
Setelah mengunjungi vietnam kemudian yang terakhir ke maladewa akhirnya mereka akan kembali ke jakarta besok, livia sangat merindukan derren meskipun setiap hari melihat darren dengan panggilan video itu tidak cukup livia ingin memeluk dan menciumnya, apa lagi derren sudah mulai bisa memiringkan tubuhnya, sangat menggemaskan.
Malam itu sebelum mereka tidur ia bermaksud ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan menemukan ia telah mendapatkan haidnya
“drew....” panggil livia dari dalam kamar mandi
“ada apa sayang?”
“sini dulu” pinta livia
Andrew menyembulkan kepalanya di pintu “mau ngajak mian di situ?” tanya andrew senang
“drew bisa gak tolong beliin pembalut, aku haid”
“apa? Pembalut?”
Andrew memanggil layanan kamar dan meminta pegawai hotel membelikan pembalut bagaimanapun caranya asal bukan dia yang membelinya karena sekalipun ia belum pernah melihat bentuknya pembalut.
Setelah pembalut di antarkan pegawai hotel livia segera memasangnya.
Andre memperhatikan dengan seksama cara livia memasangnya
“apa sih drew ngeliatinnya gitu banget?”
“kok kamu gak hamil sih?” tanya andrew dangan nada kecewa
“drew kamu kenapa sih pengen aku hamil terus?”
“kamu sexy klo hamil dan gak ada libur haid kalo hamil”
“jadi menurut kamu aku ini cuma pemuas nafsu kamu? Obyek sex kamu?” nada suara livia langsug tinggi
“bukan gitu livia, aku pengen kita punya banyak anak dan nanti setelah kita tua anak kita telah dewasa, kita gak repot lagi ngurus anak” andrew mencoba memberi penjelasan yang tepat
“pokoknya ya drew, selama aku belum pake kontrasepsi, kamu gak di izinkan nyentuh aku titik. Aku belum siap untuk hamil, kamu pikir melahirkan gak sakit? Kamu pikir kontraksi gak menyiksa? Kamu sih enak tinggak bikin” omel livia
“iya maaf aku salah, ya udah anak kita derren aja” jawab andrew sambil berusaha memeluk livia yang menolak untuk di sentuh
“aku gak bilang ya gak mau hamil aku cuma belum siap”
“iya iya maaf, nanti aja di pikirkan kalau kamu udah siap” andrew akhirnya bisa memeluk livia dan membujuknya untuk tidur, dan malam itu andrew membuat banyak tanda untuk livia di dadanya agar ia tidak bisa menyusui darren.
JAKARTA
Sesampainya di jakarta livia bingung karena asinya tidak keluar lagi dan persediaan susu derren telah menipis namun andrew malah terlihat tenang tenang saja, Andrew telah sengaja membuatnya tidak membawa pompa asinya selama bulan madu, livia jadi tambah geram mengingat Ulah suaminya.
“kita ke dokter anak untuk konsultasi susu formula yang baik” kata andrew dan livia tak bisa berbuat apa apa, benar benar ayah yang serakah enggan berbagi.
Baru dua hari livia dan andrew tinggal di jakarta livia baru saja kembali dari klinik kecantikan untuk mengembalikan kulitnya yang belang terbakar matahari di maladewa.
Ia memasuki rumah mewah milik orang tua andrew, namun langkahnya terhenti saat ia melewati sofia yang sedang duduk berhadap hadapan dengan seorang wanita muda seumur dirinya, mungkin hanya 1 atau 2 tahun lebih tua darinya.
“livia ini kenalkan anak teman mommy dari uzbekistan” kata sofia gugup
Livia mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan wanita di depannya “livia”
“zakia” kata wanita itu dengan enggan menerima uluran tangan livia
Zakia????? Batin livia bukankah ia wanita yang menelfon saat ia dan andrew berbulan madu??? ada yang tidak beres batin livia apa lagi melihat ekspresi wajah mommy sofia yang sangat tegang.
“Livia istri andrew, mommynya cucuku derren” kata sofia sambil merangkul livia.
__ADS_1
Zakia hanya tersenyum samar.
Malamnya makan malam di rumah itu berubah sangat canggung, tidak ada yang bersuara satupun, termasuk andrew ia sibuk menundukkan kepalanya.
Livia semakin curiga, tapi ia akan menyelidiki sendiri tidak ingin menuduh tanpa bukti pada andrew.
Dua hari berlalu dan zakia masih tinggal di rumah orang tua andrew, Livia juga tidak menemukan hal hal mencurigakan hanya suasana semakin canggung setiap mereka berkumpul di meja makan untuk makan malam dan saat sarapan pagi.
Malam itu andrew tidak bisa tidur, ia ingin sekali memarahi zakia emosinya memuncak sampai ke ubun ubun ia sudah tidak tahan lagi menahan amarahnya selama 2 hari.
Wanita itu terlalu lancang, ia bahkan berani datanginya ke indonesia, memang dulu ibunya menyukai zakia namun tidak untuk sekarang, sofia sangat menyayangi livia bahkan menanggap livia layaknya putrinya, zakia pasti akan di usir oleh ibunya.
Andrew menunggu livia tertidur dan berencana akan pergi ke kamar zakia untuk mengusirnya.
Satu jam telah berlalu, andrew akhirnya bangkit dengan perlahan meninggalkan kamarnya setelah mengecek livia benar benar tertidur.
Andrew mendorong pintu kamar tamu dimana zakia tidur dan dengan langkah panjang ia mendekat ranjang dan dengan kasar menyeret selimut yang menutupi tubuh zakia
“zakia bangun !!!! kau bodoh... untuk apa kau kesini?!”bentaknya dengan suara tertahan
“andrew kau tak menghiraukanku, kau tak menjawab telfonku, aku tidak tau harus mencarimu kemana?” zakia membela dirinya
“diantara kita tidak ada apa apa... hanya sebatas aku butuh tubuhmu saat itu dan kau juga ingin uangku bukan? 1 buah unit bugati apa tidak cukup?”
“tidak, aku ingin dirimu bisakah kita seperti dulu lagi? aku akan kembalikan uang itu” zakia hendak meraih tangan andrew namun di tepis kasar opeh andrew
“tidak zakia, aku beristri!” jawab andrew tegas “aku mencintai istriku livia, sekarang aku tidak perlu tubuhmu lagi!” desis andrew
“kau menghianatinya! Kau tidak mencintainya!”
“aku aku mencintainya !!!! Aku bilang aku mencintai livia!!!”
“kau selalu mencintai wanita asalkan ia bisa mengimbangimu di atas ranjangmu kau hanya butuh budak sex!” sinis zakia
Zakia mulai terisak namun andrew tak sedikitpun terlihat iba melihat zakia menangis, andrew benar benar menjadi kejam sekarang.
Di depan kamar itu dua pasang mata saling bertatapan, sebenarnya beberapa menit setelah andrew turun dari ranjang, livia segera melompat dari tempat tidur membuntuti dan mendengarkan obrolan mereka tidak lama sofia juga datang untuk tujuan yang sama
Mertua dan memantu itu sedang menguping
“livia masuklah ke dalam kamarmu, tunggu mommy di sana, jangan emosi, mommy yang akan membereskan semua ini” kata sofia berbisik.
Livia dengan patuh kembali ke dalam kamarnya merenungkan nasib buruk rumah tangganya.
Sementara sofia mendorong pintu kamar di depannya.
“andrew!” panggil sofia dengan nada marah “kau benar benar tidak bisa belajar dari kesalahan, sudah cukup kau pernah melakukan kesalahan dengan camelia sekarang kau mengulanginya lagi bermain main dengan zakia” sofia menunjuk wajah putranya dengan geram
“dan kau zakia kemasi seluruh barang barangmu, sopir akan mengantarmu ke hotel, besok pagi aku sendiri yang akan mengantarkanmu ke bandara untuk kembali ke negaramu, jangan coba coba kau ganggu rumah tangga livia, karna aku tidak akan pernah tinggal diam”
Zakia tidak menyangka sofia akan mengatakan hal itu kepadanya, bukankah dulu sofia sangat menyayanginya dan memperlakukan zakia dengan baik, bahkan zakia juga beberapa kali datang ke jakarta karena sofia mengajaknya.
Sofia menyeret putranya membawa andrew ke dalam kamar menemui livia, livia sedang duduk termangu di depan jendela kamarnya menatap langit jakarta, hatinya sakit, ia tidak mendengar dengan jelas apa yang andrew dan zakia bicarakan namun ia yakin mereka dalam sebuah hubungan terlarang.
“livia...” panggil sofia mertuanya
“mommy...” ia melirik andrew yang tertunduk lesu di samping ibunya
“livia, jika kau ingin menceraikan andrew jangan ragu ragu” kata sofia “ceraikan saja!”
“mommy!!! aku tidak ingin bercerai dari livia jangan seperti itu!” kata andrew tidak terima
__ADS_1
“kau menghianati livia, pria macam apa kau ini?!” bentak sofia
“mommy, bisakah aku berbicara berdua dengan andrew?” pinta livia pada sofia.
Sofia mengangguk dan meninggalkan mereka
“livia maafkan aku... aku bodoh aku menghianatimu, aku kejam, livia maafkan aku” andrew berlutut di hadapan livia sambil bercucuran air mata
Livia menghela nafas berat, ia juga ingin menangis namun ia sekuat tenaga menahan air matanya. mungkin ini adalah karma yang nyata, ia menyia nyiakan naoki yang baik kepadanya dan berlari pada pria yang salah.
Masa lalu andrew terlalu rumit, namun karena ini adalah pilihannya livia bertekad tidak akan menyerah. Ia akan mempertahankan rumah tangganya bagaimanapun caranya.
Livia meletakkan lututnya di lantai dan membelai wajah andrew yang basah oleh air mata.
“zakia cinta pertamaku ia adalah teman camelia, sejak awal aku sudah mengira ini rencana camelia tapi aku bodoh mengikuti permainan mereka” andrew hendak menjelaskan
“drew, aku gak mau dengar pengihanatan macam apa yang kalian lakukan di belakangku, gak usah kamu jelasin ke aku, aku gak pengen tau” potong livia, ia benar benar enggan mendengarkan sesuatu yang hanya melukai hatinya
“livia tolong jangan beri tahu danu” pinta andrew, ia benar benar menyesali perbuatannya ia takut danu mendengar dan memisahkan livia darinya.
“aku ini istrimu aku akan jaga aib rumah tangga kita kau tidak perlu takut, dan aku pasti memaafkanmu drew, tapi ku mohon, jangan ulangi lagi, aku mungkin tidak akan mampu jika haru terus berurusan dengan wanita dimasa lalu kamu berulang ulang” kata livia pelan sambil menangkupkan telapak tangannya pada wajah andrew
Andrew mengambil telapak tangan livia dan menciuminya
“livia apa kau akan meninggalkanku dan kembali bersama naoki?” tanya andrew dengan bodoh
sambil terisak
“aku bukan wanita yang tidak tau malu seperti itu drew” jawab livia lemah, air matanya tergelincir dari kelopak matanya, hatinya sangat sakit. ‘Inikah rasanya di hianati? Separti inikah perasaan naoki dulu ketika naoki mendengar aku hamil dengan pria lain?’ Separti ribuan belati menghujam di dadanya.
“walaupun kau menceraikanku, aku tidak akan menandatangani gugatan ceraimu” kata andrew sambil menggenggam tangan livia.
“aku akan beri kamu satu kesempatan drew tapi berjanjilah drew kau tidak akan mengulanginya” kata livia di sela isak tangisnya.
“aku berjanji livia aku tidak akan mengulanginya lagi” andrew menangis
“berjanjilah pada tuhan” pinta livia
“aku berjanji demi tuhan aku menyesal, aku tidak akan menghianatimu lagi istriku”
Andrew memeluk livia dan mereka saling berpelukan dalam tangis dengan pikiran berkecamuk di otak masing masing.
Sejak hari itu livia menjadi sekretaris di kantor andrew, andrew sendiri yang memintanya, livia hanya mengikuti apa yang andrew mau. Mereka mencoba kembali menjalani rumah tangga yang manis, hampir 24 jam mereka selalu bersama.
Sebenarnya livia enggan menjadi penguntit suaminya, ia lebih tidak tega membiarkan derren di besarkan oleh pengasuh, namun andrew bersikukuh membawanya 24 jam agar livia percaya padanya.
Sebagai seorang sekretaris livia harus bekerja dengan profesional, namun hampir setiap hari andrew yang tidak tahan melihat livia di ruang kerjanya dan memaksanya mengerang di sofa bahkan di atas meja kerja. Tak terasa ia telah hampir 1 tahun menjadi sekretaris di perusahaan suaminya dan saat ini ia tengah kembali mengandung, dan usia kandungannya telah mencapai 4 bulan, namun bukan andrew namanya jika tidak membuat livia terus melayaninya dimanapun andrew menginginkan.
Seperti saat itu, 15 menit sebelum pertemuan.
“drew buruan, kita ada pertemuan 15 menit lagi...”
“tunda aja sayang” andrew enggan menyudahi permainan suami istri mereka tentunya
“gak bisa gitu aashhhhh... ini penting banget buat proyek baru kita”
“tunda aja” andrew bersikukuh
“nanti habis pertemuan kita lanjutkan dinrumah” kata Livia bernegosiasi, andrew dengan penuh semangat menyelesaikan penyaluran hasratnya.
“kamu masih hutang sama aku ya ingat di rumah” kata andrew saat mereka berjalan bersama menuju ruang pertemuan.
__ADS_1
Livia tak menghiraukan kata kata suaminya.