Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
#Series 34


__ADS_3

Paginya Olivia terbangun karena aroma segar mint menyeruak ke hidungnya. Ketika Olivia membuka mata wajah Derren begitu dekat dari wajahnya.


“mama kau sudah bangun? Ayo kita sarapan” goda Derren pagi itu


Olivia segera menjauhkan wajah Derren dengan kedua telapak tangannya.


“kenapa kau masih di sini?” guman Olivia


“kenapa? Ini rumah kita” kata Derren santai


Olivia membuka matanya lebar lebar mengumpulkan kesadarannya, ia berada di ruangan yang tak asing namun bukan kamar apartemennya, ini kamarnya bersama Derren 3 tahun tang lalu, apartemen yang di beli Derren atas nama Olivia.



“kau! kapan pembawaku?” Olivia melotot tidak senang


“kau tidur seperti bayi, jadi kau tidak merasa aku membawamu?”


“aku mau pulang, dimana Crystal?”


“ini rumahmu, rumah kita, kau mau pulang ke mana?” tanya Derren sambil memainkan ujung rambut Olivia


“ini bukan rumahku”


“iya ini rumah kita”


“Derren...!”


“iya sayangku”


“di mana Crystal?”


“Crystal, dia sedang sarapan”


‘Sarapan?’ Batin Olivia


“mama ayo kita sarapan” goda Derren


Olivia cemberut, Derren mengecup bibir Olivia dengan lembut.


Olivia buru buru turun dari ranjang, ia takut terbuai kembali oleh pesona Derren. Setelah mencuci wajahnya Olivia menuju ruang makan dan mendapati Keiko dan Lelya asistennya, mereka berdua sedang menyuapi Crystal yang sedang duduk di baby chair berwarna pink dan mereka tampak kesusahan membujuk Crystal untuk membuka mulutnya.


“Kei biar aku saja” Kata Olivia sambil mendekati Crystal


Keiko menyerahkan mangkuk bubur itu pada Olivia tanpa berbicara sepatah kata apa pun.


“ayo anak baik, kau harus makan, setelah ini kau bisa pergi ke taman bersama uncle Theo”


“kel eoooo?” tanya Crystal


“kau suka bermain bersamanya bukan?”


Crystal mengangguk


“buka mulutmu sayang” dan dengan cepat makanan itu telah berpindah seluruhnya ke dalam perut Crystal


Derren memicingkan matanya, tidak suka! Bagaimana pun ia tidak suka, ia cemburu karena putrinya begitu dekat dengan pria lain!!! rahangnya mengeras.


“nah, Crystal good girl, ayo kita bersihkan wajahmu dan kita pulang, mama harus bekerja”


“kel eoooo” seru Crystal


“iya iya” kekeh Olivia sambil membawa putrinya ke wastafel untuk membersihkan sisa makanan di wajah Crystal, kemudian menuju kamar karena ia enggan berdebat dengan Derren di depan Keiko.


Derren mengikuti Olivia yang masuk ke dalam kamar dengan pandangan mata dingin.


“Crystal ikut papa ya, kita beli mainan” Derren merayu putrinya, bagaimanapun putrinya tidak boleh menyayangi pria lain selain dirinya, ia harus jadi pria nomer 1 di mata Olivia dan Crystal.


“papa papa ayo beli mainan” Crystal meronta ronta dan berpindah ke bahu Derren


Derren menyeringai penuh kemenangan


“Crystal kita harus pulang, mama harus bekerja” kata Olivia menahan kekesalannya


“no mama no, i wan’t...!” tolak Crystal, lengan mungilnya melingkar erat di leher Derren seperti tentakel gurita.


“aku akan mengantarmu bekerja” kata Derren


“tidak perlu” tolak Olivia, ia tak bisa meninggalkan Crystal di tangan Derren dan tidak akan pernah!!!


“mulai saat ini tinggal disini, aku akan mengurus kalian berdua, tidak ada bantahan” Derren duduk di sisi ranjang sambil menciumi putrinya


“Derren jangan seenaknya” Olivia tidak terima


“Olivia jangan membantahku terus atau aku bawa Crystal ke Tokyo dan kau tidak akan bisa bertemu dengannya lagi” ancam Derren


“kau ingin mengambil keluargaku satu-satunya? Kau benar benar heartless!!!” tangis Olivia sontak pecah.


Derren membeku, ia tidak sungguh sungguh menggertak Olivia, itu hanya reflex, 'jadi selama ini gadis ini ralat wanita ini selalu merasa ia hidup sendiri? Sejak kapan ia menjadi seperti ini?' batin Derren menyesali ucapannya yang membuat Olivia menangis


“Crystal kau main sama aunty Keiko dulu ya sayang” kata Derren lembut sambil membawa Crystal keluar dan menyerahkan Crystal pada Keiko.


Dan secepatnya kembali ke ksmar untuk membujuk Olivia


“Olivia, menurutlah, kumohon biarkan aku merawatmu dan Crystal, dia putriku”


“dia putriku bukan putrimu, aku yang mengandungnya, aku yang melahirkannya, aku yang merawatnya, kau? Kau dimana saat itu?” suara Olivia meninggi bahkan mungkin di luar Keiko bisa mendengarnya.


“maafkan aku, maafkan aku, Olivia aku rau ini semua salahku, aku janji akan menebusnya oke? Beri aku kesempatan, kumohon Olivia” Derren menggenggam telapak tangan Olivia, berkali kali menciuminya.


“Derren cukup, oke aku akan memberikanmu hak untuk bertemu Crystal, tapi tolong biarkan kami pulang” Olivia berusaha menarik telapak tangannya seolah tidak ingin di sentuh oleh Derren.


“tidak, kalian harus tinggal disni, Olivia tempatmu itu di sisiku”


“Derren aku tidak bisa” air matanya terus mengalir di pipi putihnya


“give me a reason” Derren menatap lembut mata Olivia yang sembab


“aku tidak bisa” jawab Olivia sambil dengan kasar menyeka air matangya dengan punggung telapak tangannya


“Satu saja alasanmu, kenapa tidak bisa?”


“aku tidak ingin bersamamu” Olivia membuang pandangannya


“tapi aku ingin bersamamu, bersamamu dan Crystal” kata Derren lembut dan meraih dagu Olivia menatap lembut wajah Olivia


“aku tau kau masih mencintaiku, kau masih ingin bersamaku” kata Derren lagi


“kau terlalu percaya diri” guman Olivia

__ADS_1


“aku masih seperti dulu Olivia, mencintaimu, sangat mencintaimu”


Olivia menatap mata Derren mencari kebohongan, meskipun tak menemukannya Olivia tetap memalingkan wajahnya.


‘bohong! Jika kau mencintaiku kau tidak tidur dengan Merry!!’ bayangan Derren tidur dengan gadis berambut pirang itu berkelebat di otak Olivia


”Olivia, beri aku kesempatan menebus semua kesalahanku, ku mohon…” pinta Derren dengan suara sangat rendah


Olivia hanya diam, air matanya terus membanjiri wajahnya.


Derren meraih dagu Olivia kembali kali ini Derren menciumi pipinya, menyeka air matanya dengan kembut, lalu mencium kelopak mata Olivia, alisnya hidungnya lalu beralih ke bibirnya. lembut, lembut dan lembut, tidak ada gairah awalnya namun berubah penuh nafsu dan kerinduan yang dalam. Olivia mulai menikmatinya, dan tidak tau bagaimana tubuh Derren dan dirinya telah bersatu. Pelan, menghentak penuh irama, terkadang lembut, namun terkadang kasar, hingga mereka bersama sama sampai pada puncaknya.


“Olivia.... aku mencintaimu”


Derren memeluk tubuh Olivia, menciumi bahu telanjang Olivia.


“Derren aku harus bekerja”


“tidak perlu”


“tapi...”


“aku akan mengurusnya”


“aku harus mendapatkan izin praktekku secepatnya”


“kau akan mendapatkannya, kapan kau mau?”


“itu curang”


“tidak ada kecurangan, kau akan praktik di rumah sakit milikku sendiri dan aku dokter yang mengawasimu di mana letak kecurangannya?”


‘rumah sakit miliknya?’ tapi Olivia enggan bertanya ‘apa peduliku?’


Olivia enggan berdebat, ia sudah cukup lelah dengan olah raga paginya dan juga emosinya sejak tadi malam.


“mandi dan bersiaplah, setelah sarapan kita berbelanja semua keperluanmu dan Crystal, nannynya akan datang hari ini dan pelayan yang akan mengurus tempat ini juga”


“jadi kau tinggal di London lagi?”


“untuk sementara, ada yang ku urus disini”


Bibir Olivia terkatup rapat, ’pasti untuk bertemu Merry’ batinnya.


Untuk pertama kali Olivia dengan leluasa pergi berbelanja bersama Crystal, seperti beban berat yang menghimpit dadanya terangkat begitu saja. Mereka juga makan siang bertiga di sebuah restoran, selayaknya keluarga muda yang bahagia.


Ketika keluarga kecil itu kembali Olivia terkejut karena barang barang di kamarnya telah berubah, dari keperluan Crystal, keperluan dirinya dan juga barang barang lamanya di apartemen yang ia sewa semuanya telah tersusun rapi. Jika sudah begini mau tidak mau Olivia harus tinggal bersama Derren.


Ia tiba tiba teringat Miranda,ia harus memberitahu Miranda dan Theo, tidak bisa begitu saja pergi dari mereka, Tapi Olivia ingat ia tak memiliki ponsel lagi, sepertinya ia harus pergi langsung mencari Miranda ke rumah Louis atau ke Klinik tempat Mirand bekerja.


“Derren, dimana kunci mobilku? Aku harus bicara dengan Miranda”


Derren yang sedang menidurkan Crystal di dadanya memberi kode agar Olivia mengecilkan suaranya


“telfon saja sayang” kata Derren berbisik pelan agar Crystal tidak terganggu


“aku tidak memiliki ponsel” guman Olivia dengan mimik konyol ia memang sengaja tidak membeli benda itu karena benda itu yang membuat keberadaannya berulang kali di lacak oleh Jonathan! Meskipun akhirnya ia juga di lacak kembali melalui laptopnya.


Derren memindahkan tubuh putrinya di atas ranjang kamar yang secepat kilat di desain untuk Crystal. Lalu memberikan perintah pada nannynya untuk menjaga selama putrinya tidur.


“kau perlu ponsel? Mmmmm?” tanya Derren sambil menggoda Olivia, ia menciumi pundak Olivia penuh kasih sayang


“yang lainnya?”


“hanya itu”


“apalagi yang kau butuh kan?”


Olivia hanya memutar kedua bola matanya dengan enggan, Derren menarik laci dan mengeluarkan sebuah ponsel baru.


“Mrs. Tjiptadjaja ini kunci mobilmu”


Itu kunci masseratinya yang dulu!!!


Olivia membeku


“nanti kita ganti masseratimu, kau ingin apa?” tanya Derren lembut


“tidak, aku ingin Expanderku saja” jawabnya acuh


“mulai sekarang kau pakai sopir”


“aku tidak mau”


“kalau begitu pakai bodyguard”


“Derren itu berlebihan” protes Olivia, ia mulai merasa di perlakukan seperti tawanan.


“baik, kalau tidak mau, kau di rumah sepanjang hari, tidak boleh pergi kecuali bersamaku”


“kau kenapa jadi pengatur? Aku tidak akan lari, aku janji”


“kau cukup ikut aturanku saja mama” goda Derren sambil memberikan ponsel di tangannya pada Olivia.


“kode aksesnya tanggal lahir kita” kata Derren


Olivia mencobanya dan berhasil.


“dan kau melupakan barangmu ini” Derren merogoh saku celanya lalu memakaikan kalung dengan liontin angsa di leher Olivia “kau akan ku hukum jika berani melepasnya lagi sayang” kata Derren serius


Olivia kembali membeku. 'Derren masih menyimpan kalung itu, tapi dimana cincinnya???' Ada sedikit kekecewaan dalam hati Olivia.


Hari itu ternyata Miranda dalam jadwal yang padat, jadi Olivia menunda untuk bertemu sahabat baiknya itu.


Besoknya masih pagi ketika Olivia memarkirkan masseratinya di depan toko bunga milik keluarga Theo


“Olivia, lama tidak berjumpa” sapa seorang wanita setengah baya, itu adalah ibunya Theo yang bernama Therecia


“tante aku merindukanmu” kata Olivia sembari memeluk wanita itu


“aku juga, oh musim dingin akan segera tiba, apa kau sudah menyiapkan baju hangat untuk Crystal? Aku sedang merajut beberapa sweater untuknya”


“tante kami selalu merepotkanmu” kata Olivia merasa tidak nyaman



Tangan Olivia mulai membantu merangkai bunga bunga di depannya dan menjadikannya sebuah bucket, ia biasa melakukan ini setiap kali datang ke toko bunga milik ibunya Theo ia akan dengan suka rela membantu memilah milah batang bunga untuk di sortir.


“Crystal itu ku anggap cucuku sendiri, kau juga ku anggap putriku sendiri, tidak perlu sungkan” kata Therecia “sayang sekali Theo memiliki jalan pikiran sendiri, andai ia normal aku sangat senang jika kalian bisa menikah”

__ADS_1


“tante aku yakin suatu saat akan ada jalan terbaik untuk Theo” kata Olivia sopan “oh iya tante, bunga mawar hitam ini?”


“oh itu, itu pesanan untuk besok”


“kasian sekali yang di kirim bunga ini”


*mawar hitam di artikan untuk kematian, berkabung, dendam dan kebencian.


“ya, begitulah, kadang hati manusia terlalu sulit ditebak”


Olivia memasukkan satu persatu bunga mawar hitam ke dalam vas bunga yang berisi air yang telah di beri obat untuk mengawetkan kelopak bunga.


Setelah bunga bunga tersusun rapi di vas Olivia menuju sebuah cafe tepat di samping toko bunga itu, itu adalah cafe milik Theo.


Theo adalah seorang sarjana ekonomi meskipun ia lulus dari Oxford University namun ia memilih tidak bekerja, ia telah lama menekuni usaha di bidang cafe, dan usaha usaha kecil lain. Namun usahanya semua termanajemen dengan rapi dan tampak maju, Olivia duduk dengan santai di cafe tersebut hingga Theo menghampirinya.


“wajahmu tampak bersinar, seperti ada lampu 100watt didahimu”


“omong kosong” jawab Olivia sambil terkekeh.


“ada apa?”


“Theo, Derren mengajakku tinggal bersama” kata Olivia memuai Obrolannya


“itu bagus, Crystal akhirnya bersama ayahnya”


“tapi... bagaimana jika Merry tau, dia akan marah padaku, kekasihnya...”


Theo menjentikkan jarinya di antara alis Olivia


“kau naif sekali Olivia” ejek Theo “ia pernah sekali mengambil kekasihmu, sekarang saatnya kau balas dia”


“kau tidak tau rasanya patah hati Theo, kasihan Merry”


“kau ini kenapa Olivia? terlalu baik hati...” ejek Theo


“ini masalah perasaan”


“lebih baik kau pikirkan dirimu sendiri, kau memiliki ikatan bersama Derren percayalah, ia pasti akan lebih memilihmu”


“itu namanya terpaksa”


“kadang cinta memang harus di paksakan”


“kau ini”


“Olivia kau masih mencintai Derren?”


Olivia mengangguk tapi kemudian ia menggeleng dengan cepat


“tidak maksudku tidak” ia berkilah


“aku yakin jawabanmu pertama yang benar, ikuti kata hatimu, kau bisa memenangkan hati Derren, jika tidak dengan dirimu maka gunakan putrimu”


“tapi....”


“kembalilah, aku malas mendengarkan curhatmu, aku bukan guru bimbingan konseling” Theo tertawa ringan, “oh iya aku rindu Crystal, bagaimana ini?”


“Datanglah ke tempat tinggal kami”


“tidak suamimu menakutkan” kata Theo terkrkeh


“dia bukan suamiku Theo”


“lalu apa?”


“entahlah.....” Olivia mengangkat kedua bahunya, “baiklah akan aku bawa Crystal ke sini nanti”


Olivia melangkah pergi dari cafe milik Theo, ia memutuskan untuk singgah di supermarket dan membeli beberapa bahan makanan dan cemilan untuk Crystal.


Malamnya Olivia membuat beberapa hidangan, masih seperti dulu setiap membuatkan makan malam hampir semua yang di buat oleh Olivia adalah makanan kesukaan Derren.


Derren menyeringai penuh kemenangan, ia tau Olivia meskipun selalu ketus padanya, hatinya tetap masih di menangkan oleh Derren.


Derren memutar fettuccine di piringnya mengguankan garpu kemudian melahapnya dengan penuh kebahagiaan, masakan Olivia semakin meningkat rasanya, entah karena memang keterampilannya semakin baik atau karena Derren begitu bahagia setelah 3 tahun dapat kembali menyantap masakan gadis pujaannya.


”sepertinya kita bisa membuka usaha restaurant western di Tokyo, atau kita masukkan beberapa menu dari resepmu di restauran hotel milik kita nanti” kata Derren serius


Olivia tidak menanggapi kata kata Derren, ia makan dengan acuh dan menambahkan bubuk cabe dan lada di piringnya hingga fettuccine di piringnya memerah, bahkan bibirnya memerah tampaknya ia kepedasan.


”Olivia, makan pedas berlebihan tidak baik untuk lambungmu” Derren mengingatkan.


Olivia masih tidak menghiraukan Derren


”minum” Derren meletakkan segelas air putih di depan Olivia, Derren tau Olivia sedang kesal ia sengaja menumpahkan bubuk cabe untuk melampiaskan kekesalan hatinya.


’keras kepala!’ batin Derren gemas pada Olivia yang masih terus memakan fettuccine pedasnya, kehilangan kesabaran Derren mengambil alih piring Olivia.


”Derren aku belum selesai...!”


”ini terlalu pedas”


”itu tidak pedas” protes Olivia


”warnanya merah dan…” Derren mengendus isi piring itu ”bau cabenya saja menyengat”


”kembalikan!” Olivia melototot galak


Derren membuang fettuccine itu beserta piringnya kedalam bak sampah.


Ia kemudian membuka lemari pendingin dan membuat 2 buah burger dengan hiasan gambar hello kitty yang ia buat dari saus dan mayonese di atas rotinya.


lalu menghidangkannya pada Olivia.


”nanti akan ku cari saus yang berwarna pink untuk membuat hiasan yang lebih baik” kata Derren penuh keyakinan.


Olivia ingin tertawa terbahak bahak dengan perilaku Derren yang kekanakan tapi sekuat tenaga ia tahan, ia memakan burgernya dengan ekspressi cemberut meskipun di dalam hatinya sangat bahagia!!!



ANGGAP ITU BURGER YANG SEPERTI DI IMAGINASI AUTHOR!!!


AUTHOR UDAH GOOGLING MUTER MUTER GAK DAPAT BURGER HELLO KITTYNYA 😭😭😭


DASAR OLIVIA 😄😄😄


OH IYA PART SEBELUMNYA KALIAN WAJIB BACA ULANG KARENA ADA YANG AKU REVISI ADA YANG KUHILANGKAN DAN KU TAMBAHKAN 😆😆 MOHON MAAF KARENA SALAH SETING JAM DAN AMBURADUL 😄😄😄


TAP JEMPOL KALIAN 😙😙😙😙

__ADS_1


__ADS_2