
Kediaman Erzhan
Sementara itu di area taman yang berada di belakang kediaman Erzhan, terlihat Felisa tengah berkebun sambil mempercantik area taman. Lebih dari satu bulan tinggal di Rumah Erzhan membuat Felisa mulai mencari kesibukan untuk mengusir kejenuhannya yang seakan seperti tengah terkurung di sangkar emas milik Erzhan.
Felisa menghela napasnya dengan panjang ketika tak sengaja jari tangannya terkena duri mawar saat itu, membuatnya lantas langsung menghentikan gerakan tangannya dan mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah meja kecil yang berada tak jauh dari posisinya berada.
Disaat Felisa tengah sibuk mengusap sedikit darah pada jari tangannya sebuah suara yang tak asing di pendengarannya, lantas terdengar menggema hingga membuat Felisa mendongak dengan seketika menatap ke arah sumber suara.
"Aku baru sadar jika ada yang berubah di area mansion milik ku, apa kau ingin membuat kebun bunga di sini?" ucap sebuah suara yang berasal dari Erzhan.
Mendengar nada datar milik Erzhan seperti biasannya lantas membuat Felisa langsung memutar bola matanya dengan jengah. Sedangkan Erzhan lantas mengambil duduk di sebelah Felisa ketika ia tak mendengar jawaban apapun di sana.
"Ayolah kau bahkan tak mengizinkanku untuk keluar, apa dengan membuat kebun bungaku sendiri di kediamanmu membuatmu begitu resah?" Ucap Felisa dengan raut wajah yang mulai kesal ketika mendengar perkataan Erzhan barusan.
Erzhan yang mendengar perkataan dari Felisa lantas tersenyum dengan tipis kemudian meletakkan iPad yang ia bawa sedari tadi ke atas meja, membuat Felisa yang melihat hal tersebut tentu saja langsung menoleh ke arah iPad itu dengan tatapan yang bertanya ajan maksud Erzhan kali ini.
"Apa kau pernah melihat anting-anting ini? Aku mendapat informasi jika Nelson membeli langsung anting-anting ini sekitar lima tahun yang lalu. Ada beberapa hal yang membuat ku curiga akan anting-anting tersebut." ucap Erzhan kemudian mulai menjelaskan detailnya.
Felisa yang mendengar perkataan Erzhan barusan tentu saja langsung terfokus pada gambar anting-anting yang berada di layar iPad milik Erzhan, sambil mengingat-ingat di mana ia pernah melihat anting-anting tersebut. Beberapa menit mencoba untuk mengingatnya, manik mata Felisa lantas langsung membulat dan menatap ke arah Erzhan dengan tatapan yang aneh. Mendapati hal tersebut membuat Erzhan tentu saja langsung mengernyit dengan raut wajah yang penasaran menatap ke arah Felisa.
"Ini adalah hadiah dari ayah tepat di usiaku yang ke-20 tahun, hari itu aku merayakan ulang tahunku dengan sederhana bersama dengan Farel di sebuah kedai Ramen yang terletak di Ibukota saat itu." ucap Felisa sambil mengingat-ingat hal tersebut.
__ADS_1
"Apa kamu masih memiliki barangnya saat ini?" tanya Erzhan kemudian dengan raut wajah yang penasaran.
"Harusnya masih ada tapi aku tak begitu ingat aku menyimpannya di mana." ucap Felisa yang lantas membuat Erzhan mendengus dengan kesal begitu mendengarnya.
Erzhan yang mendengar perkataan dari Felisa barusan tentu saja langsung bangkit dari tempat duduknya, membuat Felisa langsung menatap ke arah Erzhan dengan tatapan yang bingung seakan bertanya apa yang hendak dilakukan Erzhan saat ini.
"Jika begitu ayo kita pergi sekarang dan temukan di mana anting-anting itu berada agar segalanya cepat berakhir, bukankah kau ingin segera berkumpul bersama dengan keluargamu?" ucap Erzhan sambil mulai mengajak Felisa untuk pergi ke kediamannya.
"Sekarang? Apa kau benar-benar akan mengajak ku pergi?" ucap Felisa yang seakan mempertanyakan hal tersebut.
"Tentu saja, bersiaplah segera aku akan menunggu mu di mobil." ucap Erzhan kemudian sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari sana.
Felisa yang mendengar hal tersebut tentu saja girang bukan main, sambil mulai meletakkan segala hal yang telah ia lakukan sebelumnya. Felisa terlihat langsung berlari menuju ke arah kamarnya dan bersiap untuk pergi ke kediamannya. Felisa benar-benar merindukan Ibu dan juga adiknya saat ini, walau ia baru berpisah beberapa hari saja namun perasaan rindu bahkan sudah menyelimuti hatinya saat ini.
***
Mobil yang dikendarai oleh Erzhan nampak berhenti tepat di halaman kediaman rumah Felisa, kali ini keduanya hanya pergi berdua tanpa ditemani oleh Bram ataupun ajudan Erzhan yang lainnya.
Felisa yang memang sudah tak sabar akan bertemu dengan adik juga Ibunya tanpa menunggu Erzhan, Felisa lantas langsung berlarian keluar dari mobil menuju ke arah rumah kontrakannya.
Ketika sampai di area dalam Felisa melihat Farel tengah bersantai sambil menonton televisi, membuat Felisa yang tak melihat kehadiran Ibunya lantas sedikit kebingungan.
__ADS_1
"Dimana Ibu?" tanya Felisa kemudian yang lantas membuat Farel langsung terkejut begitu mendengar sebuah suara tak asing di telinganya saat itu.
"Ibu tengah pergi ke pasar, tumben kakak ke sini? Apakah ada sesuatu?" tanya Farel kemudian sambil mulai membawa langkah kakinya mendekat ke arah di mana Felisa berada.
"Dasar, pertanyaanmu itu benar-benar mengesalkan... Ini bahkan juga rumah kakak, mengapa kakak tidak boleh pulang? "ucapan Felisa dengan raut wajah yang cemberut, membuat Farel lantas langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal begitu mendengar hal tersebut.
"Bukan begitu, maaf jika kakak tersinggung." ucap Farel sambil tersenyum dengan garing.
"Kau bahkan benar-benar konyol!" ucap Felisa sebelum pada akhirnya berlalu pergi dari hadapan Farel.
"Dia selalu saja aneh..." ucap Farel kemudian melangkahkan kakinya kembali duduk di atas kursi dan melanjutkan menontonnya setelah melihat kepergian Felisa yang menuju ke arah kamarnya saat ini.
***
Sementara itu di area luar kediaman Felisa, terlihat Erzhan baru saja keluar dari dalam mobilnya hendak menyusul kepergian Felisa saat itu. Hanya saja ketika langkah kakinya baru saja beberapa kali melangkah, sebuah suara yang tak asing di pendengarannya lantas langsung menghentikan langkah kakinya dengan seketika.
"Apa yang membuat mu datang kemari?" ucap sebuah suara yang tentu saja langsung membuat Erzhan menoleh ke arah sumber suara.
"Aku datang untuk mengantarkan Felisa, katanya ia begitu merindukan mu dan juga Farel." ucap Erzhan kemudian ketika mendapati jika suara tersebut berasal dari Vallen yang terlihat tengah berada di belakangnya.
Mendengar hal tersebut lantas langsung membuat Vallen tersenyum dengan tipis, ia jelas tahu apa maksud dibalik sikap baik Erzhan saat ini kepada keluarganya. Entah mengapa Vallen merasa sedikit ada rasa curiga dan juga penasaran akan diri Erzhan namun ia tidak bisa langsung menyimpulkannya begitu saja. Vallen merasa jika Erzhan menyimpan sebuah hal besar dalam dirinya, namun Vallen sama sekali tidak mengetahui apa itu.
__ADS_1
"Apa tujuan mu sebenarnya?" ucap Vallen kemudian yang lantas membuat Erzhan langsung mengernyit dengan seketika begitu mendengar pertanyaan tersebut keluar dari mulutnya.
Bersambung