
Siangnya andrew dan livia kembali ke hotel tempat keluarga mereka menginap, mereka berkumpul di restauran untuk makan siang,
Yudha teruus saja menggoda livia yang bertingkah malu malu dan tidak bisa membalas karena segan dengan keberadaan mertuanya.
Mereka sudah sepakat untuk mengadakan upacara pernikahan dalam waktu satu minggu lagi dan akan di adakan di kyoto karena livia tidak di perbolehkan oleh dokter untuk pergi naik pesawat ke indonesia.
Ketika andrew melewati mereka hendak mendatangi para lelaki yang sedang bermain catur, sofia memanggilnya
“andrew sini” panggil sofia “duduk dulu” titahnya pada putranya dan andrew duduk di samping kanan mommynya
“mommy ini area ibu ibu” keluhnya
“kamu jangan galak galak sama livia nanti kalau kalian udah berumah tangga, tinggal berdua, harus sabar mengahadapi wanita hamil yang biasanya sensitif dan manja” sofia mulai menceramahi putranya
“iya mommy, andrew bakal jaga livia yang cengeng” jawab andrew
“livia kamu sekarang putri mommy, kalau andrew macam macam bilang sama mommy, mommy akan memarahinya bahkan memecatnya dari kartu keluarga” ancam sofia
“jadi gitu? mommy setelah aku memberikan mommy memantu terus aku di buang?” keluh andrew
Livia menyeringai dan menjulurkan lidah nya pada andrew, kemudian ia tersenyum ramah pada sofia saat sofia menoleh pada livia
Andrew melotot pada livia dan berkata pelan “licik”
Tapi terlambat karena saat andrew melotot pada livia ibunya melihat andrew sedang melotot, tentu sofia semakin memarahinya, gendis dan yunita hanya tertawa melihat kelakuan livia yang sudah biasa mereka saksikan.
Karena merasa gemas dan terjajah andrew reflex muncubit pipi livia yang terlihat tampak lebih berisi sekarang
“sakit...” pekik livia dan andrew lagi lagi kena omelan sofia.
Sorenya semua orang telah memiliki rencana masing masing untuk berjalan jalan jadi livia dan andrew menikmati sore mereka dengan duduk santai di sebuah cafe di area terbuka sambil menyeruput minuman hangat, kemudian livia ingat seharusnya naoki menikah hari ini.
Ia seharusnya memberikan selamat kemudian memberitahu naoki bahwa ia juga akan menikah.
“drew, kayanya aku harus kasih selamat deh sama naoki dia nikah hari ini” kata livia
“besok aja, mungkin naoki masih sibuk juga kan” jawab andrew sambil membenarkan tutup kepala livia agar telinganya tetap hangat.
“iya juga sih” lagian naoki dari kemarin gak ada kasih kabar batin livia
Keeseokan paginya setelah sarapan livia mengambil ponselnya dan memanggil naoki
“hallo, livia oneesan” terdengar suara wanita dari sebrang sana, livia langsung mengenali itu suara sakura adik naoki
“sakura chan?”” jawab livia
“naoki oniisan sedang tidur, apa ada pesan untuk naoki oniisan?” tanya sakura
“tidak sakura chan, oneesan hanya ingin meemberi selamat atas perniakahannya kemarin” kata livia
“livia oneesan kau sungguh tidak tau?” tanya sakura
“apa yang terjadi sakura?” livia mengerutkan keningnya
“pernikahannya naoki oniisan gagal karena naoki oniisan kecelakaan malam sebelumnya, ia juga mengalami bocor lambung karena terlalu banyak minum alkohol” sakura menceritakan keadaan naoki sambil terisak “sekarang naoki oniisan masih terbaring di rumah sakit”
“sakura dimana oniisanmu di rawat?” tanya Livia panik
Sakura menyebutkan nama rumah sakit dan ruangan tempat kakaknya di rawat
“oneesan masih di kyoto, tapi kami akan segera ke sana dalam 3 jam, sakura chan tunggu oneesan di sana” livia menutup panggilannya dan memberitahu pada andrew apa yang ia dengar dari sakura.
Andrew segera mengambil jaket dan tas livia, ia membantu memasangkan pada livia dan bergegas menginjak pedal gas mobil mereka menuju stasiun shinkansen kemudian menuju tokyo.
Sesampai di tokyo mereka bergegas menuju rumah sakit yang di maksud, andrew mengantarkan livia masuk ke ruangan dimana naoki di rawat namun memutuskan memberikan livia waktu untuk naoki.
andrew selalu menunggu di luar, walaupun ia merasa cemburu namun rasanya tidak tega melihat naoki saat keadaanya seperti itu, kemudian andrew memutuskan mencari hotel untuk mereka menginap malam ini dan membeli beberapa keperluan untuk mereka selama di tokyo.
Livia memandang pria yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan perban di kening dan tangannya, sakura berkata masa kritisnya telah berlalu namun masih belum tersadar, ia merasa bersalah, pria ini menghadapi masa masa sulitnya, namun ia meninggalkannya, pria yang menjadi sandarannya selama 3 tahun sedang menjalani titik terendah dalam hidupnya namun ia meninggalkan naoki dan bertunangan dengan pria lain.
Livia menggenggam tangan naoki, air matanya bagaikkan aliran sungai yang terus bercucuran, livia terisak pelan ia benar benar merasa sangat berdosa pada naoki.
Seharusnya naoki menjadi pengantin, tapi kenyataannya ia bahkan terbaring di rumah sakit, saat naoki mengalami kesakitan ia sedang di lamar oleh pria lain. Sungguh livia merasa menjadi wanita kejam yang tak memiliki belas kasihan sama sekali.
Dua hari livia tinggal di rumah sakit, ia selalu imenolak saat andrew mengajaknya untuk beristirahat di hotel, ia ingin merawat naoki ia hanya ingin berada di samping naoki saat ini, setiap saat livia hanya menangis dan menangis di sisi naoki
__ADS_1
Livia merasakan pergerakan kecil di tangan naoki
“naoki, sayang... kau bangun?” tanya livia tanpa sadar ia mengucapkan kata sayang.
Naoki membalas genggaman livia dengan lemah
Matanya perlahan terbuka, samar samar ia melihat wajah gadis yang sangat di sayanginya.
“livia? Kenapa kau ada di sini?” tanya naoki saat kesadarannya mulai penuh, tentu saja ia merasa heran
“jangan bergerak naoki, tunggu dokter memeriksamu” kata livia, sakura segera memanggil dokter
Dokter datang memeriksa naoki, dokter berkata keadaannya karena kecelakaan tidak lagi menghkawatirkan, yang lebih parah dan mengkhawatirkan adalah luka di lambungnya.
Beberapa jam kemudian Livia sedang membantu naoki duduk memakan buburnya, naoki menolak di suapi oleh livia namun livia bersikeras memberinya makan.
Naoki melirik sekilas dengan cincin yang livia kenakan.
“apakah sakura memberitahumu?” tanya naoki
“aku menelfonmu untuk memberimu ucapan selamat, sakura menjawab panggilanku dan memberitahu kau sakit”
“aku segera sembuh”
“bagaimana pernikahanmu?”
“aku sudah bilang aku tidak akan menikahinya” jawab naoki datar
“walaupun misalnya aku menikah dengan orang lain?” tanya livia hati hati “hanya misalnya” livia sangat gugup mengucapajan kata kata itu.
“sudah ku katakan walaupun tidak ada kamu, aku tetap tidak akan menikahinya” jawab naoki tetap tenang dan datar
“tapi kau tidak harus menyakiti dirimu kau mabuk setiap hari kau pikir itu bagus? Kau benar benar gila? kau membuatku kahawatir, kau membahayakan dirimu naoki...” kata livia kesal “lalu apa rencanamu selanjutnya?” tanya livia lagi
“jadi dimana andrew?” tanya naoki
“kau tau?” livia terkejut
“livia, kau beberapa kali menyebut nama andrew saat tidur” jawab naoki tersenyum pahit
Livia tertunduk antara malu dan bersalah.
“kau......?” tanya livia pelan
“aku mengutus orang mengawasimu, aku menghawatirkanmu apalagi orang tuaku mengancammu”
jawab naoki dengan nada tenang dan tenang
“naoki maafkkan aku” seperti biasa livia selalu mulai terisak jika di deoan naoki, ia menjadi sangat rapuh dan cengeng.
“sudahlah ini semua takdir tuhan, tidak ada yang perlu di sesali, meskipun jujur kini aku menyesal tidak menikahimu sejak dulu”
“naoki cek 10.000.000 yen akan aku kembalikan dan juga mobil serta.....”
“apa aku terlihat seperti pria pelit livia?” tanya naoki dengan nada tidak senang
“naoki aku.....”
“yang telah ku berikan padamu adalah sah sebagai milikmu” potong naoki
“tapi terlalu banyak”
“jika kau suamimu tidak memperlakukanmu dengan baik, datanglah padaku livia” kata naoki dengan penuh kesungguhan
“naoki... ku harap secepatnya kau akan mendapatkan gadis yang lebih baik dari padaku” jawab livia sambil mengusap air matanya dan berusaha tersenyum
“bagaimana kabar keponakanku? Apakah dia sehat?”
Livia menggangguk “dia sangat suka makan pedas”
“boleh aku menyentuhnya?”
Livia mengangguk lagi
“kau harus menjaganya dengan baik” naoki mengelus perut livia pelan
__ADS_1
“tentu saja” naoki meraba perut rata livia
Mereka melanjutkan berbincang dengan akrab namun tiba tiba ibu naoki datang karena sakura memberikan kabar bahwa naoki telah sadar, melihat livia duduk di samping ranjang naoki wanita itu segera terbakar emosi.
“untuk apa kau disini dasar pelacur? Belum puas kau membuat malu keluarga kami? Belum puas kau menggagalkan pernikahan naoki?” cerca ibu naoki
“mama jangan berkata buruk lagi pada livia” pelan naoki memperingatkan mamanya
Livia hanya tertunduk
“pergi dari sini, apa kau tak punya malu? Dasar pelacur murahan!” bentak wanita itu
Tidak seperti pertama kali bertemu orang tua naoki, livia tentu lebih siap saat ini.
Dalam hatinya hanya mencibir ‘bahkan jika aku pelacur maka akulah pelacur yang sangat di cintai oleh putramu’
“siapa yang kau sebut sebagai pelacur? Namanya livia, dia istriku bukan pelacur murahan seperti yang kau katakan” andrew berkata dengan suara marah tertahan dengan bahasa jepangnya yang fasih, livia untuk pertama kalinya mendengar calon suaminya berbicara bahasa jepang. ‘Jadi andrew bisa bahasa jepang?’ Batin livia
“mama, livia adalah istri andrew, kau tidak boleh mengatainya lagi” naoki memperingatkan mamanya
“baru beberapa hari kau mengakuinya sebagai calon istrimu naoki dan sekarang pria lain mengakuinya sebagai istrinya, oh tuhan ada berapa pria yang bersamamu?! kau benar banar jalang” sinis ibu naoki pada livia dan meninggalkan ruangan itu dengan kesal
“maafkan kekasaran mamaku livia” naoki merasa tak nyaman dengan yang telah mamanya katakan pada livia
“sudahlah, tidak masalah naoki aku pantas mendapatkan itu” jawab livia pahit, benar ia adalah gadis yang tidak pantas untuk pria sebaik naoki.
“andrew kemarilah” kata naoki
Andrew dengan patuh mendekat ke ranjang dimana naoki berbaring
“andrew, karena livia telah memilih, aku serahkan livia padamu, tolong rawat dia dengan baik, dia cengeng dan senang membuat kekacauan kau harus sabar menghadapinya” pinta naoki
“terima kasih telah merawat livia selama ini” hanya itu yang bisa andrew katakan
dada andrew terasa sesak, ia juga memiliki perasaan setidaknya ia tau rasanya terhianati seperti yang naoki alami saat ini.
“jika kau memperlakukannya dengan buruk, aku akan mengambil livua kembali dan kupastikan kau tidak akan bisa merebutnya lagi” naoki memperingatkan andrew, mata naoki terus memandang livia dengan tatapan penuh kasih sayang.
“ini sudah malam, kalian kembalilah, livia, jaga dirimu dan bayimu dengan baik, ingat memakai jaket yang hangat musim dingin akan segera tiba, juga jangan makan junk food” naoki mengingatkan livia kembali
“terima kasih naoki sama” jawab livia pelan, air matanya nyaris terjatuh ia tak mampu memandang wajah naoki
Livia dan andrew pamit undur diri, mereka bertemu sakura di depan pintu
“livia oneesan, apakah kau akan kembali ke kyoto?”
“iya sakura chan kami akan kembali besok” jawab livia
“oneesan aku ingin sekali kau yang menjadi kakak iparku” kata sakura tak perduli pada andrew yang berada di samping livia.
“sakura chan, kamu akan mendapatkan kakak ipar yang lebih baik di masa depan”
“tapi tidak secantik livia oneesan” keluh sakura.
“sakura chan kau bisa saja, baiklah sakura chan kau harus hadir di acara pernikahanku di kyoto”
“benarkah? Kau mengundangku? Aku pasti akan datang” seru sakura senang
“sampai jumpa lagi besok aku akan kembali ke sini sebelum aku kembali ke kyoto” kata livia
Besok paginya livia dan andrew kembali ke rumah sakit untuk berpamitan pada naoki dan sakura, mereka akan kembali ke kyoto
“naoki, kau harus datang di pernikahan kami” kata livia
“tentu aku akan memberikan berkat kepada kalian berdua nanti” jawab naoki ramah
“baiklah kami pamit, sampai jumpa lagi semoga lekas sembuh” kata andrew.
“terima kasih” kata naoki
Setelah kepergian livia dan andrew, naoki merasa benar benar kini menjadi pria kesepian, tanpa livia hidupnya hampir tak memiliki arah, ia bekerja keras untuk livia, gadis itu sangat senang di manjakan dengan materi, bersamanya naoki telah berusaha bekerja keras demi menghasilkan banyak uang untuk memanjakan livia, sekarang ia hanya akan bekerja dan bekerja untuk dirinya sendiri, tidak ada yang menghabiskan uangnya.
Perjodohannya telah mampu ia gagalkan namun livia lepas dari genggamannya, entah ia harus senang atau bersedih....
Kini ia hanya bisa menyesal tidak menikahi livia, ia menyesal tidak menghamili livia, andai ia menghamili livia tentu saja sekarang ia yang harus menikahi livia. Meskipun livia tak pernah mengucapkan kata cinta pada naoki, namun itu bukan masalah selama livia patuh dan taat padanya. bukankah mampu membahagiakan orang yang di cintai adalah sebuah kemuliaan yang agung, tidak perlu mengharapkan balasan karena melihhat senyuman dan tawa livia adalah balasan indah yang sesungguhnya bagi naoki.
__ADS_1
Namun terlepas dari semua penyesalannya, sekuat apapun naoki menyalahkan dirinya tetaplah kuasa tuhan yang berjalan, lebih baik melapangkan hatinya sendiri agar terbebas dari dendam yang mungkin dapat mengotori hatinya meskipun saat ini dadanya terasa sangat berat seperti tertindih oleh segunung batu.
Sekarang hanya harus focus pada penyakit lambung naoki yang sangat serius, ia bahkan tidak makan dengan benar sejak livia pergi ie kyoto bersama hana, ia hanya mabuk sepanjang malam...