Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
15


__ADS_3

Mereka sampai di butik tempat Livia memesan kebayanya Livia meminta Andrew untuk menunggu di mobil, butik itu cukup terkenal di kalangan para artis dengan harga yang fantastis, pemiliknya adalah seorang pria yang lentur layaknya wanita Livia mengenal pemiliknya karena biasa berjumpa di club ketika Livia masih tinggal di Jakarta ia bahkan dapat memesan kebayanya hanya dengan memanggilnya melalui telfon dan mengirimkan ukuran tubuhnya melalui pesan teks.


 


 


Livia tidak perlu melakukn fiting berualang kali, ukurannya bahkan sudah tepat ketika Livia mencobanya sekali.


Tentu saja Livia mempunyai tubuh proporsional bak manequin sehingga sangat mudah membuatkannya gaun pesanannya.


 


 


Dengan sengaja Livia meminta izin dan mencoba gaun pengantin yang belum siap di butik itu dan mengambil beberapa foto dirinya dengan gaun itu, ia kemudian dengan iseng memposting di instagram storynya dengan hastag #bridetobe kemudian terkikik karena pasti ratusan pesan akan segera membanjiri isi pesannya.


 


 


Setelah selesai fiting kebayanya ia bergegas keluar dan masuk ke dalam mobil Andrew, wajah Andrew tampak gelap dan matanya enggan memandang Livia.


 


 


Ia baru saja melihat instagram story gadis ini sedang fiting gaun pengantinnya, tentu saja ia emosi.


 


 


“kita kemana lagi?”


 


 


“pulang ke apartemenku”


 


 


“aku akan tinggal di sana selama kamu di sini”


 


 


“apaan sih, enak aja mau numpang di apartemenku”


 


 


“aku beli apertemenmu”


 


 


“sombong banget sih bule setengah”


 


 


“bule jawa cerewet” jawab Andrew


 


 


Ia bergesas menginjak pedal gas mobilnya dan melajukan mobilnya ke arah apartemen yang di sebutkan Livia, Andrew benar benar menginap, ia bahkan memaksa Livia memberikan kode akses pintu apartemennya.


 


 


“aku akan masakin kamu selama kita tinggal disini”


 


 


“iya kan kamu numpang, harus tau diri dong” gurau Livia, dalam hatinya ia sangat senang bisa tinggal bersama Andrew lagi


 


 


“tapi kamu juga numpang di mobilku, kita impas kan”


 


 


“di mobil gak sampe 3 jam sehari, kamu di sini lebih 24 jam” hitung Livia


 


 


“pokoknya kamu harus nurut titik” jawab Andrew masa bodoh dengan hitungan Livia


 


 


“Livia mau makan apa, kita pesen di go food aja” kata andrew sambil duduk di depan tv


 


 


“katanya kamu mau masakin aku, gimana sih?” protes Livia


 


 


“udah kemaleman cerewet lagian kulkas kamu kaya baru beli, gak ada isinya”


 


 


“ya udah deh aku makan apa aja” Livia pasrah


 


 


“nasi goreng mau?” tanya Andrew


 

__ADS_1


 


“iiih gak mau, berminyak” Livia dengan tegas menolak


 


 


“ayam geprek mau?” tanya Andrew lagi


 


 


“gak mau pedes kamu mau bikin mulut aku kebakar? ” tolak Livia lagi tanpa melirik Andrew


 


 


“ngew** mau gak?” Andrew mulai kehilangan kesabarannya


 


 


“makanan apaan itu drew kayanya aku pernah dengar” sambil mengoles skin care malam ke kulitnya


 


 


“masa lupa sih kan udah beberapa kali” goda Andrew sambil memeluk pinggang Livia dari belakang


 


 


“dasar mesum, jangan macem macem drew aku laper, lemas banget mau pinsan nih” ancam Livia, memulai dramanya dan melemaskan tubuhnya hingga jatuh ke pelukan Andrew


 


 


“overacting banget sih Livia, kok calon suamimu tahan ngurusin kamu” jawab Andrew sambil menangkap tubuh Livia yang hampir menimpa tubuhnya


 


 


“itu perbedaan yang benar benar sayang sama yang pura pura sayang kaya kamu drew, udah ah buruan drew pesen makannya” desak Livia manja


 


 


“pesen sendiri” Andrew menyodorkan ponselnya pada Livia dan Livia mulai membolak balik aplikasi, sudah hampir setengah jam belum ada tanda tanda ia menemukan makanan yang di inginkan, akhirnya Andrew merebut ponselnya dan memilih secara acak, dan ketika makanan pesanan Andrew datang adalah burger dan kentang goreng, Livia marah marah karena ia ingin makan nasi. Tapi karena lapar ia tetap memakan burgernya.


 


 


“udah makan jangan cerewet bule jawa”


 


 


“bule galak” balas Livia


 


 


 


 


Andrew membelai lembut wajah Livia, menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya menjepitkan di belakang telinganya.


Andai gadis ini tidak melarikan diri dari hotel, mungkin ia telah menjadi miliknya sekarang. Memikirkan hal itu membuat Andrew frustasi, Andrew juga memiliki banyak mantan pacar sebelum bertemu dan melakukan one night stand dengan Livia, tapi Andrew benar benar terperangkap pada cinta pada pandangan pertama saat ia melihat Livia di club itu


 


 


Setelah puas memandangi Livia andrew baru tertidur jam 3 pagi, ia terbiasa bangun sebelum jam 6 walaupun ia tidur larut malam, namun setiap kali tidur bersama Livia sejak di kyoto ia bisa bangun saat matahari telah tinggi.


 


 


Dan hari itu ia terbangun ketika waktu menunjukkan pukul 9 pagi, ia bergegas membersihkan tubuhnya kemudian melangkkah keluar untuk berbelanja beberapa bahan untuk membuat sarapan.


Ketika andrew kembali livia masih tidur, andrew hanya menggelangkan kepalanya melihat tingkah gadis itu yang sama sekali tak mempedulikan kehadiran dirinya bahkan tidur dengan pulas tanpa memikirkan matahari telah tinggi.


 


 


Andrew membuat beberapa sarapan ala barat dan mengaturnya dengan rapi di meja makan, kemudian berjalan ke kamar dan mulai menggoda Livia untuk membangunkannya


 


 


“tuan putri, ayo bangun....” sapa Andrew dan menciumi pipi Livia


 


 


“ntar aja drew masih pagi”


 


 


“udah jam 10 Livia, anak gadis macam apa bangun tengah hari. Suamimu nanti mau kamu kasih makan apa?”


 


 


“suruh makan ke warung aja” jawab Livia dan membalikkan tubuhnya hingga tengkurap


 


 


“bangun atau aku ajak olah raga” kata Andrew sambil mulai **** Livia dan menggesek gesekkan benda keras ke pantat Livia


 


 


“mmmmmmmmm berat drew” keluh Livia

__ADS_1


 


 


Andrew meniup telinga Livia dengan lembut dan Livia reflek menutup telinganya dengan telapak tangannya


 


 


“Livia, aku udah bikin sarapan nanti keburu dingin” bisik Andrew


 


 


“1 jam lagi kumohon” pinta Livia


 


 


“oke 1 jam” kata andrew, Livia menghembuskan nafas lega baru saja tangannya ia hendak menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, selimut itu di jauhkan oleh Andrew. Bahkan bukan hanya selimut yang di jauhkan dari tubuhnya piyamanya juga dijauhkan dari tubuhnya oleh Andrew.


 


 


Livia dengan malas membuka matanya, namun tak urung ia menikmati olah raga paginya bersama Andrew di atas trmpat tidur itu.


 


 


Andrew tersenyum dan memeluk gadis di bawahnya, setidaknya ia dapat membaca hati Livia, Livia juga mencintainya, 'Andrew akan bersabar menunggu gadis ini datang sendiri untuk mengakuinya' batinnya, meskipun nanti gadis ini akan menjadi istri orang lain, Andrew bertekad akan merebutnya hanya menunggu saat yang tepat.


 


 


“udah?” tanya Andrew sambil memandang wajah Livia yang memerah “kita sarapan dulu, nanti kamu sakit lagi ku siksa sepanjang hari gak di kasih makan” Andrew melepas tautan mereka dan membawa Livia ke kamar mandi, dengan sabar ia membersihkan tubuh Livia, membersihkannya dengan teliti dan membilas dari shampo dan sabun.


 


 


Kemudian menutupi dengan handuk, seperti ia sedang mengurus anak kecil.


 


 


Setelah mengeringkan rambut Livia dan ia telah memakai pakaian rumahan mereka menuju tempat makan, Andrew menghangatkan sarapan yang telah dingin dengan microwave, mengganti susu dengan yang baru dan menyajikan di depan Livia.


 


 


Andre dan Livia makan sarapan yang kesiangan dengan anggun dan hati hati, Livia dalam hatinya sangat bahagia. Sesekali ia melirik Andrew, ia takut andrew melihat wajahnya yang tampak bahagia jadi Livia memilih lebih banyak menundukkan wajahnya.


 


 


“Livia, mau ku masakin apa buat makan siang?” tanya Andrew sambil membersihkan meja makan mereka


 


 


“telur balado sama tempe orek jangan pedes” jawab Livia tetap sambil menunduk


 


 


“oke, apa lagi?”


 


 


“terserah aja” jawab Livia lirih


 


 


Andrew memanggil seseorang


 


 


“tolong kamu beliin beberapa barang, nanti daftarnya aku kirim lewat pesan, dan tolong bawakan aku beberapa pakaian ganti untuk dua hari, antar ke apartemen , alamatnya ku kirim lokasi oke”


 


 


Livia memandangi Andrew dengan tatapan menyelidik


 


 


“sekretarisku” kata Andrew sambil mengetik di ponselnya


 


 


“cewek?” tanya Livia


 


 


“cowok sayang” jawab andrew sambil mencubit hidung Livia “cemburu kalau cewek?” godanya


 


 


“dalam mimpi kamu” Livia bangkit dan melarikan diri dari hadapan Andrew.


 


 


Andrew tertawa melihat tinglah Livia, umurnya 26 tahun namun masih saja bisa ia bertingkah seperti anak ingusan yang baru pernah jatuh cinta.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2