Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 63


__ADS_3

“Derren apa maksudmu?” jawab Andrew sedikit terkejut, ternyata putranya telah menangkap gelagatnya.


“mommyku tidak cocok untukmu, ku peringatkan jika kau mendekatinya atau mengganggunya aku sendiri yang akan melemparmu” kata Derren sambil meletakkan gelasnya dan berlalu pergi


Jonathan hanya diam, ia belum berkata apa apa.


“kenapa kakakmu?” tanya Andrew berpura pura


“sejak pesta pernikahanku kau tampak ingin mendekati mommy lagi, aku sependapat dengan kakakku” kata Jonathan, nada bicara Jonathan lebih lunak tidak sekaku Derren.


“jangan mengacaukan keluarga kami, kami cukup bahagia dan harmonis daddy” Jonathan mendentingkan gelas anggurnya pada gelas yang di pegang ayahnya dan meminum isinya.


Kemudian suasana menjadi sangat canggung, tidak berapa lama Keiko menghampiri Jonathan, ia bersama seorang pria tampan dengan manik mata berwarna hazel.


Di lihat dari postur tubuhnya pria itu adalah seorang model,


“oniisan dimana mommy dan daddy?” tanya Keiko


“mereka menidurkan Crystal” jawab Jonathan “ada apa?”


“ti tidak” jawab Keiko gugup


“Kei siapa dia?” tanya Jonathan karena itu pertama kali Keiko membawa seorang pria ke tengah tengah keluarga mereka.


“Philip... kenalkan... dia kakakku Joe” kata Keiko


“philip” kata pria itu memperkenalkan diri mengulurkan tangan pada jonathan dan andrew bergantian.


Jonathan menatap Keiko


Jonathan menatap Keiko menyelidik, keiko segera menarik Philip dan membawanya menjauhi Jonathan.


“besok pagi saat sarapan aku akan mengenalkanmu pada seluruh keluargaku” kata Keiko pada Philip.


Pesta telah berakhir, tentu saja Olivia lelah karena gaun pengantin itu begitu ketat di bagian perut dan juga sepatu tingginya membuat kaki Olivia sedikit kram.


Di kamar hotel president suite room yang mereka tempati, Derren sedang memijat kaki istrinya.


“Bagaimana Sayang? Apa masih pegal?” tanya Derren sambil tangannya memijat


“sudah lebih baik terima kasih suamiku”


“jangan sungkan, katakan jika masih ingin ku pijat” Derren mengelus kaki jenjang Olivia


Olivia terkekeh, ia melihat seringai wajah suaminya yang akan meminta imbalan dari pijatannya. pijatan suaminya tidaklah gratis ada harga mahal yang harus di bayar!!!!


“aku tidak meminta imbalan, tenang saja istriku” goda Derren, ia mengerti apa yang Olivia takutkan


“Derren bisakah kau berlaku tulus dan ikhlas padaku?” tanya Olivia bersungguh sungguh


“aku sangat tulus, kau saja yang berprasangka buruk” Derren menjawab dengan tenang, ia terus mengelus kaki jenjang Olivia dengan lembut, namun menatap Olivia dengan tatapan lapar, tangannya kemudian menyibakkan gaun tidur Olivia yang terbuat dari sutra.


“Derren aku baru saja meminta kau untuk berlaku tulus padaku” protes Olivia


“salahkan kakimu yang begitu indah ini Olivia mereka menggodaku”


“Derren aku lelah” keluh Olivia, ia terlalu banyak berdiri dan berdansa.


“kau tidak perlu bekerja, aku suamimu yang akan bekerja” bujuk Derren “kau cukup diam dan menikmati hasilnya oke?”


“kau sudah berhasil, Crystal hasil kerja nyatamu” kekeh Olivia


“aku ingin menghasilkan karya yang lain”


“Derren....” bibir Olivia telah di ***** oleh suaminya, jari jemari Derren telah bergerilya, menyingkirkan semua penghalang, tanda kepemilikan telah di taburkan di tubuh Olivia, rupanya Derren telah begitu lama menahan pembuatan tanda kepemilikan karena kendala gaun pengantin yang akan Olivia kenakan dan malam itu ia membuat kiss mark sesuka hatinya.


----


“Crystal jadilah gadis baik bersama necan ya” kata Olivia pada putrinya. Ia akan pergi berbulan madu ke Shirakawago.


Gadis kecil itu mengangguk


"kalian nikmati saja bulan madu kalian, tenang saja ada Kenzo dan Daddy mengurus Crystal" kata Livia


"maaf momjy kami merepotkanmu" kata Olivia


"tidak ada tang merepotkan" kata Livia, ia memang tidak merasa di repotkan bahkan jika di izinkan Livia lebih senang jika Crystal tinggal di rumahnya.



“Derren... ingat pesan mommy, jangan kembali sebelum adik untuk Crystal berhasil” bisik Olivia namun masih terdengar oleh semua yang ada di ruangan itu.


Olivia memerah karena kata kata ibu mertuanya


“mommmy tenang saja, aku akan membuatnya sebanyak mungkin” kekeh Derren.


Ya Derren agak tidak sependiam dulu lagi, terkadang ia sedikit bercanda.


Mereka bbahkan menggunakan transportasi umum menumu Shirakawa! Olivia menanyakan kepada Derren mengapa mereka harus pergi ke Shirakawago Derren hanya mengatakan ingin melihat salju, bukankah di London mereka sudah melihat salju ribuan kali???


Benar benar suaminya semakin aneh di mata Olivia.


“Derren kenapa kita tidak membawa mobil saja?” tanya Olivia


“mama kita belum pernah menikmati liburan berdua bukan? Dulu Kita hanya sibuk belajar dan setelah ini kita pasti akan sibuk bekerja, kita harus manfaatkan waktu 1 minggu ini dengan baik” kata Derren,


'lagi pula siapa yang akan sudi menyetir 6 jam??? yang benar saja Olivia!!!' batin Derren


Olivia tersenyum, memang benar mereka menghabiskan masa pacaran mereka dulu dengan membaca tumpukan buku dan tugas, Olivia menyandarkan tubuhnya dengan nyaman di bangku kereta, mereka akan menempuh perjalanan selama 5 jam 13 menit dan melanjutkan dengan naik bus dengan membawa koper berukuran cukup besar karena Olivia membawa begitu banyak peralatan wanita dan pakaian ganti.


“tidurlah jika mengantuk, akan ku bangunkan nanti saat kita sampai”


“apa kau pernah datang ke Shirakawa?” tanya Olivia lagi


“tentu saja belum, aku menghabiskan seumur hidupku hanya untuk membaca buku” kata Derren sambil tersenyum “mulai sekarang saat libur ayo kita pergi ke mana saja kau ingin, bagaimana?” Derren meminta persetujuan Olivia


“baiklah” tentu saja Olivia setuju karena hidupnya juga seperti Derren, walaupun ia tak sekutu buku Derren namun ia juga hanya belajar dan belajar karena ia tau ia memang tak secerdas Derren dan di masa lalu ia tidak ingin di ejek oleh Derren.

__ADS_1


“sayang, apa kau memiliki pacar saat sekolah menengah?” tanya Derren tiba tiba


Olivia justru tertawa pelan “menurutmu?”


“aku tidak tau” kata Derren sambil meraih jari jemari Olivia dan memutar mutar cincin pernikahan yang melingkar di jari manis Olivia


“ya, dulu ketika sekolah menengah atas ada beberapa siswa yang mendekatiku”


“kau menerimanya?”


Tanpa di duga Olivia mengangguk


“jadi aku bukan yang pertama menciummu?”


“Derren, kau tidak pernah tinggal di Indonesia, remaja di sana tidak melakukan kiss dan sex bebas, pacaran gaya mereka sederhana, meskipun tidak semuanya”


“apa hal seperti itu tidak membosankan?”


“bagaimana kalau kita coba? Kau hanya boleh memegang tanganku?” tanya Olivia


“jadi dulu kau berpegangan tangan?” tanya Derren dengan wajah muram dan tatapan mata tidak suka


“itu sudah masa lalu, kau benar benar tidak masuk akal, aku tidak tau itu cinta, mungkin hanya sebatas suka atau cinta monyet yang jelas kau yang pertama menciumku” kata Olivia menjelaskan, wajahnya memerah.


“jika aku bertemu mantanmu akan ku potong tangannya yang berani menyentuh tanganmu” guman Derren


Olivia terkekeh


“kenapa kau tertawa?”


“kau sedang cemburu? Lucu sekali”


Derren ,menatap wajah Olivia, gemas.


“kenapa memandangiku seperti itu?” Olivia protes


“aku sangat mencintaimu” kata Derren sukses membuat Olivia memerah


“jangan menggodaku Olivia”


“siapa yang menggodamu?”


“wajahmu memerah?”


“lalu kenapa jika wajahku memerah?” protes Olivia


“aku ingin memakanmu, sekarang. Ini menyiksa” derren membenarkan posisi duduknya karena bagian kecil dari dirinya terbangun dan terkekang oleh celana jeans yang ia kenakan. Rasanya sangat tidak nyaman


“kau bisakah tidak mesum?” sungut Olivia


“Olivia” Derren menggeram di telinga Olivia


Secepat kilat Olivia menutup wajah dan kepalanya menggunakan syal yang melingkar di lehernya dan memasang bantal lehernya lalu berpura pura memejamkan matanya. Ia harus melarikan diri dari pria yang begitu mesum.


Di tokyo Livia sedang bersiap siap


“hubby, ayo cepat” teriak Livia


“kapan lagi membawa Crystal berlibur?”


“kenapa harus ke Kyoto?” tanya Naoki heran, mereka baru saja ke Kyoto beberapa bulan yang lalu


“ke mana lagi?” tanya Livia


“baiklah terserah kau saja” Naoki hapal, jika Livia meminta ke Kyoto permintaanya tidak bisa di tawar lagi.


“hubby buatkan satu rumah di Kyoto” pintanya Livia tiba tiba


“tidak masalah, tapi apa kau yakin akan menghabiskan masa tua di sana? Pikirkan masak masak” kata Naoki dengan tenang “anak anak sekarang kembali di Tokyo, keiko juga mungkin jika ia merasa cukup dengan dunia keartisannya ia akan kembali ke sini dan Kenzo juga pasti kembali ke karena seluruh perusahaan Yamada akan ia ambil alih kelak” lanjutnya


Livia berpikir sejenak


“baiklah tidak perlu, tapi ayo sekarang kita bawa Crystal ke sana”


“kau tidak sabaran sekali, aku masih ada meeting hari ini, bagaimana jika besok saja?”


“hubby kasihan lihat Crystal kesepian” Livia beralasan dengan alasan tsng sangat tidak masuk di akal bahkan anak berusia 10 tahun pun tau itu tidak masuk akal!!


“dia tidak kesepian, aku akan membawanya ke perusahaan di sana Crystal tidak akan kesepian” Naoki hapal betul sifat istrinya, ia melebih lebihkan sesuatu demi kepentingannya meminta persetujuannya pergi ke Kyoto secepatnya!!!


Livia cemberut namun Naoki tidak peduli, ia mendekati Crystal


“Crystal apa kau mau ikut granddad?”


Gadis kecil itu mengangguk


“ayo, kita pergi ke perusahaan granddad” ajak Naoki dan Crystal langsung menempel di bahu Naoki.


"let's go granddad....!" seru Crystal senang


“hubby kau mencuri crystal dariku!” keluh Livia


“kau bersiap siaplah, tunggu aku selesaikan meeting” kata Naoki, ia benar benar membawa Crystal ke perusahaan. Jika tidak demikian bisa di pastikan Livia akan membawa Crystal ke kyoto tanpa dirinya, itu tidak biza di benarkan karena malamnya ia akan tidur sendiri dan itu rasanya tidak menyenangkan!


Di perusahaan semua karyawan tepana melihat boss besar mmereka menggandeng seorang anak kecil berambut coklat yang di kuncir dua, rambut kerintinya bergoyang goyang saat gadis kecil itu melangkah dan sesekali melompat lompat.


Semua orang tau gadis mungil itu adalah Crystal! Keiko selalu memamerkan gadis kecil itu di media sosialnya.


“kawaii...” jerit para gadis yang melihat Crystal


Naoki dengan bangga dan sabar menggandeng tangan mungil itu meskipun ia harus sedikit membungkuk.


Mereka memasuki ruang kerja Naoki, crystal dengan patuh mengikuti instruksi kakeknya duduk dan menggambar di atas kertas. Sednagkan naoki mulai membuka laptopnya dan bekerja.


Tidak lama sekretarisnya datang.


“sir kata nanny nona Crystal ini waktunya ia minum susu” sekretaris itu menyerahkan sebotol susu formula pada Naoki

__ADS_1


“tapi ia tidak memintanya, lihat dia sedang sibuk” kata Naoki menunjuk Crystal yang sedang mencoret coret setumpuk kertas.


Sekretaris itu tidak bisa berjata apa apa ia juga tidak memiliki pengalaman menbgurus anak kecil karena itu adalah tugas istrinya di rumah.


“Dan sir rapat di mulai 5 menit lagi”


“tunda rapatnya, kau belikan dulu pensil warna untuk Crystal lalu siapkan rapatnya” kata Naoki “oh iya, bawa susu dan alat gambarnya ke ruang rapat” katanya lagi


“baik sir” kata sekretarisnya


Akhirnya rapat di mulai dengan seorang gadis kecil duduk sambil menggambar dan berceloteh di meja direktur mmereka, beberapa dari mereka meminta izin untuk mengambil foto Crystal dan Naoki tidak keberatan.



"granddad, apa warna kelinci?" tanya Crystal memecah keheningan


"kelinci berwana putih" jawab Naoki


Crystal melanjutkan mencoret coret kertas bergambar kelinci didepannya


30 menit kemudian gadis kecil itu mersasa bosan dan merengek, Naoki tidak ingat lagi nagaimana ia dulu merawat bayi Keiko dan Kenzo karena itu telah sangat lama berlalu.


Akhirnya ia meminta sekretaris menggantikan posisinya memimpin rapat, ia memangku Crystal dan memberinya susu, rapat terus berlanjut sedangkan Crystal meringkuk tertidur siang di pangkuannya.


SHIRAKAWA


“Derren tempat ini sangat dingin” keluh Olivia, pipinya memerah, bukan karena merona bahagia tapi benar benar sangat dingin “ssebarusnya kita oergi ke bali atau maldives saja, kau seprti tidak pernah melihat salju di london”


“kita akan ke bali saat nanti baby moon seperti joe dan Tiffany” jawab Derren sambil memeluk Olivia yang kedinginan “aku akan menghangatkanmu”


Olivia mendengus kesal, ia baru saja mengerti mengapa pria mesum yang tak lain suaminya itu mengajaknya berbulan madu di daerah yang penuh dwngan hamparan salju!!!


Apa lagi?


Suaminya itu hanya ingin menepel padanya.



“Derren kenapa kau sangat suka menempel padaku?” tanya Olivia sebal, ia tidak menyangka Derren seperti permen karet sekarang


“Olivia aku ingin menebus watu bersamamu yang terlewatkan, apa aku salah?”


Ada pahit menjalari perasaannya setiap kali ia memgingat 3 tahun yang suram itu, Olivia menyandarkan kepalanya dindada suaminya.


“kita akan menebusnya bersama, perlahan lahan, aku takut kau bosan padaku jika kau terlalu memforsis cintamu seperti ini” kata Olivia lirih, ia takut Derren bosan padanya.


“Olivia, di dunia ini sejak kecil hanya kau satu-satunya orang yang menarik dimataku”


“jadi sekarang kau mengakui bahwa kau jatuh cinta padaku sejak kita kecil?” tanya Olivia semvari mendongakjan wajahnya


“sayangnya iya, aku telah memikirkannya sepertinya kita telah terikat takdir, bukan karena hal lain”


Olivia menangkup pipi Derren dengan kedua tangannya


“apa kau masih memiliki hal lain untuk di akui?” Olivia telah mencurigai sesuatu...


“aku akan mengaku, baiklah” kata Derren sambil menangkap kedua telapak tangan Olivia yang berada di pipinya dan menghirup aroma istrinya. “dengarkan aku, aku hanya akan mengatakannya sekali, tidak ada pengulangan”


Olivia mengangguk


“pertama aku menciummu saat kau mabuk di Tokyo" Derren berhenti sejenak memandangi wajah Olivia


"aku sudah tau"


"dari mana kau tau?"


"aku menebaknya, kau sering membuatku mabuk karena kau ingin melecehkanku" sungut Olivia


Derren terkekeh, "kau memabukkanku Olivia, kedua saat kita putus aku sering datang ke London untuk melihatmu dari kejauhan”


Jantung Olivia berdesir, rasanya sakit juga bahagia...


“kenapa tidak mengejarku?” air matanya telah jatuh


“aku sangat takut kau menolakku, kau juga terlihat sangat bahagia dan tubuhmu berisi, kupikir kau....”


“Derren selama itu aku sangat tersiksa, aku merindukanmu, aku tak mampu membencimu” isaknya


“Olivia maafkan aku, aku menyakitimu... aku akan menebusnya oke?”


Olivia mengangguk, “Derren aku sangat mencintaimu”


“aku lebih mencintaimu, aku tidak bisa jika harus hidup tanpa mu lagi”


“tidak akan” jawab Olivia, “Derren selama di sini ajari aku bahasa Jepang” pinta Olivia jauh dari harapan Derren, bukankah sekarang mereka sedang dalam suasana romantis?


“sayang, kita di sini bukan untuk belajar” sungut Derren


“kau bilang padaku apa pun untukku Oliviaku” Olivia menagih janji Derren dengan gaya Derren yang selalu mengatakan "apa pun untukmu Oliviaku"


“baiklah tuan putri, kau menang tapi malam ini kau harus membayar guru bahasa jepangmu dulu”


“tidak ada pembayaran di muka”


“kalau begitu adakan”


Olivia tertawa.


Dan hari pertama Olivia mendapatkan pelajaran bahasa Jepang di Shirakawa-go dari Derren adalah kata “kimochi”


*kimochi \= yang tau maksudnya tolong kasih tau yang lain ya (by author)


Derren selalu membisikkan kata itu setiap ia menggeram karena nikmat dan setiap ia mendapatkan puncaknya, Olivia benar benar merasa ia terus di perdaya suaminya.


PASTI YANG GAK TAU AUTO PADA GOOGLING 😅😅😅


TAPI AUTHOR YAKIN SIH LEBIH BANYAK YANG TAU DARI PADA YANG ENGGAK.

__ADS_1


HARI INI AUTHOR NASIH LELAH, JADI AUTHOR UPDATE 1 DULU YA 😭😭😭


LELAH JIWA RAGA 😋😋😋


__ADS_2