
"Apa? Imbalan? Apa kau tengah mabuk saat ini?" ucap Felisa dengan nada yang terkejut ketika mendengar permintaan dari Erzhan barusan.
Erzhan tersenyum dengan tipis ketika mendengar perkataan Felisa barusan, membuatnya lantas memperbaiki posisi duduknya dan menatap ke arah Felisa dengan tatapan yang intens.
"Bukankah aku sudah memberikan mu kesempatan untuk menelpon adik mu? Jadi sekarang aku minta imbalan ku." ucap Erzhan dengan nada yang terdengar begitu datar.
"Imbalan? Jika kamu mengatakannya sedari awal aku pasti tidak akan membuat permintaan kepada mu, benar-benar menyebalkan." gerutu Felisa dengan nada yang kesal.
"Hahahaha itu lah perlunya bersikap teliti sebelum mengiyakan sesuatu hal, bukankah begitu Nona?." ucap Erzhan dengan tawa yang menggema memenuhi ruangan tersebut.
Mendengar suara tawa dari Erzhan barusan tentu saja langsung membuat Felisa memutar bola matanya dengan jengah, ia benar-benar tidak menyangka jika Erzhan meminta sebuah imbalan dari permintaannya kemarin. Felisa bahkan tadinya hanya mencoba untuk berpikir positif karena Erzhan yang selalu saja bertanya apakah ia membutuhkan sesuatu atau tidak. Namun ketika Felisa hanya meminta sebuah panggilan telpon kepadanya, bukankah sebuah imbalan terkesan terlalu berlebihan? Felisa berdecak dengan kesal ketika ia harus berhadapan dengan Pria licik seperti Erzhan, membuat helaan napas lantas terdengar berhembus kasar dari mulut Felisa saat ini.
"Katakan imbalan apa yang kau inginkan?" ucap Felisa pada akhirnya.
Erzhan tersenyum dengan tipis ketika pada akhirnya Felisa menanyakan apa imbalan untuknya.
"Bantu aku menemukan harta tersembunyi itu!" ucap Erzhan dengan senyum yang mengembang namun berhasil membuat Felisa terkejut ketika mendengarnya.
"Lagi? Aku sungguh tidak tahu akan letak dari harta tersebut, bisa tidak kamu meminta sesuatu yang aku bisa lakukan?" ucap Felisa yang seakan menolak permintaan Erzhan barusan.
__ADS_1
"Aku tahu, itulah alasannya mengapa aku meminta bantuan kepadamu. Aku tak terlalu yakin jika Nelson akan membaginya kepadamu tapi yang jelas Nelson pasti sudah memberikan mu beberapa clue yang kamu sendiri tidak akan pernah menyadarinya. Yang perlu kau lakukan cukup membantu ku memecahkan masalah ini dan menemukan titik terang, jika aku berhasil mendapatkannya maka kamu akan ku bebaskan." ucap Erzhan kemudian, yang lantas membuat Felisa terdiam seketika.
Felisa terdiam di tempatnya dengan seketika, Felisa benar-benar tidak tahu harta apa yang dimaksud oleh semua orang. Semua orang yang datang dan menghadangnya selalu saja menanyakan tentang harta tersebut. Membuat Felisa menjadi penasaran akan harta yang selalu di cari oleh semua orang. Felisa menatap ke arah Erzhan dengan tatapan yang intens, pikirannya saat ini bahkan melayang pada beberapa orang asing yang selalu datang dan juga menanyakan tentang harta itu kepada Felisa.
"Jika memang kamu menginginkan harta itu sebaiknya kamu katakan dengan detail, harta apa yang sedang kalian cari sebenarnya?" ucap Felisa kemudian seakan mulai mengorek informasi.
Erzhan terdiam sejenak seakan menimbang apakah ia akan membuka kisah lama atau hanya memendamnya seorang diri. Sampai kemudian helaan napas terdengar berhembus dengan kasar dari mulutnya.
"Baik aku akan mulai menceritakan segalanya, tapi setelah aku mengatakannya jangan pernah berpikir untuk lari dari tanggung jawab karena apa yang terjadi adalah sebagian dari tanggung jawab Nelson!" ucap Erzhan memperingati Felisa yang lantas membuat Felisa langsung menelan salivanya dengan kasar.
***
Beberapa tahun yang lalu karena suatu hal Raes, Rayshiva, dan juga William bekerja sama membuat brankas hasil dari penjualan gelap ketiganya. Ketiganya sepakat bahwa mereka akan mengumpulkannya satu persatu dan membaginya kepada anak cucu mereka nantinya. Seorang pemrogram yang ahli lantas di panggil untuk mewujudkan rencana mereka.
Hanya saja tanpa di sangka-sangka si pemrogram yaitu Nelson lantas jatuh cinta kepada putri William dan menjalin kasih secara diam-diam. William marah ketika mengetahui sang putri malah menikah secara diam-diam dengan Nelson.
Huru-hara terjadi tepat ketika putra kedua Nelson lahir, William yang menemukan keberadaan Putrinya memaksa agar keduanya berpisah. Nelson yang marah dan tidak terima akan keputusan itu, secara diam-diam mulai memindahkan seluruh harta yang terdapat dalam brankas tersebut dan memindahkannya ke sebuah tempat yang tak ada seorang pun dari ketiganya mengetahui lokasi tersebut.
Perpecahan terjadi di antara ketiganya yang mendadak malah bersaing memperebutkan harta tersebut. Hingga ketika Rayshiva di nyatakan meninggal dan di gantikan oleh Erzhan, di mana letak harta tersebut sama sekali tidak ada yang mengetahuinya kecuali Nelson seseorang yang memindahkannya.
__ADS_1
***
"Sekarang bagaimana pendapat mu? Apakah kau tetap akan mendukung keputusan Ayah mu untuk menyembunyikannya?" ucap Erzhan kemudian setelah menyelesaikan ceritanya.
Felisa terdiam di tempatnya, pikirannya benar-benar melayang memikirkan segala halnya. Ia bahkan sedikit tidak percaya jika Nelson melakukan hal tersebut. Padahal selama ini Nelson adalah sosok seorang Ayah yang sangat mengayomi Putra putrinya, bagaimana bisa Erzhan mengatakan bahwa Nelson menyembunyikan harta tersebut?
Ditatapnya Erzhan dengan tatapan yang intens, sampai kemudian ketika sebuah pertanyaan muncul di kepalanya Felisa nampak membenarkan posisinya dan menatap Erzhan dengan manik mata yang ragu-ragu.
"Lalu dimana Ibu ku?" ucap Felisa pada akhirnya.
Felisa bahkan sudah tidak bisa lagi menahan agar pertanyaan itu tidak sampai keluar dari mulutnya. Meski Nelson menyainginya dan juga Farel serta bertindak sebagai seorang Ayah dan juga Ibu untuknya, namun bagaimanapun juga Felisa tetaplah ingin mengetahui tentang Ibu kandungnya. Sebuah pertanyaan yang sedari dulu ingin Felisa tanyakan kepada Nelson tapi selalu gagal hingga akhir hayat Nelson, Felisa tetap belum bisa bertanya akan hal tersebut.
Erzhan tersenyum dengan tipis begitu mendengar pertanyaan tersebut, sebuah pancingan yang mungkin akan membuat Felisa bersedia berpartner dengannya tanpa pamrih kecuali informasi tentang Ibunya, membuat Erzhan lantas tersenyum dengan penuh kemenangan.
"Aku tidak tahu bagaimana keadaannya saat ini, tapi aku tahu dimana dia berada dan seperti apa keluarganya. Jika kamu bersedia membantu ku menemukan harta itu maka aku akan membantu mu untuk bertemu dengan Ibu mu, bagaimana? Bukankah ini sebuah kesepakatan yang sama-sama menguntungkan?" ucap Erzhan kemudian dengan senyuman yang mengembang.
Felisa menggigit bibir bagian bawahnya tanpa sadar, perkataan Erzhan barusan benar-benar membuat hatinya goyah dan terkecoh. Felisa bahkan tidak terlalu yakin apakah perkataan dari Erzhan bisa di pegang atau tidak. Tapi jika ia menolaknya tentu saja ia tidak akan pernah bisa bertemu dengan Ibunya nanti. Felisa menghela napasnya dengan panjang kemudian kembali melirik ke arah dimana Erzhan berada saat ini.
"Baiklah aku setuju, asalkan kamu benar-benar menepati janji mu..." ucap Felisa yang kemudian lantas membuat Erzhan tersenyum ketika mendengar hal tersebut.
__ADS_1
Bersambung