Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
46


__ADS_3

Pagi harinya Livia merasa tubuhnya sangat lemas karena ia baru tertidur jam 3 pagi dan terbangun jam 7 pagi, ia hanya tidur 4 jam.


Naoki benar benar mengantarkannya pergi bekerja dan sorenya menjemput Livia, di perjalanan bahkan mereka hanya diam membisu. sebenarnya Naoki telah mengajak Livia berbicara namun Livia menanggapinya dengan dingin sehingga Naoki akhirnya berhenti mengajaknya berbicara, bahkan hingga 3 hari Livia masih mempertahankan sikapnya.


“Livia sebenarnya apa maumu?” tanya Naoki dingin ketika ia menjemput Livia sepulang bekerja, mereka masih berada di dalam mobil di basemen apartemen Livia.


“aku? Tidak ada” jawab Livia tak kalah dingin, padahal jantungnya berdegup kencang, ia takut Naoki benar benar marah padanya dan meninggalkannya.


“katakan apa yang membuatmu marah padaku? Masalah nana? Ia hanya rekan kerja, aku sudah menjelaskan” kata Naoki sabar


“aku tidak cemburu pada Nana” jawab Livia dengan nada pelan


“lalu?”


“kau bilang akan mengganti sekretarismu, tapi buktinya kau masih memiliki sekretaris wanita” jawab Livia sinis, ia tak mampu lagi membendung kejengkelan yang ia pendam beberapa hari ini


“sayangku tidak semudah itu paling tidak aku perlu beberapa minggu untuk mencari kandidat baru yang memenuhi standar sebagai sekretaris kemudian serah terima dari yang lama kepada yang baru” Naoki menjelaskan dengan sangat detail agar Livia mengerti. “dan ngomong ngomong apa aku seperti pria yang mudah tergoda pada sekretarisnya?” tanya Naoki sedikit tersenyum karena merasa lucu pada Livia


“kau tidak tergoda namun sekretarismu akan menggodamu” jawab Livia kesal, namun sejujurnya perasaannya telah lega.


“jadi hanya karena cemburu pada sekretarisku lalu kau mendiamkanku 3 hari?” Naoki tersenyum menggoda


“baiklah lakukan sesukamu jika kau tak ingin aku mencemburuimu” Livia hendak membuka pintu mobil namun Naoki cepat menghalanginya.


“baiklah aku minta maaf” Naoki menarik tubuh Livia dan memeluknya...


“Naoki, bisakah kita menunda pernikahan kita? Aku rasanya perlu berpikir ulang, rasanya terlalu cepat kita menjalin hubungan kembali” kata Livia tiba tiba.


Naoki langsung melepaskan pelukan Livia, Naoki benar benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Livia, baru saja ia mengakui bahwa ia telah terbakar cemburu, kemudian baru beberapa menit ia meragukan hubungan mereka.


Naoki mengela nafas dalam dalam dan menghembuskan dengan kasar, membuka pintu mobilnya dan berucap “terserah kau saja Livia” katanya kemudian keluar membukakan pintu mobil untuk Livia.


Naoki kembali ke dalam mobil dan menginjak pedal gas meninggalkan Livia yang terpaku, ia tak menduga Naoki akan bersikap seperti itu.


Naoki yang dulu pasti akan membujuknya dengan cara sehalus mungkin, dan akan berujung membawa Livia untuk berbelanja.


Berbelanja, ya cara itu sudah tidak akan berlaku lagi mengingat Livia kini mampu membeli apa pun tanpa meminta pada Naoki. 'Tapi paling tidak bukankah ia bisa membujuk dengan kata kata sabarnya seperti dulu?' itu keinginan Livia


Livia segera menuju apartemennya, ia bergegas mandi dan mengganti pakaiannya, kemudian menghubungi Hana dan Yukari, ia perlu berbagi cerita pada mereka.


Livia hana dan Yukari Mereka telah berkumpul di sebuah cafe dengan live music yang santai dan mulai mengobrol, Livia mulai menceritakan ketakutannya pada kedua sahabatnya.


“kok kamu jadi mikir jelek gitu sih Livia? Kalau menurut aku gak mungkin banget deh Naoki kaya gitu” kata Hana langsung memberikan tanggapan


“ya menurutku itu hanya bayangan ketakutan tanpa dasar Livia, Naoki bukanlah andrew, aku percaya pada instingku” kata Yukari menimpali


“terus perasaan kamu gimana?” tanya Hana


Livia diam mematung, hana sudah hafal dengan kebiasaan Livia setiap di tanya masalah perasaannya ia akan diam.


“pasti kamu gitu deh Livia kalau di tanya masalah perasaan” keluh Hana “gini aja deh, coba lihat pengorbanan terbesar Naoki selama ini”


“aduh aku pusing banget aku takut dia bohongin aku dan mau balas dendam aja sama aku” keluh Livia


“percayalah Livia, Naoki itu pria yang tulus” kata Yukari, gadis yang jarang berbicara banyak itu menyampaikan pandangannya.


“pikirkan dengan benar, 4 hari lagi kalian harus berangkat ke Indonesia untuk pernikahan” lanjut Yukari


Sudah dua jam mereka berbicara tanpa mendapatkan titik yang jelas, obrolan mereka justru merambat ke mana mana ke arah yang tidak jelas dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan tema awal.


Setelah jam menunjukkan pukul 10 hana harus segera pulang karena suaminya tidak mengizinkan hana pulang larut malam, jadilah Livia tinggal berdua dengan Yukari.


Tiba tiba ponsel Livia berbunyi


Tommy calling...


Livia menjawab panggilan Tommy dan mengatakan bahwa ia sedang bosan dan mengajak Livia pergi ke club.

__ADS_1


Karena merasa bosan dan frustasi Livia memutuskan untuk pergi bersama tonmy, Yukari tentu saja ikut bersama Livia, ia tidak ingin membiarkan Livia pergi sendiri dalam keadaan kacau, Yukari adalah gadis lajang paling bahagia yang seperti tak memiliki beban hidup, ia hanya fokus pada pekerjaan dan teman temannya, ia tak memiliki waktu untuk memikirkan percintaan.


Sesampainya di club di mana mereka telah di tentukan Tommy, Livia mencari meja yang Tommy maksud.


Dokter spesialis jantung yang menurut Livia tidak normal itu telah duduk bersama beberapa orang temannya sedang meminum vodca.


“bad mood?” tanya Tommy di telinga Livia sedikit berteriak


Livia mengangguk


“kenapa?”


“bosen aja”


“mau minum apa?”


“orange juice”


Tommy tertawa lalu memesankan orange juice untuk Livia dan Yukari, kemudian mereka mengobrol di sela sela dentuman keras music. Karena suara music yang keras baik Livia maupun Tommy sering mendekatkan kepala mereka saat mengobrol.


Di sisi lain seorang pria mengawasi Tommy dan Livia yang berbicara dengan akrab dan intim, tatapan matanya terbakar cemburu hingga tak melepaskan sedikit pun tatapannya dari Livia terus mengawasinya.


Livia merasa bosan, ia sama sekali tak menikmati alunan musik itu, ia berpamitan pada Yukari untuk pergi ke toilet.


Cukup lama Livia berada di dalam toilet wanita barulah ia keluar, di pintu toilet seorang pria berwajah halus menunggunya.


“pulang bersamaku” suara dingin itu mengejutkan Livi, Naoki berdiri tepat di depannya dengan pandangan mata menusuk penuh amarah


“aku harus memberi tahu Yukari dulu” Livia begitu ketakutan melihat mimik wajah Naoki yang belum pernah ia lihat selama ini.


“kirim dia pesan bahwa kau pulang bersamaku”


“tapi aku membawa mobil” elak Livia


“biar sekretarismu yang mengambilnya besok” jawab Naoki dingin sambil menyeret pergelangan tangan Livia membawanya keluar, cengkeraman tangan Naoki sangat erat hingga membuat tangan Livia terasa sakit namun Livia tak berani mengeluh.


Naoki dengan kasar membuka pintu mobil setelah Livia duduk ia membanting dengan kasar menutupnya, memasang seat belt Livia kemudian seat beltnya sendiri menginjak pedal gas dengan kasar menuju apartemen yang di tinggali Naoki.


“Naoki aku bisa jelaskan...” kata Livia panik


Livia bahkan tidak sempat membuka mulutnya untuk menjelaskan


“baiklah mulai besok kita akan mengunjungi club setiap malam agar kau bahagia” lanjut Naoki


“apa itu maumu? Jawab!!” tanya Naoki dengan nada sedikit tinggi, Livia benar benar bergidik ketakutan


Livia hanya diam mematung


“kau selalu lari dariku dan pergi ke pelukan pria lain, katakan kau tidak menginginkan aku, katakan kau membenciku Livia” Naoki menggertakkan giginya, ia tampak benar benar emosi


Livia hanya diam tertunduk, ia benar benar takut melihat emosi Naoki


“baiklah jika pria itu yang kau pilih kali ini, aku akan membatalkan pernikahan kita” kata Naoki sambil menyipitkan matanya


“jawab aku Livia, katakan kau tidak menginginkanku, katakan kau membenciku” kata Naoki lagi dengan nada sedikit tinggi


“Naoki...” Livia mulai terisak Naoki adalah pria yang sangat baik, sabar dan Livia telah terlalu banyak mempermainkan perasaan pria di depannya yang sedang terbakar amarah, selama bersama andrew Livia sering diam diam menyesal meninggalkan Naoki, menyesal menghianatinya, dan merindukannya.


“katakan Livia kau tidak mencintaiku” Naoki meraih dagu Livia, kali ini nada suaranya tidak setinggi sebelumnya “apa kau mencintai pria itu?” tanya Naoki


Livia menggeleng dengan cepat


“apa kau tidak menginginkanku?” tanya Naoki lagi


Livia menggeleng lagi


“baiklah jika kau tidak menginginkanku” Naoki melepaskan tangannya dari dagu Livia

__ADS_1


“cuci wajahmu, aku akan mengantarkanmu kembali ke apartemenmu dan berbicara pada bunda untuk membatalkan pernikahan kita” kata Naoki kemudian melangkah menuju pintu.


Livia terkejut, Livia menggeleng bukan untuk menolak Naoki


“Naoki...” Livia memanggilnya dan melompat dari tempat tidur untuk mengejar Naoki dan segera memeluknya dari belakang


“lepaskan Livia” kata Naoki sambil menghela nafas dalam dalam, “kau bebas sekarang”


Livia mengalungkan kakinya di pinggang Naoki dan mengencangkan cengkeraman lengannya


“Livia, turunlah”


“tidak Naoki kau salah paham” Livia menangis sejadi jadinya “pria itu sepupu andrew aku tidak ada hubungan apa apa dengannya” kata Livia mencoba menjelaskan


Naoki hanya diam


“dan ku mohon jangan batalkan pernikahan kita” isak Livia


“tidak Livia untuk apa kita menikah jika hanya aku yang ingin menikah” jawab Naoki dingin


“tidak Naoki aku juga ingin menikah denganmu aku masih sama seperti dulu yang ingin kau nikahi” Livia menangis menjadi jadi wajahnya berada di pundak Naoki hingga membuat kemeja Naoki basah.


“jangan membuat sandiwara dengan air matamu Livia” Naoki tau betul siapa Livia, ia sangat pandai beracting mengeluarkan air matanya, Naoki bahkan hafal di luar kepala setiap kali Livia beracting dan Naoki selalu berpura pura percaya.


“aku tidak bersandiwara, maafkan aku Naoki, aku menginginkanmu menjadi suamiku, aku mencintaimu sungguh maafkan aku”


Naoki kembali terdiam mencerna kata kata Livia*, 'Livia mengatakan mencintainya???'* Livia pasti hanya beracting, telapak tangan Naoki mengepal


“aku serius Naoki aku mencintaimu aku mencintaimu aku benar benar mencintaimu” Livia mengatakan dengan bercampur isakan dan tersengal sengal


“Naoki nikahi aku jadikan aku istrimu kumohon” rengek Livia


Naoki membuka kepalan tangannya dan menopang tubuh Livia kemudian membawanya ke atas ranjang bermaksud menurunkannya namun Livia kembali mencengkeramkan dengan erat lengannya di leher Naoki


“jangan pergi jangan tinggalkan aku jangan batalkan pernikahan kita” Livia memohon


“Livia apa kau ingin membunuhku? Aku hampir tercekik” kata Naoki barulah Livia melepaskan lengannya dari leher Naoki


Naoki berbalik dan menatap Livia


“Lihat aku” titah Naoki tegas “beri aku alasan mengapa aku harus menikahimu?!”


Livia menatap mata Naoki, ia mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan secara langsung bertatap muka


“Karena aku sangat mencintaimu Naoki”


“Kau mengatakan mencintaiku tapi kau menghindariku dan ingin menunda pernikahan guarauan macam apa ini Livia?”


“Karena aku ragu padamu, aku takut kau hanya ingin membalas dendam padaku lalu kau meninggalkanku di kemudian hari setelah kita menikah” Livia mengucapkan dengan cepat apa yang ada di otaknya


Mata Naoki menyapu seluruh wajah Livia dengan tajam beberapa saat, kemudian menjentikkan kedua jarinya di kening Livia


“Sejak kapan kau belajar berprasangka buruk padaku? Gadis Bodoh...!” Naoki merengkuh kepala Livia membenamkan wajah Livia di perutnya sambil di usap usapnya rambut Livia.


Livia menangis terisak isak ia mendekap perut Naoki dengan erat, rasanya ia beban besar yang menghimpit otaknya seketika pecah berkeping keping.


Naoki menunduk dan menciumi kening Livia kemudian pindah ke pipi dan bibirnya, melumatnya kemudian menindih tubuh Livia dengan pelan hingga posisi Livia berada di bawahnya, setelah beberapa saat tautan di bibir mereka terlepas


“apa tanganmu sakit?” tanya Naoki


Livia mengangkat pergelangan tangannya yang tampak memerah


“tidak sayang” jawab Livia bohong


“maafkan aku” bisik Naoki sambil mengambil tubuh Livia membawa ke pelukannya. Sudut bibirnya tersenyum puas.


“Naoki aku yang salah, aku selalu hanya memikirkan diriku sendiri”

__ADS_1


“mulai sekarang jangan membuat masalah, kau bukan gadis remaja lagi”


Livia mengangguk


__ADS_2