Found Love In Kyoto

Found Love In Kyoto
7


__ADS_3

Pagi di Kyoto.


Livia bangun pagi pagi sekali, itu hanya di lakukannya saat di Kyoto, karena Hana akan berteriak di telinganya jika ia terlambat bangun untuk menikmati pemandangan di pagi hari. Livia benar benar berharap bisa tinggal di Kyoto untuk selamanya, tidak ada kota di Jepang yang lebih mengesankan bagi Livia selain Kyoto.


Mungkin suatu saat bisa menikah dengan warga asli Kyoto, tinggal di Kyoto, membesarkan anak anak dan menua di Kyoto, atau mungkin mendapatkan pria yang di cintai di Kyoto.


Bibir Livia menyunggingkan senyum tipis sambil menyesap kopinya pagi itu. ia bersama Hana dan Yukari berada di sebuah restoran yang menyiapkan aneka makanan untuk sarapan di dekat stasiun kereta.


“Senyum senyum sendiri, tumben.” Hana mengajak Livia berbicara menggunakan bahasa Indonesia,


Yukari sedang sibuk dengan laptopnya, gadis yang kadang mengenakan kacamata itu tentu tidak mengerti bahasa Indonesia selain kata bodoh dan gila, Livia hanya mengajari dua kata sejauh ini.


“Hana tau gak...” Livia ingin mengatakan sesuatu namun ia urung mengatakannya karena seseorang tiba tiba duduk di sampingnya


“Selamat pagi, sayang,” sapa Andrew pelan di telinga Livia.


"Ya Tuhan. pengganggu ini,” gumam Livia, ia tidak tau harus berbuat apa. Sontak menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Livia takut ada orang orang suruhan Naoki melihatnya bersama pria lain, ia akan habis dan kebebasannya akan terenggut kembali. Satu tahun di Jepang ia membangun kepercayaan Naoki hingga ia mendapatkan kebebasannya bisa pergi tanpa pengawal dan tanpa teror harus melakukan panggilan video call setiap saat.


Livia menyeret andrew menjauh dari teman temannya. "Andrew,” kata Livia sambil matanya melotot galak pada pria di depannya. “Aku telah bersuami, tolong jaga kesopananmu.”


Dari jauh Hana dan Yukari terkekeh melihat kelakuan Livia yang sedikit panik, mereka tau apa yang di pikirkan livia.


“Benarkah?” Andrew meneliti raut wajah Livia yang melotot galak, ia kemudian melihat ke arah jari jari Livia. “Kau tidak mengenakan cincin?”


“Kami akan menikah dua puluh hari lagi dan kami juga telah hidup bersama, jadi tolong ya anggap kita tidak pernah bertemu,” pinta Livia dengan nada memohon.


“Akan ku pikirkan dulu,” jawab Andrew enteng.


“Nyebelin banget sih.”


“Aku akan tinggal di Kyoto selama kamu masih di sini,” kata Andrew.


“Aduh.... Kamu bikin aku cepet tua.” Livia mulai frustrasi karena Andrew begitu keras mengejarnya.


“Santai saja Livia, baiklah aku akan bersikap baik. Anggap aku temanmu yang sedang berlibur di sini dan kamu jadi tour guideku.” Andrew menaikkan sebelah alisnya.


“Enak aja, berani bayar berapa kamu?"


“Masih aja uang yang kamu pikirin, Livia." Andrew menjentikkan jarinya dengan pelan ke dahi Livia


Livia mengusap usap dahinya dan tertawa, tentu saja uang adalah segalanya, ia harus mengumpulkan uang sebanyak mungkin jika suatu saat nanti ia dan Naoki putus ia harus sudah cukup mempunyai uang untuk menopang hidupnya hingga ia mendapatkan pria kaya yang lain bukan?


“Siapa yang tidak mau uang?” Livia membela dirinya.


“Baiklah, kirim nomer rekeningmu.”


Livia tidak memperdulikan andrew meninggalkan andrew dan kembali duduk di kursinya. Sementara Andrew itu mengikutinya dan kembali duduk di samping livia.


“Hana, Yukari, ini Andrew.... K-kenalanku." Livia tentu malas menyebut Andrew sebagai teman karena faktanya memang mereka tidak dalam hubungan pertemanan. “Ia akan berada di Kyoto beberapa hari, mungkin kita harus menjadi tour guidenya karena ia bodoh dan ia tidak bisa bahasa Jepang,” kata Livia dengan nada malas dan mengatai orang lain bodoh padahal dia sendiri tidak bisa berbahasa Jepang.


Andrew mengulurkan tangan pada Hana dan Yukari untuk berkenalah dan secara alami mereka mulai mengobrol, hanya Livia yang masih memasang raut wajah kesal. Ia saja Livia menghawatirkan detik detik kebebasannya yang mungkin saja akan segera hilang.


Setelah menyelesaikan sarapan Hana dan Yukari kembali ke apartemen untuk mengambil kamera dan perlengkapan lain, sedangkan Livia ia memutuskan pergi lebih dulu ke toko di mana mereka merental kimono. Andrew tanpa suara terus berjalan di sisi Livia.


Livia berparas cantik, berwajah blasteran Indonesia, Andrew juga berwajah tampan, tinggi juga berwajah blasteran Indonesia. Secara fisik mereka terlihat serasi.


“Jadi, apakah calon suamimu tinggal di Jepang?” tanya Andrew dengan nada serius.


“Iya," jawab Livia singkat.


“Di mana kalian bertemu?”


“Bukan urusanmu,” jawab Livia dengan nada kesal.


“One night stand juga?” tanya Andrew.


“Aku tidak akan menikah dengan pria seperti itu,” jawab Livia betbohong. Memang benar Naoki juga mantan teman kencan satu malamnya dan Livia yang sering merengek meminta di nikahi seperti pengemis namun ia tidak ingin membuka aibnya mereka.


“Apa kau mencintai calon suamimu?”


“Tentu saja karna uangnya banyak,” jawab Livia acak, ia ingin membuat pria ini menjauhinya.


“Jika ada pria yang lebih banyak uangnya di banding calonmu apa kau akan meninggalkannya?” tanya Andrew.


“Mana mungkin,” jawab Livia. "Dua puluh hari lagi aku akan menikah, aku tidak akan menemukan pria yang lebih kaya secepat itu.”


Lagi pula siapa yang akan menikah? Dua puluh hari lagi adalah pernikahan mas Danu, dan ngomong ngomong aku ingat ingat belum membicarakan hal itu pada Naoki.


“Menikah denganku saja Livia, aku tidak tau sekaya apa pria yang bersamamu sekarang, tapi percayalah aku mungkin lebih kaya darinya." ucap Andrew dengan nada yang tidak di buat-buat. ia sangat serius dengan ucapannya.


Livia tertawa mengejek mendengar ucapan Andrew yang menurut Livia itu hanya gurauan. “Omong kosong, berhenti berkata-kata yang memuakkan atau aku akan memanggil calon suamiku ke sini untuk mengusirmu," ancam Livia.


Andrew mengernyit karena Livia benar-benar mengacuhkannya, mereka juga tiba di depan toko rental kimono. Livia segera memasuki toko itu dan menunjukkan kwitansi bokingnya, setelah berganti mengenakan yukata dan rambut panjangnya telah di tata ia mengambil foto dirinya dan mengirimkan fotonya pada Naoki dengan menyelipkan kata, 'ohayou darling.'


“Kirei, ohayou.“ balas Naoki cepat.


“Hari ini mau kemana?” tanya Naoki lagi.


“Hanya berjalan-jalan menghabiskan uangmu dan makan, aku ingin menjadi gemuk agar kau benci padaku jika aku gemuk," jawab Livia asal. Ia memang selalu berkata-kata seperti itu terhadap Naoki.


“Menjadi gemuk juga bagus, aku tetap mencintaimu.”


“We will see,” balas Livia sambil tersenyum sendiri membaca pesan Naoki.


Kata-kata yang sama dalam waktu berbeda, membosankan.

__ADS_1


Livia telah mengucapkan kata kata itu ratusan kali di pesan teksnya setiap Naoki bertanya “hari ini mau kemana?” sebosan itu hubungannya dengan Naoki.


Andrew tersenyum melihat gadis cantik di yang keluar dari toko rental kimono itu, tampak semakin cantik dengan sentuhan yang berbeda.


“Jadi kita akan kemana?” tanya Andrew.


“Kita tunggu Hana dan yukari, nah itu mereka,” jawab Livia sambil menunjuk dua gadis yang datang, Hana bermaksud menyerahkan tas kameranya kepada Livia, namun Andrew lebih dulu menyambutnya, ia juga menyerahkan beberapa jenis tripod yang tampak begitu merepotkan.


“Kalian membawa barang-barang ini seperti akan membuat vlog saja," kata Andrew.


Livia mengangguk. "Kami memang membuat Blog," jawabnya.


“Baiklah, ini tidak di perlukan selama ada aku,” kata andrew menunjuk tripod kamera. “Kita bisa menitipkan di sini."


“Baiklah, impas. Kamu gak usah bayar biaya guide,” ucap Livia dengan nada malas.


Andrew tersenyum melihat tingkah Livia yang selalu judes padanya, sepertinya harus membujuk gadis ini dengan kesabaran.


Mereka berempat menghabiskan waktu dengan bejalan kaki untuk menemukan spot spot foto terbaik, dan mereka juga menemukan beberapa restoran baru yang belum pernah mereka kunjungi. ketika hari menjelang sore mereka segera kembali ke apartemen, setelah membersihkan diri Livia berbaring dan mulai memanggil naoki bermaksud memberi tahukan rencana kepulangannya.


“Sayang orang tuaku meminta aku kembali ke Indonesia, kakakku akan menikah, aku harus berada di sana," kata Livia setelah beberapa saat pembicaraan antara Livia dan Naoki berlangsung.


“tanggal berapa pernikahannya?” tanya Naoki


“Tanggal sepuluh bulan depan,” jawab Livia.


“Baiklah, aku akan memesankan tiketmu, kau ingin tanggal berapa pulang ke Indonesia?”


“Tanggal tiga sayang, aku harus mengurus gaun untuk pesta dan yang lainnya terlebih dulu.”


“Hmm...." Hanya itu jawaban Naoki di seberang sana.


“Sayang, aku harap kau ikut ke Indonesia bersamaku, aku ingin mengenalkanmu pada orang tuaku sebagai calon suamiku," rengek Livia, ia mulai memancing kembali menuntut pernikahan.


“Sayang, aku harus pergi ke sidney tanggal delapan. Ada pertemuan yang harus kuhadiri, aku akan menemui orang tuamu nanti, aku pasti menemuinya," jawaban Naoki sudah dapat di tebak Livia.


“Aku benci Naoki! Naoki, kau hanya beralasan tidak ingin menikahiku kan?” kata kata Livia meluncur seperti biasa dengan kata kata yang sama hanya waktu yang berbeda.


Livia dengan kasar mematikan sambungan telfon, Naoki memanggil beberapa kali dan di acuhkannya hingga kemudian ponsel hana kali ini yang mulai berdering, itu panggilan dari Naoki.


Hana yang berada di samping Livia sudah terbiasa mendengar Livia berlaku seperti itu dan ia hanya menggelengkan kepalanya. Hana menjawab panggilan itu, akan merepotkan jika Livia mengibarkan bendera perang mereka sekarang mereka akan bertengkar semalam suntuk dan Hana tidak akan bisa tidur karenanya.


“Hana, tolong berikan ponselmu pada Livia,” pinta Naoki.


“Baiklah,” jawab Hana.


“Hana, aku tidak ingin berbicara lagi," tolak Livia dengan wajahnya yang telah di tekuk.


Hana memelototinya, dan berbisik, “jangan banyak bertingkah atau Naoki mengirim orangnya dan melihat Andrew.”


Livia segera menyambar ponsel Hana. “Naoki aku lelah ingin tidur aku tidak ingin bertengkar lagi." Livia mengubah suaranya dengan manis namun tetap dengan nada malas.


Dengan kata lain ia benar benar mengerti bahwa Livia adalah seorang gadis penggila uang, setiap Livia mulai marah naoki hanya perlu membujuknya dengan uang.


“Arigato Naoki sama, muaah muaaaahh” suaranya telah betubah ceria dan raut wajah Livia nampak antusias.


“Baiklah baiklah, istirahat dan jangan ke club jangan.....”


“Jangan minum sake, jangan makan junk food,bjangan genit,” lanjut Livia.


“Oyasumi Livia-chan, ilove you.”


“Oyasumi, Naoki-sama.” Livia mematikan sambungan telfon dan melemparkan ponsel Hana ke atas bantal di sampingnya.


“Dasar matre,” gerutu Hana.


“Aku tak bisa hidup tanpa Naoki.” Livia berpura pura menangis sedih sambil duduk dan pura pura menghapus air matanya, ia selalu seperti itu jika di hadapan Hana sahabatnya.


“Stres, hampir gila!" Hana mengumpati Livia sambil tertawa dan mengambil ponselnya.


Yukari yang baru saja keluar dari kamar mandi tidak ingin ketinggalan berita ia segera bergabung dengan kedua sahabatnya, kemudian sambil saling bertukar cerita dan memilih foto foto mereka yang tampak mengesankan tak kalah indah dengan bidikan fotografer profesional. namun ada yang aneh karena foto foto itu sebagian besar adalah foto Livia yang di ambil oleh andrew dari berbagai sudut secara candid.


Hana melirik Livia, dan berkata dalam bahasa Indonesia. “Kayanya dia bukan sekedar kenalan, tapi fans terselubung, di lihat dari cara dia ngambil foto foto kamu, kayanya ada sesuatu deh.”


Livia tersenyum nakal pada Hana. “Ya gitu deh, kayanya gak bisa lupa ama goyanganku, hahahha."


“Tuh kan.... Dasar sinting,” kata Hana. “Terus kamu masih ingat gak sama goyangannya?” ledek Hana.


“Ah sialan. Ingat dong.” Livia tertawa kembali dan bersamaan itu ponselnya berdering, nomer asing dengan kode +62 dengan hati hati ia menempelkan telinganya ke ponselnya setelah menyeret tombol jawab.


“Halo...” Sapa Livia dengan suara pelan.


“Bawa kamera kalian ke kamar 511, aku akan menyalin foto foto kalian untuk kuedit." Suara di seberang sana adalah Andrew


“Ambil sendiri jangan nyuruh-nyuruh.” Livia kembali pada mode judes.


“Aku pengen ngobrol sama kamu berdua," ucap Andrew.


“Gak mau," jawab Livia ketus.


“Antar ke sini atau aku perkosa kamu di depan teman temanmu," ancam Andrew.


“Pemaksa." Livia mematikan sambungan telepon lalu menyambar kameranya dan melangkah menuju pintu keluar. “Andrew mau ngeditin video ama foto foto kita,” ucapnya kepada kedua temannya.


Sesampainya di depan kamar 511 menekan bell dan segera Andrew membuka pintu untuknya, Livia menyerahkan kamera di depan pintu kamar Andrew dan bermaksud segera melarikan diri, namun pria itu menyeretnya ke dalam apartemennya dan mendudukkannya di meja bar dapur.

__ADS_1


“Duduk dulu, temani aku makan." Andrew melanjutkan acara memasaknya dan segera menghidangkan beberapa masakan khas rumahan di hadapan Livia.


Livia justru terharu melihat masakan rumah, ia telah melarikan diri dari rumah orang tuanya dengan dalih bekerja selama hampir lima tahun dan tiga tahun terakhir ia benar benar tidak pernah kembali ke Yogyakarta. Livia bahkan tidak pernah lagi menyentuh makanan rumahan ia ingin menangis saat itu juga. Bahkan air matanya telah merangkak keluar dari kelopak matanya


“Livia kamu kenapa? Aku menyuruh kamu makan bukan untuk nangis, kenapa kamu menangis?” Andrew tampak khawatir.


"A-aku, aku hampir tiga tahun gak pernah makan makanan rumahan kaya gini, aku lagi terharu tau ” jawab Livia jujur sambil menyeka air matanya


“Ya Tuhan, Livia, ini cuma udang asam manis sama nasi putih aku bisa memasakkan sambel terasi jika kita di Indonesia." Andrew mengambilkan nasi untuk Livia dan udang asam manis di atas nasinya, ia juga meletakkan sendok dan garpu, menuangkan air putih di gelas Livia.


“Aku gak suka sambel terasi, pedes,” jawab Livia.


“Sudah jangan menangis di meja makan, bersihkan air matamu dan ingusmu."


“Gak ada ingus. Baka....!” Livia kesal pada Andrew dan mulai memakan makanan di depannya dengan lahap.


“Pelan-pelan, Livia." Andrew memperingatkan Livia yang makan dengan cepat seperti orang kelaparan.


“Ya Tuhan. Ini enak banget, besok mau masak apa lagi Drew?” tanya Livia tanpa sadar telah melepaskan keangkuhannya di depan Andrew.


“Kamu mau aku masakin apa?” bibir Andrew menyunggingkan senyum licik penuh kemenangan.


“Soto ayam, rendang, tempe goreng, lontong sayur," jawab Livia menyuarakan semua nama manakan yang ada di otaknya


“Kalo gitu batalin aja pernikahanmu ama pacar sialanmu itu, aku bakal masakin kamu tiap hari,” ucap Andrew. Nada bicaranya setingan kapas.


“Udah ah, udang asam manisnya gak enak," kata Livia sambil meletakkan sendok dan garpunya tanpa memperdulikan kata kata Andrew. Ia juga mengusap perutnya yang membesar karena kekenyangan.


“Iya gak enak, kan udah habis tinggal piringnya." Andrew tampak gemas melihat tingkah gadis di depannya.


Livia menyeringai jahil kemudian ia meminum air yang ada di gelas. Setelah membersihkan meja makan dan mencuci piring, andrew duduk di atas lantai di antara sofa dan meja ia mulai membuka laptopnya, mengotak atik foto foto hasil bidikannya, Livia duduk di sofa mengawasi jari jemari Andrew yang memegang mouse laptopnya.


“Gadis cengeng yang nangis gara gara udang asam manis, cantik juga kalo di lihat lihat di fotonya," kata Andrew sambil memoerbesar foto Livia di laptopnya.


“Emang cantik. Aku mau balik ke kamarku, makasih makan malamnya," kata Livia seraya bangkit tetqpi Andrew menarik pergelangan tangannya.


“Temani aku edit foto, ini kan foto kalian.”


“Ogah, aku gak nyuruh kamu ya Drew , kamu nawarin diri Kamu sendiri,” bela Livia.


Andrew bangkit dari duduknya dan beralih ke sofa tangannya masing mencengkeram pergelangan tangan Livia, ia mendekatkan wajahnya ke wajah Livia tentu saja Livia segera memundurkan kepalanya.


“Mau ngapain kamu Andrew? Jangan kurang ajar.” Livia melotot galak.


Andrew masih diam memandang wajah gadis yang pernah ia cari sampai hampir gila. Ia melepaskan cengkraman tangannya dan lengannya dengan cepat memeluk tubuh Livia dengan erat.


“Andrew lepasin, apa apaan kamu." Livia meronta-ronta.


“Jangan bergerak, sebentar aku pengen peluk kamu Livia."


Livia diam tidak bergerak, tubuhnya kaku, detak jantungnya tiba tiba terasa tidak normal, ia mulai merilekskan tubuhnya yang tegang, ia membiarkan Andrew memeluknya untuk beberapa saat.


Tiba tiba ponsel di saku piyamanya berdering, ia merogoh ponselnya melihat siapa yang memanggil, tubuh Livia menegang kembali, bukankah tadi Naoki telang mengucapkan oyasumi yang berarti seharusnya ia telah tidur.


Livia berusaha mengatur napasnya, tangan kirinya tanpa ia sadari membalas pelukan Andrew sedang tangan kirinya menjawab panggilan itu.


“Hallo sayang...” sapa Livia senormal mungkin.


Andrew mengencangkan pelukannya.


“Kamu belum tidur?” jawab Naoki di seberang sana.


“Aku sedang bersiap tidur," Livia berbohong, telapak tangannya mencengkeram pakaian yang di kenakan Andrew pelan.


“Mmmmm.... Aku merindukanmu Livia-chan," ucap Naoki.


“Datanglah ke Kyoto, aku juga merindukanmu,” jawab Livia dengannnada manja.


Andrew melepaskan pelukannya dengan lembut dan mulai menciumi pipi Livia, Livia terbelalak hendak memaki Andrew tetapi ia tidak bisa melakukannya. Livia diam mematung tak berani membuat gerakan, ia takut menimbulkan suara mencurigakan.


“Tidak bisa, aku mendadak besok harus pergi ke China.”


“Ke China? Berapa hari kau akan berada di China?” tanya Livia khawatir.


“Mungkin seluluh hari, jadi kau tinggallah dulu di Kyoto bersama Hana sampai aku kembali oke?”


“Jadi tidak akan bertemu sampai aku kembali ke Indonesia?” tanya Livia memastikan.


“Aku akan kembali ke Jepang sebelum kau kembali ke Indonesia, bukankah kita akan berbelanja untuk kakakmu?”


“Baiklah, aku akan tinggal di sini sepuluh hari hari ke depan, kau yang terbaik Naoki-sama. Jaga dirimu.”


“Baiklah, istirahatlah, jangan begadang."


“Hai hai Naoki sama, oyasumi.”


“Oyasumi my sayang.” Hanya sayang, cinta dan cantik bahasa indonesia yang Naoki tau, Livia hanya mengajarkan itu. Livia mematikan sambungan telfon dan memastikan sekali lagi bahwa sambungan telah terputus, ini adalah pertama kali Livia selingkuh, seperti selingkuh tepatnya dan hal itu membuatnya ketakutan bukan kepalang, jantungnya seperti hampir saja terlepas dari rongga dadanya.


“Jadi pria itu bernama Naoki?” tanya Andrew sambil memainkan ujung rambut Livia yang tergerai di bahunya.


“Andrew kau gila, aku tidak ingin selingkuh denganmu. Jangan bermain-main seperti itu lagi." Livia bangkit dan segera melesat ke arah pintu, Andrew tidak mengejarnya.


Andrew melanjutkan mengedit foto foto dan video Livia, ia juga menjadikan foto Livia sebagai backgrond di layar laptopnya dan tersenyum puas, gadis yang ia kejar dalam 20 hari akan menjadi pengantin orang lain dan berpikir mungkin ia harus secepatnya membuat rencana untuk menggagalkan pernikahan gadis itu.


*Baka \= bodoh

__ADS_1


*oyasumi \= selamat malam namun lebih mengacu kepada selamat beristirahat (tidur)


BANTU AUTHOR TAP JEMPOL KALIAN 👍😁💖


__ADS_2