
Di sebuah kamar yang terletak di kediaman William, terlihat Frans meletakkan tubuh Felisa dengan perlahan ke atas ranjang. Sambil menatap Frans dengan tatapan yang malas Felisa nampak berdecak dengan kesal, membuat Frans yang menyadari hal tersebut lantas menghela napasnya dengan panjang.
"Apa kau sedang ingin menipu ku? Atau jangan-jangan Ibu ku sama sekali tidak ada di sini, iya kan? Katakan sejujurnya kepadaku!" ucap Felisa dengan raut wajah yang kesal namun detik berikutnya meringis kesakitan ketika Frans melepaskan genggaman tangannya begitu saja tanpa aba-aba.
"Jangan banyak bergerak Nona sebentar lagi Dr. Andra akan kemari dan memeriksa anda, soal Ibu anda.. Amda tidak perlu khawatir karena beliau ada di salah satu ruangan ini. Hanya saja saya tidak punya kuasa apapun untuk mengantar anda ke sana kecuali atas perintah Tuan besar." ucap Frans mulai menjelaskan segalanya.
"Kamu tak perlu sok perduli padaku, lagi pula kita berdua tidak saling mengenal jadi berhenti bersikap sok manis di depan ku!" ucap Felisa dengan nada yang ketus sambil membuang muka nya ke arah samping.
Entah mengapa Felisa benar-benar kesal akan Frans yang seakan berhasil menipunya dengan perkataan manis yang menjanjikannya sebuah pertemuan bersama Ibunya. Jika tahu akan jadi seperti ini tentu saja Felisa tidak akan mau ikut dengan Frans. Hanya saja sayangnya semua halnya telah terjadi, walau Felisa menyesal sekalipun hal itu tidak akan pernah bisa membuat semuanya kembali.
"Ah.. Harusnya aku tidak usah tergiur dengan perkataannya." ucap Felisa dengan raut wajah yang kesal sambil memegangi tangannya yang terasa begitu ngilu.
***
Sementara itu sore harinya
Di suatu tempat yang tak jauh dari kediaman William, mobil van yang membawa Erzhan dan juga lainnya nampak terparkir di antara rerumputan. Erzhan yang baru saja sampai setelah melakukan perjalanan sehari semalam, lantas terlihat menatap ke arah bangunan besar bak istana yang terletak tak jauh dari tempat mereka berhenti.
"Ternyata jarak tempuhnya memang lebih dekat jika kita mengikuti rute yang di ambil oleh Frans sebelumnya." ucap Bram kemudian yang lantas membuat Erzhan langsung menoleh ke arahnya dengan seketika.
"Tentu, lagi pula ini adalah kediamannya tentu saja ia akan mencari jalan pintas untuk menuju ke arah kota. Jalan yang diambil oleh Felisa adalah rute terpanjang yang ada di dalam peta mengingat Felisa dan juga Farel baru menjelajahi daerah ini." jawab Erzhan namun masih tetap fokus menatap ke arah bangunan bak kastil tersebut.
__ADS_1
"Sekarang kita harus bagaimana Tuan?" ucap Bram kemudian kembali bertanya.
Mendapat pertanyaan tersebut tentu saja langsung membuat Erzhan melirik ke arah Arkan, dimana ia terlihat begitu fokus menatap ke arah layar laptop miliknya seakan tengah berusaha untuk melakukan sesuatu saat ini.
"Bagaimana Ar, apa yang kamu temukan?" tanya Erzhan kemudian tak langsung menanggapi pertanyaan Bram tentang rencana selanjutnya.
Arkan yang mendengar pertanyaan tersebut lantas mulai menggeser laptopnya agar Erzhan dapat melihat detail yang akan ia tunjukkan kepadanya.
"Ada puluhan kamera pengawas yang di pasang di setiap sudut bangunan tersebut dan yang di bagian tengah ini adalah kamera inti di mana di sana terdapat satu kamar utama, ruangan bawah tanah, area ruang kerja, satu ruangan kecil yang saya sendiri tidak tahu apa fungsi dari tempat itu Tuan." ucap Arkan menjelaskan segala halnya kepada Erzhan.
Erzhan yang mendengar penjelasan dari Arkan barusan lantas menatap dengan tatapan yang intens ke arah layar laptop milik Arkan. Ada beberapa hal yang saat ini tengah berputar di kepalanya, membuat Erzhan tak kunjung bisa lepas dari arah layar laptop tersebut.
"Jika keempat ini adalah kamera inti, lalu apa yang ada di ruang bawah tanah hingga di berikan ruangan khusus dan tentu saja kamera pengawas yang khusus pula." ucap Erzhan kemudian bertanya dengan raut wajah yang penasaran.
Setelah mengatakan hal tersebut Arkan kemudian mulai mengetik sesuatu pada keyboard laptopnya seakan mencoba untuk menembus dinding kokoh situs milik William. Beberapa menit berkutat dengan laptopnya, seulas senyum kemudian lantas terlihat terbit dari wajah Arkan saat itu.
"Di sana terdapat sebuah kamar seseorang Tuan, apakah anda mengenal wanita ini?" jelas Arkan kemudian sambil menunjuk seseorang yang saat ini tengah meringkuk di pojokan sambil melamun menatap kosong ke arah depan.
Erzhan yang mendengar hal tersebut tentu saja langsung mengikuti arah tunjuk Arkan, ada sebuah perasaan terkejut dalam dirinya ketika Erzhan melihat sosok wanita tersebut yang tentu saja sangat tak asing baginya. Seulas senyum kemudian terlihat terbit dari wajah Erzhan ketika ia mengetahui rahasia terbesar yang di tunjukkan oleh William selama ini tentang putrinya.
"Dia adalah Vallen Ibu dari Felisa, aku benar-benar tidak menyangka jika selama ini kakek tua itu menyembunyikan putrinya sendiri di tengah kabar yang berhembus jika Vallen mengalami gangguan jiwa dan memutuskan untuk bunuh diri setelah berpisah dengan Nelson." ucap Erzhan sambil tersenyum dengan simpul menatap ke arah layar laptop Arkan saat itu, membuat ketiganya lantas langsung terdiam dalam pemikiran mereka masing-masing begitu mendengar penjelasan dari Erzhan barusan.
__ADS_1
***
Malam harinya
Di saat situasi sudah semakin larut kala itu Erzhan dan yang lainnya memutuskan untuk mulai beraksi saat ini. Sebelum kepergiannya Erzhan nampak menghentikan langkah kakinya dari ambang pintu dan menatap ke arah di ketiganya satu persatu.
"Kamu dan Bram pergilah ke ruang bawah tanah dan amankan Vallen biar aku yang akan menyusul Felisa. Kabari kami jika sesuatu terjadi Ar..." ucap Erzhan kemudian mulai membagi tugas kepada ketiga anak buahnya.
"Baik Tuan..." ucap ketiganya hampir secara bersamaan.
Setelah mendapat perintah dari Erzhan, Andi dan juga Bram terlihat mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam kediaman William lewat daerah sebelah kanan, sedangkan Erzhan melalui daerah sebelah kiri. Jika Erzhan, Bram dan juga Andi mulai bergerak, lain halnya dengan Arkan yang tetap berada di dalam mobil dimana ia bertugas mengawasi serta memanipulasi area sekitar melalui kamera pengawas yang terpasang di kediaman William yang berhasil ia retas sebelumnya.
"Baiklah mari kita lakukan beberapa hal agar si bodoh tidak curiga dengan kedatangan Tuan dan juga yang lainnya." ucap Arkan tepat setelah melihat Erzhan dan yang lainnya berhasil menyusup ke dalam setelah memanjat pagar tinggi kediaman William.
***
Sementara itu Erzhan yang baru saja berhasil masuk ke dalam kediaman William kemudian mulai menyalakan earphone yang terpasang di telinganya untuk berkomunikasi dengan yang lain.
"Bagaimana dengan Felisa saat ini Ar?" ucap Erzhan kemudian sambil menatap ke area sekitaran memastikan jika semuanya aman.
"Gawat Tuan, Felisa sepertinya hendak melakukan sesuatu saat ini!" ucap Arkan yang lantas membuat Erzhan terkejut ketika mendengarnya.
__ADS_1
"Sial!"
Bersambung