatapan tersebut.
"Apa! Jangan melihat ku seperti itu aku tidak akan kabur kemana-mana. Kita tunggu Farel sebentar lagi, dia akan datang dan membawa kunci kedai kemari." ucap Felisa yang sadar akan maksud dari tatapan Arkan saat ini.
"Terserah kepadamu yang jelas aku hanya menjalankan perintah." ucap Arkan dengan nada yang datar.
***
__ADS_1
Dengan langkah kaki yang perlahan Erzhan mulai memimpin ketiganya untuk masuk ke dalam bangunan tua tersebut. Suasana bangunan tua saat itu terlihat begitu ramai dengan para pengunjung yang terlihat sedang mengunjungi bangunan tua tersebut, membuat Erzhan memberikan kode kepada yang lainnya agar bergerak selayaknya seorang pengunjung.
Bram, Andi, dan juga Rama yang mengerti akan kode tersebut lantas mengangguk dengan perlahan dan mulai membawa langkah kaki mereka semakin masuk ke dalam bangunan tua tersebut.
"Bukankah bangunan tua ini luar biasa, Tuan... Tolong foto kan saya Tuan..." ucap seorang wanita yang tiba-tiba menghentikan langkah kaki Erzhan saat itu.
Mendapati hal tersebut tentu saja membuat Bram langsung melangkahkan kakinya mendekat ke arah Erzhan. Namun gerakan tangan Erzhan yang mengatakan untuk berhenti, lantas membuat Bram mengurungkan niatannya.
"Baik mari saya bantu..." ucap Erzhan kemudian sambil mengisyaratkan kepada wanita itu untuk memberikan ponselnya.
"Terima kasih banyak Tuan... Akhh saya benar-benar tersanjung..." ucapnya dengan raut wajah yang sumringah, namun Erzhan hanya bersikap datar menanggapi semua perkataan dari wanita tersebut.
Disaat wanita itu tengah sibuk untuk berpose, Erzhan terlihat melirik ke arah Andi dan juga Rama melalui ekor matanya seakan mengatakan kepada mereka untuk mulai bergerak. Mendapati hal tersebut, Andi dan juga Rama yang langsung faham akan kode tersebut, lantas menganggukkan kepala dan mulai bergerak sesuai dengan perintah Erzhan barusan.
Cekrek..
Cekrek..
Setelah mengambil beberapa kali cepretan, Erzhan nampak melangkahkan kakinya mendekat ke arah wanita tersebut kemudian memberikan ponsel tersebut kepada wanita itu. Hanya saja ketika Erzhan berlalu pergi dari sana, sebuah tarikan tangan yang berasal dari wanita tersebut lantas kembali menghentikan langkah kakinya.
"Tuan ganteng, bisakah kita berdua berfoto.. Aku mohon..." ucap wanita itu dengan tiba-tiba yang tentu saja mulai membuat Erzhan risih karenanya.
Bram yang seakan tahu akan situasi ini lantas mulai mendekat ke arah keduanya dan berhenti tepat di sebelah keduanya.
"Maaf tapi sepertinya anda sudah kelewatan, bos saya masih mempunyai urusan lain jadi kami berdua harus segera pergi sekarang." ucap Bram berusaha untuk menengahi keduanya, sedangkan Erzhan yang melihat kedatangan Bram hanya terdiam tanpa sepatah kata apapun.
__ADS_1
"Yah... Kita kan bahkan belum foto, lima menit saja..." ucap wanita itu berusaha untuk memohon agar Erzhan tidak berlalu pergi dari sana.
"Maaf tidak bisa, sudah cukup jangan membuat ku melakukan sesuatu hal yang kasar." ucap Bram lagi masih dengan nada yang terdengar sopan.
Mendapati hal tersebut tentu saja membuat wanita tersebut cemberut karenanya. Sedangkan Erzhan dan juga Bram lantas langsung melangkahkan kakinya pergi begitu saja meninggalkan wanita itu. Wanita tersebut benar-benar telah menghambat pekerjaan mereka, sehingga membuat Erzhan dan juga Bram langsung mempercepat langkah kakinya menyusul Andi dan juga Rama yang sudah lebih dahulu berlalu pergi dari sana.
**
Setelah kepergian Erzhan dan juga Bram dari hadapannya, raut wajah wanita tersebut yang semula terlihat kecewa mendadak berubah menjadi datar. Entah apa yang membuat perubahan raut wajah tersebut, namun yang jelas sepertinya wanita itu tengah memikirkan sesuatu saat ini sambil terus menatap kepergian keduanya.
"Bukankah ini merupakan sebuah kebetulan yang luar biasa? Kapan lagi aku bisa bertemu seorang Erzhan dengan tidak sengaja seperti ini? Bukankah hal ini adalah sebuah berita yang bagus?" ucap wanita tersebut dengan senyuman yang sinis.
Wanita tersebut nampak merogoh saku celananya kemudian mendial nomor seseorang di sana.
"Halo" ucap sebuah suara di seberang sana yang lantas membuat wanita itu tersenyum begitu mendengar suara tersebut.
"Coba tebak siapa yang aku temui saat ini?" ucap wanita tersebut dengan senyum yang mengembang, membuat seseorang di seberang sana lantas mengernyit sambil memutar bola matanya dengan jengah.
"Apakah kau menelpon ku hanya ingin pamer telah bertemu seseorang, ayolah Ela aku benar-benar sibuk. Jika kau menelpon ku hanya untuk iseng maka aku akan menutup telpon mu." ucap suara di seberang sana yang mulai kesal dengan sikap wanita yang di panggil Ela tersebut.
"Tunggu Frans, bisakah kau untuk lebih bersabar lagi? Jika kau menutup panggilan mu begitu saja, kau tidak akan pernah tahu jika Pria yang aku temui adalah Erzhan!" pekik Ela yang kesal akan sikap datar Frans saat ini.
Mendengar sebuah nama di sebut oleh Ela saat itu tentu saja membuat Frans mengernyit dengan seketika.
"Apa? Dimana kamu sekarang?" ucap Frans kemudian yang lantas membuat Ela langsung tersenyum begitu mendengarnya.
__ADS_1
Bersambung